Tetangga Cantik Kesayangan Putriku

Tetangga Cantik Kesayangan Putriku
Di Kantor?


__ADS_3

Sonny tergelak melihat wajah tegang Arin, ia tahu Arin mesti takut Meimei mengsalah artikan kata-katanya.


"Hahaha.... Aku bercanda" Elaknya tak kuasa menahan tawa.


"Ihhh.... Papah! Tante Arin kan udah besar, nanti papah malah keberatan" Ucap Meimei dengan polosnya.


"Iya juga ya, emang tante Arin itu berat banget kalau lagi nindih papah" Celetuk Sonny tanpa disaring terlebih dahulu, 'makin kesini malah makin kesana'.


Untungnya Meimei tak mengerti dengan ungkapan ambigu itu, "Papah ngomong apa sih?"


"Udah jangan dengerin apa yang diomongin papah kamu" Potong Arin memicingkan matanya pada Sonny, namun ia tetap mendekat dan menaruh kantung makanan di atas meja kerja suaminya.


"Aku bawa bekal untuk makan siang mas Sonny, mas Sonny belum makan kan?"


"Terimakasih, kebetulan aku belum sempat makan siang. Ngomong-ngomong kenapa kalian hanya berdua? Kemana Noval? Tidak mungkin kan dia masih disekolah" Tanyanya baru sadar jika Noval tak ikut bersama dengan mereka.


"Noval dijemput oleh orang tuaku, katanya mereka mau mengajak Noval ke suatu acara. Jadi kami kesini karena Meimei bosan tidak ada yang menemani bermain selain aku" Jawab Arin jujur.


Sonny pun mengangguk-anggukkan kepala tanda paham.


"Kondisi mas Sonny gimana sekarang? Apa tidak pusing bekerja sebanyak ini setelah sakit kemarin?" Tanya Arin ketika melihat tumpukkan berkas di meja Sonny, pria itu meninggalkan pekerjaan sebanyak ini selama sakit, pantas saja Sonny ingin buru-buru bekerja karena jika tidak, bisa dibayangkan seberapa banyak lagi berkas yang akan menggunung.


"Tidak terlalu, aku baik-baik saja. Apalagi sekarang kalian ada disini, rasa lelah ku langsung hilang begitu saja" Ungkapnya.


"Papah.... Opah dimana?" Seru Meimei ingin tahu keberadaan kakeknya yang juga bekerja disini.


"Opah ada di ruangannya, Meimei mau kesana?"


"Mau pah!"


"Boleh, minta sekertaris papah untuk anter kamu kesana" Titah Sonny.


"Oke, pah. Meimei ke ruangan Opah dulu ya" Sonny mengangguk dan membiarkan putrinya pergi menemui Bram.


Setelah Meimei tak lagi nampak, Sonny seketika melancarkan sebuah aksi. Ia menarik lengan Arin hingga perempuan itu terduduk di pangkuannya.


"Aaaa......!. Mas Sonny!!!" Pekik Arin terkejut.

__ADS_1


"Maaf... Tapi aku terlalu senang kamu datang kesini" Kata Sonny membuat kedua pipi Arin merona.


"Aku hanya mengantarkan Meimei saja" Kilah Arin beralasan.


"Benarkah? Tapi kamu juga senang kan bisa bertemu denganku di kantor?" Desak Sonny memaksa Arin untuk jujur.


"K-kata siapa?! Kita bertemu setiap hari aku merasa biasa-biasa saja!" Ucap Arin membantah keras.


"Begitukah?"


"T-tentu saja!" Balas Arin tergugup-gugup, jarak diantara mereka sangat dekat, detak jantung Arin pun berdegup diluar batas normal.


"Tapi aku tetap tidak percaya" Setelah mengatakan itu Sonny langsung mencium bibir Arin dengan brutal.


"Mmpphhh.....!!!"


Serangan Sonny yang mendadak membuat Arin belum siap menerima ciuman panas tersebut, lidah Sonny mendesak masuk ke rongga mulutnya, saling membelit kan lidah mereka hingga suara decapan terdengar jelas diruangan itu.


Arin berusaha keras menyeimbangkan ciuman tersebut, ia pun mulai mengalungkan kedua lengannya, menuntun Sonny agar mengurangi tempo ciuman itu.


"Mas.... Mmphh....!"


Perlahan Sonny mulai bersikap lembut, menyapu bibir Arin dengan gerakan halus tetapi begitu sensual.


Tangan Sonny pun tak dibiarkan menganggur, ia mulai mengangkat lengannya guna membuka satu persatu kancing kemeja istrinya.


Dengan cepat Arin menahan, tetapi keahlian Sonny membuat Arin hanya membuang-buang tenaga.


Kancing kemeja Arin pun terbuka hingga menampakkan dua benda yang masih terbaluti kain berenda, jari-jari Sonny menjalar ke bagian kulit sensiitif itu sampai Arin menggeliat dibuatnya.


Dan ketika lidah Sonny berpindah ke bagian tersebut sontak Arin terpekik kala merasakan gelenyar hebat dari tubuhnya.


Tanpa Arin sadari suaranya justru membuat hasraat Sonny semakin menjadi-jadi, hingga dalam hitungan detik Sonny mengangkat tubuh Arin kemudian mendudukkan istrinya diatas meja kerja.


Kini Sonny bisa lebih leluasa mengeksplor setiap bagian tubuh Arindita.


"Mas Sonny... Aku baru saja datang... Ahhh...!"

__ADS_1


Ucapan Arin terpotong tatkala jari Sonny memasuki areea nya yang paling sensitif, Arin mengigit bibir bawahnya agar tak menimbulkan suara aneh, Arin tidak boleh ikut kehilangan akal sehat hanya karena sentuhan pria ini, ingat mereka sedang berada didalam kantor!!!


"Eughhh..... Mas....!"


Bukannya berhenti Sonny malah semakin suka mempermainkan Arin, mengobrak-abrik didalam sana dengan hanya menggunakan dua jarinya.


Lama kelamaan Arin mulai menikmati permainan Sonny, tak ada yang bisa ia lakukan selain menerima nya, meski Arin menikmati tetapi ia tak mau larut begitu saja, Arin harus tetap menjaga kewarasannya.


Ditengah-tengah permainan itu Sonny berhenti sejenak, ia berjalan ke arah pintu lalu menguncinya agar tak ada siapapun yang dapat membuka penghalang itu, terlebih oleh Meimei.


Sonny kembali ke meja kerja, disana ia melepas ikat pinggangnya sendiri membuat Arin sontak melotot sambil meneguk saliva.


"Mas bagaimana jika Meimei datang?"


"Aku janji cuma lima belas menit" Ucap Sonny.


Arin tak bisa berkata-kata, ia membiarkan Sonny membuka resleting celananya dan rok miliknya. Hingga sesuatu yang masuk terasa sesak dibawah sana.


Sonny menggerakkan tubuhnya tak segan-segan, lelaki itu benar-benar mencari kenikmatan di tubuh Arin, melakukan penyatuan di tempat yang berbeda memang terasa berbeda juga rasanya.


Tubuh Arin bak tersengat aliran listrik, tetapi sengatan itu justru membuatnya makin mendessah dan mengerrang. Sedangkan Sonny tersenyum miring setelah melihat ulahnya yang membuat Arin lemas.


Arin berharap tak ada yang datang disaat seperti ini, terlebih lagi jika orang itu Meimei. Arin tak pernah berpikir jika Sonny akan melakukan hal ini di dalam kantor, niatnya kemari hanya untuk memastikan jika kondisi Sonny baik-baik saja, dan setelah Arin sampai kini ia tahu jika suaminya itu jauh lebih sehat dari dugaannya.


"Ini nikmat bukan? Kamu suka?" Tanya Sonny dengan nafas yang terengah-engah.


Pikiran Arin sudah kalut, ia hanya bisa mengangguk dengan mata yang dipenuhi kabut gairah.


"Kamu sangat cantik, sayang. Kamu selalu berhasil membuat aku tergoda" Bisik Sonny dengan suara berat.


Namun Arin tak menjawab, ia sudah tidak kuat lagi, rasanya sebentar lagi ia akan terbang ke langit ketujuh.


Berbeda dengan Sonny yang sibuk memandang wajah cantik istrinya, entah makhluk apa yang menguasai dirinya sampai sekarang ia sudah tidak malu-malu lagi melakukan hal mes*m demikian. Sonny lelaki normal yang pasti akan mendambakan momen seperti ini, apalagi ia seorang duda yang sangat-sangat merindukan sentuhan seorang wanita. Kini Arin adalah orang yang tepat untuk Sonny menyalurkan seluruh hasrat serta perhatiannya, begitu pun dengan Arin.


"Mas aku tidak kuat lagi.... " Rintih Arin mencengkram lengan Sonny kuat-kuat.


"Kita keluar sekarang sayang, bersiaplah" Sonny menggerakkan tubuhnya dengan tempo berkali-kali lebih cepat, dan detik itu juga sepasang suami istri tersebut dibuat terbang melayang.

__ADS_1


__ADS_2