The Last Knight : New Generation ( Vol 1)

The Last Knight : New Generation ( Vol 1)
Bab 1 : Knight part 3


__ADS_3

Tiba-tiba perut ku keroncongan.


"Lapar nya... sampai kapan ini kita akan menunggu?" ucap ku sambil memegang perut.


"Padahal ku tadi sudah sarapan, mungkin karena ku makan roti jadi tidak begitu kenyang saat sarapan tadi," ucap ku yang terus memegangi perut.


"Ada apa? Apakah kau sakit perut?" tanya Kahfi kepada ku.


"Aku lapar. Ah... aku baru ingat, ayam yang tadi pagi ada di tas ku," ucap ku yang langsung membuka kotak makan di dalam tas ku.


"Hey apa yang kau lakukan?" tanya Kahfi kepada ku.


"Tentu saja aku ingin makan!" jawab ku.


"Sebentar lagi akan di mulai loh upacara penyambutan murid baru," ucap Kahfi.


"Gurunya masih lama datangnya, lebih baik aku makan saja dulu," ucap ku sambil duduk di atas tanah, di penuhin rasa ingin mencicipi makanan Andre yang dia buat tadi pagi.


Aku mulai makan, tidak perduli orang lain yang menatap ku, aku mengabaikan mereka yang menatap dengan tatapan rasa intimidasi terhadap ku.


Di dalam gedung sekolah, sebuah lorong panjang ada beberapa murid senior yang melihat kami dari dalam gedung.


"Hahaha kalian rasakan apa yang kami rasakan tahun kemarin," ucap seorang murid yang berada di dalam gedung.


"Hahaha rasakan itu di suruh menunggu kedatangan guru berjam-jam," jawab murid yang berada di sampingnya.


"Tahun kemarin kita di suruh menunggu tanpa kepastian kapan datang guru nya itu," ucap murid tersebut.


"Betul sekali, tahun kemarin beberapa dari kami terpaksa harus pulang karena bosan menunggu dan akhirnya menyerah untuk menjadi seorang Knight," jawab murid yang berada di samping nya.


"Hahaha kalian rasakan itu!" ucap murid itu.


"Ngomong-ngomong... siapa kau?" ucap murid itu kepada seseorang yang berada di sampingnya.


"Ahh akhirnya kenyang juga," ucap ku sambil berdiri.


"Kau orang aneh yaa, di tengah kerumunan ini kau masih bisa menikmati makanan mu," ucap Kahfi yang terheran-heran.


"Jika kau lapar, maka makan lah! Itulah yang ayah ku ucapkan," ucap ku sambil menunjuk jari telunjuk ke atas.


Menit tiap menit pun berlalu, kami terus menunggu kedatangan guru. Aku mulai bosen menunggu walaupun beberapa kali aku mengisengi Rian dan Kahfi dengan cara melorotkan celana nya.


"Hahaha, Rian celana mu melorot tuh!" ucap ku sambil tertawa.


"Wooyy Bagas jangan jahili Rian!" ucap Kahfi.


"Heeyy... Kafur, sampai kapan kita menunggu?Aku mulai bosan," ucap ku kepada Kahfi.


"Ntah lah. Tapi yang jelas, ketika kita mau menjadi Knight, kita harus bertahan di sini. Anggap saja ini ujian pertama mu!" jawab Kahfi.


"Ngomong-ngomong, nama ku bukan Kafur! Nama ku Kahfi!" ucap Kahfi membentak ku.


Menit pun berlalu, banyak murid yang kelelahan menunggu dan ada beberapa yang memutuskan untuk pulang.


2 Jam pun berlalu kami terus menunggu sampai kedatangan salah satu guru atau siapapun itu yang bisa menerima kami sebagai Knight di sini, yang aku bisa hanya menjaili Kahfi dan Rian untuk menemani kebosanan ini.


Dan akhirnya pun tiba.


Ada seseorang yang datang, beberapa dari kami bangkit kembali untuk berdiri, beberapa dari kami juga ada yang masih tertidur.


"Heeyy Guru nya sudah datang!" ucap seorang lelaki.


"Akhirnya..." ucap seseorang perempuan

__ADS_1


Seorang wanita datang di kawal satu pengawal berbadan besar dan di dada nya itu ada lambang angka I yang menunjukkan dia seorang knight kelas I.


Pengawal itu berdiri dengan tegap di depan para murid, dan... mengendong wanita itu di atas pundak nya.


"Selamat untuk kalian yang masih bertahan di sini. Ini merupakan ujian masuk untuk menjadi seorang Knight dan mulai sekarang kalian resmi menjadi Knight!" ucap wanita itu dengan suara lantang sambil digendong pengawalnya.


"Apa-apaan dengan bocah itu!" ucap ku.


"Akhirnya... aku jadi knight, ayah, ibu, kakek, nenek, paman dan paman lainnya. Apakah kalian bangga terhadap ku?" ucap seorang murid.


"Sudah ku duga ini adalah ujian masuk," ucap seorang murid dengan nada sombong.


"Padahal tadi kau merengek-rengek minta pulang," ucap murid yang berada di sampingnya.


"Apakah kita sudah resmi menjadi Knight?" ucap Rian yang menyampingi ku dan membelakangi Kahfi.


"Sepertinya... aku berada di belakang mu Rian!" jawab Kahfi.


"Hmmmmm.... apa-apaan bocah itu! Suaranya tidak kedengaran, ya mungkin karena dia masih bocah, suara jadi tidak kedengaran," ucap ku terheran-heran.


"Hay bocah yang di sana!. Mengapa kau meledak ku?" ucap wanita itu menunjuk jarinya kepada ku.


Aku menghiraukannya karena memang tidak mendengar apapun.


"Hay bocah yang di sana! Dengar tidak?!" teriak wanita itu.


Wanita ini terlihat seperti anak kecil tapi memiliki suara yang keras, tinggi badan 145 cm, dengan tubuh lolinya, berambut kuning kuncir dua, mata nya bewarna hijau seperti Rian tapi tidak cacat.


"Hey Bagas, kau di panggil!" ucap Kahfi.


"Aku? Sama siapa?" tanya ku.


"Itu sama wanita yang di depan, apakah kau tidak mendengar nya?" ucap Kahfi


Jarak antara tempat ku dan wanita itu adalah 50 meter. Karena tempat ku ini persis berada paling belakang. Murid yang masih tersisa di halaman ini masih berjumlah banyak, karena beberapa orang mendapatkan spoiler tentang ujian bertahan ini dari senior mereka, kalo di perkirakan jumlah di sini kemungkinan besar masih ada 500 orang yang bertahan dan lebih banyak ketimbang tahun kemarin.


"Ehh... kau punya kelemahan yaa? Sama seperti ku," ucap Rian menyampingi ku dan membelakangi Kahfi.


"Hey Rian orangnya ada di samping mu!" ucap Kahfi.


"Ya walaupun begitu aku masih bisa melihat gestur dari bibirnya" jawab ku.


"Berarti kebalikan dari diriku. Aku tidak bisa melihat dengan jelas, tapi aku masih bisa dengar suaranya begitu keras dari kejauhan," ucap Rian kepada ku.


"Wow kalian berdua memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda," ucap Kahfi kepada kami berdua.


"Hey kau dengar tidak!" teriak wanita itu menunjuk jari nya kepada ku.


"Yaa dengar, anak kecil!" jawab ku berteriak.


Sebenarnya aku tidak mendengar apa yang dia ucapkan, tapi aku masih bisa membaca gerakan bibirnya, menggunakan mata ku ini.


"Aku bukan anak kecil! Aku adalah perwakilan dari Guild dan nama ku adalah Deva, komandan Guild. Ingat itu baik-baik!" Deva dengan bangga memperkenalkan dirinya.


"Iyaaa, anak kecil!" Jawab ku.


"Sudah ku bilang, aku ini bukan anak kecil!!!" ucap Deva sambil marah-marah.


"Pantas saja suara nya begitu kencang ternyata dia komandan Guild," ucap Kahfi.


"Dahlah lupakan saja! Untuk kalian yang ada di sini, aku ucapkan selamat kepada kalian yang sudah lolos dari ujian masuk Knight tahun ini. Jumlah kalian lebih banyak dari tahun kemarin. Kalian akan di bimbing masuk ke kelas kalian masing-masing yang sudah di tentukan, akan ada Guru yang membimbing kalian untuk menjadi Knight terhebat. Mulai saat ini dan seterusnya kalian akan bertarung untuk melindungi umat manusia, kalian akan di ajarkan bagaimana cara menghadapi Monster dan Iblis di sekolah ini, dan tentu saja kalian akan belajar dasar-dasar sihir, teknik bertarung, menggunakan senjata dengan benar, pengetahuan umum tentang Knight, Monster, Iblis, dan pengembangan diri kalian akan menjadi lebih hebat di masa yang akan datang. Sekali lagi ku ucapkan selamat untuk kalian Knight-Knight baru" ucap Deva mengakhiri pidatonya dan bergegas menuju ke dalam gedung sekolah.


Tiba-tiba muncul di depan berjumlah 10 orang, seorang 6 wanita dan 4 pria.

__ADS_1


"Yoo... namaku Herman (32), aku seorang guru, begitu pula yang berada di belakang ku. Aku dan beberapa guru yang berada di belakang ku ini, akan menjadi wali murid kalian di kelas nanti. Um... seperti jumlah kalian tepat 500 orang, lebih banyak ketimbang tahun kemarin. Kalo gitu kalian akan di bagi 10 kelas dan masing-masing kelas berjumlah 50 orang. untuk kelas ku, aku akan mengambil 50 orang yang berada paling belakang. 50 orang yang di belakang silahkan maju dan ikut dengan ku ke kelas!" ucap Herman yang memilih untuk di jadikan muridnya.


Aku, Rian, dan Kahfi sepertinya akan menjadi murid Herman, karena posisi kami bertiga berada paling belakang.


"Eh... kita sekelas bertiga?" ucap Rian yang sedikit kegirangan.


"Yaa... sepertinya kita akan sekelas," jawab Kahfi.


"Kelas apa?" ucap ku kepada Kahfi dan Rian.


"Apakah kau tidak mendengar nya? Yang tadi orang itu bilang?" ucap Kahfi.


"Tidak, aku tidak mendengarnya," jawab ku.


"Kau juga tidak melihat kedepankan? Dari tadi kau menghadap ke arah pohon-pohon yang di belakang mu itu," ucap Kahfi.


"Iya, aku tidak melihat kedepan," jawab ku.


"Kita bertiga akan di kelas yang sama, itulah yang guru bilang," ucap Kahfi yang mencoba menjelaskan.


"Ohh gitu..." jawab ku.


"Kau terlihat aneh, ada apa?" Tanya Kahfi.


"Tadi aku melihat seseorang di belakang," jawab ku.


"Mana? Tidak ada," ucap Kahfi sambil melihat ke arah pohon yang berada di belakang.


"Orang itu telah pergi setelah aku melihat dia," ucap ku.


"Ah... lupakan saja itu. Sekarang kita harus masuk ke kelas!" ucap kahfi sambil mengajak kita ke guru tersebut.


Kami bertiga berjalan.


"Heeyy... kau salah jalan Rian!" ucap Kahfi.


"Ah... maaf," Jawab Rian.


Kami bertiga pun berjalan masuk ke gedung di temani wali kelas kami yaitu Herman.


"Hallo semuanya, nama ku Sinta Hestia (25) dan aku adalah guru kalian," ucap wanita itu.


"Hestia?" ucap salah satu murid.


"Hestia dari bangsawan itu kan?" ucap murid lainnya.


"Guru itu sangat cantik seperti Tiara," ucap seorang murid lainnya.


"Betul sekali, aku kakak kandungnya Tiara. Oke aku akan memilih murid ku dari barisan depan!" ucap Sinta yang menunjuk murid-muridnya tersebut.


"Yesssss, Guru pembimbing ku seorang wanita cantik dan dari keluarga Hestia pula," ucap seorang murid.


"Ayah, ibu, kakek, nenek, paman dan paman lainnya. Akhirnya aku sudah menjadi dewasa dan mendapatkan wanita yang cantik," ucap seorang murid.


"Kau lebaynya" ucap murid yang berada di sampingnya.


Akhirnya pun mereka masuk bersama guru Sinta.


Aku, Rian, dan Kahfi berjalan di lorong sekolah tersebut, dengan perasaan gelisah. Aku melihat seseorang ketika pak guru Herman sedang berbicara, aura yang di miliki orang tersebut hampir sama dengan Iblis ayunan yang membunuh kedua orang tua ku. Aura nya begitu kuat sepertinya sedang mengintimidasi, tapi entah kenapa dari sekian banyak orang tidak ada yang menyadari orang tersebut, padahal aura nya sangatlah mencolok. Ketika aku melihatnya dia juga langsung melihat ku dengan sedikit senyuman, wajah nya begitu seram walaupun kulitnya berwarna putih dengan mata yang tajam bewarna merah kehitaman seperti iblis ayunan itu, dan berambut kuning. Ketika kami saling tatap cuman beberapa detik saja, dia langsung pergi begitu saja. Jika firasat ku benar kemungkinan besar dia sedang mengamati sesuatu, entah apa yang dia incar tapi yang jelas orang itu berbahaya.


Di suatu tempat.


"Tak ku sangka ada yang menyadari keberadaan ku, hahahahaha. Jadi namanya Tiara, yaa, dari keluarga Hestia!" ucap seseorang.

__ADS_1


__ADS_2