
Malam harinya Arin dibuat kebingungan ketika Sonny pulang dengan membawa berbagai jenis makanan, mulai dari lima box pizza, spaghetti dari restoran terkemuka hingga sebuah kue cantik yang membuat Arin terheran-heran.
Semua meja makan dipenuhi oleh berbagai macam makanan, Arin tercengang ditempat, sangking bingungnya arin bahkan sampai tak bisa mengeluarkan suara.
"Nah sudah selesai! Ayo semuanya kita makan" Ajak Sonny pada semua orang.
"Wahhh.... Meimei mau pizzanya pah!" Ujar Meimei antusias.
"Boleh dong" Meimei, Sonny, dan juga Noval kini sudah duduk di kursi makan sedangkan Arin masih berdiri tak jauh dari sana.
Melihat Arin yang belum juga duduk membuat Sonny kembali mengajak wanitanya untuk bergabung bersama mereka.
"Arin? Kemarilah... Ayo kita cicipi ini semua" Titah Sonny.
Kaki jenjang Arin mulai melangkah sembari terus memandang kebingungan.
"I-ini.... Kenapa banyak sekali makanannya? A-apa mas Sonny... Sedang merayakan sesuatu?" Tanya Arin menduga-duga.
Sonny tersenyum menanggapi pertanyaan sang istri, ia menarik lengan Arin lalu menuntun Arin agar duduk di kursi.
"Kamu benar, kita memang sedang merayakan sesuatu. Benarkan Noval?" Kata Sonny melempar pertanyaannya kepada Noval.
Noval membenarkan perkataan Sonny dengan sebuah anggukan, menambah kebingungan seorang Arin.
"Sebenarnya ada apa ini? Noval? Ada apa ini nak?" Cetus Arin pada putranya tersebut.
Noval tersenyum lembut pada sang Ibunda, sesaat ia menarik nafas dalam-dalam. Menatap Arin dengan tatapan yang sangat tulus.
__ADS_1
"Bunda..... "
"Iya sayang? Kenapa?" Desak Arin penasaran.
"Noval.... Udah izinin bunda buat menikah sama Om Sonny!" Jawabnya.
DEG!!!
Seketika Arin membelalakkan kedua matanya! Ia membeku mendengar kalimat yang keluar dari bibir sang putra.
Apa katanya tadi?!!
Apakah telinganya bermasalah???
"K-kamu ngomong apa sih nak? M-menikah apa?" Cicit Arin gugup, ia merasa tidak berkata apapun kepada Noval soal pernikahan, tapi kini Noval tiba-tiba membahas seputar itu.
Sonny pun menggenggam salah satu lengan Arin, membuat Arin melotot karena Sonny melakukan hal itu dihadapan Noval.
"Mas!"
"Arin..... Sekarang kita tidak perlu lagi menutup-nutupi semua ini"
"M-maksud mas?"
"Noval sudah tau, Noval sudah mengizinkan kita untuk menikah. Sekarang kita tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi, bukan begitu Noval?"
Mendengar itu kelopak mata Arin langsung berkaca-kaca, dirinya dengan cepat menatap Noval yang tengah tersenyum disana.
__ADS_1
Mata polos itu menyipit diiringi senyum manis yang menggetarkan hati Arin.
"Selamat bunda... !" Ucapnya.
Tak bisa menahan rasa haru, air mata itu lolos begitu saja membasahi kedua pipi Arindita. Dengan segera ia bangkit dan memeluk Noval dengan begitu erat, menangis dengan penuh kebahagiaan.
"Hikss.... !! Makasih sayang..... Hiksss.... Makasih banyak.... " Ucap Arin bergetar.
"Sama-sama bunda, bunda harus terus bahagia"
Arin mengangguk dalam tangisnya, "Iya sayang. Bunda bahagia... Hikss... "
Berbeda dengan Meimei yang tak mengerti dengan ucapan ketiga orang tersebut, dan kenapa pula Arin sampai menangis tersedu-sedu? Apakah mereka sedang membicarakan hal sedih? pikir Meimei.
"Tante kenapa nangis?" Seru Meimei menghentikan suasana haru tersebut.
Arin pun kini berpindah posisi dan turut memeluk Meimei seperti yang dilakukan kepada Noval.
"Sayang... Sebentar lagi tante bakal jadi bundanya Meimei, papah sama tante mau menikah. Kita bakalan tinggal serumah nanti" Jelas Arin, meski sebenarnya hal itu sudah terjadi sejak lama. Namun kali ini Arin merasa seperti baru pertama kali terjadi.
"Hah?? Beneran tante???!!" Teriak Meimei nyaring.
Arin mengangguk begitupun dengan Sonny dan Noval.
"Yeayyyyyy....!!! Meimei bakalan punya bunda!! Horeeee......!!" Seketika ruangan itupun dipenuhi oleh teriakan Meimei, melihat tingkah Meimei yang lainnya pun ikut tertawa.
Malam ini terbukti menjadi malam istimewa yang akan menjadi gerbang pembuka kehidupan selanjutnya.
__ADS_1