Tetangga Cantik Kesayangan Putriku

Tetangga Cantik Kesayangan Putriku
Jujur


__ADS_3

Keesokan harinya Sonny dan Arin memutuskan untuk bertemu orang tua mereka secara serempak, Sonny berpikir agar mereka tidak membuang-buang waktu lagi dan agar semua semakin jelas serta tidak ada kesalahan pahaman diantara semuanya.


Arin dan Sonny sengaja menyewa sebuah tempat makan agar mereka dapat berbincang secara tertutup.


Meimei dan Noval tak ikut bersama sepasang suami-istri itu, Arin meminta tolong kepada salah satu tetangga untuk menjaga kedua anaknya selama Arin pergi.


Dan dengan senang hati sang tetangga membantu Arin seraya mendoakan agar pertemuan kedua keluarga itu berjalan dengan lancar.


Kini, keenam orang itu pun sudah berada di satu meja yang sama.


Hanin dan Bram mulai bingung dengan kedatangan kedua orang yang tak keduanya kenal, begitu pula dengan Mita dan Hardi yang sama-sama heran.


Keempat paru baya itu kini hanya fokus pada putra-putri nya, mereka menunggu penjelasan yang akan disampaikan oleh Arin maupun Sonny.


"Ada apa ini sebenarnya Sonny, kamu meminta kami kesini? Apa... Kamu ingin memperkenalkan kami pada mereka? Apa mereka kedua orang tua Arin?" Seru Hanin yang pertama berbicara karena tak tahan sedari tadi Sonny maupun Arin hanya menunduk tanpa mengeluarkan kalimat sedikitpun.


"Jadi kalian orang tua dari nak Sonny? Kebetulan sekali, kami orang tua dari Arin. Dia juga meminta kami untuk datang kemari" Sahut Mita ikut bersuara.


Hanin tercengang, ternyata dugaannya benar. Ia tersenyum antusias, sepertinya sang putra telah menyiapkan ini semua.


"Benarkah? Wah... Sepertinya kalian memang sudah menyiapkan ini semua. Kami cukup terkejut dengan pertemuan ini" Ungkap Hanin.


"Benar, kenapa kalian tidak memberitahu kami sebelumnya? Apa kalian sengaja ingin membuat kejutan?" Tutur Mita.


Sonny dan Arin masih diam membisu, mereka belum berani berbicara, padahal sebelumnya mereka sudah menyiapkan mental untuk berbicara kepada kedua orang tuanya.


Keempat orang didepannya nampak tersenyum bahagia, tapi jika mereka tau apa yang akan Arin atau Sonny katakan apakah senyum itu akan terlihat lagi?


"Perkenalkan saya Hanin dan ini suami saya Bram Ganiadi, senang bisa bertemu dengan kalian"


"Kami juga, perkenalkan saya Mita dan yang di samping saya ini Hardi suami saya"


Keempat nya pun saling menjabat tangan satu sama lain, karena terlalu senang mereka bahkan melupakan putra-putri nya.


"Sepertinya saya asing dengan nama itu, apakah... Anda pemilik perusahaan Ganiadi Corp?" Tanya Hardi mencoba menebak.


"Benar sekali, apakah anda tau dengan perusahaan itu?" Ucap Bram bertanya balik, ia cukup terkejut karena Hardi bisa menebak soal dirinya.


"Hahaha.... Tenyata benar, tentu saja saya tau. Perusahaan anda sangat terkenal dikalangan bisnis, senang kita bisa bertemu langsung" Balas Hardi.

__ADS_1


"Hahaha.... Terimakasih, tapi apakah Sonny tidak memberitahu hal ini?" Lanjut Bram cukup bingung, pasalnya Bram mengira jika Sonny sudah memberitahu keluarga Arin perihal keluarganya sendiri.


"Kebetulan saya belum lama tau tentang hubungan Arin dan juga nak Sonny, jadi kami belum sempat berbicara banyak" Cetusnya.


Bram mengangguk-angguk sembari tertawa layaknya bapak-bapak, keduanya pun tergelak dengan hanya membicarakan hal-hal seperti ini.


Dan kini mereka pun kembali fokus kepada dua orang di depannya.


"Maaf Arin, Sonny, kami jadi melupakan kalian. Silahkan... Kalian mau berbicara apa?" Kata Hanin to the point.


Arin dan Sonny saling pandang sebelum akhirnya Sonny lah yang lebih dulu berbicara.


"Sebenarnya.... "


*


*


***


*


*


Seperti gunturan petir yang begitu keras keempatnya begitu syok mendengar kabar dari anak-anak mereka.


"Sonnyyyyy.... Apa yang baru saja kamu katakan heh?! Aduhhh.... Jantungku ya Tuhan... " Hanin mendadak lemas sembari memegang dada bagian kirinya, dengan sigap Bram memegang punggung sang istri supaya tidak terjatuh.


Sonny seketika panik dan hendak mendekat namun Bram segera menghentikan langkah sang putra hanya dengan satu gerakan tangan.


Akhirnya Sonny pun duduk kembali, Arin pun sama halnya, kini perempuan ini menunduk lesu setelah berkata jujur kepada orang tua mereka.


"Maafkan kami mah pah... Kami tau kami salah, terutama Arin... Arin lah yang menyuruh mas Sonny untuk menyembunyikan pernikahan kami sampai sejauh ini. Arin minta maaf, maafkan Arin bibi paman... " Lirih Arin menyesal, tubuhnya bergetar ketika berbicara.


"Arin apa kamu sudah menganggap mamah dan papah tidak penting lagi? Kenapa kamu tidak memberitahu kami? Apa alasannya nak?" Cecar Mita kecewa, tenyata hubungan Arin dan Sonny sudah sejauh ini tanpa ia dan sang suami ketahui.


Arin dengan cepat menggeleng, membantah anggapan Ibunya, hal itu membuat indera penglihatan Arin semakin menggenang.


"Tidak mah, bukan seperti itu, sama sekali bukan seperti yang kalian pikiran. A-arin... Arin hanya takut jika noval mendengar berita ini dari orang lain, karena itu Arin tidak berani memberitahu siapa-siapa" Kilah Arin meluruskan maksudnya selama ini.

__ADS_1


"Rin, meski begitu bukan berarti kami tidak berhak mengetahuinya. Kamu kan bisa meminta kami untuk merahasiakan ini dari anak-anak kenapa kamu memilih menyembunyikannya juga dari kami?" Sergah Hardi yang juga merasa kecewa akibat ulah putrinya. Sebagai seorang Ayah jelas ia sangat ingin menjadi wali nikah sang putri, tapi Arin justru memberi kabar jika dirinya telah lama menjadi istri orang.


"Maaf pah... Arin benar-benar bingung saat itu, Arin tidak bisa berpikir jernih. Di satu sisi Noval meminta Arin agar tidak menikah lagi, tapi di satu sisi Arin juga tidak bisa berpisah dengan mas Sonny. Maka dari itu, Arin belum siap untuk mempublikasikan pernikahan kami" Tutur Arin dengan jujur.


Mita dan Hardi menghela nafas berat, sungguh mereka berdua sangat-sangat terkejut sampai tak bisa berkata lebih.


Sedangkan Hanin mulai merasa lebih tenang, ia pun kembali menegakkan posisi tubuhnya. Wanita paru baya itu menatap sang putra dengan tatapan menghunus, sedari dulu ia memang mengharapkan Sonny memiliki pendamping lagi, namun bukan begini caranya.


"Lalu apa yang kamu inginkan dengan mengungkapkan ini?" Cetus Hanin dingin.


"Kami ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya terhadap kalian semua, kami tau kalian sangat kecewa, tolong maafkan kami. Dan juga... Kami berencana menggelar pernikahan lagi untuk yang kedua kali, tentunya dihadapan kalian dan anak-anak kami, kami harap kalian merestui hubungan kami berdua" Imbuh Sonny menjawab semua inti dari pembicaraan ini.


Semua orang saling pandang dibuatnya.


"Menikah lagi?" Gumam Bram.


Sonny mengangguk pasti, "Iya pah, kami ingin menikah secara hukum. Kami ingin mengulang lagi ijab kabul dihadapan semua orang, tapi kami mohon untuk tidak menceritakan kejadian sebenarnya kepada anak-anak, biarlah mereka mengira jika nanti adalah hari dimana kami sah menjadi suami-istri" Kata Sonny memohon.


"Dan juga... Arin minta tolong pada mamah dan papah agar membujuk Noval supaya dia mengizinkan Arin menikah lagi" Pinta Arin pada orang tua kandungnya.


"Tunggu sebentar! Jadi.... Kalian sudah yakin untuk meneruskan pernikahan ini?" Sergah Bram menyela.


Sonny dan Arin mengangguk yakin, hal itu membuat Bram menatap kedua anak muda tersebut dengan intens.


"Atas dasar apa kalian ingin melanjutkan pernikahan tersebut? Jika hanya soal anak lebih baik pikirkan lagi saja, sebab pernikahan yang utuh bukan didasarkan oleh orang lain, tapi kalian sendirilah yang menjalani rumah tangga tersebut" Ucap Bram menasehati.


Mendengar ucapan sang Ayah Sonny lantas menatap pria didepannya dengan penuh keberanian, dengan begitu percaya diri Sonny berucap.


"Aku mencintainya...! Aku ingin mempertahankan rumah tangga kami bukan karena hal lain, melainkan karena rasa cintaku yang besar terhadap Arin" Jawab Sonny penuh keyakinan.


Ucapan Sonny membuat arin seketika terperangah, Sonny benar-benar membuatnya terharu untuk yang kesekian kali. Lelaki itu tak pernah ragu untuk mengatakan cinta padanya.


Bram tersenyum miring, ia tau betul karakter putra kandungnya jika sudah mencintai seseorang, Sonny bukanlah pria yang mudah jatuh hati pada wanita, tapi jika hatinya sudah berlabuh pada satu nama tak akan ada nama lain selain orang tersebut.


"Lalu bagaimana dengan mu Arin? Apakah... Kamu juga mencintai putraku?" Kini giliran Arin yang mendapat pertanyaan.


Padangan Arin tak beralih dari Sonny, ketika mendapat pertanyaan itu kini Arin yakin siapa orang yang ia cintai. Bukan Faris, melainkan....


"Ya, aku juga mencintainya!"

__ADS_1


__ADS_2