The Last Knight : New Generation ( Vol 1)

The Last Knight : New Generation ( Vol 1)
Bab 6 : Kembali Sadar part 1


__ADS_3

Dahulu kala, ada seseorang yang membunuh iblis dengan pedang katana bersarung merah. 2 iblis berhasil dibunuhnya, bersama dengan hewan peliharaannya. Namun orang itu memiliki sebuah penyakit aneh yang dideritanya. Penyakitnya membuat dia harus menderita, untuk bisa hidup lama mungkin bisa dibilang mustahil. Dia mengetahui, bahwa sebentar lagi umurnya tidak bertahan lama. Dengan tekad yang kuat, orang itu menantang 5 iblis sekaligus, bersama dengan hewan peliharaannya. Kelima iblis itu terpojok oleh orang itu. Saat ingin memusnahkan kelima iblis tersebut, penyakitnya malah tambah parah, orang itu mengetahuinya. Disaat ingin mundur karena penyakitnya bertambah parah, tiba-tiba muncul iblis keenam. Iblis keenam berhasil melukai mata kanannya dengan pedang sabit yang dipakainya. Orang itu berhasil kabur, berkat hewan peliharaannya.


Penyakitnya bertambah parah, orang itu memutuskan untuk hidup dengan tenang disisa umumnya. Hewan peliharaannya yang dia miliki, dilepas begitu saja. Orang itu hanya mengucapkan beberapa kata terakhir kepada hewan peliharaannya, yang selama ini menemaninya. Kata-kata terakhir itu, "Carilah majikan baru, Ryu. Maafkan aku, karena tidak bisa bersama dengan mu lagi. Mungkin majikan baru mu, akan lebih berharga ketimbang aku." Naga itu hanya bisa menangis, saat tuan yang dicintainya pergi menjauh dari dirinya.


Orang itu pergi ke pelosok hutan terdalam. Dia membuat suatu sihir pada raganya dan katana yang dia pegang. Semua sihirnya ditanam pada sebuah tanah yang akan menjadi kuburannya. Sebelum menutup matanya, orang itu memandangi langit yang cerah disela-sela pohon.


"Maafkan aku wahai generasi yang akan datang. Mungkin perjalanan kalian akan begitu susah ketimbang aku. Kalian mungkin tidak hanya akan melawan Iblis dan Monster saja, Kalian akan terlibat juga dengan Manusia. Semoga apa yang kalian impikan bisa terwujud, walaupun rintangan yang kalian hadapi akan begitu berat. Aku menitipkan Katana, mata, dan tekad ku untuk kalian. Aku yakin suatu saat nanti, dunia ini akan damai untuk kalian tempati, tanpa ada peperangan. Aku yakin!" Akagami perlahan-lahan menutup matanya, dan seketika jatuh ke tanah.


***


"Mengapa aku mimpi orang itu? Aku harus menghapus mimpi itu!"


Sudah 3 hari sejak kejadian itu. Saat ini aku terbangun dari pingsan yang ku alami. Iya, aku pingsan disaat menghabisi minotaur itu.


Ketika aku terbangun, aku melihat Tiara sedang tertidur di dekat ku. Dia tidur dengan posisi duduk, tangannya digunakan sebagai bantal.


Aku melihat sekitar dengan posisi duduk di atas kasur, nampaknya mereka semua yang berada di ruangan ini tertidur pulas, bahkan tidak ada yang menyambut ku saat terbangun. Mungkin karena aku terbangun disaat malam hari, dan mereka semua sedang istirahat.


Apa mungkin aku harus tidur kembali? Tapi jika aku tidur kembali, maka akan muncul kembali Akagami di mimpi ku. Aku tidak mau itu!


Entah kenapa tubuh ku sangat lemah untuk berdiri dari kasur. Mungkin karena perut ku lapar.


Aku mengeluarkan sebuah makanan ringan di sihir penyimpanan ku. Aku memiliki banyak makanan ringan yang aku taruh di sihir penyimpanan ku. Anggap saja itu antisipasi ku, mungkin suatu saat nanti aku tersesat dan bingung menemukan jalan pulang dan akhirnya aku kelaparan.


"Ini enak, *makan* amnyam nyam nyam."


Mungkin ini bisa mengganjal perut ku yang kelaparan. Sudah beberapa hari aku pingsan tanpa makan apapun. Sejujurnya aku tidak tau ini hari apa, dan berapa lama aku pingsan. Aku hanya bisa memprediksi bahwa aku pingsan sudah 3 hari, dilihat dari tubuh ku yang sedikit kurus.


Ketika aku asik menyantap beberapa makanan ringan, tiba-tiba Tiara terbangun. Mungkin karena suara berisik dari mulut ku yang sedang menyantap makanan.


Sebenarnya, aku tidak dapat melihat begitu baik saat terbangun, bahkan aku tidak tau siapa saja yang berada di ruangan ini.


Tiara tiba-tiba memeluk ku. "Syukurlah, kau sudah bangun." Entah kenapa aku merasa kehangatan dari pelukan Tiara. "Syukurlah."


Aku tidak dapat berkata apa-apa disaat Tiara memeluk ku. Pelukan ini terasa hangat, walaupun beberapa makanan ringan ku hancur karena tubuh Tiara.


"Syukurlah, syukurlah." Tiara terus memeluk ku, mungkin ini akan berlangsung lama, karena dia memeluk ku sambil menangis, bahkan bahu ku saat ini sudah basah akibat air matanya.


Rambut nya begitu harum, tubuhnya begitu indah saat memakai piyama. Aku tidak tau mengapa dia memeluk ku begitu erat, padahal bukan hanya aku saja yang terluka, jika ingin memeluk, peluk saja Kahfi yang terluka cukup parah, jangan aku.


Tiara melepaskan pelukannya, lalu melihat wajah ku. "Syukurlah, kau sudah bangun, Bagas." Lalu memeluk ku kembali.


Aku tidak dapat berbicara dengannya, karena mungkin mulut ku saat ini sedang bau kurang mengenakkan, pasalnya, aku masih dapat melihat air liur ku menempel pada pipi ku. Lebih baik aku diam saja, ketimbang aku berbicara di hadapannya, lalu dia mencium bau mulut ku.


"Ciee...." Angga tiba-tiba muncul dari balik pintu.


Seharusnya kau tidak mengucapkan itu, disaat aku baru saja terbangun.


Tiara mengabaikan kedatangan Angga, dan terus memeluk ku dengan erat.


Sebenarnya aku tidak keberatan dia memeluk ku terus-terusan, tapi hanya saja, ini sudah beberapa menit kau memeluk ku.

__ADS_1


"Woy... bangunlah!" teriak Angga.


Sebenarnya tidak perlu berteriak untuk membangunkan yang lain. Masalahnya, teriakan Angga begitu kencang sekali, aku takut beberapa orang terganggu akibat teriakannya itu.


Aku sampai saat ini masih tidak dapat berbicara, mulut ku sangat bau sekali, aku takut mereka menciumnya. Bahkan dewa bicara menyuruh ku untuk berbicara, aku akan menolaknya.


Satu persatu dari mereka terbangun. Aku tidak dapat melihat dengan baik siapa saja yang berada di ruangan ini.


"Kau berisik sekali, Angga!" ucap Kahfi


"Apakah aku berada di rumah?" Rian pun ikut terbangun akibat suara dari Angga. Tapi kenapa harus kata-kata itu yang di ucapkannya? Dia memang aneh.


Mata kiri ku tiba-tiba mengeluarkan darah. Aku dengan sigap mencoba menyembunyikannya dengan tangan kiri ku.


Kenapa bisa begini? Mata ku kenapa?


Aku bertanya-tanya kepada diri ku sendiri. Disaat mereka sudah bangun, dan Tiara yang masih saja memeluk ku. Kenapa harus begini, mata ku.


Namun darah itu hilang seketika. Aku tidak tau apa yang terjadi terhadap mata kiri ku, tapi yang jelas, aku sempat panik saat mengetahui mata kiri ku berdarah. Ini aneh, apa tadi itu hanya imajinasi ku saja?


Mereka kaget saat melihat ku sedang di peluk Tiara.


"Kau sudah bangun, Bagas?" tanya Kahfi.


Memangnya aku ini apa? Padahal kau sendiri sudah melihat ku dengan jelas.


"Bagas? Dimana, dimana?" Rian menoleh ke kanan dan kiri.


"Syukurlah, kau telah sadar kembali." Shiva perlahan mendekati ku dan memegang dahi ku. "Demam mu, sepertinya sudah turun."


Entah kenapa aku merasa bahagia, bisa melindungi senyuman mereka.


Aku mengelus kepala Tiara yang masih saja memeluk ku. Namun aku masih tidak dapat berbicara, karena mulut ku terasa begitu bau.


Aku hanya dapat memberikan mereka sebuah senyuman saja dan jempol, tanpa satu kata pun.


Tiba-tiba suasana begitu ramai, satu persatu berdatangan dari balik pintu. Bahkan paman Wawan pun datang bersama dengan anaknya.


Susanti mendekati ku, lalu memegang tangan ku. "Terimakasih, telah menyelamatkan ku, Kakak." Gadis kecil ini menangis.


"Terimakasih banyak, telah menyelamatkan putri ku," ucap Wawan menundukkan kepalanya.


Kalau di lihat-lihat, aku sepertinya akan menjadi pahlawan bagi mereka, hehehehe. Tidak, aku tidak boleh memikirkan itu.


"Hey, sampai kapan kau memeluknya, Tiara?" ucap Dwi melihat Tiara.


"Biarkan saja dia! Ngomong-ngomong, kemana Jessica dan Andre?" ucap Amelia.


Aku menyadari sesuatu. Aku ingat sebelum aku jatuh pingsan, aku melihat Andre menghampiri ku. Aku pikir itu hanyalah mimpi saja, namun sepertinya Andre juga datang kemari.


"Mereka berdua sedang berbicara di luar," jawab Angga.

__ADS_1


"Biar aku yang memanggilnya." Rian dengan pedenya berlari, namun dia malah berlari menuju jendela.


"Kau disini saja! Aku yang akan memanggil mereka," ucap Kahfi.


Beberapa menit kemudian...


Kahfi datang bersama dengan Andre dan Jessica.


Terlihat wajah Andre menyembunyikan rasa kesalnya.


Jessica mendekati ku dengan wajah sedihnya, dan tiba-tiba menangis. "Maaf... karena aku, kau seperti ini. Maaf."


Aku tidak tau mengapa dia datang kemari, dan untuk apa maaf itu. Kalau di ingat-ingat, Jessica tidak memiliki kesalahan apapun kepada ku. Aku kebingungan saat ini.


Aku ingin berbicara dengan mereka, tapi pertama-tama aku harus ke kamar mandi. Namun sayang, aku tidak dapat melepaskan pelukan Tiara. Dia benar-benar memeluk ku sangat erat.


"Hey Bagas, apakah kau menjadi bisu?" Angga merasa curiga kepada ku, karena tidak dapat berbicara.


Bukan itu, Angga. Aku tidak terlalu pede dalam berbicara ketika mulut ku bau. Aku selalu menggosok gigi ku 2 kali sehari, namun ini beda cerita, karena aku tidak dapat melepaskan pelukan Tiara, dan bergegas menuju kamar mandi, bahkan makanan ringan ku saja sudah hancur terkena tubuh Tiara.


Aku bingung, kenapa satu pun orang, tidak ada yang mau melepaskan Tiara dari tubuh ku ini.


Apa boleh buat, aku harus memegang tubuhnya.


Dengan penuh keyakinan, aku memegangi bahu Tiara dan mencoba melepaskan pelukannya.


Ini berhasil. Namun aku menyadari, bahwa kelopak mata Tiara sedikit menghitam dan membengkak. Ini sangat parah sekali, aku melihat wajahnya yang begitu sedih.


Aku ingin berbicara dengannya, namun aku ragu... ragu sekali.


Aku bisa merasakan pinggang ku sepertinya di perban, mungkin karena luka yang aku terima. Tapi ini kesempatan, Tiara sudah melepaskan pelukannya dari diri ku.


Aku dengan penuh keyakinan, mencoba berdiri dari tempat tidur ku, walaupun badan ku sedikit lemah, tapi sepertinya aku dapat melakukan satu hal yang begitu penting.


"Luka mu belum membaik, lebih baik kau tidur saja lagi!" ucap Kahfi.


"Iya, lebih baik kau tidur saja lagi!" ucap Sri


Angga melihat ku dengan tatapan curiga. "Kau ingin kemana?"


Gila... dia mengetahuinya. Tapi tidak apa-apa, karena aku masih memiliki stamina untuk melakukan hal penting.


Hehehehehe...


Teknik spesial : Berlari seperti kuda.


Aku melewati mereka satu persatu, tanpa memperdulikan sekitar.


"Sayonara!" ucap ku meninggalkan ruangan dan terus berlari menuju kamar mandi.


Bersambung...

__ADS_1


Jika kalian menunggu update terbaru jangan lupa click tombol Favorit pada halaman depan novel ini. Jika kalian suka jangan lupa di Vote atau di Like novel ini. Dan jika kalian merekomendasikan ke teman kalian, silahkan di Share novel ini.


__ADS_2