Tetangga Cantik Kesayangan Putriku

Tetangga Cantik Kesayangan Putriku
Tak Terlihat Sakit


__ADS_3

"Malam ini menginaplah disini, ada banyak kamar kosong yang bisa ditempati, Noval bisa tidur di samping kamar meimei" Pinta Sonny ketika mereka selesai makan malam bersama di rumah Sonny.


"Lalu aku?" Tunjuk Arin pada dirinya sendiri.


"Kamu temani dulu Noval sampai tidur, setelah itu barulah kamu pindah ke kamar ku. Kita bisa tidur bersama" Kata Sonny memberi saran agar Noval tak curiga.


Arin terdiam sambil memandang putranya yang tengah asyik bermain bersama Meimei, jujur saja Arin juga tak kuasa meninggalkan Sonny disaat kondisinya sedang tak sehat, takut pria itu demam lagi tengah malam.


"Nanti aku tanya dulu, apa Noval mau atau tidak" Putus Arin pada akhirnya.


Ketika jam dinding menunjuk ke angka delapan Noval mulai menghampiri Ibundanya, menanyakan kapan mereka akan pulang ke rumah karena ia sudah sedikit mengantuk.


"Bunda kita mau pulang jam berapa?" Tanya Noval.


Arin melirik ke arah Sonny yang mengangguk memberikan isyarat kepadanya.


"Emm.... Noval, gimana.... Kalau kita menginap disini?" Tawar Arin.


Noval mengerutkan keningnya bingung, memang kenapa mereka harus menginap disini? Pikirnya.


"Emangnya ada apa bunda? Kan sama aja?"


"Gini sayang.... Om Sonny kan lagi sakit, kasihan Meimei kalau ditinggal berdua sama Om Sonny. Kasihan juga kalau Om Sonny ditinggal sendirian, gimana kalau malam ini kita temenin Meimei jagain Om Sonny? Noval mau kan?" Bujuknya beralasan.


Sonny pun tak tinggal diam, dia berakting agar Noval percaya.


"Uhukk... Uhukkk!! Maaf ya kalau Om buat kalian kerepotan, tapi Om gak bisa ngapa-ngapain kalau lagi sakit gini. Om butuh bantuan kalian juga terutama bunda kamu, Noval mau kan nginep disini jagain Om Sonny juga?" Aktingnya mendrama.


Noval yang melihat itu tak sadar dan langsung percaya ketika melihat Sonny yang terbatuk-batuk, hati kecilnya pun tak tega jika harus meninggalkan Sonny, terlebih Sonny tak punya siapa-siapa disini kecuali Meimei yang belum mengerti apa-apa.


"Tapi kita bakal tidur dimana?" Cicit Noval.


"Noval tenang aja, Om udah siapin kamar buat kalian" Sahut Sonny bersemangat.


"Emm... Ya udah deh, malam ini kita nginep di rumah Om Sonny" Imbuh Noval menyetujui.


Arin dan Sonny seketika tersenyum senang, mereka saling pandang seolah pandangan itu memiliki arti lain.


"Makasih ya, Noval. Kalau bukan kalian Om gak tau lagi harus minta bantuan sama siapa" Lirih Sonny bahagia.


"Sama-sama, Om. Kalau gitu Noval mau temenin Meimei lagi ya"


"Iya, sayang" Balas Arin membiarkan putranya bermain kembali dengan Meimei.

__ADS_1


Dan kepergian Noval membuat Sonny langsung menggenggam lengan istrinya.


"Mas...! Jangan disini" Bisikan Arin memperingati.


***


Pukul sembilan semua anak-anak sudah tertidur, seusai menidurkan Meimei Arin lalu menidurkan putranya di kamar tamu, kini Meimei maupun Noval sudah tertidur dengan pulas.


Arin perlahan bangkit dari kasur dengan sangat hati-hati, tak mau sampai putranya terbangun dan tak mendapati Arin disana.


Setelah memastikan Noval benar-benar tidur, Arin lantas keluar dari kamar itu menuju lantai dua tepat dimana kamar Sonny berada.


Sesampainya didepan pintu kamar, Arin langsung mengetuk pintu tersebut. Baru satu ketukan tiba-tiba pintu terbuka dengan lebar.


"Mas Son.... "


Clekkk!


Arin terpaku ketika tanpa aba-aba Sonny membuka pintu itu, ia sedikit terkejut dibuatnya.


"Ayo masuk!" Kali ini Arin lebih terkejut lagi ketika Sonny menarik tangannya untuk masuk ke dalam sana.


Ketika Arin masuk kamar Sonny tampak sedikit berantakan, sepertinya pria itu tengah mengecek pekerjaannya.


"Aku tadi sedang mengecek email yang masuk dan menandatangani beberapa berkas, maaf kalau kamarnya jadi berantakan" Ungkap Sonny.


Arin menduduki tubuhnya di tepi ranjang sembari menatap Sonny yang tengah membereskan sisa-sisa pekerjaannya.


"Seharusnya mas istirahat total dulu hari ini, jangan memikirkan pekerjaan terus. Nanti kapan sembuhnya coba?" Cetus Arin menggerutu.


"Iya, maaf... Lagipula cuma sedikit saja kok. Setelah ini kita akan langsung tidur"


Arin hanya bisa menghela nafas panjang, memang susah menasihati pria yang sudah terikat dengan pekerjaannya, Arin pun tak mau memperpanjang hal ini karena mungkin saja pekerjaan itu memang sangat penting.


Sesudah membereskan pekerjaannya Sonny menghampiri Arin yang sudah berbaring di ranjang, ia lantas ikut membaringkan tubuhnya di samping sang istri.


"Aku sudah menanti momen ini sangat lama" Ucap Sonny memeluk tubuh Arin dengan erat.


"Oh ya? Memangnya mau apa jika sudah begini?" Pancing Arin pura-pura tak tau.


"Mau makan kamu!" Tuturnya tersenyum jail.


"Mana boleh, mas Sonny lagi sakit. Tidak boleh olahraga malam dulu" Cegah Arin mengerti apa yang Sonny maksud.

__ADS_1


"Aku sudah sembuh sayang.... Kamu tidak percaya? Coba sini tangan kamu" Sonny mengambil satu lengan Arin dan meletakkan tangan tersebut di atas keningnya.


"Kamu bisa merasakannya kan? Aku sudah tidak demam lagi, aku sudah sembuh"


Namun Arin tetap menggeleng, "Tidak demam bukan berarti sembuh total, bisa saja nanti malam Mas kambuh lagi" Jelas Arin.


Sonny mengernyit lalu menjauhkan tubuhnya guna menatap wajah Arin.


"Kok kamu malah mendoakan aku sakit lagi?"


"Bukannya mendoakan, cuma berjaga-jaga saja. Kamu belum sembuh sepenuhnya, mas" Elak Arin meluruskan.


"Tapi kapan lagi kita bisa begini? Aku sungguh merindukan kamu... " Lirihnya putus asa.


Arin tersenyum sambil mengelus pipi suaminya, sorot mata Sonny memang tak bisa diragukan lagi, pria itu tengah menginginkan dirinya.


"Aku cuma takut mas Sonny sakit lagi"


"Tapi aku sudah sembuh! Kamu perlu bukti??" Tuntutnya.


"Bukti??"


"Ya, biar aku tunjukkan!"


Dan dengan sangat tak sabaran Sonny langsung melahap bibir kenyal Arin dengan sangat brutal. Sonny sudah tak kuat! Ia harus menuntaskan hasratnya malam ini juga.


Sedangkan Arin sudah menduga bahwa ujung-ujungnya mereka akan melakukan penyatuan kembali, kini yang harus arin lakukan hanyalah menikmati semua permainan suaminya.


Sonny mulai membuka kancing baju milik Arin dan mengeluarkan isi dibalik kain tersebut, bak singa yang kelaparan Sonny memberi gigitan kecil di bagian benda empuk itu.


Arin melenguh di setiap gigitan Sonny, rupanya tubuhnya pun menginginkan sentuhan ini.


Sonny kembali melancarkan aksinya, ia meloloskan semua kain ditubuh Arin hingga tak ada sehelai benang pun di tubuh istrinya.


Tatapan haus begitu terpancarkan dari raut wajah lelaki dewasa itu, ia mulai melepas pakaiannya sendiri hingga kini penyatuan tersebut tak dapat terelakkan.


Sonny begitu bersemangat menggerakkan tubuhnya, sampai-sampai Arin tak bisa berhenti mend*sah, Sonny sama sekali tak seperti orang sakit.


Sebenarnya obat apa yang diberikan dokter? Obat penyembuh atau justru obat kuat???Kenapa Sonny sungguh liar seperti ini?!


Rasanya dalam hitungan menit Arin sudah merasa kewalahan, berbeda dengan Sonny yang sama sekali tak ada niatan untuk berhenti.


Sampai mereka hampir terbang ke langit ketujuh, Sonny dan Arin akhirnya sama-sama meng*rang panjang!!!

__ADS_1


__ADS_2