
"KEKASIH????" Teriak sepasang suami-istri itu mendapati kenyataan jika putra mereka telah memiliki seorang kekasih.
Tak hanya mereka berdua, Arin juga tersentak mendengar ucapan Sonny! Matanya melotot begitu mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Sonny, tetapi Sonny tetap diam bahkan tetap melihat lurus ke depan menghindari tatapan istrinya.
Arin langsung beralih menatap Noval yang sepertinya kurang mengerti dengan pembicaraan mereka, Arin begitu was-was dengan raut wajah Noval yang tak berekspresi.
"Tunggu sebentar! Sepertinya aku juga pernah melihat anak lelaki itu. Tapi dimana ya?" Ucap Bram mengingat wajah Noval dengan otaknya yang sudah sedikit bersarang, usianya yang tak muda lagi membuat ia sulit mengingat sesuatu.
"Dia yang aku bawa ke kantor waktu itu" Celetuk Sonny menambahkan.
"Ah benar! Aku ingat sekarang. Ya, dia anak kecil yang kau bawa tempo lalu" Ungkap Bram membenarkan.
Noval pun ikut menatap Bram seakan dia ingat pria tua yang berdiri tak jauh dari sana, tetapi Noval tak banyak berkata dan memilih bungkam.
"Hahaha.... Ternyata kalian memang sudah dekat satu sama lain, pantas jika ada hubungan spesial diantara kalian. Tapi sayang, kamu selalu menutup sesuatu dari kami Son" Tutur Bram lagi.
Hanin tak hanya diam saja, ia berjalan ke arah Arin dan menelisik wanita tersebut seperti seorang yang sedang diinterogasi. Arin yang melihat itu hanya bisa menundukkan kepala.
"Siapa namamu tadi?" Tanya Hanin.
"A-arin... Bibi" Jawab Arin terbata-bata.
Hanin mengangguk lalu mengukir senyum hangat di bibirnya, tangannya meraih tangan Arin membuat sang empu mendongak.
"Kamu cantik sekali, nak. Bisa-bisanya Sonny menyembunyikan wanita secantik kamu dari kami" Seru Hanin memuji.
Seketika Arin merasa mendapat angin segar disekitarnya, tanpa diduga Ibunda dari Sonny menyanjung dirinya membuat Arin seakan diterbangkan ke awan.
"Benar, padahal kami akan sangat mendukung hubungan kalian. Apalagi meimei sudah sangat dekat denganmu" Cetus Bram ikut bersuara.
Arin tersenyum kaku, ia
pun lantas membalas pujian itu.
"T-terima kasih bibi, paman... "
"Akhirnya putraku mulai memikirkan masa depannya juga, sudah lama kami menanti momen ini"
"Lagipula siapa yang tidak terpikat dengan wanita cantik seperti arin ini? Apalagi kalian bertemu setiap hari, kami bersyukur jika kamu bisa menjadi bagian dari kita"
__ADS_1
Hanin dan Bram tak henti-hentinya memuji seorang Arin, mereka sangat bahagia karena Sonny sudah mendapat pengganti istri pertamanya, sebab mereka khawatir bila Sonny tak mau menikah lagi apalagi usia Sonny masih sangatlah muda.
"Bundaaaa..... Kita pulang jam berapa?" Celetuk Noval kembali bertanya.
Hanin yang berada di dekat mereka langsung menyapa bocah tampan itu layaknya menyapa sang cucu.
"Hallo anak manis, siapa nama kamu sayang?"
Dengan sopan Noval pun menyebutkan namanya, "Noval.... "
"Oh Noval... Namanya bagus sekali, Noval suka main kesini ya sama bunda?"
Seperti biasa Noval hanya menjawab dengan gerakan badan.
"Bagus itu! Sering-sering main kesini, siapa tau nanti jadi rumah kalian sendiri" Celetuk Hanin bermakna lain.
Senyum yang tadi terlihat sangat bahagia seketika berubah jadi senyum masam, bahkan sebelum mereka berharap seperti itu semuanya sudah terjadi lebih dulu.
"Kak Noval jangan pulang dulu! Temenin Meimei sarapan" Cegah Meimei tak ingin mereka pergi dari sana.
"Benar kata Meimei, kita sarapan dulu. Arin juga sepertinya sudah menyiapkan makanan untuk kita" Sambung Sonny berseru.
"Tentu saja boleh, bibi" Balas Arin mengiyakan.
"Kalau begitu ayo!"
Semua yang berada di rumah itu lantas berjalan ke arah meja makan, disana mereka semua duduk bersamaan, melihat masakan Arin yang begitu menggugah selera membuat Hanin terus memujinya.
"Wahh.... Makanannya kelihatan enak sekali, ini beneran kamu yang masak nak?"
Dengan jujur Arin mengangguk cepat, "Iya, bibi. Tapi maaf hanya masakan sederhana"
"Tidak perlu minta maaf, Rin. Kamu hanya memasak apa yang ada di dalam kulkas milikku. Lain kali aku akan lebih sering berbelanja" Sergah Sonny membela Arin.
"Itulah alasan kamu harus segera memiliki istri, Sonny! Mamah sudah bilang beberapa kali padamu, benar begitu kan Arin?" Tutur Hanin bertanya balik pada Arin.
Pertanyaan Hanin yang selalu membuat Arin merasa tersindir membuatnya menjadi gelagapan, "i-iya... Bibi" Lirih nya.
"Do'akan saja yang terbaik untuk kami, mah. Siapa tau suatu saat nanti keinginan kalian akan benar-benar terwujud" Kilah Sonny menanggapi.
__ADS_1
Bram dan Hanin yang mendengar itu tersenyum simpul, tentu saja mereka akan berdoa yang terbaik untuk putra mereka, apalagi mendapat menantu seperti Arin yang sudah sangat dekat dengan Meimei.
"Ya sudah, sekarang mari kita sarapan lebih dulu. Setelah itu baru kita lanjut mengobrol lagi" Potong Bram menyanggah pembicaraan mereka.
Semua mengangguk kemudian melanjutkan makan pagi yang sempat tertunda.
"Tante.... Meimei mau yang itu!"
"Oke, tante ambilin ya"
"Bunda, Noval juga mau yang itu!"
"Iya, sebentar ya sayang"
Satu suap nampaknya sudah membuat Bram maupun Hanin menyukai masakan Arin.
"Ini lezat sekali, ternyata kamu sangat pintar memasak. Lain kali bisa kan kamu mengajarkan bibi masak makanan seperti ini?"
"Tentu, bibi. Aku juga ingin mencoba masakan bibi... Meimei suka bercerita kalau masakan Oma nya itu sangat enak"
"Hahaha.... Oh ya? Tentu, nanti kita masak sama-sama, kita bisa saling tukar resep masakan"
"Meimei juga mau ikut masak-masak, Oma!'
"Cucu Oma mau ikut juga? Boleh dong... "
"Yeayyyy!!! Masak-masak.... Masak-masak..." Teriak Meimei bernada.
Semua orang yang melihat itu langsung dibuat tertawa lucu melihat tingkah Meimei yang menggemaskan, Bram bahkan sampai mencubit salah satu pipi Meimei sangking gemasnya.
"Anak Opah emang paling lucu kalau begini"
Interaksi yang awalnya penuh ketegangan dalam hitungan menit berubah menjadi suatu keharmonisan yang tak pernah diduga sebelumnya, Arin tak menyangka jika ia akan disambut hangat oleh kedua orang tua Sonny. Awalnya arin pikir pertemuannya dengan orang tua dari sang suami sangatlah mendadak dan sangatlah tak etis, dimana mereka memergoki Arin yang sedang berada didalam rumah pria itu. Tetapi kekhawatiran Arin nampaknya tak berlangsung lama, Hanin dan Bram menyambutnya dengan tangan terbuka.
Mungkinkah semua takdir yang ia lalui selalu dilewati dengan cara yang tak biasa? Apakah nanti pertemuan Sonny dan orang tua Arin akan seperti ini juga? Entahlah... Arin pun tak tahu pasti.
Tetapi ada satu yang mengganjal di pikiran Arin, yaitu Noval. Apakah Noval mengerti dengan apa yang tadi diucapkan oleh Sonny? Dengan sangat lantang Sonny menyebut Arin kekasihnya bahkan didepan Noval, sang putra. Apakah Noval paham dengan itu?
Jika dilihat sekarang, Noval terlihat biasa-biasa saja. Sulit membaca pikiran anak lelaki ini. Akankah Noval merestui hubungan Arin dan Sonny layaknya Hanin dan Bram? Ataukah sebaliknya.
__ADS_1