Tetangga Cantik Kesayangan Putriku

Tetangga Cantik Kesayangan Putriku
Rumah Terakhir


__ADS_3

Hari terus berlanjut, rasanya baru kemarin Arin berlibur kini sudah memasuki hari Jumat saja, begitu tak terasa hingga lupa apa saja yang ia lakukan beberapa hari ke belakang.


Di hari Jumat pagi ini Arin bersama Meimei baru saja mengantar Noval ke sekolah, mobil Arin pun sudah terparkir rapi di garasi rumahnya.


Ia dan Meimei turun dari mobil, suara Meimei terdengar nyaring kala gadis itu bersuara.


“Tante itu kan mobilnya papah, kok masih di rumah?” Cetus Meimei menunjuk mobil Sonny yang masih terpantau di depan rumah lelaki itu.


Arin melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan jam delapan, seharusnya Sonny sudah berangkat ke kantor.


“Iya, kok papah kamu belum berangkat ya?” Gumam Arin heran.


Tak lama orang yang tengah mereka bicarakan pun muncul dengan pakaian formal namun tampak ada sedikit yang berbeda, Sonny terlihat mengenakan celana dan kemeja berwarna hitam tidak seperti orang yang akan bekerja.


“Papahhhhh……..” sontak Meimei langsung berteriak dari kejauhan membuat Sonny seketika menoleh ke arah mereka.


Meimei dan Arin lantas mendekati pria tersebut. Meimei langsung memeluk kaki jenjang Ayahnya hingga membuat Sonny sedikit terjungkal.


“Eh anak papah, baru pulang dari sekolah kak Noval ya?” Seru Sonny.


“Iya, papah kok belum berangkat?” Tanya Meimei mendongak.


“Iya mas, sekarang udah jam delapan kok mas Sonny masih disini? Dan lagi… kenapa pakaian mas serba hitam?” Sambung Arin menyahut.


“Pagi ini aku gak akan langsung ke kantor Rin, aku…. Mau pergi ke makam mendiang istriku dulu, hari ini…. Hari ulang tahunnya” ucap Sonny menjelaskan.


Seketika Arin terbelalak ketika mendengar hal tersebut, ia tidak tahu kalau Sonny akan pergi ke makam mendiang istri pertamanya, Sonny belum menceritakan apapun pada Arin.


“Kenapa mas Sonny gak bilang? Padahal aku sangat ingin berkunjung kesana” ungkap Arin.


“Tadinya aku juga tidak akan kesana sekarang, aku berencana mengajak kamu berkunjung hari minggu. Tapi entah kenapa perasaanku tidak enak, jadi aku berubah pikiran” jelas Sonny meluruskan tujuannya.


“Kalau begitu aku ingin ikut mas, apa boleh?” Ucap Arin meminta izin.

__ADS_1


“Tentu, Meimei juga akan ikut” kata Sonny menatap putri kandungnya itu.


“Papah kita mau kemana?” Cicit Meimei mendengar namanya disebut.


“Kita mau ke rumah Mami, Meimei mau kan ikut?” Jelas Sonny.


“Mami? Kita mau ke makam ya pah?”


Dan dibalas anggukan oleh sang Ayah.


“Tunggu sebentar mas, aku akan ganti baju dulu tidak akan lama” Arin lantas berlari ke dalam rumah dengan terburu-buru tak mau membuat Sonny menunggu apalagi sampai meninggalkan dirinya meski hal itu tidak akan mungkin dilakukan.


***


Tulisan "Pemakaman" Di dinding itu membuat Arin sadar jika dirinya sudah tiba di rumah terakhir mendiang istri pertama Sonny.


Dengan pakaian serba hitam mereka melangkah lebih dalam kesana.


Rumput hijau yang basah nampak menyambut ketiga orang itu dengan caranya sendiri.


Sambil membawa sekeranjang bunga tabur segar Arin melihat kanan-kiri menebak batu nisan mana yang akan mereka tengok.


Rupanya Sonny dan Meimei berhenti di salah satu pusaran yang bersebelahan dengan pohon rindang yang menutupi batu nisan itu dari panas sinar matahari.


Ketiganya berjongkok disana, menghadap sebuah nama yang bertuliskan NITA VARISYA.


Sonny memegang baru nisan itu sembari menyimpan se bucket bunga yang ia beli, disimpannya benda itu tepat di atas tanah tersebut.


"Selamat ulang tahun Nit... Aku berharap kamu selalu bahagia disana" Ucap Sonny penuh ketulusan tak lupa mencium batu nisan itu dengan kerinduan.


Selanjutnya Sonny membimbing Meimei lebih dekat dengan batu nisan Ibunya, menyuruh Meimei memberikan sepatah dua patah kata.


Meimei pun menurut, bahkan memeluk benda itu dengan tubuh mungilnya.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun Mami, Meimei kangen Mami" Tuturnya meski Meimei tak pernah bertemu dengan Ibunda sejak dilahirkan.


Meimei melepas pelukan lalu kembali berjongkok seperti semula, kini Sonny yang kembali berbicara.


"Nita.... Kami kesini tidak hanya berdua.


Aku.... Membawa seorang wanita yang belum sempat aku perkenalkan pada kamu" Ucap Sonny.


"Namanya Arin...


Dia wanita yang aku cintai sekaligus Ibu sambung anak kita" Lanjutnya.


"Kami sudah menikah Nit, dia wanita yang sangat cantik... Aku sangat mencintainya, Meimei pun begitu... Dia sangat menyayangi Arin seperti Ibunya sendiri, aku yakin kamu bahagia mendengarnya. Dia juga ingin mengucapkan selamat ulang tahun padamu... "


Beberapa detik Arin merasa hari biru mendengar kalimat yang terlontar dari bibir suaminya, betapa bangganya seorang Sonny menyebut jika lelaki itu begitu mencintai Arin. Membuat Arin tak bisa berkata-kata.


Dan sekarang giliran Arin yang berbicara.


Tangan kanan Arin mulai mengelus lembut batu nisan itu, memandang kagum wanita yang rela mati demi buah hatinya.


"Mbak Nita....


Perkenalkan aku Arin...


Maaf mbak, aku baru datang mengunjungi mbak" Tutur Arin dengan suara bergetar, tak bisa menutup gejolak didalam dada.


"Mbak Nita wanita baik meski kita belum pernah bertemu, terimakasih mbak.... Terimakasih telah melahirkan Meimei ke dunia ini, aku sangat menyayanginya... " Ujarnya meneteskan air mata.


"Izinkan aku untuk menjadi Ibu dan istri dari mas Sonny serta Meimei mbak... Tolong restui hubungan kami... Aku berjanji akan menyayangi mereka dengan sepenuh hatiku mbak... Hiks" Tangis pun tak bisa terelakkan, Arin menangis didepan pusaran mendiang Nita.


Namun dengan cepat Arin menghapus air matanya, Arin berusaha untuk tetap tersenyum.


"Semoga mbak Nita selalu bahagia disana, kami selalu mendoakan mbak. Sekali lagi terimakasih... "

__ADS_1


Dan sesi kunjungan itu pun ditutup dengan doa dan taburan bunga, ketiganya berpamitan dan pergi dari sana.


__ADS_2