Tetangga Cantik Kesayangan Putriku

Tetangga Cantik Kesayangan Putriku
Seharian Bersama Sonny


__ADS_3

"Sonny, siapa anak itu?"


Sonny cukup dibuat terkejut dengan kedatangan orang tuanya, begitupun dengan Noval yang langsung berlari ke arah Sonny berada, mencari perlindungan seakan Bram adalah orang jahat yang akan menculiknya.


"Papah! Bisa tidak ketuk pintu dulu sebelum masuk ke ruangan ku? Papah membuat kamin terkejut!" Protes Sonny mengkritik sikap Bram.


"Maaf... Papah sedang buru-buru, tapi... Siapa anak ini?" Tanyanya sekali lagi, Bram masih penasaran akan sosok bocah kecil yang dibawa Sonny.


Sonny dibuat bingung menjawab pertanyaan papahnya, apa ia harus mengakui jika Noval adalah putra sambungnya? Tapi ini terlalu mendadak, sang papah juga akan terkejut mendapati fakta tersebut, Sonny ingin memberitahu kedua orang tuanya dalam suasana yang tepat.


"Emm.... Dia anak dari Arin, tetangga ku yang menjaga Meimei" Jawab Sonny pada akhirnya.


Bram mengangguk-anggukkan kepalanya, ia mengangkat tangan kanan dan melambaikan lengannya kepada Noval, disertai dengan senyum yang ramah.


"Hai... Jangan takut, opah tidak akan memarahi mu. Siapa namamu?" Tanya Bram bersikap akrab.


"N-noval.... " Cicit Noval terbata-bata.


"Ahh.... Nama yang bagus"


Bram mengamati penampilan Noval yang tengah memakai seragam sekolah, di pagi hari seperti ini bukankah seharusnya anak itu berangkat ke sekolah?


"Bagaimana Noval ini bisa bersama kamu, Sonny? Apalagi dia memakai seragam sekolah"


"Emm.... Soal itu.... "


"Tadinya Noval meminta Sonny mengantarnya ke sekolah karena menolak diantar oleh Ayah kandungnya, tapi saat diperjalanan Noval tiba-tiba menangis dan tidak mau sekolah jadi Sonny membawanya kesini" Jelas Sonny pada intinya.


Kening Bram mengkerut ketika mendengar penjelasan putranya, "Dia sedang bertengkar dengan Ayah kandungnya?"


Sonny mengangguk ragu-ragu, "Ya... Begitulah"


Bram terkekeh, sekarang ia mengerti kenapa Sonny membawa seorang anak kecil ke perusahaan mereka.


"Ya sudah biarkan dia disini, tapi jangan lupa beri tau Ibunya supaya dia tidak merasa cemas" Perintah Bram.


"Iya, pah. Akan Sonny beritahu nanti"


Bram pun kembali melanjutkan tujuannya, ia dan Sonny mulai mendiskusikan pekerjaan tersebut. Sedangkan Noval kembali duduk di atas sofa sambil membuka buku gambar serta pensil warna yang ia bawa didalam tasnya, kemudian melukis kertas putih itu sesuai dengan imajinasinya.


Seusai Bram selesai dengan urusannya, pria berumur itu keluar dari ruangan sang anak.


Selepas kepergian Bram, Sonny memutuskan menghubungi Arin terlebih dahulu, takut wanita itu menjemput Noval ke sekolah padahal Noval tengah berada di perusahaan Sonny.


Sonny men-deal nomor ponsel Arin dan menunggu wanita itu mengangkatnya.


Tak lama, suara wanita terdengar dari balik ponsel Sonny.

__ADS_1


"Hallo, mas Sonny.... "


"Hallo Arin, aku cuma mau memberitahu mu kalau Noval tidak jadi ke sekolah"


"Hah?? Bukannya tadi kalian sudah berangkat? Kenapa Noval tiba-tiba tidak mau sekolah?" Cecar Arin penuh pertanyaan.


"Sepertinya suasana hati Noval sedang buruk hari ini, dia juga sempat menangis dimobil. Aku tidak bisa memaksanya, dia juga ingin ikut ke kantor denganku" Jelas Sonny panjang lebar.


"Noval menangis?? Ya ampun, kenapa mas baru memberitahu ku?!"


"Tenanglah, kamu tidak perlu panik. Sekarang keadaan Noval sudah jauh lebih baik, kami sudah berada di ruangan kerja ku. Dia sedang sibuk menggambar" Kata Sonny sembari menatap ke arah Noval berada.


"Aku khawatir, mas. Aku ingin bicara dengan Noval" Pinta Arin dengan nada penuh kekhawatiran.


"Sepertinya jangan dulu, Rin. Dia pasti akan teringat lagi kejadian tadi, kamu tidak perlu cemas aku akan menjaganya dengan baik hari ini. Kamu cukup beritahu wali kelasnya saja jika Noval tidak bisa masuk sekarang"


Terdengar helaan nafas panjang dari balik telfon, Sonny bisa mendengarnya dengan jelas.


"Baiklah.... Tolong jaga Noval, mas Sonny. Jika ada apa-apa beritahu aku" Nada pasrah seorang Arindita keluar begitu saja.


"Tentu, kamu istirahatlah.... Aku usahakan pulang lebih cepat"


"Baik, Terima kasih mas"


"Sama-sama"


***


Tak terasa waktu menunjukkan pukul satu siang, Noval memutuskan berhenti berkutat dengan alat-alat gambarnya. Perutnya berbunyi sedari tadi, ia melirik ke arah Sonny yang masih terlihat sibuk dengan komputernya.


Namun, cacing di dalam perutnya terus meneriaki si pemilik perut untuk mengisi lambung kosong tersebut.


"Om Sonny... " Panggil Noval.


Sonny seketika berhenti mengetik, ia berbalik menghadap bocah kecil itu.


"Iya, Noval? Ada apa?"


"Om Sonny masih lama ya kerjanya?" Tanyanya.


"Kenapa emangnya? Noval mau pulang?" Tebak Sonny.


Dengan segera Noval menggelengkan kepala.


"Noval gak mau pulang, tapi... Noval laper, Om!" Ungkapnya memegangi perut yang tengah keroncongan.


Sontak Sonny menyadari kesalahannya, ia lupa jika Noval butuh makan siang. Karena terlalu fokus pada pekerjaan sesaat Sonny lupa jika ada Noval disini.

__ADS_1


"Kalau gitu Noval mau makan? Biar Om suruh sekertaris Om yang pesen makanan, nanti kita makan sama-sama"


"Beneran, Om? Noval lagi pengen chiken wings sama es krim juga!" Jawabnya antusias.


"Oke, Noval tunggu sebentar ya" Dan dibalas anggukan oleh anak tersebut.


Sekitar lima belas menit makanan yang dipesan sudah tertata rapi di atas meja, Noval dan Sonny sudah duduk di sofa bersiap untuk memakan makan siang mereka.


Noval terlihat makan dengan sangat lahap, mungkin dia sedang sangat kelaparan, sonny merasa bersalah melihat itu.


"Pelan-pelan makannya, nanti tersedak loh" Seru Sonny.


Dan benar saja, perkataan Sonny langsung terwujud saat itu juga. Memang perkataan orang tua selalu benar adanya.


"Uhukk...! Uhukk....!"


"Tuh, kan. Minum ini... " Sonny menyodorkan minuman pada Noval, menyuruhnya untuk meneguk minuman tersebut.


"Makasih, Om"


Setelah mereda, Noval kembali melahap makanannya, namun tidak buru-buru seperti sebelumnya.


Sonny hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, ia pun kembali melanjutkan makan siang sampai habis.


***


Pukul lima sore Sonny dan juga Noval pulang ke rumah, di teras rumah terlihat Arin dan Meimei sedang duduk menunggu kepulangan mereka.


Arin langsung berdiri ketika mobil yang dikendarai Sonny datang, begitupula dengan Meimei.


Sonny dan Noval keluar dari mobil, Arin langsung menghampiri putranya dan memeluk Noval dengan erat.


"Sayang bunda khawatir, nak... Kata Om Sonny tadi kamu nangis dan gak mau sekolah.. " Ucap Arin cemas.


Noval pun memeluk tubuh Ibunya tatkala erat, ia sedikit merasa bersalah karena telah membuat Arin khawatir.


"Maaf bunda... Tadi Noval tiba-tiba enggak pingin sekolah" Ungkapnya meminta maaf.


Arin melonggarkan pelukan itu kemudian menangkup wajah putranya.


"Gapapa bunda ngerti kok... Tapi lain kali Noval bilang aja sama bunda, bunda gak akan marah kok" Ujarnya memberi pengertian.


"Iya, bunda. Maafin Noval sekali lagi"


"Iya, gapapa sayang" Arin mencium kening sang putra, membuat Noval dirundung kelegaan.


"Kalau gitu ayo kita masuk, Noval juga harus mandi dan ganti baju. Ayo Meimei, mas Sonny... " Keempat orang itu pun masuk ke dalam rumah Arin.

__ADS_1


Hari ini benar-benar hari yang melelahkan bagi mereka semua, terutama untuk Arin dan juga Noval, banyak kejadian yang tak terduga.


__ADS_2