Tetangga Cantik Kesayangan Putriku

Tetangga Cantik Kesayangan Putriku
Pengakuan Cinta


__ADS_3

Sepulangnya dari pertemuan antar dua keluarga itu, Sonny tak henti-hentinya merekahkan senyum disepanjang perjalan pulang.


Pengakuan Arin bahwa perempuan tersebut juga mencintainya benar-benar membuat Sonny bahagia, kini tak ada alasan lagi untuk mereka berpisah, justru hal tersebut membuat Arin serta Sonny harus bersatu dalam ikatan keluarga yang sempurna.


Sama hal nya dengan Arin, wanita itu pun merasa malu atas pengakuan cintanya, pipinya terus menyemburkan rona merah mengingat kejadian beberapa jam lalu.


Sonny sesekali melirik ke arah sang istri yang terus memalingkan wajahnya ke luar jendela mobil, Arin terlihat sangat imut dengan pipi semerah buah tomat, ingin sekali Sonny mencubit nya dengan gemas.


Arin yang menyadari itu semakin tersipu malu, ia berusaha menghindari tatapan suaminya.


"Berhenti melihatku terus, fokus saja mengemudi" Titah Arin grogi.


Sonny makin melengkungkan kedua sudut bibirnya, "Kenapa? Suasana hatiku sedang senang sekarang, lebih senang lagi jika melihat kamu terus" Goda Sonny.


Jantung Arin tambah berdebar tak karuan, ucapan Sonny membuat hatinya meleleh bak sebuah lilin yang membara.


"B-bicara apa mas ini?! Dasar aneh" Umpat Arin terbata-bata.


"Kenapa aneh? Aku sedang senang karena akhirnya kamu mengakui jika kamu juga mencintai ku. Akhirnya perjuangan ku selama ini tidak sia-sia, wanita yang aku cintai ternyata juga mencintaiku" Kata Sonny berujar.


Arin tak menanggapi apapun, disisi lain ia pun merasa lega karena sudah mengeluarkan isi hatinya. Meski awalnya ragu dengan perasaannya sendiri tapi kini ia sudah sangat yakin jika Sonny lah lelaki yang terbaik untuk Arin.


"Boleh tidak aku mendengarnya sekali lagi?" Pinta Sonny.


"D-dengar apa?" Ucap Arin tergagap.

__ADS_1


"Dengar pengakuan cintamu" Jelas Sonny.


"Tidak!" Tolak Arin tak mau.


"Ayolah.... Sekali saja" Bujuk Sonny.


"Tidak!"


"Ayolahhh.... Pleaseeee"


"Tidak! Sudah ah, aku mau tidur" Arin buru-buru menutup kedua matanya guna menghilangkan rasa gugup kala berbicara dengan sang suami, sungguh Arin seperti seorang remaja yang baru mengenal cinta.


Sonny terkekeh melihat tingkah laku istrinya, jelas ia sangat tau jika Arin kini tengah tersipu malu. Ia tak mau terus-terusan menggoda wanita disampingnya ini, bisa-bisa Arin malah menjadi marah padanya.


***


Dari depan rumah pun suara Meimei yang nyaring sudah terdengar di telinga Arin, perempuan tersebut menggeleng-gelengkan kepala membayangkan betapa rusuhnya bocah manis itu di dalam sana.


Tak menunggu lama Arin langsung menekan bel rumah milik sang tetangga.


Ting Tong!


Seketika pintu pun terbuka dengan lebar.


"Eh mbak Arin, udah pulang mbak?" Indah terkejut.

__ADS_1


"Iya mbak Indah, maaf lama ya mbak"


"Gapapa kok, masuk dulu mbak" Dengan sopan Indah menawarkan Arin masuk lebih dulu.


"Gak usah mbak, makasih. Saya mau langsung pulang aja" Tolak Arin halus.


"Lho, gak mau ngopi-ngopi dulu mbak? Meimei sama Noval juga masih asyik main di dalem"


"Gapapa mbak Indah, mas Sonny udah nunggu di rumah soalnya" Kata Arin sekali lagi.


"Oalahhh.... Ya udah sebentar saya panggilin mereka dulu ya" Indah pun lantas masuk kembali untuk memberitahu jika Arin sudah menjemput mereka.


Tak berselang lama kedua bocah itu keluar lalu menghampiri Arin yang tengah berdiri di luar.


"Tante udah dateng? Papah mana?" Tanya Meimei.


"Ada di rumah, sekarang kita pulang yuk" Dan dibalas anggukan oleh yang lainnya.


"Mbak Indah kami pulang dulu ya, sekali lagi terimakasih banyak. Maaf saya selalu merepotkan mbak"


"Sama sekali enggak kok mbak Arin, saya senang malah. Oh iya bagaimana pertemuan tadi, mbak? Lancar-lancar saja kan?" Seru Indah penasaran.


"Lancar mbak, berkat doa dari kalian semua"


"Syukurlah saya ikut senang, kami tunggu undangannya secepat mungkin ya" Kata Indah sambil mengerlingkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Hahaha.... Siap mbak Indah, kami pamit dulu kalau begitu. Sekali lagi terimakasih banyak"


"Sama-sama. Dah Meimei... Dah Noval... "


__ADS_2