
Di Dunia ini, pertarungan antara Manusia, Monster, dan Iblis terus terjadi dan tidak pernah usai. Banyak manusia yang mati demi melindungi Manusia lainnya, sedangkan Iblis terus membunuh demi kesenangan hidupnya.
Aku Bagas umur 8 tahun sedang bermain dengan sahabatku yaitu Andre di desa tempat tinggalku.
"Hey Andre, coba kemari dan lihatlah!" teriakku memanggil Andre.
"Ada apa?" Andre menghampiriku.
"Lihat! Ada om-om sedang memainkan ayunan," ucapku sambil menunjuk ke arah om-om tersebut.
"Orang yang aneh," ucap Andre.
Andre tidak mempedulikan orang tersebut dan Andre malah pergi begitu saja.
Andre berhenti lalu menatapku. "Sampai kapan kau akan melihatnya? Itu hanyalah orang aneh saja."
Pandanganku terus tertuju pada om-om tersebut, jarakku dengan om-om tersebut sekitar 13 meter. Begitu dekat tapi mengapa om-om itu tidak melihat ke arahku? Pandangannya terus mengarah ke tanah.
"Mungkin sedang sakit..." ucapku.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki kuda di depan pintu masuk desaku.
"Mbfffffff..."
"Andre... kau dimana? Waktunya pulang, ini sudah sore."
Aku mendengar suara itu begitu kencang memanggil nama Andre. Tanpaku sadari pandanganku sempat berpindah ke arah suara itu. Ketika aku melihat kembali ke arah ayunan, seketika orang tersebut menghilang.
"Ehh.... Kemana om-om itu?''
"Ternyata kau masih di sini. Ayahku sudah memanggilku untuk pulang," ucap Andre melihat ke arahku.
"Oy... Andre, om-om itu hilang!" ucapku.
"Lupakan orang itu! Ayo kita ketempat Ayah ku!" ucap Andre.
"Tapi... Om-om itu terlihat sakit, pandangan nya terus ke bawah," ucap ku.
"Ayoo!" ucap Andre.
Kami berdua berjalan menuju ke tempat Ayah Andre berteriak tadi.
Aku melihat Ayah Andre sedang dikawal beberapa prajurit kastil dan 1 orang KNIGHT kelas I menaiki kuda.
"Waah Andre Anakku, lama tak jumpa," ucap Ayah Andre memeluk sang anak tercinta.
"Cih... Jangan peluk-peluk, Ayah!" Andre melepaskan pelukan Ayahnya. "Padahal cuman beberapa jam saja di tinggal tapi bilang lama tak berjumpa."
"Ayuuk kita pulang! Ini sudah mulai gelap," ucap Ayah Andre sambil menaiki kuda.
Aku mencoba mendekati mereka berdua sambil ngupil.
"Ini Paman untukmu!" ucap ku sambil mendorong upilku ke arah Ayah Andre.
Upilku tepat mengenai wajah Ayah Andre.
"Errr...!!! Anak kurang ajar....!!! Akanku jadikan kau makanan ikan yaa," ucap Ayah Andre memasang wajah kesal.
"Andre tidak boleh pulang! Dia masih bermain denganku!" teriakku di depan kuda ayahnya Andre. "Andre itu temanku jadi dia harus bermain denganku."
"Aku Ayahnya, jadi suka-suka aku dong untuk membawanya pulang," ucap Ayah Andre.
"Cih... baru jadi ayahnya saja sudah belagu!" ucapku memalingkan wajah.
"Anak kurang ajar!!!" ucap Ayah Andre menuruni kuda.
"Pokoknya Andre harus tetap di sini!" ucapku.
ketika kami berdua sedang bertengkar, seketika muncul seseorang yang menenangkan pertikaian tersebut.
"Hehehehe... Bagas, ini sudah mulai gelap biarkan Andre pulang!" ucap ayahku.
"Ciih..." ucapku mundur dari jangkauan Ayah Andre.
"Halo Yasir lama tak berjumpa," ucap Ayahku mendekat Ayah Andre
"Lama tak jumpa Sam," ucap Ayah Andre kepada Ayahku.
"Kira-kira berapa lama yaa... kita tidak bertemu? aku sendiri pun lupa, hahahaha" ucap Ayahku sambil tertawa.
"Berapa lama yaaa? hahahahaha," ucap Ayah Andre yang ikut tertawa.
"Kedua orang tua ini bodoh, sudah jelas-jelas baru kemarin mereka bertemu," ucap Andre.
"Bodoh!" ucapku kepada Ayah Andre.
"Anak kurang ajar...!!!" ucap ayah Andre yang masih kesal terhadapku.
"Baginda, hari sudah mulai gelap sudah saat nya kita kembali. Jarak kota kemari lumayan memakan waktu," ucap seseorang Knight kelas I kepada Ayah Andre.
"Bye-bye, besok main lagi kemari yaa!" ucapku kepada Andre.
"Hooh..." ucap Andre.
Andre dan Ayahnya menaiki kuda untuk menuju pulang. Dan aku pun dan Ayahku juga menuju ke rumah.
Hari mulai gelap, malam pun tiba.
"Makan, makan, makan, makan!!!" ucapku yang sedang menunggu makan malam.
"Bagas jangan memukul meja makan dengan sendok! Ini sedikit lagi makannya selesai..." ucap Ibuku.
Makannya pun tiba di meja makan, kami bertiga pun menikmati makanan bersama.
"mbabuejsysh budheyd hudhs," ucapku sambil mengunyah makanan.
"Sudah Ayah bilang jangan bicara sambil makan! Kalau mau bicara nanti saja habiskan makan mu!" ucap Ayahku.
Setelah makan kami pun mulai berbicara.
"Gimana hubunganmu dengan Andre?" ucap Ayahku.
"Baik-baik saja. Tadi aku sempat mau mendorong Andre ke sungai, tapi dia dengan sigap menghindar dan hal hasil aku yang tercebur ke sungai hahahaha, eughhh..." ucapku sambil ketawa dan kekenyangan.
"Ma, Anak kita bodoh yaa," ucap Ayahku kepada Ibuku.
"Kau tau sendiri kan Andre itu dari kalangan Bangsawan bahkan mereka pun punya kastil sendiri, Andre dan keluarganya itu orang baik dari pada Bangsawan lainnya, mereka mau berteman dengan siapa saja termasuk kita. Ya, walaupun terkadang Ayah suka sedikit kesal dengan sikap Andre yang terlalu dingin terhadap orang yang tidak di kenalnya, tapi tidak berlaku untukmu," ucap Ayahku.
"Karena aku sudah berjanji akan melindungi Andre dan bakal jadi Knight!" ucapku menyombongkan diri. "Ciih... paman itu tidak pantas menjadi Bangsawan, kalau Andre sudah pasti pantas."
"Paman Yasir itu Bangsawan, loh. Dia orangnya kuat mampu melindungi orang orang yang dia sayangi, bahkan waktu itu dia melindungi istrinya dari monster kelas A seorang diri!" ucap ayahku.
"Ehhh... bohong?" ucapku.
"Percayalah sama Ayah, Nak. Karena waktu itu Ayah yang menolong paman Yasir saat terluka parah. Saat itu istri paman Yasir membawa paman Yasir ke rumah ini, dengan wajah cemas, gelisah, sedih, terluka, dan marah. Istri paman Yasir pun bercerita tentang kejadian dimana mereka berdua di kejar gerombolan Monster yang mencoba membunuhnya, dan saat itu paman Yasir dengan gagah berani melawan monster itu semua, tapi ada satu monster yang tiba-tiba menusuk paman Yasir dari belakang. Tapi dengan sigap paman Yasir memukul balik monster tersebut walaupun luka tusukan itu sangat dalam. Paman Yasir pun berhasil membunuh semua monster tersebut tapi dia juga harus menerima luka yang fatal pada bagian belakang tubuhnya. Istri paman Yasir membawa paman Yasir kemari dan Ayah merawatnya," ucap Ayahku.
"O!" ucapku yang masih belom menerima paman Yasir itu hebat.
"Nak, jadilah orang baik lindungilah teman-temanmu, lindungi orang yang kamu sayangi!" ucap Ayahku.
"Orang yang disayang?" tanyaku.
"Betul, Nak. Jadi hebat itu bukan berarti kamu yang terbaik, tapi dimana kamu bisa melindungi orang yang kamu sayangi, itulah yang terbaik," ucap Ayahku. "Kira-kira di dunia ini ada berapa banyak orang yang baik, Nak?" ucap Ayahku sambil minum.
"1000 orang!" ucapku yang asal jawab saja.
"Ehh... segitu kurang, Nak. Perlu kamu ketahui, dunia ini banyak sekali orang baik, jika kamu tidak menemukannya, maka jadilah orang baik tersebut!" ucap ayahku tersenyum melihatku.
"Hey Ayah, tadi sore aku melihat seorang om-om sedang memainkan ayunan," ucapku.
"Om-om? Paling juga cuman halusinasimu saja, hahahaha..." ucap ayahku sambil tertawa.
"Sungguh ini, Ayah!" ucapku meyakinkan Ayah.
"Jangan dipikiran! Sama halnya waktu kau bertemu seseorang di kuburan pahlawan itu," ucap ayahku yang tidak percaya dengan diriku.
"Di kuburan itu, juga aku bertemu dengan seorang, dia mengasih aku sebuah Katana (senjata khas Jepang) dan 1 buah bola mata, tapi tiba-tiba aku kehilangan kesadaran dan ketika bangun sudah berada di kamar..." ucapku sambil mengingat kejadian tersebut.
"Hahaha, tidak usah dipikirankan!" ucap Ayahku.
malam pun semakin larut.
"Nak, sudah waktunya tidur!" ucap Ibuku.
"Baik, Bu!" ucapku menuju ke kamar.
Saat aku berbaring di atas kasur tiba-tiba aku kepikiran dengan om-om yang tadi sore berada di ayunan.
"Kira-kira kemana yaa orang itu?" ucapku menanyakan diri sendiri.
Ketika aku sedang memikirkan itu tiba-tiba seseorang masuk kamarku.
"Nak, sudah tidur?" tanya Ibuku.
"Belum, Bu," jawabku.
"Boleh Ibu cerita?" ucap Ibuku sambil duduk di kasurku.
"Iya, Bu!" ucapku.
"Dahulu ada seorang gadis kecil yang menangis karena kehilangan boneka berharga bagi hidupnya. Dia terus menangis tanpa henti... hingga tiba-tiba muncul seorang anak lelaki," ucap Ibuku yang bercerita tapi malah kilas balik.
"Hey kenapa kamu nangis?" ucap anak lelaki.
__ADS_1
"Bo-bo-bonekaku menghilang..." ucap gadis perempuan.
"Hilang di sini?" ucap anak lelaki.
"Iyaa..." ucap gadis.
"Akan kubantu carikan!" ucap anak lelaki itu sambil melihat sana-sini.
"Anak lelaki itupun membantu gadis tersebut untuk mencari 'kan bonekanya yang menghilang" ucap Ibuku.
"Ketemu!" ucap anak lelaki sambil mengangkat Boneka tersebut. "Ini bonekamu?" ucap anak lelaki itu kepada gadis perempuan tersebut.
"hooh..." ucap gadis itu sambil mengusap tangisnya.
"Ini bonekamu!" ucap anak lelaki.
"Terimakasih..." ucap anak perempuan sambil memeluk erat bonekanya.
"Menikahlah denganku!" tegas anak lelaki.
"Haa... Kau bodoh, ya?" ucap gadis perempuan itu terkejut.
"Aku serius, menikah denganku!" ucap anak lelaki itu terus ngotot untuk menikah.
Gadis itu pun menjauh dari anak lelaki tersebut.
"Heey... tunggu!" ucap lelaki itu.
Gadis itu pun berhenti.
"Siapa nama mu?" ucap anak lelaki itu.
"Elsa. Elsa namaku," ucap gadis sambil berjalan menjauh.
"Nama ku, Sam. Suatu saat nanti, akan kujadikan engkau istriku!" teriak dari anak lelaki tersebut.
"Elsa? Itu 'kan nama Ibu?" tanyaku.
"Betul sekali!" ucap Ibuku tersenyum.
Aku melihat Ibuku tersenyum seperti bidadari. Dia terlihat bahagia, wajahnya putih lembut dan halus dengan senyuman yang manis.
"Setelah kejadian itu, Ibu bertemu dengan Ayahmu setiap saat. Ketika Ibu dan Ayahmu berumur 15 tahun, kami pun menjadi Knight bersama, untuk melindungi umat Manusia," ucap Ibuku.
"Ibu dan Ayah menjadi Knight?" tanyaku.
"Betul, Nak. Hebat, kan?" ucap Ibuku.
"Hebat... Ibu jadi Knight kelas berapa?'' ucapku.
"Kelas II, Nak. Ibu dan Ayah sama-sama menjadi Knight kelas II," ucap Ibuku.
"Keren... Ibu dan Ayah begitu hebat!" ucapku yang tidak bisa menahan rasa bangga terhadap kedua orang tuaku.
"Betul kata Ayahmu, Nak. Menjadi hebat itu bukan berarti kamu yang terbaik, tapi yang terbaik itulah yang mampu melindungi orang lain, walaupun itu hanya sekedar senyuman," ucap Ibuku.
"Sudah waktunya tidur, Nak. Besok 'kan Andre mau kemari lagi. Selamat malam!" ucap ibuku mencium dahiku dan perlahan berdiri menjauh dari kasur.
"Iya, Ibu. Selamat malam!" ucapku dengan senyuman.
Di suatu tempat aku Andre menuju perjalanan pulang.
Ayah tiba-tiba mengentikan kudanya.
"Hey, Yanto. Apakah engkau tidak merasakan sesuatu ketika di desa tadi?" ucap Ayahku.
"Yaa, aku merasa energi yang begitu besar," ucap Yanto.
"Kalian prajurit, bawa pulang Andre duluan! Aku mau kembali ke desa!" ucap Ayahku berkeringat dingin.
"Ayah mau kembali ke desa?" tanyaku.
"Iya, Nak. Ayah sama Yanto mau kembali ke sana, karena ada beberapa urusan yang ketinggalan. Kau pulang saja duluan, nanti Ayah akan menyusul!" ucap Ayahku mencoba meyakinkan diriku agar tidak ikut.
"Baik, Ayah. Kalau gitu," ucapku.
"Tolong jaga Anakku!" ucap Ayahku kepada salah satu prajurit kastil.
"Baik, Baginda!" ucap salah satu prajurit kastil.
"Ayo, Yanto! Kita ke sana!" ucap Ayahku. "Semoga tidak terjadi apa apa dengan dirimu, Sam!"
Di suatu tempat berada di desa.
"Ckckckckckckckck..." ucap seseorang yang sedang berdiri di ayunan dengan pandangan lurus kebawah.
Malam pun larut hingga berganti hari. Aku Bagas sedang asik tidur tiba-tiba mendengar suara ayam berkokok yang membuatku terbangun.
"Apa ayam itu sedang berlatih berkokok?" ucapku. "Huaaahhh... Ini masih tengah malem sepertinya, tapi ayam itu berkokok sungguh aneh," ucapku mencoba untuk tidur kembali.
Suara pedang berbunyi dari luar kamarku, sontak membuat aku terbangun kembali.
"Apakah sedang ada pertunjukan malam-malam begini?" ucapku duduk di atas kasur. "Huaaah tidur lagi ah!" ucapku mencoba untuk tidur kembali.
CATRUD!!!
Tiba-tiba ada seseorang yang menuju kamarku dan berteriak.
"Nak, bangun, Nak! Kita sedang di serang monster!" ucap Ayahku.
"Apakah udah waktunya makan, Ayah?" ucapku.
"Nak ikut Ayah sini!" ucap Ayahku bergegas memegangiku.
"Iua, Ayah!" ucapku setengah sadar karena masih mengantuk.
Aku digendong Ayahku menuju lorong yang berada di dekat rumahku.
"Evaluasi warga secepatnya menuju lorong!" ucap kepala desa.
Ayah dan Ibu bergegas menuju masuk lorong.
"Ayah, Ibu, kita mau kemana?" ucapku yang terbangun karena suara kepala desa.
"Kita mau main petak umpet, Nak," ucap Ayahku.
Akhirnya pun kita sampai di suatu ruangan yang berisi para warga desa.
"Ayah ini dimana?" ucapku kebingungan karena tidak tahu ini tempat apa.
"ini tempat kita bersembunyi untuk mengumpat, Nak" ucap Ayahku dengan senyumannya.
"Ehh... keren sekali ruangan ini. Kalau aku tahu lebih dahulu mungkin akan kupakai untuk bermain bersama Andre di sini," ucapku kegirangan karena ruangan ini begitu luas bahkan warga desa pun bisa menempatinya.
"Keren, kan. Ayah dan beberapa kepala keluarga yang buat, loh," ucap Ayahku begitu tenang.
"ini kere-"
BOOM!!!
"Ayah, itu apa?" ucapku kebingungan.
"Itu... Oh, itu suara petasan. Iya itu suara petasan. Kan, sebentar lagi desa kita akan merayakan ulang tahun, jadi kita mencoba beberapa petasan apa bagus atau tidak, untuk merayakan ulang tahun desa kita, hehehehe..." ucap Ayahku.
"Aku mau lihat!" ucapku mencoba untuk keluar.
"Jangan, Nak! Jangan ke sana dulu! Nanti kamu kena petasannya, loh," ucap Ibuku.
"Betul, Nak, kata Ibumu. Lebih baik kamu di sini saja untuk sementara! Kan, kita sedang bermain petak umpet," ucap Ayahku.
"Kamu masih ngantuk, kan? Ayuk tidur lagi! Sini biar Ibu pangku!" ucap Ibuku.
"Asyik.. dipangku sama Ibu," ucapku.
"Sini Ibu pangku!" ucap Ibuku sambil memegangku dengan erat seakan-akan tidak mau kehilanganku.
"Ngooookkkk..."
"Akhirnya Anak ini tidur," ucap Ibuku kepada Ayahku.
"Bagus deh. Anak ini sungguh hebat, dia tidak panik ketika bunyi boom tersebut dan malah mau menghampiri keluar, hahahaha," ucap Ayahku.
"Dia mirip sekali denganmu, bersikap tenang terhadap masalah apa pun atau dalam kondisi apapun," ucap Ibuku.
"Keadaan di luar bagaimana, yaa? Apa perlu kubantu?" ucap Ayahku.
"Nanda 'kan sudah bilang untuk percaya sama dia. Dia itu Knight kelas III loh, jadi kita harus percaya sama dia. Kalo dilihat juga, itu Monster kelas B, pasti Nanda mampu menghadapinya," ucap Ibuku.
"Bukan berarti aku tidak percaya dengan tetanggaku sendiri, hanya saja, suara itu sanggatlah bahaya!" ucap Ayahku.
"Jangan! Kamu harus di sini! Aku tidak mau kehilangan orang yang aku sayangi lagi..." ucap Ibuku menangis.
"Maaf, aku akan di sini untuk menjaga dirimu dan Bagas," ucap Ayahku sambil mengingat kembali kejadian dimana anak pertama mereka mati terbunuh oleh monster kelas A, di saat itu Ayah sedang menebang pohon di hutan dan Ibu sedang mengandungku.
"Aku pergi main dulu Ibu," ucap anak lelaki.
"hati-hati, Bagus!" ucap Ibuku.
Mereka berdua tidak menyadari bahwa sesuatu yang buruk terjadi terhadap anaknya.
"Duuh... Bagus kok belum juga pulang, ini sudah mau gelap..." ucap Ibuku cemas.
"Mungkin dia sedang menuju kemari!" ucap Ayahku.
__ADS_1
Mereka berdua menunggu dan malam pun tiba.
"Ayah, Bagus belum juga pulang," ucap Ibuku mulai panik.
"Kalau begitu, aku akan mencarinya!" ucap Ayahku dengan sigap bergegas keluar rumah.
Ayah pun mencari di sekitaran sungai tapi tidak menemukan apa pun.
"Aku harus mencari di hutan, ini mulai gelap. Bagus kamu dimana?" ucap Ayahku.
Ayah pun menyusuri hutan.
"Fire Element: Fire ball!" Ayah merapat sihir untuk membuat cahaya saat menyusuri hutan.
1 jam pun berlalu tapi Ayah tidak menemukan apa pun. Di tengah pencarian tiba-tiba ada yang mencoba menyerang Ayah, sontak Ayah langsung menyadari serangan tersebut dan berhasil menghindar.
"Siapa engkau? Monster?" ucap Ayahku.
Ayah melihat sosok itu di depan matanya. Wujudnya seperti kelelawar tapi giginya memiliki taring yang tajam dan berlumuran darah. Ayah pun mencoba melawan karena sepertinya ini Monster kelas A.
"Di dunia ini tidak ada yang mampu memadamkan jiwa yang sedang membara. Fire Element: Terbakar!" Ayah merapalkan sihir dan mencoba untuk membakar monster tersebut, tapi monster itu terlalu lincah dan terlalu gelap di hutan ini.
"Sial...!" ucap Ayahku kesal karena serangannya tidak mengenai monster tersebut.
Tiba-tiba monster tersebut lari, dan Ayah mencoba mengejarnya. Di tengah pengejaran tiba-tiba Ayah terjatuh.
"Sepertinya ada yang mengganjal kakiku?" ucap Ayahku berbaring di tanah.
Ayah pun berdiri untuk melihat apa yang mengganjal kakinya. Ayah tiba-tiba panik. Ayah tidak bisa berkata apa-apa, keringat dimana-mana, air mata pun bercucuran melihat sosok yang mengganjal kakinya itu ternyata jasad anaknya sendiri yang sudah tak bernyawa. Bagian tubuhnya rusak, ada beberapa organ yang keluar seakan-akan anak ini habis di makan.
"..." Ayah hanya bisa terdiam.
"Sayang! Sayang!" ucap Ibuku mencoba menyadarkan Ayah karena Ayah sedang melamum.
"Ah... sepertinya aku melamun, hahahahaha," ucap Ayahku.
"Sepertinya suara di luar sudah hening," ucap salah satu warga.
"Bagaimana kalau kita memeriksanya?" ucap warga lainnya.
"Biarkan aku yang memeriksa!" ucap kepala desa yang was-was dan langsung menuju pintu keluar.
Kepala desa belum juga kembali. Sudah sepuluh menit lebih sejak kepala desa meninggalkan ruangan ini.
"Kenapa kepala desa belum juga kembali?'' ucap salah satu warga yang cemas.
"Mungkin pak tua itu dimakan monster, hahahaha," ucap Ayahku sambil tertawa dan menenangkan suasana.
"Ih... kamu! Ini 'kan bukan waktunya bercanda!" ucap Ibuku sambil mencubit ayah.
Tiba-tiba terdengar suara dari lorong.
SREET!!!
Suara itu perlahan-lahan mendekat dan terus berbunyi, para warga yang berada di dalam ruangan pun panik.
"Nak bangun, Nak! Ibu mau menunjukkan sesuatu padamu!" ucap Ibuku.
"Ada apa, Ibu?" ucapku sambil mengusap mata.
"Sini! Kamu berdiri di pojok ruangan itu. Ibu mau kamu diam dan tetap tenang ya, Nak!" ucap Ibuku sambil menaruh aku di pojok ruangan.
"Hidup di dunia ini harus tenang seperti air yang terus mengalir dan membuat kenyamanan. Water Element: Cermin kenyamanan!" Ibuku merapalkan sihir.
Tiba-tiba aku berada di ruangan cermin, aku bisa melihat wajah Ibu tapi tidak dengan suaranya. Aku terus mengendor-gendor cermin tersebut untuk keluar dari ruangan cermin ini.
"Bu... Bu... ini ruangan apa, Bu?" ucapku.
Ibu tidak merespon apa yang kuucapkan. Aku melihat warga dan kedua orang tuaku seperti menyiapkan sesuatu untuk dilawan, tapi aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Di suatu tempat.
"Kita harus cepat! Energi ini sangat besar, padahal jarak kita ke desa masih lumayan jauh," ucap Yasir kepada Yanto sambil mengendarai kudanya. "Semoga kau baik-baik saja, Sam!"
Desa di dalam lorong.
"Ckckckckckck, apakah bisa kita mulai?" ucap seseorang yang sedang menyeret pedangnya ke tanah.
"Ibu, Ayah, sebenarnya apa yang terjadi?" ucapku yang masih saja terus mengedor-ngedor.
Tiba-tiba terdengar suara di balik pintu ruangan.
"Ckckckckckck."
Doooorr.... pintu itu hancur.
Ayah dan Ibu bersiap siaga seperti mau bertarung.
"Semoga, Bagas tetap diam di situ," ucap Ayahku kepada ibuku.
Akhirnya muncul seseorang di balik pintu tersebut, dan ternyata tidak lain orang itu adalah om-om yang tadi sore aku lihat di ayunan. Dia berpakaian serba hitam membawa sebuah pedang sejenis cerulit, pandangannya terus mengarah ke bawah dan kakinya pun tidak menyentuh tanah.
Aku bisa melihat wajahnya walaupun pandangan dia terus ke bawah, dia memiliki mata berwarna merah.
"Siapa kau?" ucap salah satu warga sambil mencoba menyerang orang tersebut dengan tombaknya.
"Jangan!" ucap Ayahku yang mencoba menghentikan warga tersebut.
Warga tersebut berlari dan menyerangnya. Namun naas, tombak yang dipegangnya pun malah melukai dirinya sendiri, tepat di bagian leher dan ujung tombaknya menembus lehernya. Warga tersebut akhirnya terkapar di tanah dan mati karena luka di bagian leher.
"Ckckckckckck," tawa orang tersebut.
Aku melihat Ayah dan Ibu, tiba-tiba terkapar di tanah, begitu juga dengan para warga yang tersisa.
"Dia Iblis kelas S!" ucap salah satu warga yang mencoba berdiri.
Saat warga tersebut mencoba untuk berdiri tiba-tiba muncul sebuah barettan bekas serangan pedang di dinding di samping warga tersebut. Seketika kepala dan badan warga tersebut terpisah.
"Kyaaaaaaa..." teriak warga.
Semua orang pun yang berada di dalam ruangan menjadi panik, Ayah mencoba berdiri dan melawan Iblis tersebut.
Ayah berlari menuju Iblis tersebut dan berhasil menghindari beberapa serangannya.
"Ckckckckck," tawa Iblis tersebut
Saat Ayah sudah hampir tiba di depan iblis tersebut, tiba-tiba dia menghilang dan muncul di belakang Ayah.
"Bueeeeee..." suara Ayahku kesakitan.
Iblis itu menyerang tepat di belakang dada Ayah.
"Sam...!" teriak Ibuku.
Ibu mencoba untuk menolong tapi sayang dia tidak mampu untuk berdiri, yang hanya bisa dia lakukan adalah menyembuhkan Ayah dari kejauhan dengan sihirnya.
Tiba-tiba iblis itu menghampiri Ibu. Ayah yang masih sadar mencoba untuk menghentikannya, namun sayang ayah terluka sangat parah, dia tidak mampu untuk melindungi Ibu.
Iblis itu pun sampai di depan Ibu, tiba-tiba dia menyerang dan melukai tangan Ibu yang mengakibatkan terputus lengan Ibu.
"Ckckckckckckc," tawa Iblis tersebut.
"Hey kau tahu, di mana jasad Manusia itu?" tanya Iblis tersebut kepada Ibuku.
Ibu tidak menjawab karena kesakitan.
"Kau tidak tahu yaa? kalau begitu... mati saja!" ucap Iblis itu menyerang ibu.
Iblis tersebut menyerang tepat di perut Ibu.
"Ibu, Ayah!" ucapku terus mengedor-ngedor ruangan ini.
Sekilas Iblis tersebut melihat sudut ruangan yang dimana tempatku berada, walaupun pandangannya terus kebawah.
Di depan pintu masuk desa.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Yasir kebingungan.
Desa terbakar, mayat di mana-mana dan banyak monster yang berkeliaran.
"Hey Yanto, kau coba urus monster ini dan cari orang yang masih selamat!" ucap Yasir sambil mengepalkan tangannya.
"Baik, Baginda!" jawab Yanto.
Di dalam ruangan.
Semua orang yang berada di ruangan telah tewas akibat serangan dari iblis tersebut, kecuali Ibuku yang masih mempertahankan sihir. Iblis itu terus memandangi sudut ruangan tempat dimana aku berada walaupun pandangan terus kebawah.
"Ckckckckckck," tawa Iblis tersebut.
Ibu yang masih sadar dan terus mempertahankan sihirnya.
"Aku harus terus hidup, kalau tidak nanti Bagas dalam bahaya," ucap Ibuku dengan nada pelan dan kesakitan.
Iblis itu pun akhirnya pergi, kakinya sama sekali tidak menyentuh tanah.
Akhirnya ruangan cermin ini pecah, dan aku bergegas menghampiri Ibu dengan air mata terus mengalir.
"Ibu.... aku akan mencari pertolongan!" ucapku sambil memegangi luka Ibuku.
"Jangan kemana-mana, Nak! Ibu baik-baik saja, kok!" ucap Ibuku sambil memegang tanganku. "Nak, setelah ini kau akan hidup sendiri, carilah kehidupan yang baik, karena Ibu mungkin tidak akan ada di sampingmu," ucap Ibuku.
"Ibu harus tetap di sampingku!" jawabku.
__ADS_1
"Anak yang baik," ucap Ibuku tersenyum di hadapanku.
Akhirnya pun Ibu meninggalkanku dengan wajah senyuman yang begitu manis.