
Sonny dan Meimei berdiam cukup lama di rumah Arin, keduanya ikut melaksanakan makan malam dengan para pemilik rumah.
Sonny maupun Meimei setia menemani Arin, lebih tepatnya Sonny yang masih belum mau pulang ke rumah karena mengkhawatirkan wanitanya.
Sepanjang malam Arin selalu memasang raut wajah mendung, tak ada senyuman yang biasa dipancarkan dari bibir manisnya, membuat Sonny tak tenang meninggalkan Arin dan Noval.
Bahkan sangking lamanya Sonny dan Meimei berada disana, Meimei jadi ikut ketiduran selepas bermain dengan Noval yang kini juga sudah tertidur di kamarnya.
"Meimei sekalian menginap saja disini, mas. Kasihan kalau dibawa pulang ke rumah mas" Kata Arin melihat Meimei yang tertidur di atas sofa miliknya.
Sonny memandang sang putri yang sudah memejamkan mata, lalu kembali menatap wajah istrinya.
"Tidak apa, aku akan membawanya pulang saja. Aku ingin kamu istirahat dengan nyenyak malam ini" Tolak Sonny berniat baik.
Arin pun hanya bisa menganggukkan kepala, ia mengelus surai lembut gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang. Tanpa menyadari jika sedari tadi Sonny memerhatikan dirinya.
"Jangan terlalu banyak pikiran, nanti kamu bisa benar-benar sakit" Ujar Sonny mengingatkan, ia terus melihat ekspresi Arin yang berbeda.
"Iya mas... " Lirih Arin tersenyum hambar.
"Jangan memaksakan diri untuk memendam masalah sendiri, jika ada sesuatu yang ingin kamu lakukan beritahu aku supaya aku bisa membantu. Terlebih..... Aku tidak ingin kamu memikirkan lelaki itu terlalu lama" Lirih Sonny tepat pada intinya.
Elusan tangan Arin seketika berhenti! Kalimat sonny yang terakhir begitu menusuk dan langsung menyadari Arin, hatinya seolah mengerti apa yang tengah dirasakan lelaki itu.
Bola mata Arin menatap bola mata sang suami, tatapan Sonny berubah sayu. Apa yang sudah ia perbuat?? Bahkan selama ini ia tidak sadar jika ada sosok Sonny di sampingnya. Tapi ia terlalu sibuk menangisi masa lalu yang datang tiba-tiba.
"M-mas Sonny....... " Gumam Arin merasa bersalah.
Sonny tersenyum kecut, seakan menegarkan dirinya didepan Arin.
"Tidak apa...... Aku tau kamu masih mencintainya" Pekik Sonny.
Arin melebarkan kelopak mata, tertegun mendengar ucapan Sonny. Ia langsung bangkit dan berpindah duduk di samping sang suami.
"M-mas Sonny apa yang kamu katakan? Jangan berpikir seperti itu.... " Sergah Arin sedih.
__ADS_1
Tetapi Sonny tetap memasang senyum palsu, "Tidak apa jika kamu masih memiliki perasaan padanya, aku memaklumi itu. Tapi aku mohon jangan terlalu lama memikirkannya... Aku hanya takut kamu kembali tersakiti" Ungkap Sonny, meski didalam lubuk hatinya ia seperti disayat ribuan pisau tajam.
Arin menggeleng seraya meraih lengan Sonny, menatap lelaki itu penuh perasaan bersalah.
"Maafkan aku mas... Tapi tolong jangan berkata demikian, itu membuat hatiku ikut sakit... " Imbuh Arin menahan tangisan.
Sonny tersenyum kecut, merasa kasihan pada dirinya sendiri menerima kenyataan bahwa sang istri masih memiliki hati pada mantan suaminya. Namun ia harus tegar dan berlapang dada, bagaimana pun cinta tidak bisa dipaksa kepada siapa hati itu harus berlabuh.
"Mas Sonny.... " Arin menangkup kedua pipi Sonny agar pria itu menatap wajahnya. Pandangan mereka pun terkunci secara otomatis.
"Percaya padaku, aku tidak bermaksud menyakiti hati mas Sonny. Maaf jika aku mengabaikan mas akhir-akhir ini.... Maaf.... " Lirih Arin putus asa, rasa bersalah benar-benar menghantam dirinya, Arin merasa telah melakukan dosa besar kepada suaminya sendiri.
"Maafkan aku mas.... "
Mereka saling menatap dengan lekat, sentuhan tangan Arin dikedua pipinya seolah menghipnotis lelaki itu, membuat jarak mereka perlahan mengikis hingga kedua bibir itu menyatu dengan sempurna.
Arin dan Sonny saling terpejam menikmati ciuman tersebut, meresapi momen int*m itu dengan perasaan yang berbeda.
Arin berusaha memberi Sonny ciuman mendalam, sebagai pertanda jika ia sangat merasa bersalah dan meminta maaf sedalam-dalamnya.
Sonny merasakan gerakan halus yang dilakukan Arin, lidah itu membelai lembut rongga mulutnya memberi Sonny kenyamanan seribu kali lipat.
Namun sekelebat bayangan ketika Arin menatap Faris membuat kesadaran Sonny pulih kembali.
Dengan berat hati ia melepas penyatuan bibir itu dan memberi jarak pada keduanya.
Berbeda dengan Arin yang menatap Sonny penuh tanda tanya.
"Sudah malam.... Aku harus membawa Meimei pulang, kamu juga harus istirahat. Aku akan pulang sekarang" Ujar Sonny beralasan.
"T-tapi.... M-mas Sonny.... "
Dengan cepat Sonny menggendong Meimei hingga membuat gadis itu sedikit terusik, setelah itu barulah Sonny berpamitan pada Arin.
"Aku pamit pulang, jika ada apa-apa kabari aku. Aku akan segera kemari"
__ADS_1
Arin hanya bisa menghela nafas dan membiarkan kedua makhluk itu pergi dari kediamannya.
***
Sesampainya didalam kamar, Sonny langsung menyandarkan tubuhnya di balik pintu.
Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya guna mengurangi rasa sesak yang menghimpit areaa paru-paru nya.
Sonny memukul-mukul dada kirinya beberapa kali tanpa sakit sedikit pun, rasa sakitnya sudah dikalahkan oleh sakit hati didalam dada.
Kenapa sangat sulit menerima ini?! Dulu Sonny hanya ingin Arin sekedar menerima pernikahan mereka, tapi sekarang ia terlalu serakah dan menginginkan Arin agar mencintai seorang Sonny Ganiadi!
Apakah salah jika Sonny mempunyai keinginan seperti itu?? Kenapa ia jadi tak tau diri seperti ini?!! Seharusnya ia bersyukur karena Arin sudah menerima pernikahan mereka, tapi nyatanya hal tersebut tak membuat Sonny merasa puas.
Sonny mengusap wajahnya kasar, naik ke atas hingga berhenti dengan cengkraman di rambut bagian belakang, benar-benar seperti orang yang tengah frustasi.
"Apa yang sudah aku lakukan?!! Lagi-lagi aku kelewatan batas" Hardik Sonny pada dirinya sendiri.
Sonny berjalan ke arah kamar mandi, disana ia melepas seluruh pakaiannya dan berdiri tepat di bawah shower yang menyala.
Sonny menahan tubuhnya dengan kedua tangan yang menempel di dinding, membiarkan air dingin itu menetes ke seluruh tubuhnya.
Dinginnya air malam tak membuat Sonny menggigil, ia justru merasa kepanasan akibat rasa cemburunya.
Hal itu pun membuat Sonny bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah ia sudah benar-benar mencintai sosok Arin? Atau ini hanya sekedar rasa iri hati karena Arin masih mencintai lelaki lain disaat mereka sudah menjadi suami istri? Tapi jika begitu, kenapa Sonny juga menginginkan Arin agar mencintai dirinya?
Keberadaan Faris membuat Sonny tak tenang, pria itu kini ada diantara Arin dan juga Sonny, rasa takut kehilangan seorang Arindita membuat Sonny gusar, takut jika Arin jatuh ke pelukan sang mantan suami. ditambah Faris yang kini adalah seorang duda, lelaki itu bisa kapanpun mendekati Arin dengan alasan ingin bertemu dengan Noval.
•
•
•
•
__ADS_1
Mohon Maaf Jarang Up, Banyak Kesibukan Di Real Life. Tapi Mamie Bakal Berusaha Meneruskan Ceritanya 🙏🏻