
Pukul 20.23
Nama ku Bagas, saat ini kami sedang beristirahat dalam perjalanan menuju Desa Remtu, tempat dimana pria paruh baya itu tinggal.
Kami sedang menikmati makan bersama sama. Api unggun menghangatkan tubuh kami di malam yang dingin. Angin berhembus dari arah Selatan yang dimana terdapat lautan yang begitu luas.
"A... Aku menjatuhkan daging."
"Itu belum 5 menit Bagas, ambil saja !"
"Tidak mau, kau saja yang ambil, Kafur !"
"Tapi ngomong ngomong, makanan mu benar benar enak sekali loh, Shiva. Bumbu pada daging ini terasa begitu halus, tidak asin ataupun manis. Ini enak sekali di lidah. Apakah kau belajar memasak ?"
"Ibu ku yang mengajarkan nya."
"Pantas saja."
Adit kembali dengan beberapa ranting pohon di tangan nya.
"Oh, kau sudah kembali. Maaf merepotkan mu, Adit."
"Tidak apa apa. Lagi pula banyak rating di sini."
Adit melemparkan ranting pohon pada api unggun.
Suasana begitu hangat. Kami seperti sedang berkemah, mungkin karena perjalanan kali ini sungguh jauh.
Kahfi memandangi Angga dan bertanya sesuatu.
"Ngomong ngomong, apa masih jauh berjalan nya ?"
Angga terdiam sejenak dan memikirkan sesuatu.
"Kemungkinan besok malam kita akan sampai di sana."
"Jadi begitu."
"Hmmm..."
Aku menatap wajah Angga begitu serius hingga membuat dia bertanya tanya.
"Mengapa kau memandangi ku !!!"
"Lambat sekali."
"Ini karena perjalanan kita sangat santai, maka nya lambat sampai ke sana."
"Memang nya tidak bisa di percepat ?"
Angga melihat ke arah kuda yang sedang berbaring di tanah, sontak kami ikut melihat nya.
"Jika kita paksakan, kasihan kuda itu. Kau tau sendiri kan, kita berenam dan membawa beberapa barang berat, di tambah lagi kuda itu memakai kereta untuk menarik kita. Jika kita memikirkan ego kita, maka akan terbebani kuda itu."
"Tapi kan kita harus bergegas ke sana dengan cepat, ada seseorang yang membutuhkan bantuan kita."
"Kau benar juga, tapi jika kita memaksa nya, maka akan terbebani kuda itu."
Aku melihat Kahfi sedang melamun, seperti nya dia memikirkan sesuatu. Kedua tangan nya berada di dagu.
"Ada apa ?"
Angga yang berada di samping Kahfi mengangetkan nya.
"Tidak, aku hanya merasa sedikit curiga saja."
"Curiga kenapa ?"
Kami semua penasaran dengan apa yang Kahfi ucapakan.
"Mengapa pihak Asosiasi Guild kota Selatan tidak dapat menyanggupi permintaan pria paruh baya itu ? Jika dari keterangan nya benar, seharusnya mereka dapat membantu nya. Selama ini kita menjalankan quest dengan keterangan yang benar benar terjadi,. dan sesuai dengan isi dari quest. Ne.... Bagaimana jika quest ini hanyalah keterangan palsu yang di sampaikan pria paruh baya itu ?"
Kami terdiam sejenak. Hingga akhirnya Angga berbicara sambil memandangi kertas quest.
"Keterangan di sini di jelaskan bahwa seorang gadis kecil di culik oleh monster sejenis slime. Pergi lah ke Desa Remtu untuk mencari keterangan lebih lanjut dan menyelamatkan gadis kecil yang di culik. Hanya itu saja keterangan nya."
"Ini aneh. Aku punya firasat bahwa quest kali ini akan begitu susah, bahkan pihak Asosiasi Guild kota Selatan tidak mau menerima nya."
Aku hanya dapat melihat mereka terdiam tanpa suara. Tiba tiba angin dari arah selatan berhembus, membuat ku berbicara.
"Tenang saja, tidak perduli begitu susah, aku akan melindungi kalian, kita akan menyelesaikan quest ini dan menyelamatkan gadis itu. Xixixixixi."
Mereka melihat ku yang tersenyum lebar, dan membuat sebuah harapan untuk mereka.
Tuung (Suara pukulan)
Angga dan Kahfi menjitak kepala ku.
"Kau ini belagu sekali yaa."
Kepala ku di masukkan pada rangkulan tangan Kahfi.
"Sakit.... !!!!"
...**********...
Di suatu tempat di penuhi cahaya lilin.
Terlihat Iblis ke 6 bersama dengan seseorang di balik bayangan.
"Tinggal 2 bulan lagi aku akan membawa pasukan Goblin ini menuju kota Pusat. Bagaimana dengan persiapan mu di sana ?"
"Di saaaa...na sudah saaaa...ngat siap, haaa...nya massss....alah waktu saa...ja."
"Hey sudah ku bilang berapa kali, jangan berbicara gagap di depan ku !"
"Baiklah, aku akan kembali ke kota Pusat untuk merapihkan sesuatu."
"Hehehehe, tunggu lah kematian kalian wahai keluarga Bangsawan."
...**********...
Senin, 17 Agustus
Pukul 19.30
__ADS_1
Kami sudah dapat melihat Desa Remtu dari kereta kuda ini.
"Jadi itu desa nya."
"Akhirnya sampai juga setelah perjalanan jauh kita.
"Aaaaa......"
Kami semua terkejut ketika melihat dari arah samping, kami melihat bangunan yang begitu tinggi. Bangunan itu mirip sekali dengan bangunan yang berada di dekat kota Pusat.
"Itu.... Itu bukan nya bangunan labirin yang berada di dekat kota Pusat ?"
"Bangunan itu mirip sekali. Apa jangan jangan itu bangunan yang sama ?"
"Itu bangunan yang sama. Apakah kalian tau, sebenarnya bangunan itu berada di tiap tiap kota. Aku tidak tau siapa yang menciptakan nya, tapi yang jelas, yang menciptakan bangunan itu adalah seseorang yang begitu kuat sihir nya."
Aku mendengar apa yang Shiva katakan. Ini membuat ku semakin ingin menaiki bangunan itu, yaa walaupun sebenarnya bangunan itu tidak bisa di panjat.
"Hey mengapa muka mu seperti orang kegirangan, Bagas."
"Aku ingin memanjat nya."
"Mana bisa di panjat, bodoh !!!"
"Tapi ini sangat dekat sekali bangunan itu, aku yakin jika siang hari mungkin kita bisa melihat nya dengan jelas."
Adit melihat Rian yang kebingungan.
"Ada apa Rian ?"
"Sebenarnya kalian sedang melihat apa ?"
Kami sampai di desa, dan di sambut dengan hangat oleh masyarakat.
Pria paruh baya yang beberapa hari lalu berada di kota Pusat menghampiri kami.
"Ah... Ah... Tolong anak ku."
Aku melihat beberapa warga seperti memalingkan muka ketika pria paruh baya itu berbicara. Kahfi yang menyadari nya nampak semakin curiga dengan nya.
"Tenang, kami akan menyelamatkan."
Angga merespon pria paruh baya itu.
"Tolong, aku mohon. Dia anak ku satu satunya."
Ketika pria paruh baya itu meminta ke kami, tiba tiba seseorang lelaki berbadan besar muncul di hadapan kami. Sepertinya dia berumur 50 an ke atas.
"Lebih baik kita masuk ke dalam dulu."
Kami mengikuti permintaan nya untuk masuk ke dalam sebuah rumah.
Kami di berikan beberapa teh di meja, bahkan cemilan untuk kami yang sedang duduk.
"Perkenalkan aku adalah kepala desa di sini. Nama ku Hidan. dan orang ini bernama Wawan yang meminta kalian kemari."
Ahh... Jadi pria paruh baya itu bernama Wawan.
Angga mulai berbicara dengan Hidan.
"Jadi kapan kejadian anak Anda di culik ?"
Wawan membuka baju nya.
Kami semua kaget melihat luka itu seperti bekas terkena benda tajam. Jahitan di perut kanan nya nampak sangat besar.
Seketika Kahfi semakin mencurigai nya.
"Luka itu seperti terkena tebasan pedang, betul tidak ?"
Wawan terdiam dan tidak berbicara apapun.
"Jika yang kau maksud Monster Slime, maka tidak akan memberikan mu luka seperti itu."
Yang dikatakan Kahfi ada benarnya, karena Slime itu tidak mungkin memiliki senjata tajam, apalagi membuat luka seperti itu.
Hidan dan Wawan tidak dapat berbicara sepatah kata pun.
"Hey, jangan mencoba membohongi kami. Walaupun kami Knight kelas V tapi kami masih dapat menyadari kebohongan kalian. Saat aku masuk ke desa ini, aku melihat beberapa warga memasang wajah cemas, aku menyadari nya."
Kahfi terlihat begitu pintar dengan kacamata yang di pakai. Padahal ku pikir kacamata itu hanya lah pajangan saja, tapi sepertinya aku salah. Kahfi ini sangat pintar untuk menyadari sesuatu, dia begitu dewasa saat sedang berfikir.
Wawan yang begitu gelisah akhirnya mulai berbicara.
"Maaf... Maafkan aku, karena ini satu satunya agar anak ku dapat di tolong. Aku sudah meminta Guild kota Selatan tapi mereka tidak menyanggupi nya, aku mohon kepada kalian untuk menyelamatkan anak ku."
Ah, ah.... Dia menangis layaknya anak kecil, aku yang melihat nya sedikit kasihan dengan nya.
Hidan mulai ikut berbicara.
"Sebenarnya... Beberapa warga kami juga ada yang di culik oleh monster itu. Kami sudah meminta bantuan tapi mereka tidak dapat menyanggupi permintaan kami. Mereka berkata keadilan, tapi apa nya yang keadilan !!! Kami memang tidak memiliki kekuatan, aku tau itu. Tapi, tapi mengapa kami di telantarkan begitu saja. Sejak dahulu kami meminta bantuan tapi tidak di penuhi oleh mereka. Mereka memandangi kami ini seperti apa sebenarnya !!! Makanya kami mencoba meminta bantuan kepada Kota Pusat untuk menolong kami."
Entah Hidan berkata jujur atau berbohong, tapi yang jelas ini membuat ku kesal dengan Asosiasi Guild kota Selatan.
Kahfi berbicara dengan Hidan.
"Apa maksudmu tadi ?"
"Kau tau, Wawan rela datang ke kota Pusat yang jaraknya cukup jauh dari sini untuk meminta bantuan, bahkan dia rela menahan sakit yang di deritanya untuk meminta bantuan kalian."
Hidan mengelus elus pundak Wawan yang sedang menangis.
Kami melihat satu sama lain, dan kebingungan.
Shiva yang tidak tega mendengar nya, mencolek colek Kahfi.
"Ada apa Shiva ?"
"Anoo... Bolehkah aku bertanya ?"
"Silahkan gadis muda."
Hidan merespon Shiva.
"Monster yang menculik Susanti itu seperti apa ?"
__ADS_1
"Ah... Maaf, Wawan membohongi kalian soal monster. Sebenarnya monster itu seperti banteng dan berbadan manusia, hanya saja monster itu begitu besar badan nya."
Shiva kaget mendengar nya.
"Itu Minotaur."
Aku yang penasaran menanyakan Shiva.
"Minotaur ?"
"Hooh... Minotaur memang mirip badan nya seperti manusia, tapi berbadan besar dan kepala seperti banteng."
"Apa bisa di makan ?"
"Kau ini pikiran nya makan saja, Bagas."
"Tidak bisa. Kalau tidak salah Minotaur termasuk monster kelas A."
Kami semua kaget mendengar perkataan Shiva kecuali aku.
"Kalau begitu kita bunuh saja Minotaur itu."
Kahfi melihat ku yang begitu tenang sekali mendengar nya.
"Kau ini, masih begitu tenang sekali, padahal itu monster sangat lah berbahaya. Kau dengar kelas A, Monster itu kelas A."
Aku mengupil mendengar perkataan Kahfi.
"Aku tidak perduli itu kelas apa, tapi yang jelas di saat seseorang sedang kesusahan maka aku akan menolong nya, walaupun hanya bisa menolong senyuman nya saja."
"Kau ini."
Aku berdiri dan menghampiri Wawan.
"Aku akan menyelamatkan nya, jadi jangan menangis lagi yaa. Oh iya, karena kau sudah tua, lebih baik istirahat saja yaa."
"Hey, seharusnya kau tidak mengucapkan kata terakhir."
Kahfi, Angga, Rian, Adit, dan Shiva ikut berdiri dan siap untuk membantu.
"Apa boleh buat, kita sudah sampai sini, jadi kita akan membantu mu, Paman."
"Aku ingin ke toilet. Aku tidak dapat menahan nya. Berada di mana toilet nya ?"
"Ah... Di sana."
Hidan menunjukkan arah menggunakan jari nya.
Rian dengan cepat bergegas pergi, namun...
"Hey kau salah jalan, Rian."
"Maaf..."
"Aku akan menemani mu."
Angga dan Rian pergi ke toilet bersama.
Hidan berdiri dengan wajah panik.
"Ahh.... Aku lupa menyiapkan kamar kalian. Kalian tunggu sebentar di sini, aku akan menyiapkan nya dulu."
"Kita tidak berangkat sekarang ?"
"Kalian istirahat di sini saja, besok baru kalian akan pergi, lagipula ini juga sudah malam. Aku akan menyiapkan kamar kalian dan makan malam, kalian tunggu lah sebentar di sini."
Wawan yang menoleh ke arah Hidan mulai berbicara.
"Tapi kita harus cepat, kalau tidak..."
Langkah kaki Hidan berhenti seketika.
"Tenang saja, Susanti itu kuat seperti mu, aku yakin dia saat ini sedang mencari jalan keluar."
Hey, bagaimana kau bisa tau, Paman. Itulah yang ingin ku katakan, tapi paman itu sudah pergi.
...**********...
Kami pun beristirahat di sebuah kamar. Shiva berbeda kamar dengan kami, karena dia seorang perempuan.
"Kamar ini begitu luas, bahkan ada 5 kasur di kamar ini. Apakah ini rumah sakit ?"
Yang dikatakan Adit benar, bahwa kamar ini luas sekali.
Aku memeriksa beberapa sudut ruangan, dan mendapati sebuah foto.
"Ini foto apa ?"
"Foto ?"
Aku menunjukkan foto ke mereka.
"Ini bukan nya Paman Wawan ya."
"Hooh... Tapi siapa yang berada di samping nya ?"
"Ah... Mungkin saja itu Susanti."
"Kalau begitu ini foto Paman Wawan dengan anak nya."
Angga terlihat memasang wajah mesum nya.
"Hehehehe, ternyata cantik juga."
"Iya, betul juga. Tapi dari di lihat, sepertinya Susanti seumur dengan kita."
Ketika aku mendengar perkataan itu, aku langsung memasang wajah datar dan melihat wajah Kahfi.
"Jiiii...."
"Aku ini masih berumur 25 tahun, bukan seorang Paman. Berhenti lah menatap ku seperti itu, Bagas !!!"
Hari yang tenang pun berlalu, tiba lah keesokan harinya.
__ADS_1
Bersambung...
Jika kalian menunggu update terbaru jangan lupa click tombol Favorit pada halaman depan novel ini. Jika kalian suka jangan lupa di Vote atau di Like novel ini. Dan jika kalian merekomendasikan ke teman kalian, silahkan di Share novel ini.