
Seminggu kemudian...
Siang itu Noval dan Meimei bermain di rumah tetangganya, karena hari ini tanggal merah semua sekolah dan kantor libur dalam kegiatan mereka sehari-hari.
Kedua anak itu bermain tanpa di temani oleh Arin, sedangkan Arin yang kala itu tak menemani anak-anak memilih untuk memasak makan siang nanti.
Wanita dua anak itu nampak sibuk bergelut dengan peralatan masak di dapur, sampai-sampai ia tak menyadari jika seseorang masuk ke dalam rumahnya secara diam-diam.
Hingga orang tersebut memeluk Arin dari arah belakang hingga membuat si empu terlonjak kaget!
"Astaga!"
Arin segera menoleh guna melihat orang tersebut.
"Mas Sonnyyyy.....!!" Hardik Arin kesal.
"Hahaha..... Maaf maaf" Gelak Sonny tertawa melihat reaksi sang istri.
"Aku kaget banget loh mas! Gimana kalau aku jantungan?! Ishh.... Ada-ada aja deh mas Sonny ini" Cebik Arin menggerutu.
"Habisnya kamu fokus sekali memasak, gimana kalau ada orang masuk selain aku? Kamu harus hati-hati meski sedang sibuk melakukan sesuatu" Kata Sonny menasihati.
"Iya deh... Jadi semua ini salah aku bukan salah mas! " Balas Arin yang mana membuat Sonny makin panik dibuatnya.
"Lho, bukan itu maksudku... Aku tidak bermaksud menyalahkan kamu" Ujar Sonny meluruskan tetapi Arin diam tak menanggapi.
Lalu Sonny semakin memeluk istrinya lebih erat, mencium pipi kanan Arin dengan sangat romantis.
"Maaf... Tolong jangan marah ya"
"Heem" Balas Arin berdehem.
"Yang benar? Tapi kamu masih bersikap cuek"
"Apa sih mas, lebih baik mas Sonny duduk aku sulit memasak kalau begini"
"Tidak mau! Aku mau tetap memeluk kamu seperti ini" Tolak Sonny mentah-mentah.
"Haisss... Terserah mas"
Akhirnya Arin pun membiarkan sang suami memeluknya sesuka hati, pria itu tau saja apa yang membuat hatinya luluh meski sedang dalam mode marah.
Apalagi hari libur ini Sonny memilih tidak bekerja membuat mereka bisa meluangkan waktu bersama.
"Anak-anak kemana? Aku tidak mendengar suara mereka sejak masuk tadi" Tanya Sonny.
"Mereka bilang mau bermain di rumah mbak Puspa makanya aku izinkan"
"Ohh.... " Ucap Sonny ber oh ria.
Tapi sedetik kemudian pria itu mulai bersikap tidak biasa, tangannya mulai menggoda tubuh sang istri membuat Arin tak nyaman.
"Mas! Geli... Lepas" Titah Arin.
"Plissss.... Mumpung tidak ada Meimei dan Noval, aku juga pingin bermain" Pinta Sonny dengan suara yang terdengar sensual.
"Tapi... Aku sedang memasak" Cegah Arin sebisa mungkin.
"Tunda saja, yang satu ini lebih penting. Apa kamu tidak merasakan sesuatu dibawah sana?"
__ADS_1
Seketika Arin membeku tatkala milik Sonny mengeras tepat di belakangnya, Arin meneguk salivanya kuat-kuat, haruskah ia menuruti permintaan Sonny yang satu ini?
Menolak pun sepertinya akan sulit, Sonny bahkan sudah menjilati setiap sudut leher jenjang Arin membuat ia merasa desiran hebat atas perbuatan sang suami.
"M-mas Sonny... "
"Sebentar saja.... Aku janji" Dan seketika Sonny membalikan tubuh Arin agar mengarah kepadanya.
Dan dalam sekejap posisi mereka sudah berhadap-hadapan, Sonny sudah tak bisa menahan lagi, dalam hitungan detik ia pun mencium bibir sang istri.
Arin hanya bisa pasrah, ciuman itu semakin menggelora dan menuntut lebih, Arin terlihat mengalungkan kedua lengannya di leher sang suami.
Sedangkan Sonny langsung mengangkat tubuh Arin kemudian membawanya ke dalam kamar.
***
Di satu sisi, Faris yang kala itu sama-sama tidak bekerja memutuskan untuk berkunjung ke rumah Arin, ia juga ingin melihat putranya disana.
Mobil berwarna hitam itu pun memasuki pekarangan komplek rumah Arin, dengan senyum yang mengembang sempurna Faris sesekali menoleh ke samping menatap permainan yang ia beli untuk Noval.
Kali ini ia harus membuat Noval terkesan padanya, Faris tak mau berhenti begitu saja karena kedekatan Noval dengan Sonny, ia yakin masih ada ikatan batin antara anak dan Ayah yang akan membuat mereka sama-sama ingin kembali dalam satu ikatan keluarga yang sempurna.
Tak lama mobil Faris sudah terparkir di depan rumah Arin, lelaki itu lantas keluar sembari membawa mainan untuk Noval.
Dengan semangat yang masih penuh Faris berjalan ke rumah tersebut, sesampainya di depan rumah Faris lantas menekan bel beberapa kali.
Ting Tong
Ting Tong
Namun tak ada satu orang pun yang keluar, Faris juga mencoba untuk mengetuk pintu.
"Arinnnn.... Novalll..... " Panggil nya.
"Noval ini Ayah nak! Tolong buka pintunya... Noval? Arin?"
Faris dibuat kebingungan karena pemilik rumah sama sekali tak ada tanda-tanda akan membuka pintu tersebut.
Refleks Faris memutar hendel pintu itu, tanpa diduga pintu rumah Arin terbuka dengan mudah.
"Tidak di kunci?"
Faris pun mencoba membuka pintu lebih lebar, ia memanggil-manggil nama Arin dan Noval berharap mereka mendengar suaranya.
"Permisiiiii..... Arinnn.... Novallll.... "
"Halooo..... Kalian di rumah?"
"Haisss.... Bagaimana ini? Pintu rumah tidak di kunci tapi tidak ada satu pun yang mendengar suara ku" Gumam Faris.
"Apa mereka benar-benar tidak ada di rumah?"
Faris berdiri disana cukup lama, tetapi telinga Faris samar-samar mendengar suara di dalam rumah itu.
Sesaat suara itu hilang, tetapi makin lama suara itu samar-samar terdengar meski tidak terlalu jelas.
Spontan Faris melangkahkan kakinya ke dalam rumah, dengan langkah yang begitu pelan Faris mencoba mencari sumber suara.
Tepat di bawah tangga Faris yakin suara itu berasa dari lantai dua.
__ADS_1
"Eughh.... "
Suara itu muncul lagi, Faris mempercepat langkahnya menaiki beberapa anak tangga hingga kini ia sudah berada di lantai dua.
Pandangannya langsung tertuju pada sebuah pintu, langkah kaki Faris terus mendekat kesana.
"Mmmphhh.... Mas.... Ahhh..... "
Deg!
Apa itu?! S-siapa yang berada di dalam sana? Perasaan Faris mulai tidak enak, suara itu makin jelas di telinganya.
"Aahhh..... Mas.... Pelan-pelan.... "
Suara itu! Ia sangat mengenalnya, itu suara Arin!!!
Ya itu Arin!
"Aaahhh..... Mas Sonny!"
Seketika Faris terbelalak lebar, Sonny?!!! Lelaki itu... Dia di dalam.... Lalu Arin?? Mereka....
Jantung Faris sudah tidak bisa terkontrol, wajahnya memerah, tangannya mengepal hingga memperlihatkan urat-urat tangan, nafasnya memburu.
Dalam sekejap Faris mendobrak pintu kamar itu!
BRAKKK!!!
dan...
DUARRR....
Bak di sambar petir di siang bolong seketika Faris mematung di tempat, jantungnya serasa berhenti saat itu juga ketika melihat pemandangan didepan matanya yang sama sekali tak pernah terlintas di dalam otak Faris.
Arin... Dengan mata kepalanya sendiri Faris melihat bagaimana seorang Arin berada dalam kukungan laki-laki lain.
"Mas Faris???"
Tak hanya Faris, Arin dan Sonny pun sama-sama terkejut. Mereka tak menyangka kedatangan Faris membuat kedua insan itu terciduk ketika tengah melakukan hubungan intim.
Sonny buru-buru bangkit dan memakai boxer serta celana miliknya, sedangkan Arin hanya bisa menutupi dirinya dengan selimut.
"A-apa yang mas Faris lakukan disini?!" Sentak Arin.
Faris tak menjawab, ia berjalan ke arah Sonny dengan tatapan membunuh, semakin dekat sampai akhirnya sebuah tinju melayang di wajah seorang Sonny Ganiadi.
Bughh!!
"Mas Faris!! Apa yang mas lakukan?!!" Teriak Arin marah.
"BRENGSEKKK!!! BERANINYA KAU MENODAI DIA....!!! BRENGSEKKK..... "
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"MAS FARIS BERHENTI!!!" Arin histeris ketika melihat Sonny yang dipukul oleh Faris secara membabi buta, namun tak ada perlawanan apapun dari Sonny.
__ADS_1