The Last Knight : New Generation ( Vol 1)

The Last Knight : New Generation ( Vol 1)
Bab 6 : Kembali Sadar part 2


__ADS_3

"Kan, begini enak." Aku melihat diriku pada cermin sambil menunjuk gigiku yang putih.


Saat aku mencoba keluar dari kamar mandi, tiba-tiba Andre sudah menungguku di depan pintu.


"Yo, Andre. Lama tidak bertemu."


"Apa kau baik-baik saja?" Andre menyandarkan tubuhnya pada dinding. "Aku mencemaskan dirimu."


"Aku baik-baik saja, tenang saja! Terima kasih telah mencemaskan diriku ini," jawabku.


Sebuah sihir penyimpanan di ciptakan Andre. Andre mengambil sesuatu di dalam sihir penyimpanan itu.


"Ini Katana milikmu!" Andre melemparkan dua buah katana milikku kepadaku. "Aku baru pertama kali lihat Katana yang itu."


Ah... Andre tidak pernah tahu bahwa aku memiliki katana bersarung merah. Maafkan aku yang tidak pernah menceritakannya.


"Ini aku dapatkan saat aku tersesat di hutan. Seseorang ada yang memberikanku. Maaf aku tidak pernah menceritakannya," ucapku.


"Oh, begitu. Asal kau baik-baik saja, itu tidak menjadi masalah untukku." Andre melepaskan sandarannya. "Kau laparkan?"


"Hoo..."


"Ayo kita pergi makan!" ucap Andre.


Kami berdua pergi menuju tempat di mana makanan berada.


...***...


Sementara itu di Kota Selatan.


Terlihat seorang wanita remaja berumur 16 tahun sedang di pukuli oleh wanita dewasa.


"Kau ingin menjadi Knight? Jangan mimpi!"


Plak (Suara tamparan)


Sebuah tamparan mendarat pada pipi wanita remaja tersebut hingga membuatnya jatuh ke lantai.


"Kau ini hanya Manusia biasa saja, jangan terlalu sombong dengan kami para Elf! Apalagi mau menjadi Knight, jangan mimpi!" Wanita dewasa itu menginjak-nginjak tubuh wanita remaja yang berada di lantai. Lalu pergi begitu saja.


Wanita remaja itu hanya bisa menahan sakit terbaring di lantai.


"Ayah, aku berjanji akan menjadi Knight yang hebat suatu saat nanti dan menjaga Susanti dengan kekuatanku. Aku akan belajar setiap harinya, agar menjadi kuat!" Wanita remaja itu melihat ke atas. "Seperti wanita itu."


...***...


Tok


Tok


Tok (Suara meja)


"Makan! Makan! Makan!" Aku mengetokan meja dengan sendok menggunakan tanganku.


Sepertinya cuman aku saja yang tengah terduduk sambil menunggu makanan yang Andre buat. Entah cuman perasaanku saja, mereka sepertinya sudah pada makan sebelumnya.


"Ini, makanlah!" Andre menaruh piring berisi ayam goreng beserta nasi yang dia buat di meja makan.


"Kau tidak makan? *Makan* Amnyam nyam nyam," ucapku kepada Tiara yang duduk di sampingku.


Tiara tidak menjawab ucapanku. Dia melamun melihat diriku yang sedang makan.

__ADS_1


Aku melihat sekitar. Semua yang berada di meja makan sedang melihatku.


"Mengapa kalian melihatku?" tanyaku.


Tidak ada satupun yang menjawab.


Apakah mungkin? Mereka balas dendam kepadaku, karena aku tidak berbicara ketika di kamar itu? Tidak... aku harus fokus pada makanan saat ini. Tidak perlu memikirkan yang aneh-aneh.


"Ah... kenyang sekali." Aku membersihkan mulutku dengan kain bersih. Lalu menuangkan minuman pada gelas di depanku.


Sebenarnya aku sedikit gugup, karena mereka terus saja melihatku. Ini membuatku merinding.


"*Minum* Bleebek bleebek bleebek." Aku minum sambil melihat sekitar, karena aku terlalu was-was.


Tiara menggeser posisi bangkunya hingga tepat tubuhnya mengenai lenganku.


Aku melihatnya dengan curiga. Namun di satu sisi, aku melihat wajahnya yang sedikit memerah.


"Selamat ulang tahun, Bagas," bisik Tiara di telingaku.


Aku kaget mendengar ucapan Tiara. Pasalnya, ulang tahunku sudah lewat beberapa hari yang lalu. Mengapa dia mengucapkannya sekarang? Padahal ini bukan ulang tahunku.


Aku melihat sekeliling, wajah mereka berubah menjadi tersenyum kepadaku.


"Selamat ulang tahun, Bagas. Dan terima kasih telah menolongku dari Minotaur itu," ucap Kahfi.


"Mengapa kita harus merayakan ulang tahun dia?" ucap Angga.


"Kau diamlah!" Andre memancarkan aura begitu kuat, hingga membuat Angga ketakutan.


Shiva mendekatiku. "Aku melihatmu loh waktu itu."


Ah, waktu itu ya. Saat di mana, aku merenung menatap langit.


"Hehehehe..." tawaku.


Rian mendekati Adit yang sedang berdiri. "Selamat ulang tahun, Bagas."


"Kau salah orang!" ucap Adit.


"Maaf."


Andre tiba-tiba menjauh dan lekas pergi dari ruangan ini.


"Kakak, selamat ulang tahun," ucap Susanti.


Gadis kecil ini imut sekali, bahkan menurutku dia begitu kuat. Seharusnya dia trauma soal Minotaur itu, namun dia sama sekali tidak kelihatan trauma.


Adit menuju ke tempatku sambil memegangi tangan Rian. "Selamat ulang tahun."


"Selamat ulang tahun, Bagas. Semoga kedepannya kau bisa terus melindungi kami," ucap Rian.


Apa-apaan ucapannya itu. Ya, tapi semoga saja. Aku akan menjadi kuat lagi, dan bisa melindungi kalian semua.


"Hoo... Aku akan melindungi kalian!" ucapku.


"Selamat ulang tahun, ya," ucap Amelia.


"Selamat ulang tahun," ucap Dwi.


"Kau harus bisa menjaga Tiara, ya! Awas saja, kau tidak mampu menjaganya!!!" Sri mendekatiku. "Tapi untuk sementara. Selamat ulang tahun."

__ADS_1


"Aku akan menjaganya! Ya, kalau tidak lapar," jawabku.


"Apa-apaan itu!!!" ucap Sri.


Jessica dengan wajah sedih mendekatiku. "Maaf... dan selamat ulang tahun untukmu."


Aku tidak tau mengapa dia memasang wajah sedih ketika melihatku. Sebenarnya dia sedang punya masalah apa? Apa yang terjadi dengannya ketika aku pingsan.


"Terima kasih. Tapi..." Aku melihat Jessica dengan tatapan tajam. "Bisakah kau tidak bersedih lagi?!"


"Maaf... dan terima kasih," jawab Jessica.


Paman Wawan bersama dengan paman Hidan mendekatiku.


"Terima kasih banyak, telah membantu menyelamatkan anakku." paman Wawan menundukkan kepalanya. "Terima kasih banyak."


"Tidak masalah!" jawabku.


"Terima kasih, Nak. Dan selamat ulang tahun," ucap paman Hidan.


"Terima kasih," jawabku.


Tiba-tiba Andre kembali bersama dengan sebuah kue.


"Selamat ulang tahun." Andre menaruh kue di depanku. "Ini kue untukmu! Aku yang buat." Andre memotong kue tersebut dengan pisau yang di pegangnya.


Aku sangat bahagia sekali memiliki teman seperti kalian. Ah... ini sungguh luar biasa, bahkan aku sangat bersyukur bisa hidup sampai saat ini. Terima kasih ayah dan ibu telah menciptakanku. Terima kasih paman Yasir telah merawatku hingga kini. Terima kasih teman-teman telah menjadi temanku. Aku sangat bahagia sekali.


Kami pun menikmati kue bersama-sama. Semua orang kebagian kue yang Andre buat. Kue ini sangat enak, walaupun agak manis.


Beberapa menit kemudian.


Aku melihat Kahfi sedang menatap wajah paman Wawan dengan serius.


"Hmm..." Kahfi terus memandanginya.


Angga yang menyadarinya, lalu mencoba bertanya kepada Kahfi. "Ada apa?"


"Tidak... hanya saja aku penasaran," jawab Kahfi.


"Soal apa?" tanya Angga.


"Nee... paman," ucap Kahfi.


"Iya?" tanya paman Wawan.


"Di kamar itu, aku melihat sebuah foto. Foto itu memperlihatkan paman dengan seorang gadis. Awalnya kupikir gadis itu ialah Susanti. Tapi ternyata itu salah," ucap Kahfi. "Siapa gadis itu?" tanya Kahfi


Aku juga melihat foto itu saat kami pertama kali tiba di sini. Awalnya ku pikir Susanti sama seperti Kahfi. Ternyata bukan.


"Oh itu... dia anak pertamaku. Namanya, Zindah," jawab paman Wawan.


"Jadi begitu," ucap Kahfi.


"Sekarang dia di mana?" tanya Angga.


"Dia sekarang berada di Kota Selatan. Sudah 1 tahun aku tidak bertemu dengannya. Dia ingin menjadi Knight yang hebat di sana. Aku ingin sekali melihat dia, tapi itu akan menggangu perkembangannya saja. Jadi aku akan menunggunya di sini saja," jawab paman Wawan.


"Apa kau tidak bertemu dengannya saat kau meminta tolong pada Asosiasi Guild di sana?" tanya Adit.


"Aku tidak menemukannya. Mungkin saja, dia sedang menjalankan sebuah Quest." Paman Wawan melihat ke atas. "Anak itu sungguh baik. Semoga mimpinya menjadi kenyataan."

__ADS_1


Aku mendobrak meja dengan keras menggunakan kedua tanganku. "Ayo kita ke sana!"


__ADS_2