The Last Knight : New Generation ( Vol 1)

The Last Knight : New Generation ( Vol 1)
Bab 3 : Desa Semanggi part 6


__ADS_3

Sabtu 18 Juli, Pukul 10.27


Istana Apollon.


Tok


Tok


Tok (Suara tangga)


Aku menuruni tangga, dan bergegas pergi keluar Istana ini.


"Kau lama sekali" ucap Paman Yasir, sesampainya aku di pagar Istana


"Perut ku sakit sejak kemarin" jawab ku, memegangi perut


Tiba tiba Sony mendekati kami.


"Baginda, kereta kuda nya sudah siap" ucap Sony, kepada paman Yasir


"Ayuk kita jalan sekarang. Ini sudah siang juga, kita akan sampai di sana sekitar 3 jam" jawab Paman Yasir


"(Sepertinya akan turun hujan)" aku menatap langit yang mendung


Aku, Paman Yasir, dan Sony akan berangkat ke Desa Semanggi, untuk mengunjungi makam kedua orang tua ku. Kami sudah menyiapkan beberapa barang untuk di bawa pada perjalanan sejak tadi malam.


Sony mengendarai kereta kuda sangat baik. Aku dan Paman Yasir berada di dalam kereta.


Sesampainya di pintu keluar Kota Pusat. Sony di berhentikan oleh penjaga yang merupakan seorang Knight.


"Kalian mau kemana ?" tanya penjaga pertama, kepada Sony


"Kami akan pergi ke Desa Semanggi" jawab Sony


"Hey kau tau, di luar sana sedang bahaya" ucap penjaga kedua


Penjaga pertama memeriksa kami yang berada di dalam.


"Wuaahhh..." penjaga pertama kaget ketika membuka pintu kereta kuda. Ternyata yang berada di dalam adalah seorang kepala keluarga Bangsawan


"Ada apa ?" tanya penjaga kedua, menghampiri penjaga pertama


"Wuuahhh.... Mengapa seorang kepala keluarga Bangsawan ada disini" ucap penjaga kedua, ikutan kaget


Paman Yasir meraba raba jas yang di pakai nya, dan mengeluarkan sebuah kartu.


Kartu itu di berikan kepada penjaga.


"Ahh.. Kertas ini" ucap penjaga kedua, menerima dan membaca isi kartu itu


"Ada apa ?" tanya penjaga pertama


Isi kartu itu, tertulis.


...----------...


Kartu bebas keluar masuk Kota. *Kartu ini harus di simpan, digunakan dengan baik, atau bisa di jual bilah perlu.


^^^Tertanda^^^


^^^Asosiasi Guild*^^^


...----------...


"Silahkan, kalau begitu" ucap penjaga kedua, memberikan kembali kartu itu kepada Paman Yasir


"Tapi... Berhati hati lah, di luar sedang dalam bahaya" ucap penjaga kedua


"Tenang saja. Kedua orang ini akan menjaga ku" jawab Paman Yasir


Kami pun melanjutkan perjalanan.


Ketika kami keluar dari luar kota ini, pandangan ku langsung tertuju pada bangunan labirin itu.


"Heyy Paman, aku ingin memanjat bangunan itu" ucap ku


"Ohh... Kau sedang melihat bangunan tinggi itu yaa" ucap Paman Yasir, ikut melihat apa yang ku lihat


"Bangunan itu sudah ada sejak 100 tahun yang lalu. Almarhum Ayah ku sempat menceritakan nya" ucap Paman Yasir


"Apa Paman pernah memanjat nya ?" tanya ku


"Mana bisa di panjat, bodoh !!!"


"Mungkin kau melihat luas bangunan itu begitu kecil, bahkan lebih luas dari istana ku. Kau salah, ketika kau masuk ke dalam nya, bangunan itu begitu luas sekali, bahkan luas nya melebihi kota ini" ucap paman Yasir


"Sungguh ?" tanya ku


"Hooh... Dahulu ketika aku berumur 20 Tahun. Aku dan beberapa anggota Bangsawan lain nya, memasuki bangunan itu. Kami memasuki lantai 1 dan menemukan beberapa Monster begitu lemah, tapi ketika kami terus melangkah ke lantai selanjutnya, kami kewalahan menghadapi Monster Monster yang ada. Mereka begitu kuat, bahkan ada Monster kelas A+ di sana"


"Terus, bagaimana Paman bisa melangkah ke lantai selanjutnya ? Apa Paman memanjat bangunan itu ?" tanya ku


"Sudah ku bilang, bangunan itu tidak bisa di panjat !"


"Di sana tersedia portal bewarna hijau untuk bisa melanjutkan ke lantai berikutnya. Di sana juga tersedia portal bewarna merah untuk keluar dari bangunan itu" jawab Paman Yasir


"Bagaimana Paman bisa mengetahui itu lantai berapa ?" tanya ku


"Saat itu Paman melihat nomor pada dinding, ketika menggunakan portal bewarna hijau"


"Berarti kita harus menemukan portal di tiap lantai untuk bisa pergi ke lantai berikutnya" ucap ku


"Tumben kau pintar" ucap Paman Yasir


"Oh iya dong. Mengapa saat itu Paman kewalahan ?" tanya ku


"Saat itu kami berada di lantai 15, kami di hadang oleh Monster kelas A+. Kami mencoba beberapa cara untuk melawan nya, tapi itu mustahil karena Monster itu memiliki regenerasi tubuh yang cepat. Kami di paksa mundur, dan akhirnya kami menemukan sebuah portal bewarna merah"


"Saat kami memasuki portal itu, kami tiba tiba sudah berada di luar bangunan tersebut" jawab Paman Yasir


"Monster seperti apa, yang membuat Paman mundur ?" tanya ku


"Monster itu berbentuk burung Elang, tapi memiliki badan seperti Singa. Banyak orang yang menamai nya burung Anzu" jawab Paman Yasir


"Apakah bisa di makan, daging nya ?" tanya ku


"Mana bisa lah, Bodoh !!!"


...**********...


Pukul 13.13


Kami pun akhirnya sampai pada sebuah makam, tempat dimana kedua orang tua ku di makamkan. Tempat ini berjarak 2 km dari Desa Semanggi.


"Kita telah sampai, Baginda" ucap Sony, membukakan pintu kereta kuda


"Bangun lah, Bagas !" ucap Paman Yasir, mencoba membangunkan ku


Aku terbangun dalam tidur ku.

__ADS_1


"Kita telah sampai ? Huaaahhhh" tanya ku, menguap


"Iyaa" jawab Paman Yasir, keluar dari kereta kuda


Aku pun ikut keluar dari kereta kuda ini.


Aku beberapa makam yang berada di tanah ini, dan menghampiri satu persatu makam untuk berdoa semoga mereka tenang di alam sana.


Paman Yasir dan Sony terlihat mengunjungi makam kedua orang tua ku. Aku tidak mau untuk mendekati mereka, karena mereka berdua sedang berdoa pada makam itu.


Ketika Paman Yasir dan Sony pergi dari makam kedua orang tua ku, aku pun bergegas untuk menghampiri makam tersebut.


Aku berdiri pada batu nisan yang bertuliskan nama kedua orang tua ku. Kuburan kedua orang tua ku berdampingan.


"Hey... Ayah... Ibu... Aku sudah dewasa sekarang, usia ku sudah 16 Tahun, dan aku menikmati walaupun tanpa kalian berdua" ucap ku, berjongkok memegangi batu nisan tersebut


"Aku menjaga pola makan ku dengan benar koo, yaa walaupun kadang suka berlebihan, hehehe.... Aku juga sudah mendapatkan teman yang begitu baik, bahkan ada seorang paman yang menjadi teman ku"


Di kota Pusat, sebuah kedai.


"Aaacciiimmm"


"Sepertinya ada yang membicarakan ku" ucap Kahfi, membersihkan meja


Kembali ke Makam.


"Bahkan aku berteman dengan 2 orang Bangsawan. Aku sangat senang sekali, Ayah Ibu" ucap ku, meneteskan air mata


Pohon pohon terhembus angin, cuaca sedikit mendung.


"Maaf yaa... Saat itu aku tidak bisa melindungi kalian... Maaf" ucap ku, menangis dan memeluk batu isan


"Ayah Ibu... Aku... Aku... Aku bersyukur sekali karena mempunyai kedua orang tua seperti kalian. Terimakasih telah melahirkan ku, merawat ku, dan mengajar kan tentang hidup ini... Tapi aku tidak bisa melindungi kalian... Maaf..."


"Ingat tidak, waktu itu aku sempat meminta kalian berdua untuk membuatkan ku ayam goreng, padahal saat itu kalian sedang kesusahan memiliki uang, tapi kalian terus berusaha memenuhi keinginan ku. Ayah mencoba mencari pinjaman untuk membeli sepotong ayam, dan Ibu memasak nya dengan secara spesial untuk ku. Terimakasih"


"Ayah Ibu, aku akan terus melangkah ke depan mulai dari sekarang dan seterusnya, tidak perduli apa yang akan terjadi di masa depan nanti. Ayah selalu bilang untuk bisa menikmati masa sekarang, mempelajari masa lalu dan tidak memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan nanti. Aku menikmati nya"


"Terimakasih Ayah Ibu, semoga kalian tenang di alam sana" ucap ku, meninggalkan batu nisan tersebut


~St 12 - batu nisan


Di bawah batu nisan kini


Kau telah sandarkan


Kasih sayang kamu begitu dalam


Sungguh 'ku tak sanggup ini terjadi


Karena 'ku sangat cinta.~


Aku bergegas kembali ke kereta kuda, Paman Yasir sudah menunggu di dalam.


"Apakah kau mau berkunjung ke desa mu ?" tanya Paman Yasir, sesampainya ku di dalam


"Boleh" jawab ku


Sony mulai mengendarai kuda nya, dan membawa kami menuju Desa Semanggi.


...**********...


Desa Semanggi, Pukul 13.46


Aku keluar dari dalam kereta kuda.


Betapa kaget nya kami melihat desa ini hancur lembur.


"Apa yang sebenarnya terjadi ? Seharusnya kondisi desa ini tidak seperti ini" ucap Paman Yasir, kaget


"Emang seharusnya gimana, Paman ? bukan nya sudah hancur sejak dahulu" tanya ku


"Tidak... Seharusnya tidak seperti ini" jawab Paman Yasir


"Mungkin saja ada Monster yang mengamuk, hahaha" ucap ku


"Ini baru" ucap Sony, melihat dan memegangi segumpal darah di tanah


Kami berdua menghampiri Sony.


"Ada apa ?" tanya Paman Yasir, kepada Sony


"Darah ini belum membeku, sepertinya baru terjadi pertempuran di sini" jawab Sony


Paman Yasir tiba tiba menutupi mata nya, dan berkata.


"Teknik Sihir : Pendeteksi Aura"


"Ada apa Paman ?" tanya ku


"Ssstt diam sebentar. Aku sedang mencoba mencari aura di daerah ini" jawab Paman Yasir


"Aku merasakan beberapa Aura di sini. Aura itu sudah sangat tipis, sepertinya sudah beberapa hari mereka meninggalkan desa ini" ucap Paman Yasir, terus menutup mata nya


"Aku merasakan ada 8 Aura di sini. 6 di antara nya Manusia"


"(Aura ini...)


"Andre...." ucap Paman Yasir, kaget


"Andre ? Di mana ?" tanya ku


"Aku merasakan bekas Aura Andre di sini" jawab Paman Yasir


"2 di antara nya siapa lagi ?" tanya Sony


"1 Aura ini... Terlihat seperti Monster, tapi bercampur dengan Aura yang lain" jawab Paman Yasir


"1 lagi apa ?" tanya ku


Paman Yasir mencoba memfokuskan sihir nya.


"Aura ini.... Begitu... Gelap" jawab Paman Yasir, tiba tiba mengeluarkan keringat pada wajah nya


"Ini adalah Aura..... Iblis..." ucap Paman Yasir, membuka mata nya dan panik


Paman Yasir dan Sony panik, ketika tau ternyata Aura yang begitu gelap berasal dari Iblis.


"Kita harus bergegas pergi, dan mencari Anak mu" ucap Paman Yasir, berlari


Kami pun bersama sama mencari Andre di desa ini.


Tapi sayang tidak menemukan apa pun di desa ini.


"Bagaimana ?" tanya Sony, kepada ku


"Aku tidak menemukan apa pun" jawab ku


"Sepertinya kita harus mencari di hutan itu" jawab Paman Yasir

__ADS_1


Kami pun bergegas pergi menuju hutan yang berada dekat dengan desa, dan meninggalkan kereta kuda kami yang masih berada di desa.


Kami mencari sepanjang hutan ini. Di sepanjang jalan, kami hanya menemukan sebuah bercak darah yang menempel pada pohon.


"Darah ini terlihat masih segar, sepertinya masih berada tidak jauh dari sini" ucap Sony, melihat darah yang menempel pada pohon


"Kalau begitu kita harus bergegas mencari nya" ucap Paman Yasir


"(Apakah akan hujan)" aku melihat ke atas langit


Langit mulai mendung, kami bertiga tidak menemukan apa pun.


"Paman, coba lah menggunakan sihir tadi" ucap ku


"Baik akan Paman coba"


"Teknik Sihir : Pendeteksi Aura"


Paman Yasir memejamkan mata nya lagi, dan mencari keberadaan Aura terdekat.


"Ketemu !!!" teriak Paman Yasir


"Jarak nya sekitar 300 meter dari sini" ucap Paman Yasir, menunjukkan jari nya


Kami pun lanjut berlari dan mendekati Aura yang Paman Yasir katakan.


Sesampainya kami di sana. Kami melihat 3 orang terkapar di tanah dan terluka, 1 orang lagi terluka tapi masih bisa memberikan sihir penyembuhan kepada teman nya.


"Oyyy... Kalian baik baik saja ?" tanya ku, menghampiri mereka


"Ah... Ah... Ah..." Amelia terus memberikan sihir penyembuhan pada teman teman nya


"Oyy... Kau tidak baik baik saja, ternyata" ucap mu, melihat Amelia kelelahan di penuhi dengan luka


"Sony, bisa kah kau menyembuhkan mereka secepat mungkin" ucap Paman Yasir, kepada Sony


"Baik Baginda" jawab Sony, mengeluarkan sebuah buku


"Wahai dunia, berikan lah kedamaian bagi mereka yang baik. Teknik Sihir : Recovery" Sony mengeluarkan Sihir bewarna hijau pada buku nya. Sihir itu menyelimuti tubuh mereka berempat.


"Hey Paman Sony, bukan nya kau pengguna Pedang yaa ?" tanya ku


"Hey Bagas, diam lah sebentar, dia sedang berkosentrasi" ucap Paman Yasir


"Baik" jawab ku


Sony terus memberikan Sihir kepada mereka berempat.


"Ahh...." ucap Sensei Guntur, menerima Sihir dari Sony


"Kyaa..." ucap Amelia, menerima Sihir dari Sony


"Enak sekali..." ucap Dwi, menerima Sihir dari Sony


"Ini begitu nikmat" ucap Sri, menerima Sihir dari Sony


"Apa apaan mereka itu" ucap ku, melihat mereka berempat


"Tenang saja, ini merupakan Teknik Sihir penyembuhan dari Sony" ucap Paman Yasir


"Tapi wajah mereka... Kenapa seperti itu" ucap ku


Akhirnya kesadaran mereka kembali. Luka luka sudah membaik walaupun ada beberapa luka yang masih ada di tubuh mereka.


"Ah... Ah... Ah... Tadi itu enak sekali" ucap Sensei Guntur, mencoba berdiri


"Iyaa... Rasa nya..." ucap Sri, mencoba berdiri


"Ini bukan waktu nya memikirkan itu" ucap Amelia, mencoba berdiri


"Hey, wajah mu memerah tau" ucap Dwi, mencoba berdiri


Mereka berempat kembali berdiri, dan Paman Yasir mulai berbicara.


"Apa yang terjadi ?" tanya Paman Yasir


Mereka kaget ketika melihat Paman Yasir berada di hadapan mereka.


"Wuuaahhh... Baginda... Terimakasih telah menyelamatkan kami" ucap Sensei Guntur


"Maaf... Aku merepotkan kalian" ucap Dwi


"Sebenarnya... Bla... Bla... Bla" ucap Amelia, menceritakan apa yang terjadi


"Jadi begitu... Kalian berhadapan dengan Goblin" ucap Paman Yasir


"Goblin ?" ucap ku, kebingungan


"Hey kenapa kalian bisa kalah dengan Goblin ?" tanya Paman Yasir


"Beberapa Goblin terlihat aneh, mereka bewarna merah pada tubuh nya" jawab Sensei Guntur


"Hmmm... Bewarna merah ? Jadi di mana Goblin itu ?" tanya Paman Yasir


"Goblin yang kecil sudah kami atasi... Tapi tiba tiba muncul Goblin raksasa" jawab Sensei Guntur


"Goblin itu melukai kami, hingga membuat kami pingsan seketika" jawab Amelia


"Saat itu, Tiara mencoba memancing Goblin itu ke tempat lain agar kami tidak terbunuh oleh Goblin raksasa itu" jawab Dwi


"Sebenarnya... Sebelum Goblin raksasa itu kemari, Andre sempat menahan nya di Desa Semanggi" jawab Sri


Kami pun kaget ketika mendengar kata Andre.


"Dimana sekarang Anak ku ?" tanya Paman Yasir


"Kami tidak mengetahui nya, terakhir kami bertemu dengan Andre itu saat di Desa Semanggi. Andre menahan Goblin itu di sana, untuk membuat kami kabur" jawab Sri


"Tapi entah kenapa Goblin itu bisa sampai di sini" ucap Dwi


"Dan saat itu, Tiara memancing nya menjauh dari kami" ucap Amelia


Paman Yasir terlihat begitu kesal saat mendengar nya.


"Aku akan mencari Andre. Kalian berdua coba lah mencari Tiara" ucap Paman Yasir, kepada aku dan Sony


"Aku akan ikut" ucap Sensei Guntur


"Aku juga" ucap Amelia


"Aku juga" ucap Sri


"Aku juga" ucap Dwi


"(Aku lupa untuk makan)" aku melihat ke langit yang mendung


"Kalian berempat lebih baik di sini saja, luka kalian belum membaik" ucap Sony


"Ayo pergi" ucap Sony, mengajak ku

__ADS_1


Kami berdua pergi mencari Tiara, sedangkan Paman Yasir mencari keberadaan Andre.


"(Ah... Ah. Semoga tidak seperti mimpi ku)" aku berlari bersama Sony menuju tempat Tiara berada


__ADS_2