
Setibanya di rumah Arin, Faris memutuskan untuk langsung pulang. Suasana hatinya sedang buruk, Faris khawatir akan melakukan hal-hal yang kurang baik di hadapan mereka, maka dari itu ia tak memilih singgah ke kediaman Arin.
Namun sebelum Faris pergi tentunya ia berpamitan terlebih dahulu pada Noval.
"Noval, Ayah pulang dulu ya nak" Ucap Faris berpamitan, ia membungkukkan sedikit badannya guna mensejajarkan tubuhnya dengan Noval.
"Iya, yah" Jawab Noval singkat.
"Kapan-kapan Ayah bakal datang lagi, Noval mau pesan sesuatu gak kalau Ayah kesini lagi?" Tawar Faris berusaha menutupi kesedihan.
Noval menggeleng seraya berkata, "Enggak, yah" Ujar Noval seadanya.
Faris mengangguk sembari tersenyum kecut, ia pun kembali menegakkan tubuhnya.
"Baiklah kalau gitu.... "
Kemudian Faris berjalan ke arah Arin, menatap wanita cantik itu sebelum ia memasuki kendaraannya.
"Mas pamit Rin... "
Arin pun sekedar mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata saja.
Dan ketika Faris melangkah ke arah mobilnya, ia terlebih dahulu bertukar pandang dengan Sonny, dari ekspresi keduanya tak ada yang bisa mengartikan raut muka mereka.
Sonny pun terus membalas tatapan mantan suami dari istrinya, Sonny menyadari sikap Faris yang berubah.
__ADS_1
Pria itu mendadak menjadi pendiam semenjak pulang, bahkan tak ada drama seperti yang sering terjadi, entah apa yang terjadi pada seorang Faris.
Faris lebih dulu memutus kontak mata kemudian kembali melanjutkan langkahnya lalu masuk ke dalam mobil sampai kendaraan itu melaju menjauh.
Arin mendekati sang suami, melihat Sonny yang masih menatap ke arah kendaraan milik Faris.
"Ada apa mas?" Cetus Arin.
"Aku rasa dia marah padaku" Sahutnya.
"Tidak usah dipikirkan mas, lagi pula mas Sonny tidak melakukan kesalahan" Seru Arin memberi argumennya.
"Benarkah? Menurut kamu begitu?" Tanya Sonny beralih memandang sang istri.
Sonny menakup wajah istrinya dengan lembut, menyoroti Arin dengan tatapan teduh.
"Kamu sudah menyadari kesalahan mu?" Cicit Sonny.
Arin mengangguk lagi.
"Dan kamu akan mengulanginya lagi?"
Dengan cepat Arin menggelengkan kepala.
"Baguslah, tapi dengan pengakuan dan kata maaf saja tidak cukup untuk menebus kesalahan yang sudah kamu buat" Sambung Sonny.
__ADS_1
"Maksud mas?" Kata Arin tak mengerti.
sonny menunduk kemudian berbisik tepat di telinga Arin, "Kamu harus dihukum"
"D-dihukum???"
Dengan senyum smirk nya Sonny menyembunyikan tawa ketika melihat ekspresi Arin yang ketakutan.
"Tunggu nanti malam, aku akan memberi kamu hukuman. Dan bersiap-siaplah... Karena kamu butuh tenaga untuk dihukum" Tanpa berkata lagi Sonny berjalan meninggalkan Arin yang masih mematung disana.
"Meimei... Ayo kita pulang sayang"
"Iya, pah"
"Om Sonny sama Meimei gak akan ke rumah bunda dulu?" Timpal Noval.
"Nanti malam aja deh kayaknya, sekalian Om ada urusan sama bunda kamu" Jawab Sonny bermaksud lain, namun kedua anak itu tak sedikitpun mengerti.
"Ya udah deh, dahh Meimei.... "
"Dah kak Noval" Mereka pun saling melambaikan tangan sebelum akhirnya Meimei dan Sonny masuk ke dalam rumah.
"Bunda... Ngapain berdiri disitu terus? Ayo kita masuk juga" Ajak Noval membuat Arin sadar dari lamunannya.
"Ah i-iya sayang, ayo... "
__ADS_1