
Hampir lima belas menit Arin menangis dan mengumpat segala hal tentang Faris, kini wanita itu sudah terlihat lebih tenang.
Dengan sekejap Arin mendorong tubuh Faris agar menjauh darinya.
Cepat-cepat ia menghapus air matanya yang jatuh, Arin juga mengontrol deru nafasnya yang masih belum stabil.
"Mas Faris mending pergi sekarang juga!" Usir Arin emosi.
"Please Rin, biarkan mas disini dulu menemani kamu" Pungkas Faris bernegosiasi.
Arin menggeleng kekeuh, "Pergi mas! Aku butuh waktu sendiri!" Sentaknya terus mengusir lelaki tersebut.
"Rin biarkan mas disini Rin, kalau bisa mas menginap untuk malam ini" Imbuh Faris membuat emosi Arindita kian membuncah.
"Aku bisa teriak ya mas!! Biar kamu diusir sama tetangga dari sini!!! Apa mas lupa kita itu buka suami-istri lagi?!! Lagipula aku ini sudah men.... " Cecar Arin bertubi-tubi tetapi tiba-tiba ia tak meneruskan perkataannya.
"Kenapa Rin? Kamu sudah apa? Men.. Apa?" Tanyanya dengan kening berkerut.
"Lupakan!! Mas udah berjanji untuk segera pergi dari rumahku, apa mas lupa?!!"
"Mas tau Rin, tapi izinkan mas menemani kamu, banyak yang perlu kita bahas sekarang"
"Gak! Gak ada lagi yang perlu kita bahas...! Lebih baik mas Faris keluar sekarang, Pergiiii....."
Dengan suasana hati yang penuh emosi Arin mendorong Faris hingga keluar rumah, dan tanpa banyak bicara ia menutup pintu rapat-rapat.
"Rin mas mohon.... "
BRAKKK!!!
Faris tersentak ketika mendengar hentakkan pintu, seketika ia tak lagi bersuara. Hujan pun sudah reda, mungkin memang ini pertanda jika ia harus pergi dari sana.
"Baiklah Rin, mas akan pulang sekarang. Tapi izinkan mas untuk tetap bertemu dengan Noval, maaf jika kedatangan mas membuat kamu sedih lagi. Mas pamit pulang dulu Rin, selamat malam.... " Lirih Faris sebelum akhirnya dirinya angkat kaki dari rumah itu.
Dibalik pintu, Arin menangis sesegukan. Tubuhnya merosot kebawah sembari menutup mulutnya agar tak terdengar menangis.
Ketika suara hentakkan kaki terdengar Arin langsung menumpahkan tangisnya tanpa ada yang ditutup tutupi, dengan sekuat tenaga ia berlari ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya.
***
Pagi menjelang, Arin terbangun ketika mendengar suara teriakan seorang anak kecil dari luar rumahnya, siapa lagi jika bukan Meimei.
Dalam keadaan setengah sadar Arin mencoba bangkit dari ranjang, ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
Ari langsung terperangah kemudian lari keluar kamar, menuruni anak tangga untuk menemui Meimei yang sudah menunggunya di luar.
Clekkk...
"Meimei....!"
"Tante!! Kok lama buka pintunya??? Meimei sama papah udah nunggu lama nih" Cebik Meimei sebal.
__ADS_1
"Maaf sayang, tante kesiangan tadi. Maaf ya... Maaf" Ucap Arin terengah-engah.
Sonny yang menatap Arin sedari tadi melihat sesuatu yang berbeda dari penampilan wanitanya, terlihat jelas apalagi dari bagian wajah.
"Arin... " Seru Sonny.
Arin langsung menatap suaminya yang sudah rapi dengan setelan kerja, "Iya mas? Maaf mas aku bangun kesiangan, maaf... Mas Sonny gak kesiangan kan untuk berangkat kerja?" Tanya Arin panik, ia tak enak jika Sonny telat berangkat karena dirinya.
"Bukan itu Rin, tapi... Mata kamu sembab! Ada apa? Kamu menangis?" Tanya Sonny.
Deg!
Arin terpaku mendengar pertanyaan suaminya, sembab?!! A-apakah bekas tangisnya masih terlihat jelas???!! Akhhhh.... Bagaimana ini????
Meimei yang mendengar itu ikut menelisik wajah Arin lebih teliti.
"Ih... Mata tante merah sama bengkak!" Kata Meimei MAU menyadari.
"I-ini.... "
Sonny berjalan mendekat dan menyentuh wajah sang istri sambil menatap lekat-lekat perempuan itu.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" Tanyanya sekali lagi, terlihat jelas kekhawatiran dari raut muka Sonny.
Arin menelan salivanya susah payah, bibirnya seakan sulit untuk menjawab pertanyaan Sonny.
"I-ini....... "
"Katakan! Kenapa kamu menangis" Titah Sonny.
"I-ini..... A-aku..... "
Arin melirik ke arah Meimei yang masih berada di tengah-tengah mereka, sepertinya Meimei juga sedang menunggu jawaban Arin.
"Nanti aku kasih tau tapi jangan sekarang, masih ada Meimei disini" Bisik Arin bernada kecil.
Sonny ikut menunduk, melihat putranya yang memandang ke arah mereka secara bergantian.
"Setidaknya beritahu aku sedikit penjelasan, apa kamu menangis karena aku? Apa aku sudah menyakiti kamu tanpa aku sadari?"
Dengan tegas Arin menggeleng, "Bukan mas, ini bukan karena kamu"
"Kamu yakin?"
Arin mengangguk, "Iya mas, aku pastikan bukan karena mas Sonny" Ungkap Arin.
Sonny memundurkan tubuhnya dua langkah, "Baiklah, tapi kamu berhutang penjelasan padaku"
"Iya mas, sekarang mas Sonny lebih baik berangkat kerja ini sudah siang. Pokoknya mas tenang aja aku sudah jauh lebih baik sekarang"
Sonny hanya diam sambil terus memandang wajah Arin yang masih sembab, otaknya berpikir keras dengan apa yang sebenarnya terjadi pada sang istri sampai dibuat menangis.
__ADS_1
"Mas... Kenapa diam? Ayo cepat berangkat" Kata Arin membuyarkan lamunan Sonny.
Mau tak mau Sonny pun menaiki mobil pribadinya, sampai mobil berlalu Sonny masih sempat-sempatnya memandang Arin dari kejauhan, sedangkan yang ditatap hanya melambaikan tangan dengan senyum pagi seperti biasa.
"Ayo Meimei kita masuk" Ajak Arin setelah Sonny pergi berangkat.
"Tante, emang tante nangis ya? Tante lagi sakit?" Ujar Meimei penasaran, sebab mata Arin yang membengkak benar-benar terlihat jelas.
Arin mencoba tersenyum seolah ia baik-baik saja saat ini, "Enggak kok sayang, kemarin tante lupa gesek gesek mata waktu selesai potong cabe, jadinya mata tante perih terus bengkak deh" Tutur Arin beralasan, namun mMeimeiyang polos langsung percaya begitu saja.
"Pasti perih ya tante?"
"Udah enggak kok, cuma bengkak nya aja yang belum hilang nanti juga pasti sembuh"
"Ohhh.... " Sahutnya ber-oh ria.
Mereka pun lantas masuk ke dalam rumah Arin.
***
Siang hari Noval pulang bersama Ibunda Arin, tidak bersama dengan sang kakek yang masih bekerja di siang hari.
Meimei begitu senang melihat kedatangan Noval, ia sudah rindu bermain dengan laki-laki itu walaupun hanya ditinggal sehari saja.
"Kak Noval kemarin kemana aja? Meimei bosen tau!"
"Kan kak Noval ke rumah Oma sama Opah, emang Meimei gak tau?"
"Tau! Tapi kenapa baru pulang sekarang?"
"Kak Noval nginep terus langsung sekolah deh"
Begitulah kira-kira percakapan diantara kedua anak kecil tersebut, Arin dan Mita jadi merasa gemas dengan mereka berdua.
"Papah gak ikut mah?"
"Enggak, papah masih kerja. Kalau sore mungkin papah bakal ikut tapi Noval pinginnya pulang sekarang, mungkin udah kangen juga sama kamu dan Meimei" Jawabnya mengira.
"Loh Rin, kok mata kamu sembab gitu? Kenapa?" Ucap Mita menyadari bagian mata Arin yang membengkak.
Lagi-lagi orang-orang menyadari akan hal itu, suara mita yang cukup keras mengundang perhatian Noval, bocah kecil tersebut langsung menghampiri Ibunya.
"Mata bunda merah, bunda habis nangis?" Tanyanya penasaran.
Arin dibuat kelabakan dengan pertanyaan semua orang, apa yang harus ia jawab? Apalagi yang bertanya adalah Noval, anak itu sangat sensitif terhadap segala hal tentang arin.
"Bunda kemarin nangis? Kenapa? Bunda sakit? Kok gak kasih tau Noval?"
Melihat Arin yang terus bungkam membuat Noval semakin mencari praduga-praduga.
"Apa jangan-jangan....... "
__ADS_1
"Jangan-jangan Ayah dateng kesini?"