
Sore hari Bram dan Hanin memutuskan untuk pulang, sebenarnya mereka masih ingin berada disini apalagi Hanin masih ingin mengobrol banyak bersama Arin. Akan tetapi Bram mempunyai urusan bertemu dengan salah satu rekan kerjanya sehingga mau tak mau Hanin pun harus ikut bersama sang suami.
Kini mereka berdua berada diluar rumah Sonny, mengantar kedua orang tua itu yang sebentar lagi akan pergi.
"Meimei yakin gak mau ikut sama Oma dan Opah?" Tanya Hanin sebelum mereka menaiki mobil pribadinya.
Dengan cepat Meimei menggeleng menolak tawaran dari neneknya, "Enggak Oma, Meimei mau disini temenin papah"
"Ya udah deh, kalau ada apa-apa telepon Oma sama Opah ya"
"Iya, Oma!"
Setelah mengobrol dengan Meimei, Hanin lantas berpindah pada Arin.
"Arin, kami berdua pamit dulu ya. Kami titip Meimei dan Sonny pada kamu, nanti kapan-kapan kita ketemu lagi ya? Senang bisa mengenal kamu" Ungkap Hanin menggenggam kedua tangan Arin.
"Iya, bibi. Senang bisa mengenal kalian juga, hati-hati dijalan"
"Terimakasih, Arin... " Balas Hanin dan Bram.
"Son, mamah dan papah pergi dulu ya. Jaga kesehatan kamu semoga bisa cepat sembuh"
"Iya mah... Pah... Kalian tenang saja"
"Bye semuanya... Dah meimei... Dah Noval..." Tutur mereka melambaikan tangan kepada dua anak kecil tersebut. Sampai akhirnya mobil yang ditumpangi Hanin dan Bram melaju dari kawasan perumahan.
Kini hanya tinggal mereka berempat disana, Arin berbalik ke arah Sonny hendak pamit ke rumahnya, karena seharian ini ia sama sekali belum pulang ke kediamannya sendiri.
"Mas aku dan Noval pulang dulu, mas Sonny enggak apa-apa kan ditinggal sebentar?"
"Lho, kalian mau pulang juga?" Cetus Sonny.
"Iya, mas. Seharian ini kita belum pulang ke rumah. Nanti kalau ada apa-apa telepon saja, enggak enak juga sama tetangga nanti mereka curiga" Cicit Arin.
"Baiklah, kalian istirahat dulu saja. Maaf ya karena kedatangan kedua orang tuaku kamu jadi tidak bisa melakukan apa-apa" Kata Sonny membiarkan Arin pulang.
"Enggak masalah, mas. Aku justru senang bisa bertemu mereka. Mas Sonny juga istirahatlah, oh ya... Meimei mau ikut tante pulang?" Tawarnya pada Meimei.
"Engga tante, Meimei mau temenin papah"
"Yang bener? Kalau gitu tante sama kak Noval pulang dulu ya"
__ADS_1
"Iya, tante... "
Dan mereka pun kembali ke kediamannya masing-masing, tanpa mereka sadari seseorang sedari tadi melihat interaksi tersebut, namun cepat-cepat dia menjauh dari sana ketika seseorang yang tengah diamati masuk ke dalam rumah.
***
Esok hari...
Terlihat tiga orang Ibu-ibu yang baru pulang berbelanja nampak berdiam diri di salah satu rumah mereka, ketiganya terlihat sedang mengobrol sembari berbisik-bisik.
"Apa bener mbak Puspa? Mbak salah liat kali" Imbuh Sari tak yakin dengan apa yang diceritakan oleh tetangganya.
"Hehhh mana ada! Saya gak salah liat wong suami saya juga liat sendiri, kalau gak percaya coba tanya sama suami saya" Elak Puspa mencoba meyakinkan para tetangganya ini.
"Tapi gak heran sih, rumah mereka kan depan-depanan. Apalagi anaknya juga udah deket satu sama lain, gak mungkin lah mereka selama ini cuma diem-dieman. Oh ya... Kemarin mbak Arin juga habis anterin mas Sonny ke dokter, mbak Arin ke rumah saya minta tolong jagain Meimei sebentar. Kayaknya memang mereka ini ada something deh! " Tambah Indah mengutarakan isi pikirannya.
"Bener kan, mbak? Mbak Indah aja percaya. Tapi yang saya anehin mereka seperti menyembunyikan sesuatu yang besar, kalau memang mereka punya hubungan spesial kenapa kita tidak diberitahu, padahal selama ini kita yang menjodoh-jodohkan mereka berdua" Ucap Puspa panjang lebar.
"Mungkin malu aja kali, mbak. Mereka kan sudah bukan remaja lagi yang harus mengumbar-umbarkan status hubungan mereka" Pikir Sari beropini.
"Bisa jadi sih.... "
Disaat ketiganya tengah bergosip, mbak Dewi datang menghampiri. Bermaksud menyapa ia justru dibuat penasaran ketika mereka semua mengkode dirinya untuk tak bersuara.
"Sini deh mbak Dewi, ada berita penting!" Ungkap Puspa berbisik.
Dewi pun semakin mendekat dan mulai mendengarkan pembicaraan yang tengah berlangsung ini.
"Berita penting apa, mbak Puspa?"
"Kemarin saya gak sengaja liat mbak Arin keluar dari rumah mas Sonny, dan yang lebih mengejutkannya lagi, orang tua mas Sonny juga ada disana! Mbak Arin kegiatan akrab banget sama orang tua mas Sonny. Bahkan saya denger kalau mbak Arin udah seharian ada disana" Ceritanya dengan nada bak Ibu-ibu gosip sesungguhnya.
Mbak Dewi langsung melotot mendengar berita tersebut, ia melihat ke kanan-kiri seakan waspada jika orang yang sedang dibicarakan itu berada di sekitarnya. Setelah dirasa aman mbak Dewi pun kembali bertanya.
"Yang bener, mbak? Emang mas Sonny sama mbak Arin pacaran ya?"
"Ya itu dia, saya juga gak tau. Tapi kalau memang benar pacaran kenapa mbak Arin gak pernah kasih tau kita-kita? Padahal kita sudah beberapa kali menjodoh-jodohkan mbak Arin sama mas Sonny" Lanjutnya.
"Seperti ada yang mereka sembunyikan ya?"
"Nah, itu maksud kami"
__ADS_1
Suasana pun hening kembali, tak lama indah pun berujar.
"Mungkin sebenarnya mereka berdua udah nikah kali!" Celetuk Indah.
"Husshh.... Ada-ada aja nih mbak Indah kalau ngomong, mana mungkin! Kalau sudah nikah ngapain harus pisah rumah seperti itu" Bantah Sari tak setuju.
"Siapa tau, mbak. Mungkin aja mereka lagi menyembunyikan pernikahan itu karena takut anak mereka belum siap punya keluarga baru. Apalagi Noval, dia kan masih punya Ayah. Bahkan kemarin Ayah kandungnya kesini"
"Oh jadi yang kemarin-kemarin datang Ayahnya si Noval? Saya kira cuma teman mbak Arin aja" Ujar mbak Dewi terkejut.
"Tapi kalau soal pernikahan kayaknya gak mungkin deh, mbak" Ucap Sari tetap kekeuh pada pendiriannya.
Tanpa mereka ketahui apa yang dibicarakan oleh indah adalah benar adanya, namun tak satu orang diantara mereka percaya dan penuh keragu-raguan. Pasalnya, Arin maupun Sonny tak pernah menunjukkan sikap yang aneh ketika bertemu para tetangga, membuat para tetangga itu sama sekali tak pernah merasa curiga.
"Iya juga sih, pernikahan kan sesuatu yang sakral. Kalau memang benar sudah menikah pasti pak RT juga tau" Cetus Dewi setuju dengan pendapat Sari.
"Atau mungkin.... "
"Ibu-ibu... Lagi apa nih?"
Deg!
Suara Arin mengagetkan seluruh perempuan tersebut! Mereka langsung tersentak dan buru-buru mengalihkan perhatiannya. Terlihat Arin sudah ada di belakang mereka.
"E-ehh.... Mbak Arin, udah dari kapan mbak disini?" Kata Puspa berpura-pura bersikap biasa.
"Baru tadi kok, mbak. Saya baru anter Meimei beli ketupat" Jawab Arin jujur.
"O-oh..... Ketupat, iya iya.... " Gumamnya gugup.
"Ibu-ibu lagi pada ngapain disini?" Tanya Arin bingung.
"E-enggak, ini kita juga kebetulan ketemu. Saya juga habis dari depan" Balas mbak Dewi.
"I-iya, mbak Arin. Ini kita juga mau pulang kok ke rumah" Tambah Sari.
"Iya bener mbak, kalau gitu saya pamit pulang dulu ya semuanya. Permisi.... " Berbeda dengan Indah yang langsung pergi dari sana.
"Oh gitu ya... Ya sudah saya juga pulang dulu. Mari Ibu-ibu... " Pamit Arin tanpa curiga sedikitpun.
"Mari mbak Arin, dah Meimei.... "
__ADS_1
Selepas kepergian Arin para Ibu-ibu itu pun bisa bernafas lega, setidaknya Arin tidak mendengar pembicaraan mereka.