Tetangga Cantik Kesayangan Putriku

Tetangga Cantik Kesayangan Putriku
Sebuah Figura


__ADS_3

Setelah selesai menyuapi Sonny, Arin menyuruh suaminya untuk beristirahat di kamar. Awalnya Sonny menolak karena ia ingin tetap berada di ruang keluarga bersama dengan Arin dan juga Meimei, tetapi Arin bersikeras menyuruh Sonny beristirahat sesuai perintah dengan dokter.


Akhirnya Sonny pun menurut dan masuk ke dalam kamar, sedangkan Arin sibuk menemani Meimei dikamar gadis itu, melihat kamar Meimei yang begitu berantakan Arin pun langsung membereskannya dengan gesit.


"Meimei mainan yang ini mau ditaruh dimana?" Tanya Arin sembari menunjukkan mainan yang dipegangnya.


"Di laci, tante" Jawab Meimei yang melihat Arin sekilas kemudian kembali sibuk dengan mainannya.


Arin pun lantas membuka laci yang dikatakan oleh Meimei, ketika Arin membukanya nampak sebuah figura kecil didalam sana.


Sebuah foto masa lalu yang menampilkan seorang gadis kecil bergaun putih sedang tersenyum begitu cantik.


Sejenak Arin terdiam, lalu kedua lengannya refleks mengambil figura tersebut dan melihatnya lebih teliti.


Jika dilihat dari warna yang ditampilkan foto itu seperti foto jaman dulu sekali, tetapi wajahnya sangat mirip dengan Meimei.


Karena penasaran Arin pun lantas bertanya.


"Meimei.... Ini foto siapa?" Seru Arin.


Meimei mengalihkan perhatiannya, menatap Arin yang tengah memegang sebuah figura ditangannya.


"Oh.... Kata papah itu foto mamah waktu kecil"


Deg!


Ucapan Meimei jelas membuat Arin terkejut, bagaimana tidak? Arin baru pertama kali melihat foto mendiang istri dari Sonny meski hanya sebuah foto masa kecil.


Arin menatap kembali foto itu, wanita itu sangat cantik dan memiliki senyum yang indah. Siapapun yang melihatnya pasti akan dibuat terkagum-kagum, namun perasaan Arin mendadak tak karuan!


Mungkinkah karena ia belum mengunjungi makam mendiang istri dari suaminya sekarang? Arin memang belum terpikir sampai kesana.


Raut muka Arin berubah sendu, ada perasaan bersalah dari dirinya sendiri, ia merasa sedang merebut laki-laki milik wanita lain! Perasaan Arin sungguh digandrungi rasa tak enak.


Ia pun kembali memasukan figura tersebut, Arin melangkahkan kakinya menuju ranjang milik Meimei dan menduduki bokkongnya disana.


Pikiran Arin menerawang jauh, pernikahan yang awalnya hanya sebuah tragedi semata membuat Arin tak berpikir untuk mengetahui masa lalu dari Sonny, hingga membuat ia lupa sampai saat ini. Dan lagi, Sonny tak pernah membahas tentang mendiang istrinya.


Dan disana Arin kembali dibuat gusar.


***

__ADS_1


Tok Tok Tok!


"Mas Sonny.... " Arin mengetuk pintu kamar Sonny dengan ketukan pelan, ia ingin melihat apa yang tengah dilakukan Sonny di dalam sana.


Sebelumnya Arin sudah meminta izin pada Meimei untuk menemui Sonny di lantai atas, Meimei pun langsung mengiyakan dan membiarkan Arin berlalu.


Tetapi kini Sonny belum juga bersuara, mungkin pria itu benar-benar tidur?


Arin mencoba mengetuk pintu lagi, dan kini terdengar suara Sonny dari dalam sana.


"Aku masuk ya, mas... "


Arin pun membuka pintu kamar Sonny lalu masuk ke dalam ruangan tersebut, dengan perlahan Arin menutup kembali pintu kamar Sonny.


Si pemilik kamar terlihat meringkuk di atas ranjang, Sonny mengangkat sedikit kepalanya dan tersenyum ketika melihat Arin masuk.


"Mas Sonny sedang tidur?" Tanya Arin di ambang pintu.


"Tidak, aku cuma tiduran saja. Kemarilah... " Pinta Sonny menepuk-nepuk ranjang disebelahnya.


Dengan ragu Arin melangkahkan kaki menuju ranjang tersebut, awalnya Arin hanya duduk di tepi ranjang, tetapi Sonny malah menariknya hingga Arin berbaring di atas kasur tersebut.


Tanpa meminta izin terlebih dahulu Sonny langsung memeluk tubuh Arin dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri, mencari-cari posisi yang nyaman untuknya.


Arin pun tak memprotes tindakan Sonny, ia hanya diam sembari mengelus rambut hitam sang suami dengan gerakan lembut.


"Masih sakit?" Tanya Arin pada suaminya.


Sonny menggeleng dalam pelukan, "Sudah membaik" Ujarnya.


Arin lantas menempelkan telapak tangannya di kening Sonny, mengecek suhu tubuh pria ini.


"Syukurlah... Demamnya sudah turun"


Suasana pun kembali hening, Sonny mulai memejamkan matanya, tidur dipelukan sang istri sungguh membuatnya nyaman, Sonny ingin seperti ini setiap hari.


"Mas... " Sahut Arin.


"Hmm.... " Tanggap Sonny dengan gumaman.


Arin terlihat ragu untuk berbicara, ia ingin membahas tentang mendiang istri suaminya ini, tapi... Haruskah Arin membahasnya sekarang?

__ADS_1


"Tadi dikamar Meimei.... Aku tidak sengaja melihat sebuah foto... " Arin menjeda ucapannya, ia meneguk air liur dengan susah payah, sampai dimana Arin meneruskan ucapannya kembali.


"Meimei bilang, itu foto Ibunya waktu kecil" Lanjut Arin.


Seketika Sonny membuka mata, masih dalam posisi yang sama.


"Dia sangat cantik! Mirip sekali dengan Meimei..... " Sambung Arin.


Sonny masih diam, membiarkan Arin meneruskan ucapannya.


"Ngomong-ngomong.... Aku belum pernah mengunjungi makam mendiang istri mas, aku mendadak tidak enak karena belum memperkenalkan diri meski mendiang istri mas sudah tenang disana" Kata Arin.


"Bagaimana pun, kita harus meminta izin terlebih dahulu agar mendiang istri mas bisa merestui kita. Aku merasa sudah merebut mas darinya kalau begini" Ungkap Arin mengutarakan isi hati.


Perlahan Sonny melepas pelukan itu, lalu menatap wajah Arin yang kini terlihat murung.


"Aku sudah meminta izin padanya bahkan beberapa hari setelah kita resmi menyandang status sebagai suami-istri" Imbuh Sonny.


Arin seketika membelalakkan matanya! Cukup terkejut dengan pengakuan Sonny.


"K-kapan? Lalu kenapa mas tidak mengajakku?"


"Waktu itu aku kira hubungan kita tidak akan berlangsung lama, meminta kamu pergi ke makam rasanya sedikit tidak sopan, aku takut kamu menganggap aku terlalu banyak permintaan. Akhirnya aku pergi sendirian... Aku sudah memperkenalkan kamu padanya, aku juga sudah menceritakan bagaimana kedekatan antara kamu dan Meimei, aku yakin dia sudah merestui kita" Jelas Sonny panjang lebar.


Mata Arin tampak sedikit menggenang, pengakuan Sonny bukan melegakan dirinya, justru membuat Arin semakin merasa bersalah.


"Maaf mas.... Aku enggak bermaksud demikian, aku hanya merasa bersalah karena telah melibatkan kamu dalam pernikahan itu. Kamu ikut difitnah gara-gara mengantarkan aku waktu itu, maafkan aku.... Hiks" Arin tak kuasa menahan air matanya, ia pun menangis di hadapan Sonny.


"Hei kenapa kamu jadi menangis seperti ini, ini bukan salah siapapun. Kita memang sudah ditakdirkan menikah dengan cara seperti itu, sekarang kamu tidak perlu lagi merasa bersalah kepada ku ataupun kepada mendiang istriku. Karena itu memang sudah takdir" Ucap Sonny mencoba menenangkan Arin.


Arin pun menghapus air matanya yang jatuh, sekuat tenaga ia berusaha tetap tegar.


"Mas, aku ingin pergi ke makam untuk menemui mendiang istri mas. Aku mohon...." Pinta Arin memelas.


"Tapi arin... "


"Mas!!"


Sonny tak bisa menolak jika sudah begini, akhirnya ia mengangguk dan berjanji akan mengantarkan Arin ke makam mendiang istri pertamanya.


"Baiklah, nanti kita kesana" Ucap Sonny kemudian merengkuh tubuh Arin ke dalam pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2