
Pukul setengah tiga sore Arin dan Meimei pamit pulang ke rumah, mereka tak bisa berlama-lama disana karena takut menganggu pekerjaan Sonny walaupun Sonny sama sekali tidak keberatan dengan keberadaan dua wanita kesayangannya itu, tetapi Arin dan Meimei lebih memilih pergi dari perusahaan tersebut. Sonny pun akhirnya membiarkan mereka berdua pulang.
Di sepanjang perjalanan Arin nampak tak banyak bicara, pikirannya masih teringat tentang sosok Tasya rekan bisnis Sonny.
Sudah berapa lama Sonny dan Tasya bekerja sama? Keduanya terlihat masih sangat canggung dan formal, mungkinkah belum lama? Tapi bisa jadi memang itu sudah menjadi salah satu ciri rekan kerja jika bertemu?
Bayangan Tasya muncul lagi di benak Arin, dia wanita cantik dan punya karir yang hebat. Arin mengakui jika tasya wanita yang sempurna, apakah Sonny pernah mengagumi wanita itu?
Mendadak Arin termenung cukup lama, tatapan Tasya pada Sonny tadi seperti wanita yang tengah melihat lelaki yang disukai nya, Arin yakin itu. Apakah Tasya sudah menikah atau belum? Atau setidaknya punya seorang kekasih.
Meskipun Sonny sudah mengatakan jika Arin adalah kekasihnya, tetapi tak membuat hati kecil Arin tenang dengan sempurna.
Apakah Sonny dan Tasya juga sering bertemu? Walaupun bertemu karena urusan pekerjaan.
Arin terus berkecamuk dengan dirinya sendiri, rasa takut akan wanita yang dekat dengan suaminya begitu menghantui Arin.
Arin akui dirinya cukup kekanak-kanakan.
"Tante, tadi Opah titip salam buat tante" Seru Meimei menyampaikan pesan dari kakeknya.
Arin tersadar, kemudian mengalihkan perhatiannya pada gadis kecil yang duduk di sampingnya.
"Oh ya? Opah bilang kayak gitu?"
Meimei mengangguk, "Iya, katanya Opah belum bisa ketemu sama tante arin barusan, Opah masih sibuk ngobrol sama Om-om yang tadi" Kata Meimei mengingat ketika kakeknya tengah sibuk berbincang dengan para petinggi.
"Iya gapapa kok, semoga lain kali kita bisa ketemu lagi sama Opah Meimei" Jawab Arin santai.
"Iya, tante"
***
Mobil Arin terlihat memasuki pekarangan komplek, saat Arin melajukan mobilnya menuju rumah di tengah-tengah komplek terlihat empat tetangganya tengah berkerumun disana.
Sambil melewati Arin sengaja berhenti sejenak untuk sekedar menyapa, karena tak enak jika langsung melewati begitu saja.
"Permisi Ibu-ibu... Lagi pada apa nih?" Sapa Arin.
Mereka lalu berbalik dan menyapa wanita yang berada di mobil itu.
"Hei mbak Arin, biasa mau jemput anak-anak di taman" Jawab Dewi.
"Iya nih, udah mau sore mereka belum juga pulang" Tambah Sari.
"Mbak Arin habis dari mana? Eh ada Meimei juga ternyata" Tanya Dewi penasaran.
"Oh... Ini kita habis dari kantor mas Sonny, Meimei mau ketemu sama papahnya katanya" Imbuh Arin jujur.
Sontak keempat Ibu-ibu tersebut saling pandang, ada rasa kecurigaan mendengar jawaban Arin, namun mereka tak menunjukkan hal itu.
__ADS_1
"Waduh tumben Meimei mau ketemu sama papahnya di kantor, Noval juga ikut mbak?" Ucap Sari yang juga berada di antara Ibu-ibu tersebut.
"Enggak mbak, Noval lagi sama orang tua saya mau menghadiri acara" Jelas Arin.
"Mas Sonny emang udah sembuh mbak? Bukannya kemarin masih sakit ya?" Sergah Indah ikut berbicara.
"Udah baikan kok mbak, jadi mulai hari ini mas Sonny kerja lagi di kantor"
"Syukurlah kalau udah sembuh, pasti berkat bantuan mbak Arin makanya mas Sonny cepet sembuh" Ungkap Indah.
"Ekhem ekhem.... Emangnya kenapa sama mbak Arin?" Sanggah Dewi berdehem pura-pura tak tau apa-apa.
"Mbak Arin kan yang anterin mas Sonny ke dokter" Celetuk Indah.
Arin yang mendengar itu jadi merasa terciduk, meski dari dulu mereka sudah lama mencoba menjodoh-jodohkan dirinya dengan Sonny tetapi sekarang mereka sudah berbeda situasi. Kini bukan rasa malu melainkan tegang yang dirasakan Arin.
Sebisa mungkin Arin tersenyum seperti sebelum-sebelumnya, "Hehehe... Enggak kok mbak, saya cuma bantu sebisa saya. Kasian juga sama Meimei kalau mas Sonny sakit" Ucap Arin beralasan, namun ekspresi Arin terlihat kaku dan tidak leluasa.
Para Ibu-ibu itu pun tersenyum malu-malu, mereka tau Arin sedang bersikap normal namun raut wajah Arin tetap tak bisa dibohongi. Mereka semakin yakin jika kedua tetangganya itu tengah merajut asmara, dalam arti lain puber yang kedua.
"Tante lagi ngomongin papah ya?" Timpal Meimei mendengar nama Ayahnya disebut.
"E-enggak kok sayang" Elak Arin dengan nada halus.
"Kita gak lagi ngomongin papah kamu kok Meimei, kita cuma lagi ngomongin Ibu baru kamu. Iya kan Ibu-ibu"
"Hah? Ibu baru meimei???" Sergah Meimei bingung.
"Lain kali Meimei jangan sebut tante Arin, tante lagi. Tapi sebut tante Arin bunda sama kaya kak Noval" Jelas Puspa pada gadis imut tersebut.
"Bunda? Emang boleh?" Cicitnya tak mengerti.
"Eughh.... Itu.... "
Ketika Arin hendak berbicara sontak yang lainnya langsung memotong.
"Boleh dong! Siapa tau bisa jadi Ibu beneran"
"Ya memang sudah jadi Ibu beneran!" Ucap Arin dalam hati.
Situasi terkini makin tidak terkondisikan, Arin terjebak didalam obrolan itu sebagai peran utama nya. Dia seperti korban bullying disekolah, arin dibuat pusing sendiri.
"Ibu-ibu maaf kayaknya saya harus pulang sekarang, lupa belum angkat jemuran. Kalau gitu kami permisi ya"
"Ah gitu ya, silahkan mbak Arin".
"Titip salam buat mas Sonny"
"Iya mbak, titip salam ya buat mas Sonny.. Hihihi... "
__ADS_1
Bahkan ketika Arin hendak berlalu pun mereka masih sempat-sempatnya menggoda Arin, yang bisa ia lakukan sekarang adalah menjauh dari para kerumunan Ibu-ibu tersebut.
"Hufftt..... Ada-ada saja" Desah Arin.
Sedangkan para Ibu-ibu itu kembali tertawa ketika melihat Arin yang menghindari mereka.
"Hahaha.... Aduh mbak Arin sudah seperti ABG saja tingkahnya malu-malu kucing, padahal kita kan seneng kalau emang mereka berdua beneran deket" Gelak Puspa.
"Hahaha.... Bener mbak Puspa, mungkin malu kali karena ada Meimei juga"
"Iya juga sih... Hahaha.... Aduh saya gak bisa berhenti ketawa deh jadinya"
Dan begitulah yang terjadi dengan keempat wanita-wanita disana.
***
Sesampainya di rumah Arin bisa menghela nafas lega, akhirnya ia bisa terbebas dari pertanyaan-pertanyaan tetangganya itu.
Selanjutnya Arin pun masuk ke dalam rumah, tak seperti yang diucapkan nya tadi Arin sama sekali tidak sedang menjemur pakaian itu hanyalah alasannya saja agar bisa segera pergi dari sana.
Kini Arin bersiap untuk memandikan Meimei, sudah waktunya anak itu mandi sore.
"Tante ayo kita mandi bareng lagi" Ajak Meimei bersemangat.
Arin yang tengah menyiapkan air hangat seketika menoleh pada lawan bicaranya.
"Mandi bareng? Meimei mau mandi bareng sama tante?"
"Iya! Ayo tante.... "
Arin terkekeh lucu dan langsung menerima permintaan putri kecilnya.
"Boleh, sebentar ya tante siapin dulu airnya"
"Oke tante!"
Lima menit kemudian keduanya sudah dalam keadaan polos, hal yang tak lazim dilakukan oleh Ibu dan anaknya yaitu mandi bersama.
Meimei nampak asyik dengan air shower yang membasahi tubuhnya, melihat itu membuat arin tertawa keras.
"Jangan loncat loncat sayang, nanti jatuh lantainya kan licin"
"Seru tante...! Kaya air hujan"
Arin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, berbeda dengannya yang sibuk membasuh rambut dengan sampo.
Beberapa detik kemudian pertanyaan Meimei sukses membuat Arin membatu.
"Kok leher tante merah-merah?"
__ADS_1