
Faris mengumpat Sonny yang langsung menyetujui ajakan putrinya! Apa pria itu tidak punya malu?!! Kenapa anak dan Ayah itu punya sifat yang sama-sama menyebalkan!
Berbeda dengan Arin yang sumringah ketika mendengar suaminya akan ikut dengan mereka, mood nya pun mulai naik kembali.
"Kalau begitu kita berangkat sekarang, ayo semuanya" Ajak Arin.
Mau tak mau Faris pun membiarkan kedua orang tersebut masuk ke dalam mobil miliknya.
Ketika Faris baru saja membukakan pintu seketika ia menghentikan aksinya kala melihat Arin yang membuka pintu penumpang.
"Rin, kenapa tidak duduk didepan saja? Biarkan anak-anak yang dibelakang" Ucap Faris ingin Arin duduk di sampingnya.
"Disini aja mas, biar Noval yang duduk di depan" Sanggah Arin tak menunggu tanggapan Faris, ia masuk ke dalam mobil tersebut dimana ada Meimei dan juga Sonny disana.
Selama diperjalanan semua orang termasuk Noval dan Meimei sama-sama diam membisu, semuanya sangat canggung dan tak ada asyik-asyiknya sama sekali.
Faris malah sering memantau Arin lewat kaca spion, ia jadi lupa tujuan utamanya mendekatkan diri dengan Noval, hatinya masih tak terima dengan keberadaan Sonny dan Meimei.
Sonny maupun Arin juga tak ada interaksi sama sekali, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
***
45 menit kemudian...
Begitu sampai di kebun binatang semuanya lantas masuk ke sana setelah membeli tiket.
Noval dan Meimei berjalan beriringan di depan orang tua mereka.
Sedangkan Arin, Sonny, dan Faris berjalan di belakangnya dimana Arin diapit oleh dua lelaki itu.
Suasana kebun binatang dihari minggu begitu dipenuhi oleh pengunjung, banyak anak-anak yang antusias melihat berbagi jenis hewan yang tak pernah mereka ketahui sebelumnya.
Cerita Faris tidak membuat Arin merindukan momen itu, namun ia jadi tidak enak pada Sonny yang pasti mendengarkannya.
"Oh iya, apa sekarang kamu masih takut liat Kudanil? Mas ingat dulu kamu hampir menangis waktu mas ajak melihatnya" Lanjut Faris terkekeh.
Mendengar semua yang Faris ceritakan membuat Sonny iri ketika bayang-bayang kebersamaan Arin dan Faris terlintas di pikirannya. Sebahagia itu kah mereka dulu? Pantas saja Arin susah melupakan Faris, banyak kenangan indah yang pernah mereka lalui.
"Tapi Kunadil nya sudah mati dua tahun lalu" Sambung Faris.
__ADS_1
"Tau darimana?" Timpal Arin.
"Tau dong! Waktu itu kan mas pernah kesini, pas banget kandangnya sedang dibongkar" Balas Faris.
Arin langsung mengernyit, ia menoleh ke arah Faris, seperti ada yang aneh dari ucapan pria ini.
"Pernah kesini? Dengan siapa?" Tanya Arin.
"Dengan Vi..... " Seketika Faris menghentikan ucapannya, jantungnya berdebar kencang tatkala tanpa sadar Faris keceplosan menyebut nama wanita lain.
Arin tersenyum kecut, sudah ia duga sang mantan suami pernah punya momen indah bersama kekasih gelapnya yang tidak Arin ketahui. Meski kini hal itu sudah tidak berarti lagi untuk Arin, tetapi hatinya tetap saja sakit dan tergores.
Menyadari kesalahannya Faris buru-buru meminta maaf kepada Arin.
"Rin, maaf... Mas tidak bermaksud untuk... "
"Sudahlah mas, tidak penting juga mas pernah kesini dengan siapa. Itu sudah tidak penting lagi untukku, fokus saja pada tujuan mas kemari" Potong Arin bernada dingin.
"Tapi Rin... "
__ADS_1
"Maaf tuan Faris, sebaiknya anda tidak membahas masalah masa lalu kalian. Bukankah sangat memalukan ketika menceritakan hal itu dihadapan orang lain?" Sergah Sonny tak segan-segan.