Tetangga Cantik Kesayangan Putriku

Tetangga Cantik Kesayangan Putriku
Pemilik Lama


__ADS_3

Hari pernikahan pun telah ditentukan, seminggu lagi Arin dan Sonny akan menggelar resepsi pernikahan di salah satu hotel bintang lima.


Semua orang termasuk para tetangga berteriak histeris ketika Arin memberikan selembar undangan ketika arisan kemarin, mendadak semua orang heboh mendapat kabar gembira tersebut.


Mereka tak menyangka akhirnya kedua tetangganya itu benar-benar akan meresmikan pernikahan mereka secara hukum, mereka turut senang atas pernikahan Arin dan juga Sonny.


Arin juga ikut bahagia melihat reaksi para tetangga, ia bersyukur dirinya memiliki tetangga yang baik serta mendukung semua tentang dirinya meski ada beberapa masalah yang sempat arin tutupi dari mereka.


Namun, itu dulu! Kini semuanya sudah kembali normal, Arin hanya perlu menjalani hidupnya dengan kejujuran agar kedepannya tak ada lagi yang perlu arin sesali.


***


Keesokan harinya.


Pukul sembilan pagi dimana Arin tengah asyik menyiram tanaman didepan rumahnya tak sengaja ia melihat seorang Ibu-ibu yang berdiri tepat di depan pagar rumah miliknya.


Wanita paru baya itu tampak tengah melihat-lihat bangunan milik Arin, karena tak terlalu jelas membuat Arin tak tau siapa wanita tersebut.


Ia pun lantas mematikan air keran lalu berjalan ke arah pagar berniat melihat siapa wanita itu.


Setelah dirinya sudah berada di dekat pagar mata Arin sedikit terbelalak ketika mengetahui siapa orang yang tengah berdiri di depan rumahnya.


"Bu Nina?!" Panggil Arin.


Wanita paru baya itu tersentak kaget kemudian tersenyum ketika melihat kedatangan Arin. Perempuan itu bernama Nina, ia tak lain adalah pemilik rumah Arin yang sebelumnya.


"Mbak Arin, apa kabar mbak?" Sapanya mendekat.


"Baik, bu! Ibu apa kabar? Saya kira siapa ada yang berdiri disini" Kata Arin bertanya balik.


"Kabar saya baik, hehe... Maaf mbak Arin sudah bikin cemas mbak. Saya lagi mampir ke komplek ini, baru aja saya ketemu sama Ibu-ibu yang lain, jadi saya sekalian mampir kesini, liat rumah ini juga... Rumahnya gak banyak berubah ternyata" Ungkap bu Nina panjang lebar, terlihat kerinduan dari sorot mata tua itu.


"Oh.. Gitu, Bu Nina lagi liburan di jakarta atau memang lagi ada urusan di sini? Eh iya, ayo masuk ke dalam bu, sekalian kita minum teh di dalam" Ajak Arin namun tak langsung diiyakan oleh sang tamu.

__ADS_1


"Enggak usah mbak Arin, jangan repot-repot. Saya cuma mampir sebentar kok, sebentar lagi juga pulang. Suami saya pindah tugas lagi mbak di Jakarta, sudah seminggu kami di sini" Jelasnya.


"Oh ya? Berarti bu Nina tinggal didaerah mana sekarang?" Tanya Arin.


"Kami masih tinggal di apartemen, saya juga lagi cari-cari rumah untuk ditinggali. Tapi... Belum ada yang secocok rumah ini" Kata bu Nina menatap rumah milik Arin.


Arin paham jika rumah ini sangat berarti untuk perempuan di depannya, ketika ia membeli rumah ini pun sangat terlihat jelas jika bu Nina sulit untuk melepasnya.


"Tanteeee.........!!" Ditengah keheningan keduanya, tiba-tiba Meimei keluar dari dalam rumah dan menyusul Arin yang sedang berbicara dengan bu Nina.


Bu Nina tampak terkejut ketika melihat Meimei, mantan tetangganya ini.


"Meimei???" Seru bu Nina terkejut.


Meimei pun sama terkejutnya ketika melihat wanita itu itu. Perempuan yang sangat Meimei kenali.


"Ya ampun... Meimei apa kabar? Meimei masih inget sama ibu?" Tanyanya menghampiri Meimei.


Meimei diam beberapa saat mengamati wajah perempuan yang tengah berbincang bersama Arin, dengan lugu Meimei mengangguk mengiyakan.


Mendengar pertanyaan bu Nina, Meimei langsung menatap ke arah Ibu sambungnya tersebut.


Arin yang paham seketika menjawab, "Meimei sudah lama bersama saya semenjak pengasuhnya berhenti bekerja"


Bu nina membulatkan matanya, "Mbak Ayu udah berhenti? Wahhh sejak kapan? Dulu Meimei sama sekali gak mau jauh dari mbak Ayu. Saya gak nyangka mbak Ayu berhenti sebelum Meimei masuk sekolah" Katanya mengingat Meimei yang dulu.


Arin tersenyum mendengar itu, ia memahami keterkejutan Ibu Nina.


"Mas Sonny nya kemana? Masih kerja ya?"


Arin mengangguk, "Iya bu, biasanya pulang sore"


"Oh gitu... Wah makin ramai aja di komplek sini, saya makin rindu sama tempat ini" lanjut nya berkata.

__ADS_1


"Bu Nina sepertinya belum melupakan tempat ini ya" kata Arin menduga.


Bu Nina tersenyum kecut sembari menganggukkan kepala.


"Iya mbak Arin, kalau ada kesempatan saya pingin lagi tinggal di komplek ini meski bukan di rumah yang dulu. Kalau ada salah satu tetangga yang akan menjual rumahnya saya pasti akan beli. Kalau benar ada tolong hubungi saya ya mbak Arin, nomor saya masih yang dulu kok" pintanya meminta tolong.


Arin berpikir sejenak, selain rasa kasihan ia juga mulai berpikir setelah ia dan Sonny menggelar pernikahan tak mungkin mereka akan tinggal berpisah. Apakah.... Sebaiknya ia menjual rumah ini saja?


Arin mulai dilanda kebingungan.


"Emm... Bu Nina, sebenarnya...." ucap Arin ragu.


"Kenapa mbak Arin?"


"Begini... Sebenarnya.... Saya dan mas Sonny akan segera menikah" ungkap Arin.


"APA?!!"


"M-maksud mbak Arin... Mas Sonny orang tua dari Meimei??"


Arin mengangguk membenarkan.


"Serius Mbak??? Wahhh... Saya turut senang mendengarnya, akhirnya Meimei bakalan punya Ibu baru" Seru Bu Nani menatap senang kepada gadis imut yang berdiri di samping Arin.


"Emm... Begini... Jika bu Nina berkenan, mungkin bu Nina bisa tinggal lagi di rumah ini setelah saya dan mas Sonny menikah. Tapi... Saya akan terlebih dahulu mendiskusikannya dengan mas Sonny" jelas Arin panjang lebar.


Seketika wajah bu Nina berubah berseri, entah hanya kebetulan atau memang takdir yang membawanya kembali lagi ke tempat ini. Sungguh sebuah keberuntungan!


"Yang benar mbak Arin??! Kalau begitu saya setuju mbak, tolong beritahu saya jika memang mbak Arin mau menjual rumah ini"


"Baiklah, nanti saya beritahu lagi"


"Terimakasih banyak mbak Arin... Terimakasih..."

__ADS_1


"Iya bu, sama-sama"


__ADS_2