
Satu minggu kemudian...
Hari jumat pagi tepatnya, mobil milik Arin mendadak mogok dan tak bisa di jalankan, wanita itu meminta bantuan Sonny untuk mengecek mesin apakah ada yang rusak atau tidak.
Dan setelah di cek ada beberapa bagian mesin yang harus diganti, Arin menghela nafas kasar, padahal dirinya sudah bersiap mengantar Noval ke sekolah tetapi mobil yang ia miliki justru tak bisa digunakan.
"Tidak usah khawatir, Noval biar aku yang antar ke sekolah" Seru Sonny yang paham apa yang tengah dipikirkan sang istri.
"Beneran, mas?"
"Iya, lagipula aku juga mau berangkat sekarang" Ucap Sonny sekali lagi.
Fokus Arin beralih pada sang putra yang berada di belakangnya.
"Noval gapapa kan hari ini Om Sonny yang anter kamu ke sekolah? Mobil bunda mogok tiba-tiba harus di perbaiki dulu" Kata Arin menjelaskan.
Dengan lesu dan tanpa banyak bicara Noval menganggukkan kepala.
Salah satu alis Arin terangkat ketika melihat sikap sang putra, seperti ada yang berbeda dari Noval.
"Kenapa sayang? Kamu lagi sakit ya?" Ujar Arin sembari menempelkan punggung tangannya di dahi bocah kecil itu, memastikan anaknya baik-baik saja.
Noval menggeleng, "Enggak, bun. Kalau gitu Noval berangkat dulu"
Sikap Noval sangat berbeda hari ini, ia berjalan melewati ketiga orang disana begitu saja disusul oleh Sonny yang segera memanaskan kendaraan miliknya.
Sedangkan Arin dan Meimei hanya berdiri di dekat pagar rumah dengan Arin yang tak sedikitpun beralih memandang sang putra.
Setelah semua siap barulah Sonny menjalankan mobil itu.
"Kita berangkat sekarang ya"
__ADS_1
Dan dibalas anggukan oleh Noval.
***
Sesampainya di depan sekolah Noval belum juga beralih dari kursi mobil, pria kecil itu hanya diam sambil menatap kosong ke luar jendela.
Sonny memperhatikan putra sambungnya itu penuh tanda tanya, mungkinkan Noval sedang melamunkan sesuatu sampai tidak sadar jika mereka sudah sampai?
"Noval?" Panggil Sonny berniat membuyarkan lamunannya.
Namun tak ada sahutan apapun, Noval masih terus menatap ke luar jendela.
"Noval? Kita udah sampai loh" Cetus Sonny sekali lagi.
"Kamu gak akan turun? Atau... Jangan-jangan kamu sakit ya?" Pikir Sonny bertanya.
"Kalau gitu kita pul..... "
"Om Sonny mau menikah sama bunda?" Sergah Noval tiba-tiba.
"N-noval.... "
Noval menoleh ke arah Sonny, menatap pria yang beberapa hari ini mengelilingi pikirannya, Noval menatap Sonny dengan tatapan intimidasi.
"Apa Om yakin bisa bahagiain bunda?" Cicit Noval tak sungkan-sungkan.
Sonny menelan air liurnya di susah payah, ia seperti tengah berada dalam suasana sidang, terasa sangat tegang dan membuat hatinya tak tenang.
"Akhir-akhir ini Noval sering denger orang-orang ngobrolin Om sama bunda, awalnya Noval gak tau, tapi waktu Oma Opah dateng ke rumah mereka selalu ngebahas tentang Om dan juga Meimei. Oma sama Opah juga minta supaya Noval bisa nerima orang-orang baru, dan sekarang Noval ngerti. .. Om sama bunda mau menikah, iya kan?" Jelas Noval panjang lebar, terdengar sangat tegas dari cara bicaranya, Noval tidak terlihat seperti anak kecil jika sedang membahas terkait sang Ibu, dia begitu serius dan mengawasi.
Sonny tidak tau apa yang harus ia jawab, khawatir jika kata-kata yang ia keluarkan akan salah ditanggapi oleh Noval, namun sepertinya tak ada yang bisa ia tutup-tutupi lagi.
__ADS_1
"Noval.... Sebelumnya Om mau minta maaf kalau Om baru bicara ini dengan kamu. Tapi.... Om benar-benar ingin menikahi bunda kamu, Om sayang dengan bunda kamu, dan Om juga menyayangi kamu sama seperti Om menyayangi Meimei. Om ingin kita menjadi keluarga seperti yang lain... Om ingin kita hidup saling melengkapi, Om ingin menjaga kalian setiap waktu... Kamu sudah Om anggap sebagai anak kandung Om sendiri, tolong... Izinkan Om untuk menikah dengan bunda. Om mohon.... " Pinta Sonny dengan segenap keberanian, sudah saatnya ia berkata jujur dihadapan Noval, mau apapun jawaban dari Noval Sonny harus menerima itu dengan lapang dada, ia juga harus memahami perasaan Noval.
Noval diam cukup lama. Jadi benar, sang bunda akan menikah lagi!
Ini memang berat baginya, namun... Ingatan ingatan di beberapa momen dimana Arin terlihat bahagia ketika berada bersama Sonny terlintas jelas membuat Noval ikut merasakan apa yang dirasakan sang bunda.
Haruskah ia menerima Sonny sebagai ayah sambungnya?
"Om Sonny gak akan pernah sakitin bunda kan?" Pertanyaan lain pun muncul lagi.
Sonny segera menanggapi dengan cepat.
"Tentu, Om gak akan pernah menyakiti bunda kamu! Om gak akan pernah berani untuk melakukan itu" Jawab Sonny.
"Om Sonny.... Gak akan punya wanita lain selain bunda kan?" Kali ini pertanyaan tersebut mengingatkan Noval akan perilaku Faris terhadap Arin, menjadikan peristiwa itu sebuah trauma mendalam yang tak pernah ingin Noval lihat lagi.
Sonny tersenyum getir, sebegitunya Noval mengkhawatirkan Arin, Sonny sangat terharu dibuatnya.
Tangannya bergerak mengelus surai hitam itu dengan penuh kasih sayang.
"Noval gak perlu khawatir, bunda akan selalu menjadi wanita satu-satunya untuk Om. Om akan selalu memperlakukan bunda dengan baik, Om janji! Kalau Om ingkar Noval boleh pukul Om sepuasnya" Ujar Sonny mencoba meyakinkan keraguan Noval.
Terdengar helaan nafas berat bocah tersebut, Sonny paham kini pikiran Noval tengah berkecamuk dan sulit untuk menentukan pilihan.
Tak lama Noval kembali menatap Sonny dengan intens sembari berucap.
"Tolong jangan ingkar janji, Om. Jangan pernah sakitin bunda sedikit pun, jangan buat bunda nangis, buat bunda senyum terus. Noval.... Noval udah izinin Om dan bunda untuk menikah" Dan kata-kata kramat itupun akhirnya keluar juga!!!
Senyum Sonny seketika merekah, jiwanya ikut bergetar merasakan kebahagian yang tak ada tandingannya ini, Sonny pun lantas memeluk Noval dengan erat.
"Makasih Noval.... Makasih banyakkk... Makasih udah merestui kami berdua.... " Ucap Sonny sambil beberapa kali mencium pucuk kepala putra sambungnya.
__ADS_1
"Hmm... Sama-sama"
Noval pun ikut tersenyum simpul, ia tau keputusannya sudah tepat, ia akan membiarkan Arin bahagia jika Sonny lah orangnya.