
Pagi menjelang, Arin sudah disibukkan dengan peralatan dapur guna menyiapkan sarapan bagi keluarga kecilnya. Ia memasak di dapur milik Sonny, memasak dengan bahan-bahan seadanya yang hanya ada di dalam kulkas pria itu.
Arin dengan telaten memasak seluruh makanan tersebut hingga siap disajikan, terlihat begitu menggugah selera, aromanya pun sangat memanjakan siapapun yang menciumnya.
Arin memindahkan semua makanan itu ke meja makan, ia tersenyum puas ketika melihat pekerjaannya selesai.
"Hufttt..... Akhirnya selesai juga! Tinggal menunggu yang lain keluar dari kamar" Gumam Arin berbicara pada dirinya sendiri.
Ting Tong! Ting Tong!
Terdengar suara bel rumah berbunyi, sontak membuat Arin terkejut bukan main! Ia menoleh ke arah pintu menebak-nebak siapa yang datang sepagi ini?!
Ting Tong!
"Siapa itu?!! B-bagaimana ini?? Aku harus segera memanggil mas Sonny!" Dengan tubuh yang bergetar Arin berlari ke arah tangga, secepat mungkin ia harus bersembunyi dan menyuruh Sonny untuk menemui seseorang yang datang!
Langkah Arin sudah berada ditengah-tengah anak tangga, ketika ia hendak meneruskan langkahnya Arin langsung membeku ketika pintu rumah yang tak sempat ia kunci dibuka oleh tamu tersebut.
"Sonny kenapa lama sekali membuka pintu? Dimana kamu? Apa kamu baik-baik saja?" Terdengar suara seorang perempuan menggema di rumah tersebut.
Arin seakan mati ditempat, kenapa orang tersebut secara tak sopan masuk begitu saja ke rumah Sonny?!! Siapa orang itu? Arin ingin tau tetapi ia tak bisa membalikkan badannya sendiri.
Tak sampai disitu ketakutan Arin kian bertambah ketika orang tersebut bersuara kembali.
"Hei! Siapa kamu?"
Deg!
Arin memejamkan rapat-rapat, ia sudah ketahuan! Apa yang harus ia katakan nanti?!!
"Kenapa malah diam? Jawab pertanyaan saya, kenapa kamu ada di rumah putraku?"
Duarrrr!!!
Apa katanya?? Putra????
S-siapa yang dimaksud putranya? A-apa jangan-jangan......
Sonny!!!
Bola mata Arin terbelalak dengan lebar! Spontan ia membalikkan badan dan melihat siapa orang tersebut.
Ketika Arin berbalik pandangannya langsung tertuju pada dua orang paru baya berbeda jenis kelamiin disana, sepertinya mereka sepasang suami-istri. Kedua orang itu memandang Arin dengan tatapan heran, begitupula dengan Arin yang menatap cemas pada mereka berdua.
__ADS_1
"Apakah mereka orang tua mas Sonny?? Jika benar habislah aku!!"
"Siapa kamu?" Tanyanya sekali lagi.
Bibir Arin terasa kaku, mendadak ia sulit meski hanya membuka mulutnya saja, entah apa yang harus ia katakan. Haruskah Arin menjawab jika ia hanya tetangga Sonny?? Lalu bagaimana bila mereka tak percaya karena dirinya yang berada di dalam rumah ini? Apalagi mereka berdua melihat langsung bagaimana tadi Arin hendak berlari ke arah kamar Sonny.
"S-saya...... "
"Ada apa ini?? Mamah...? Papah....?" Suara Sonny memecahkan ketegangan disana.
Arin dan kedua orang tua tersebut menoleh ke arah pria yang berjalan menuruni tangga, Sonny juga nampak terkejut dengan keberadaan kedua orang tuanya.
Sedangkan Arin semakin menelan ludah ketika mengetahui fakta jika kini ia tengah berhadap-hadapan langsung dengan kedua orang tua Sonny.
Sesampainya Sonny di lantai dasar sang Ibunda langsung menghampiri kemudian memeluk tubuh putranya itu.
"Sonny mamah khawatir sekali, nak. Papah bilang kamu sakit.... Sekarang bagaimana keadaan kamu? Kamu sudah sehat?" Tanya wanita yang diketahui bernama Hanin yang terdengar cemas sembari memeriksa seluruh tubuh Sonny.
"Aku sudah sehat mah, tapi... Kenapa kalian tidak memberitahu ku dulu jika mau kesini?" Ucap Sonny bertanya balik.
"Mamah mu ini langsung panik ketika mendengar kabar jika kamu sedang sakit, papah juga tau dari sekretaris mu kalau kamu tidak masuk bekerja. Kenapa kamu tidak memberitahu kami Son?" Ungkap lelaki paru baya itu.
"Benar, nak. Kenapa tidak memberitahu kami?" Sambung Hanin.
"Aku cuma sakit biasa, aku tidak mau kalian khawatir" Jawab Sonny.
"Iya mah, maafkan Sonny sudah membuat kalian cemas"
Obrolan anak dan orang tua itu tak luput dari pendengaran Arin yang masih mematung di salah satu anak tangga.
Bram yang menyadari keberadaan Arin lantas berkata.
"Sonny siapa wanita itu?"
Perhatian Sonny dan hanin teralihkan pada Arin, Sonny langsung melambaikan tangan menyuruh Arin untuk turun dari sana.
"Kemarilah, Rin... "
Dengan ragu dan perasaan tak karuan Arin menuruti perintah suaminya hingga kini ia berada disamping sang suami.
"Perkenalkan mah pah, dia..... "
"Omaaaaaa Opaaaaaaaa........" Tiba-tiba suara Meimei terdengar menggelegar, gadis kecil itu keluar dari kamar bersamaan dengan Noval, Meimei langsung berlari tatkala melihat nenek dan kakeknya berada disana.
__ADS_1
"Cucu omaaaa....... "
Hanin langsung menyambut sang cucu dengan pelukan, kemudian mencium wajah perempuan imut itu penuh kerinduan.
"Oma sama Opah kok ada disini?" Cicitnya heran.
"Oma sama Opah mau liat papah kamu yang lagi sakit, Meimei gimana kabarnya? Sehat kan? Gak sakit kayak papah?"
"Enggak Oma, Meimei gak sakit kok!"
"Syukurlah.... Oma khawatir sama kalian"
"Opah juga khawatir, tadinya kami mau menjemput kamu karena takut kamu juga sakit. Tapi syukurlah kalau kamu sehat-sehat saja" tambah Bram.
Di sela-sela obrolan itu, Noval mendekati Arin dan bertanya.
"Bunda, kita pulang sekarang?"
Suara Noval yang nyaring terdengar oleh semua orang, mereka baru menyadari jika ada satu lain orang lagi yang mereka tidak kenal.
"Tante Arin mau pulang sekarang?" Timpal Meimei yang langsung berpindah pada Arin.
"Arin? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu" Gumam Bram mengingat-ingat.
"Ah benar! Kamu tetangga sonny sekaligus yang menjaga cucuku Meimei, bukan?" Tebaknya.
Arin mengangguk pelan, membenarkan tebakan Ayah dari suaminya tersebut.
"B-benar..... "
"Tapi.... Kenapa kamu dan anak kamu ada disini?"
"Tante Arin sama kak Noval nginep tadi malam, Opah!" Kata Meimei jujur, sekuat apapun Arin dan Sonny menyembunyikan hal itu Meimei malah menyebarkan kejadian yang sebenernya!
"Meimei.... " Suara Arin tercekat ketika mendengar perkataan yang dilontarkan oleh anak berusia empat tahun itu, namun nasi sudah menjadi bubur.
"Menginap???" Jelas Hanin dan Bram semakin kebingungan, mereka menatap Sonny dan Arin berganti seolah menuntut penjelasan.
"Bagaimana bisa menginap padahal kalian hanya seorang tetangga? Ada apa ini? Ada yang kalian tutupi dari kami?" Cecar Hanin dengan pertanyaan.
"I-itu...... " Arin melirik ke arah Sonny yang hanya diam, ia dibuat kebingungan sendiri. Arin dihadapkan oleh orang dewasa yang tidak akan bisa di bodohi layaknya anak kecil, seperti yang sering ia lakukan pada Noval.
Ditengah kebingungan Arin, Sonny tiba-tiba merangkul bahunya hingga membuat tubuh mereka merapat, Arin langsung menatap Sonny dan menunggu apa yang akan diucapkan pria ini.
__ADS_1
"Mas??"
"Mah... Pah.... Perkenalkan ini Arin, kekasihku"