
Ketika selesai bertukar peluh kini Sonny dan Arin tengah duduk di kursi kerja pria itu dimana Arin duduk di atas pangkuan Sonny.
Meimei belum juga datang, jadi Sonny dan Arin masih berani bermesraan. Arin dengan nyamannya bersandar di bahu kiri sang suami, Sonny pun jelas tak keberatan dengan hal itu.
"Apa sekertaris mas Sonny mendengar suara kita tadi?" Cicit Arin sembari memainkan dasi suaminya.
"Dia tidak akan berani mendengarnya" Jawab Sonny terdengar asal.
"Aku malu tau! Nanti kalau aku pulang dan bertemu dengannya bagaimana? Dia pasti akan tertawa melihat ku" Cebik Arin malu ketika membayangkan hal itu.
"Tidak akan, itu tidak akan terjadi... Aku jamin. Kamu tenang saja" Lagi-lagi Sonny berbicara santai, ucapan lelaki ini seolah sudah direncakan.
Arin pun tak berkata, lagipula mau terdengar atau tidak mereka sudah melakukannya, tidak akan bisa ditarik kembali.
"Mas Sonny.... " Panggil Arin.
"Iya, kenapa?" Sahut Sonny sembari mengelus rambut panjang istrinya.
"Emm.... Enggak jadi deh!" Kata Arin mengurungkan niatnya.
"Ada apa? Katakan saja... "
"Enggak kok, bukan hal penting juga" Lanjut Arin tetap tak mau berucap.
__ADS_1
"Kamu ini, padahal aku sudah siap mendengarkan" Namun Arin hanya terkekeh kecil.
Tak ada pembicaraan apapun lagi diantara mereka, keduanya sama-sama diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Tok! Tok! Tok!
Mendengar suara pintu sontak Arin bangun dari pangkuan Sonny, jantungnya hampir saja copot ketika mendengar seseorang mengetuk pintu.
"Mas Sonny, ada yang mau masuk" Ucap Arin.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi Tuan, ada seseorang yang mau menemui Anda" Terdengar suara sekertaris Sonny dari luar sana.
Clekkk....
Pintu terbuka.
"Maaf menganggu waktu anda Tuan, tapi ada tamu yang mau menemui anda" Ungkap sang sekertaris menunduk.
"Siapa?"
"Selamat siang Tuan Sonny" Sapa seseorang itu muncul dari balik punggung sekertaris Sonny.
__ADS_1
"Nona Tasya???"
Sonny sedikit melebarkan mata ketika melihat orang tersebut, ia pun langsung menyapa balik sang tamu yang tak lain adalah rekan bisnisnya.
Sekertaris Sonny langsung berlalu dari sana setelah mengantarkan tasya, wanita itu pun sudah bertemu dengan orang yang sedari tadi ingin ia temui.
"Selamat siang juga Nona Tasya, saya tidak tau Anda akan kemari" Ujar Sonny bingung.
"Maaf Tuan Sonny sebelumnya, ini memang terlalu mendadak, saya perlu tanda tangan Anda untuk kontrak kerjasama kita. Maaf jika kedatangan saya menganggu, apa anda punya waktu sebentar?" Tanyanya.
Sonny menoleh kebelakang menatap Arin yang berdiri disana, kemudian menatap lagi tamunya.
"Tanda tangan ya?"
"Iya, sebentar saja kok" Ucap Tasya membenarkan.
"T-tentu.... M-masuklah" Akhirnya Sonny membukakan pintu ruangan dengan lebar membiarkan Tasya masuk ke ruangannya.
Perempuan itu pun mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke ruangan Sonny, senyum yang tadinya nampak cerah perlahan sirna tatkala melihat seorang wanita berdiri di dalam ruangan pria itu.
Arin pun demikian, ia sama terkejutnya ketika melihat seorang perempuan masuk ke dalam ruangan Sonny, namun Arin yakin jika dia adalah rekan bisnis suaminya. Dengan sopan Arin tersenyum pada Tasya.
Tasya yang awalnya masih mematung akhirnya membalas senyum Arin meski dengan senyuman kaku. Meski di dalam hatinya ia bertanya-tanya siapa dia?
__ADS_1