
Tak terasa hari sudah malam, setelah seharian ini Arin beraktivitas tubuhnya mulai merasa lemas dan perlu istirahat.
Pukul tujuh malam ia merasa perutnya keroncongan dan butuh asupan makanan, tadinya ia malas memasak dan ingin langsung membaringkan tubuhnya diatas kasur, tetapi ia juga tak bisa tidur jika dalam keadaan kelaparan.
Dengan terpaksa Arin keluar dari kamarnya menuju dapur.
Ketika baru saja menuruni tangga suara bel rumah berbunyi nyaring, membuat Arin menghentikan langkahnya.
Tong! Tong!
"Siapa malam-malam begini?" Gumam Arin.
Lantas Arin mendekati pintu utama, tangannya mulai membuka penghalang itu hingga terbuka dengan lebar.
"Arin.... " Seru seseorang diluar sana.
Deg!
Arin membeku ketika melihat orang tersebut, matanya terbelalak lebar, jantungnya berdebar seperti tengah melihat sosok yang ditakutinya.
Refleks lengan Arin hendak menutup pintu lagi tetapi orang itu spontan menahan pintu agar tidak tertutup.
"Rin, tolong jangan tutup pintunya"
Tanpa sadar Arin menggenggam hendel pintu kuat-kuat, pikirannya masih belum terkontrol ketika bertemu dengan sosok tersebut.
"Maaf mas datang malam-malam, mas cuma ingin bertemu Noval. Siang tadi mas sibuk bekerja jadi mas cuma punya waktu malam hari. Bolehkan... Mas bertemu Noval?" Pintanya sambil menahan dinginnya air hujan yang membasahi kemejanya.
Dengan suara yang hampir tak terdengar Arin berucap.
"Noval sedang tidak ada disini"
Alis pria itu hampir menyatu, "Tidak ada? K-kemana?"
Arin mengalihkan pandangannya mencoba memutuskan kontak mata.
"Noval sedang bersama orang tuaku, mereka sedang menghadiri suatu acara" Jawabnya ketus.
Terlihat jelas raut kekecewaan dari lelaki tersebut, ternyata kedatangannya tidak membawakan hasil apapun. Sang putra malah tidak ada, padahal ia sudah menyempatkan waktu meski malam-malam begini. Terdengar helaan nafas kasar dari pria itu.
"Kapan dia akan pulang rin? Apa dia menginap di rumah mamah dan papah?" Tanyanya masih memanggil mantan mertua dengan sebutan yang sama.
"Aku tidak tau!" Kata Arin acuh tak acuh.
Sang pria menatap Arin sendu, sikap Arin yang seolah mengabaikannya membuat ia benar-benar sedih.
"Rin.... " Panggil nya dengan sangat lembut.
Entah kenapa suara itu seperti tetesan air yang memadamkan bara api didalam hati Arin, perlahan ia mulai melirik pada lelaki didepannya meski ekspresi Arin masih sangat tak bersahabat.
"Rin, mas..... "
"Mas Faris lebih baik pergi sekarang, Noval kan sedang tidak ada. Apa yang mas tunggu?" Hardik Arin.
__ADS_1
"Di sini hujan Rin... " Pungkasnya tetap diam ditempat.
Arin menatap ke jalanan yang tengah diguyur oleh hujan yang cukup deras, sorot mata Arin mencari-cari sesuatu yang ia temui.
"Mas faris kan pakai mobil, gak bakalan kehujanan"
"Tapi mas kedinginan Rin, mas gak kuat kamu gak liat baju mas basah? Setidaknya biarkan mas masuk dulu, gak sopan loh langsung membiarkan tamunya pulang" Cetus Faris mencari-cari alasan agar tetap disini, tetapi tubuh pria itu pun sedikit menggigil, membuat Arin mulai sedikit percaya.
Namun Arin tetap diam, apakah ia harus membiarkan Sang mantan suami masuk? Atau Arin harus mengusirnya? Cukup lama Arin berdebat dengan pikirannya sendiri, disisi lain ia juga tidak mau kegeeran, faris kemari untuk menemui Noval bukan dirinya. Jadi... Bukankah tidak masalah membiarkan Faris masuk sebentar? Anggap saja sebagai tamu biasa.
"Rin... Mas kedinginan, bisa masuk angin kalau disini terus" Lirih Faris dengan gigi yang bergeretak.
"Tapi mas Faris tidak boleh lama-lama disini, aku tidak mau berduaan kalau tidak ada Noval" Kata Arin.
Faris tersenyum senang mendengar itu, ia pun langsung mengangguk setuju.
"Iya Rin, mas gak akan lama kok"
Kemudian keduanya pun masuk ke dalam rumah, Arin menyuruh Faris untuk duduk di ruang tamu sedangkan ia berjalan entah kemana.
Tak lama Arin kembali membawakan handuk kecil.
"Ini, basuh kemeja dan rambut mas"
Faris pun mengambilnya dan berterimakasih.
Sedangkan Arin hanya berdehem dan berlalu menuju dapur.
Tiga menit kemudian Arin tak kunjung keluar dari dapur, Faris yang ditinggalkan sendiri lantas berjalan kemana Arin melangkah, penasaran apa yang sedang dilakukan oleh mantan istrinya itu.
"Kenapa kemari? Aku kan sudah bilang tunggu di ruang tamu!" Sentaknya, tetapi Faris tak menghiraukan sama sekali ia justru duduk di kursi pantry yang berada disana.
"Kamu lagi buat teh ya? Ngomong-ngomong mas lapar Rin, boleh sekalian buatkan mas makan malam gak?" Pintanya lebih.
Arin melotot mendengar permintaan Faris yang semakin melunjak, ia pun langsung menolaknya.
"Gak! Setelah ini mas Faris harus cepat-cepat pulang"
Bibir Faris mengerucut mendengar penolakan Arin, jujur ia rindu masakan mantan istrinya ini.
"Please rinnn..... Mas lapar banget, mas belum sempat makan siang tadi, terus mas langsung kesini setelah pekerjaan mas selesai, perut mas lapar banget sumpah. Please Rin, bikinin ya.... " Bujuknya penuh harap.
Arin yang kebetulan memang berniat makan malam jadi tidak terlalu keberatan dengan permintaan Faris, namun ia tak menjawab dan langsung berkutat dengan alat-alat dapur disana.
Sedangkan Faris setia menunggu Arin selesai menghidangkan makan malam, sambil menyesap teh buatan wanita tersebut.
"Teh buatan kamu masih sama seperti dulu, badan mas langsung terasa hangat" Cetus Faris, namun tak diidahkan oleh lawan bicaranya.
"Pasti masakan kamu juga masih sama seperti dulu, dari aromanya aja mas udah yakin" Lanjut Faris.
"Sayang banget Noval gak ada disini, padahal kalau ada pasti seru" Sambung nya berkhayal.
"Terus kalau.... "
__ADS_1
"Udah deh mas jangan terlalu banyak ngomong, mending cepetan makan habis itu pulang" Potong Arin meletakkan dua piring berisikan nasi goreng untuk keduanya.
"Hehe... Maaf Rin"
Faris pun tak melanjutkan kata-katanya lagi, ia memilih melahap masakan tersebut.
Satu suap.
Dua suap.
Tiga suap.
Dan seterusnya...
Faris tampak melahap masakan Arin dengan sangat lahap, bahkan Arin sama sekali belum mencicipi masakannya sendiri.
Mereka makan dengan hening, tak ada yang bersuara, Faris benar-benar fokus menghabiskan makanan Arin seolah itu adalah makanan terenak didunia.
Arin memerhatikan sedari tadi, mantan suaminya itu terlihat lebih kurus dari biasanya. Banyak rambut yang memenuhi wajah pria tersebut Faris seakan tak pernah mengurus dirinya.
Tanpa sadar Arin berucap, "Kamu kurusan, mas"
Sontak Faris menghentikan suapannya, ia mencoba tertawa di hadapan Arin.
"Hehehe.... Ya mau bagaimana lagi, seharian mas sibuk kerja, mas sering lupa sarapan dan tidak pernah makan siang, kadang pulang malam mas langsung tidur. Seharian cuma minum kopi saja" Jawabnya jujur.
Arin terdiam sambil terus memerhatikan Faris, tatapannya tak setajam sebelum Faris datang.
"Vina tidak pernah mengurus mas dengan baik?" Tanya Arin.
Perlahan namun pasti Faris mengangguk, "Tidak ada yang lebih baik dari kamu Rin, mas salah. Mungkin memang ini karma untuk mas, kamu dan Noval sudah pergi terlalu jauh untuk mas gapai kembali" Tutur Faris.
Mata Arin mulai menggenang, menyorot Faris dengan tatapan tajam tetapi nafasnya terdengar seperti menahan tangisan.
Dengan penuh keberanian Faris menggenggam tangan Arin yang berada di atas meja, menggenggam dengan erat.
"Jangan menangis Rin... "
Tetapi air mata Arin malah berjatuhan saat itu juga, tak bisa menahan segala sesuatu yang tersimpan di dalam dada.
"Mas yang jahat bukan aku..... Hiks...!! Mas Faris yang meninggalkan kami.... Mas yang pergi demi perempuan itu... Mas faris yang jahat!! Hiks..... Hikss..... " Arin meraung-raung di hadapan faris, mengungkapkan apa yang ingin ia sampaikan.
Faris pun menerima semua perkataan tersebut dengan lapang dada, ia tau memang dirinya yang salah.
"Mas tau Rin, maafkan mas. Maaf.... "
"Mas Faris tega!! Mas pergi dengan perempuan itu, mas gak pernah peduli dengan aku dan Noval!! Hiksss.... Mas Faris jahattt..... Hiksss.... "
Air mata Faris pun mulai menggenang, merasakan semua rasa sakit yang dirasakan oleh mantan istrinya, ia tahu dirinya memang sudah keterlaluan, Arin pasti tak akan pernah melupakan itu.
Faris pun berdiri dan memeluk Arin, membiarkan wanita tersebut menumpahkan semua kekesalan kepadanya secara langsung.
"Maaf.... Maaf Rin... Mas minta maaf... " Ucap Faris bergetar.
__ADS_1
"Hiksss..... Mas tegaaa...... Mas Faris jahattt..... Hikss.... " Hardik Arin sembari memukul-mukul dada bidang Faris cukup keras.