
"Hey, apa yang kau lakukan terhadap mereka ?"
"Tenang saja, mereka hanya lah bidang dari dunia ku."
"Aku tidak paham dengan maksud mu, tapi bisakah kau menutup perut besar mu itu ? Aku merasa jijik."
"Ah... Maaf."
Orang itu menutup kembali perut nya yang besar dengan kaos di dalam nya.
Orang itu mulai menghampiri kami.
"Kalian tau, mengapa kalian bisa kemari ?"
Seketika Kahfi, Angga, Adit, dan Shiva melihat ku.
"Ehh... Maaf, itu salah ku."
Orang itu melanjutkan bicaranya.
"Kalian sungguh Manusia yang beruntung bisa masuk ke dunia ku, hahahaha."
"Tuh kan, denger tuh kata dia. Kita adalah Manusia yang beruntung."
"Beruntung pala kau !!!"
Tung (Suara pukulan)
Kahfi memukul bagian atas kepala ku.
"Kita sungguh tidak beruntung, Rian pun menghilang."
"Betul kata mu, Kahfi."
Orang itu melanjutkan bicaranya.
"Kalian mencari teman kalian ? Yang naik pesawat itu ?"
"Pesawat ?"
"Oh... Maksud ku burung putih besar itu."
"Iyaa, kau tau kemana dia pergi ?"
"Tenang saja, dia ada di sini ko."
Kabar gembira untuk kami. Bahwa Rian ada di sini dan tidak menghilang.
Kahfi mulai menanyakan kepada orang itu.
__ADS_1
"Dimana sekarang Rian ?"
Orang itu seketika memegang dada Kahfi.
"Ada di dalam hati kalian."
Kami mendengar nya bingung harus berbuat apa kecuali aku yang tertawa.
"Pff... Hahaha, orang ini benar benar lucu."
"Hey, mengapa kau tertawa Bagas !!!"
Aku mengusap air mata ku akibat dari tawa ku.
"Abis nya, dia berkata Rian ada di dalam hati kita, hahahahaha. Mana mungkin muat lah, sedangkan tubuh Rian saja besar, hahahaha."
Kahfi, Adit, dan Angga memasang wajah datar melihat ku.
"Ini bocah bodoh nya kebangetan."
"Kau bodoh sekali yaa, Bagas."
"Hooh, bodoh."
Aku tidak bisa berhenti tertawa akibat ucapan orang itu.
"Terimakasih pujian nya."
"Sama sama Paman, hahahaha."
Orang itu melanjutkan bicaranya.
"Kalian tau untuk apa aku memanggil kalian ?"
"Kami tidak tau."
"Iyaa, aku juga tidak tau."
"Sebenarnya aku kesepian di sini, jadi kalian temani aku yaa di sini. Aku mohon... Yaa... Yaa..."
Muka nya memelas kasih. Mata nya berserih serih melihat kami.
Shiva bertanya kepada orang itu.
"Bukan nya di sini ramai yaa ?"
Orang itu berfikir sejenak, lalu melanjutkan bicaranya.
"Oh, iya ya. Tapi mereka tidak nyata. Kalian lah yang nyata."
__ADS_1
Aku menanggapi nya.
"Tidak, sebenarnya kami juga tidak nyata. Kami hanya lah imajinasi Author saja."
Tiba tiba terdengar suara, entah darimana.
"Huahahahaha... Aku lah yang nyata."
"Hey, kau diam saja Author !!!"
"Maaf..."
Kahfi memarahi Author, membuat Author terdiam seketika.
Adit bertanya kepada orang itu.
"Bagaimana kami bisa keluar dari sini ?"
Orang itu hanya terdiam, lalu tiba tiba berbicara.
"Tergantung mood ku itu, hehehehe."
Aku memasukkan jari ku ke mulut nya.
"Hey Bagas, apa yang kau lakukan ?"
Aku mencabut nya kembali.
"Jadi kami bisa keluar sekarang ?"
Seketika hening sejenak.
Angga mencoba menanyai ku.
"Apa maksud mu, Bagas ?"
"Itu, dia sudah **** tangan ku."
Orang itu, Angga, Kahfi, Adit, bahkan Shiva melihat ku dengan wajah datar.
"Apakah kau bodoh ?"
"Ehh... Kalian mengapa melihat ku seperti ini ?"
Aku tidak tau sebenarnya apa yang terjadi, mengapa mereka memasang wajah datar kepada ku.
"Kau benar benar bodoh !!!"
Angga, Adit, dan Kahfi berteriak berbarengan.
__ADS_1