
Di dalam mobil Noval terlihat murung selama perjalanan, ia masih kesal dengan kedatangan Faris yang datang ke rumah nya, terlebih sang Ayah seakan memaksa untuk mengantarkannya ke sekolah.
Suasana hati Noval pagi ini benar-benar buruk, ia jadi tidak bersemangat sekolah, namun ia juga malas jika pulang ke rumah, takut jika Faris masih berada disana.
Sonny yang melihat itu mencoba menghibur Noval.
"Udah jangan terlalu dipikirin masalah tadi, sekarang kan udah ada Om Sonny yang anter Noval ke sekolah" Seru Sonny sembari fokus mengemudi.
Namun sepertinya Noval masih belum bisa melupakan hal tersebut.
"Noval gak mau ketemu Ayah! Gimana kalau Ayah masih ada di rumah?" Cetus Noval.
"Gak mungkin, Ayah Noval kan harus kerja" Imbuh Sonny menyangkal.
Noval membenarkan perkataan lelaki disebelahnya ini, tetapi ia tetap khawatir jika Faris masih menunggunya. Ia sungguh tidak mau bertatap muka dengan Ayah kandungnya itu.
"Lagipula Noval gak boleh loh menolak keinginan baik apalagi dari orang tua sendiri, maaf sebelumnya kalau Om ikut campur, tapi kalau Noval nolak terus itu gak akan nyelesain masalah" Kata Sonny menasihati, meski dirinya tidak suka akan kehadiran Faris tetapi sebagai sesama seorang Ayah tentu mereka ingin memberi kasih sayang untuk anak-anak mereka sebesar apapun kesalahan yang telah mereka perbuat.
"Kalau boleh Om tau, kenapa Noval gak suka sama Ayah? Apa Ayah pernah berbuat jahat?" Tanya Sonny, meski ia tau alasan yang pernah ia dengar dari Arin, tetapi ia ingin mendengar langsung dari mulut Noval sendiri.
Lama Noval terdiam, sampai sebuah kalimat yang menyayat hati keluar dari bibirnya.
"Noval gak mau bunda sedih kalau Ayah dateng, bunda pasti nangis setiap ngeliat muka Ayah. Ayah jahat! Noval benci Ayah...!" Hardiknya marah.
Sonny termangu mendengar ungkapan anak lelaki ini, bahkan di hadapannya Noval tak ragu-ragu mengatakan kalimat sarkas tersebut.
"Tapi urusan bunda sama Ayah Noval kan sudah selesai dari dulu, sekarang Ayah cuma mau memperbaiki hubungan sama Noval, justru bunda bakalan semakin sedih kalau lihat Noval begini, bunda pasti akan merasa bersalah" Tuturnya menjelaskan.
Hal yang tak terduga, Noval justru menangis kecang! Sonny sampai kaget dibuatnya, ia bingung kenapa Noval tiba-tiba saja menangis? Apakah ada yang salah dari ucapannya?
"Huwaaaaaaaaaa................. "
Dengan cepat Sonny menepikan mobil ke bahu jalan, merasa panik akan tangisan Noval, tak pernah sebelumnya ia melihat Noval menangis.
"Noval kenapa malah jadi nangis? A-ada apa? A-apa karna ucapan Om tadi?? Om minta maaf ya kalau Om lancang... Maaf... Noval gak usah diambil hati, maafin Om... Udah ya, jangan nangis... Ssttt Ssttt Ssttt.... " Sonny membujuk putra sambungnya itu agar berhenti menangis, tetapi Noval masih terus menjerit kencang.
"Huwaaaaa..... Bundaaaaaaa.........!"
"Udah udah jangan nangis, Noval kan mau ke sekolah, nanti malu loh sama temen-temen kalau ketahuan habis nangis. Udah ya.... Om minta maaf... " Sonny meraih tubuh Noval dan mendekap erat tubuh kecil itu, memberinya ketenangan didalam pelukan Sonny.
Tubuh Noval bergetar seiring dengan tangisan yang masih terdengar, bocah kecil itu meluapkan air mata dan membasahi kemeja kerja Sonny.
__ADS_1
Sonny mengusap lembut punggung kecil Noval dengan tangan besarnya, tangisan Noval begitu memilukan, sebagai anak lelaki satu-satunya Sonny bisa merasakan jika arin adalah bagian terpenting dalam hidup Noval.
Anak lelaki akan selalu bertengkar dengan Ayahnya tatkala ia melihat bagaimana cara sang ayah memperlakukan Ibunya, namun biasanya hal tersebut terjadi diwaktu si anak menginjak dewasa, akan tetapi Noval yang baru berusia delapan tahun malah sudah membenci Ayah kandungnya sendiri.
"Noval gak mau sekolah......!!!" Seru Noval.
Sontak Sonny membelalakkan matanya, sekarang ia tambah bingung dengan permintaan Noval.
"Loh kok gitu? Noval mau pulang ke rumah?" Tanya Sonny.
"Enggak!!" Bantahnya lagi.
"Terus kalau gak mau pulang, Noval mau kemana? Mending sekolah aja ya... " Bujuk Sonny.
"Enggak mauuu!! Noval gak mau pulang... Noval juga gak mau sekolah!!" Jawabnya bersikukuh.
Noval seakan tak malu-malu lagi merajuk pada Sonny, ia seolah bersikap kepada orang tuanya sendiri. Marah, sedih, dan sikap manja semua Noval tuangkan kepada Sonny, tak peduli apa tanggapan dari pria ini.
"Kalau gitu.... Gimana kalau Noval ikut Om ke kantor?" Tawar Sonny, ia tak tau lagi harus membawa Noval kemana. Sampai akhirnya kantor lah jalan buntu yang Sonny pilih.
Perlahan Noval berhenti menangis meski air matanya masih saja mengalir deras, ia mendongak guna menatap wajah Sonny.
"Boleh, nanti Noval istirahat aja di ruangan Om ya" Jawab Sonny.
Noval mengangguk patuh, terserah Sonny mau membawanya kemana asalkan jangan ke rumah ataupun sekolahan.
"Noval jangan nangis lagi ya, masa laki-laki nangis... Laki-laki itu kan harus kuat" Sonny menghapus butiran-butiran air di kedua pipi Noval.
"Nah, sekarang kita lanjut pergi ke kantor Om Sonny ya"
"Iya, Om"
Sonny memutar arah mobilnya menuju perusahaan, membawa sang anak ke tempat dimana ia bekerja, Noval pun sudah berhenti menangis.
***
Sesampainya di perusahaan, Sonny dan Noval turun dari mobil. Mereka masuk ke dalam gedung pencakar langit itu.
Setelah masuk ke dalam, Noval dan Sonny menjadi perhatian para karyawan. Apalagi Sonny membawa seorang anak laki-laki yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
Tatapan heran memenuhi seluruh pegawai kantor, mereka memandang Noval sembari menebak-nebak siapa bocah lelaki itu.
__ADS_1
Sedangkan Noval sibuk mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantor, ia tak mengira jika perusahaan dimana Sonny bekerja sangatlah besar dan begitu mewah bak hotel bintang lima.
Sonny menggandeng lengan Noval ke arah lift, mereka memasuki lift tersebut.
"Om Sonny, kita mau kemana?"
"Kita mau ke ruangan tempat Om kerja"
"Om punya ruangan sendiri disini?"
"Iya, ruangan Om ada di lantai paling atas" Jawab Sonny jujur.
Tak lama lift terbuka, Sonny mengajak Noval untuk masuk ke ruangannya. Ketika sampai di ruangan Sonny, Noval langsung dibuat terkagum-kagum oleh desain ruangan itu.
Ia terperangah melihat ruangan milik Sonny, Noval berlari kesana-kemari dan berhenti di sofa empuk yang berada di situ.
"Ruangan Om Sonny bagus banget!!" Pujinya antusias.
Sonny tersenyum senang melihat Noval yang sudah kembali ceria, ia berjalan ke arah kursi kebesarannya.
"Noval suka? Noval boleh kok sering-sering main kesini, Noval bisa ajak bunda juga sekalian"
"Beneran Om?!! Kalau gitu nanti Noval mau ajak bunda kesini... Sama Meimei juga"
Sonny mengangguk mengiyakan, "Boleh, dong... "
Ketika mereka tengah asyik bercengkrama pintu ruangan Sonny dibuka oleh seseorang, dan menampakkan seorang lelaki paru baya yang masih terlihat segar di umurnya yang sudah tak muda lagi.
"Sonny bisa tolong bantu papah me...... " Seketika Bram menghentikan langkahnya tatkala melihat seorang anak kecil didalam ruangan Sonny, namun bukan Meimei sang cucu.
"Sonny, siapa anak itu?"
•
•
•
•
Yuk, Siapa Nih Yang Belum Vote? Masih Mamie Tunggu Ya 😁❤
__ADS_1