Tetangga Cantik Kesayangan Putriku

Tetangga Cantik Kesayangan Putriku
Diperhatikan


__ADS_3

Sebelum Arin memarkirkan mobilnya, ia berhenti terlebih dahulu didepan rumah Indah, tetangganya. Ia ingin menjemput Meimei yang tadi sempat ia titipkan pada sang tetangga.


Arin mengetuk pintu rumah tersebut, tak lama sang pemilik rumah keluar bersamaan dengan Meimei.


"Tante Arinnnnn.......!!" Meimei langsung berlari ke arah Arin begitu melihat wanita tersebut datang.


"Udah selesai, mbak?"


"Udah mbak, maaf ya saya jadi ngerepotin" Ujar Arin tak enak.


"Gapapa mbak, sesama tetangga kan memang harus saling membantu. Kayak mbak Arin sama mas Sonny, gimana keadaan mas Sonny sekarang mbak?" Tanyanya penasaran.


"Kata dokter cuma demam"


"Oh syukurlah, kasihan saya liatnya... Mas Sonny sudah lama menduda tidak ada yang mengurus" Ungkap Indah tak tau jika kini ia tengah berhadapan langsung dengan istri lelaki itu.


Arin tertegun dan hanya bisa tersenyum paksa.


"I-iya mbak, kasihan juga Meimei kalau mas Sonny sampai sakit" Kata Arin bersandiwara.


"Iya bener banget mbak Arin, semoga mas Sonny cepet sembuh saja deh"


"Iya mbak, kalau begitu saya sama Meimei pamit dulu ya mbak. Sekali lagi makasih banyak mbak Indah sudah jagain Meimei... Kami permisi"


"Sama-sama... Titip salam buat mas Sonny ya mbak Arin"


"Siap, nanti saya sampaikan"


"Dah.... Tante Indah" Ucap Meimei melambaikan tangannya.


"Dah Meimei.... " Balas Indah merasa gemas pada gadis kecil tersebut.


***


Setelah sampai, Arin lebih memilih berdiam di rumah Sonny, ia ingin merawat suaminya yang sedang sakit itu.


Sonny pun tak protes, meski sudah terbiasa sendiri dikala sakit namun Sonny tak mau menolak perhatian yang Arin berikan padanya.


Seperti sekarang, Sonny yang tengah duduk di sofa bisa melihat secara langsung Arin yang tengah menuangkan bubur untuknya.


Wanita itu bilang jika Sonny tidak boleh melakukan apapun hari ini, cukup istirahat saja. Jika ada sesuatu Sonny cukup bilang pada Arin.


"Tante beli bubur dimana?" Tanya Meimei yang berdiri di sebelah Arin, melihat aktivitas yang dilakukan oleh perempuan dewasa tersebut.


"Tadi waktu tante pulang dari dokter, eh... Meimei mau juga ya? Duh tante lupa beli" Cetus Arin panik, pasalnya Meimei tak sarapan di rumah Arin, apalagi Sonny sedang sakit.


Dengan cepat Meimei menggeleng, "Enggak, tadi Meimei udah makan sereal"


"Yang bener? Nanti kalau Meimei laper lagi bilang sama tante ya"


"Iya, tante"

__ADS_1


Arin lalu membawa mangkuk yang berisikan bubur tersebut, ia lantas duduk di sebelah sang suami. Sonny pikir Arin akan menyerahkan bubur itu padanya begitu saja, namun dugaan Sonny salah besar. Arin justru menyuruhnya membuka mulut, perempuan tersebut berniat menyuapi nya.


"Kenapa malah bengong, mas? Buka mulutnya... Aaaaaa..... "


Sonny yang masih mematung tanpa sadar membuka mulutnya hingga ia merasakan panas yang menjalar di bagian lidahnya ketika Arin memasuki bubur itu.


Dengan mulut yang mengunyah, Sonny terus memandang wajah istrinya dengan durasi yang lama. Beginikah rasanya jika ia memiliki istri lagi? Dikhawatirkan, dijaga, dan dirawat sepenuh hati. Sonny benar-benar merasakan itu semua, hatinya menghangat mendapat perlakuan seperti ini dari Arin. Sudah lama ia tidak merasakan perhatian dari seorang wanita.


"Pasti rasanya hambar ya? Padahal sudah aku campurkan kecap manis, kalau sedang sakit pasti semua makanan akan terasa hambar"


"Ini enak, kok! Aku suka... " Jawab Sonny tanpa mengalihkan pandangannya dari Arin.


"Yang bener?"


Sonny mengangguk mengiyakan, "Iya, mungkin juga karena disuapi oleh kamu. Jadi rasanya semakin enak" Ungkap Sonny.


Namun ucapan Sonny bak sebuah gombalan di telinga Arin.


"Mas Sonny kalau sakit memang suka aneh ya, tiba-tiba merubah jadi raja gombal" Cibir Arin sembari terus menyuapi Sonny.


"Tapi aku tidak sedang berbohong!" Elak Sonny berusaha membuat Arin percaya.


Dan detik itu juga Arin langsung membeku sesaat, ia menatap Sonny dengan sedikit rasa tak percaya.


"Aku serius, Rin....! Mungkin... Karena aku sudah lama tidak mendapat perlakuan seperti ini, jadi meskipun sedang sakit tapi semuanya terasa nikmat" Imbuh Sonny mengutarakan isi hatinya.


Arin termangu mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Sonny, tiba-tiba ada perasaan bangga pada dirinya sendiri, Arin tersenyum senang karena perilakunya di diapresiasi oleh sang suami.


"Aku jadi ingin sakit terus kalau begitu"


"Mas Sonny!!!"


Bugh!


Spontan tangan Arin bergerak memukul lengan Sonny, bagaimana tidak? Ia kesal karena Sonny berbicara sesuatu yang tidak tidak, dirinya sudah dibuat panik tetapi lelaki itu justru malah mengatakan hal yang lebih parah.


"Aww!!" Pekik Sonny terkejut.


"Mas Sonny jangan asal bicara dong! Ucapan itu bisa jadi doa lho... !" Cebik Arin bersungut.


Sonny malah cengengesan ketika diberitahu istrinya, entah kenapa Arin berubah protective dan lebih menyeramkan, tapi Sonny mengakui jika ia yang salah dalam berbicara meski hanya sebuah gurauan semata.


"Maaf maaf... Aku cuma bercanda kok, hehe... Jangan marah ya" Bujuk Sonny merayu.


Arin yang melihat itu hanya memutar bola mata malas, keduanya kini menemukan sisi lain dari pasangannya yang tidak mereka ketahui.


"Papahhh.... " Meimei tiba-tiba berteriak dan mendekat ke arah mereka.


"Ada apa sayang?" Ujar Sonny.


"Papah masih sakit ya?" Tanya gadis kecil itu.

__ADS_1


"Iya sayang, papah masih sakit" Jawab Sonny sambil mengelus surai lembut milik putrinya.


"Kalau gitu biar meimei periksa" Meimei pun membawa mainan dokter-dokteran yang ia miliki, kemudian memeriksa Sonny bak dokter sungguhan.


Sonny pun hanya diam membiarkan putrinya melakukan apa yang dia inginkan.


"Papah sakit disebelah mana?"


"Disini sayang. .. " Sahut Sonny menunjukkan bagian kepalanya.


"Okey, Meimei periksa ya pah" Dengan stetoskop mainannya Meimei pun memeriksa kepala Sonny.


"Udah pah!"


"Lho, kok udah? Cepet banget"


"Udah dong, kan meimei dokter hebat" Imbuhnya percaya diri.


"Emang cita-cita Meimei mau jadi dokter ya?' seru Arin ingin tau.


Dengan sangat semangat Meimei menganggukkan kepala, "Iya! Meimei mau jadi dokter biar bisa sembuhin orang sakit"


"Wah... Hebat! Bagus itu, tante dukung Meimei jadi dokter" Pungkas Arin menyemangati.


"Emang tante gak takut? Nanti Meimei suntik loh?"


"Nah bener tuh, tante Arin kan udah lama gak disuntik" Celetuk Sonny sembari mengedipkan satu matanya, sangat terdengar ambigu di telinga Arin.


Wajah Arin pun mendadak merona, pipinya memerah bak udang rebus. Ia terbelalak mendengar ucapan Sonny barusan. Apa Sonny tidak malu berbicara demikian dihadapan Meimei?!! Sonny ini benar-benar!


"M-mana ada! T-tante berani kok" Jawab Arin terbata-bata, pikirannya sudah tidak fokus dan berkelana kemana-mana.


"Beneran? Soalnya Meimei suka nangis kalau disuntik sama dokter" Cerita Meimei pada Arin.


"Gapapa, nanti kalau Meimei jadi dokter gak akan ada yang berani suntik Meimei"


"Anak papah pinter banget sih... Papah seneng deh liatnya" Pungkas Sonny menambahkan.


"Nanti kalau meimei jadi dokter papah seneng gak?" Cicitnya.


"Seneng dong, masa gak seneng. Tapi jadi dokter harus banyak belajar, nanti kalau Meimei udah sekolah Meimei harus belajar yang bener, Oke?" Ungkap Sonny.


"Oke, pahhh.... "





__ADS_1


Jangan Lupa Votenya Ya Manteman🥰


__ADS_2