
Saat aku pingsan, aku di bawah pulang oleh Sony. Paman Yasir dan Andre menyusul setelah nya. Tiara berhasil selamat dan bertemu dengan teman teman nya. Saat Tiara pulang bersama teman teman nya, Tiara menjelaskan apa yang terjadi kepada Assosiasi Guild. Assosiasi Guild langsung bertindak mengumpulkan Knight Knight atas untuk rapat darurat yang di jalankan pada hari Minggu malam, kabar berita tentang Iblis seketika menyebar luas hingga terdengar di seluruh Negeri. Sedangkan aku baru terbangun keesokan harinya pada hari Minggu siang dalam keadaan Lapar.
Senin, 20 Juli
Pukul 08.30
Sekolah Knight, kelas 10-A.
"Jadi kita harus mempersiapkan dalam 3 Bulan yaa."
"Ahh... Apakah kita mampu melawan Iblis itu ?"
Kahfi dan Angga terlihat berbicara.
Entah kenapa di ruangan ini terasa begitu ramai sekali, bahwa orang orang melihat kami dari luar.
Aku mencoba meyakinkan mereka berdua.
"Tenang saja, aku yang akan menghadapi nya, hahahaha."
"Ini Iblis loh, apakah kau yakin ?"
Angga seperti nya tidak percaya dengan ucapan ku.
"Aku yakin, hahahaha. Asalkan perut ku tidak lapar, hahahaha"
Kahfi tiba tiba memberhentikan pembicaraan ku dengan Angga.
"Jadi... Untuk apa Tiara Senpai berada di sini ?"
Kahfi melihat Tiara sedang duduk di bangku ku, sedangkan aku berdiri di samping nya.
Penyebab begitu ramai dan orang orang pada melihat kami, karena ada Tiara di sini.
Sejak kejadian itu, Tiara selalu mengunjungi ku, bahkan dia menunggu ku tersadar dari pingsan kemarin.
Aku berangkat sekolah dengan nya. Aku di jemput oleh nya menaiki kereta kuda, bersama seorang pelayan bernama Michael.
"Dia ingin bersama ku. Iya kan, Tiara ?"
"Hooh."
Aku menjawab pertanyaan Kahfi, seketika kaget orang orang yang berada di luar.
"Hey kau lihat tatapan wajah mereka yang berada di luar."
Aku melihat mereka. Wajah mereka terlihat begitu kesal, entah kenapa yaaa.
"Mereka kenapa ?"
Aku mencoba bertanya.
"Itu karena Tiara Senpai berada di sini."
"Ohhh... Pantas saja ketika ku jalan dengan nya, mereka memasang wajah yang sama. Ku pikir mereka ingin bekal makan ku."
"Kau ini... Tapi mengapa Tiara bisa sangat dekat dengan mu ?"
Kahfi terus mengobrol dengan ku, sedangkan Angga sedang melihat wajah Tiara. Wajah Angga memerah saat melihat nya, dia seperti bengong dan tidak bisa berbuat apa apa.
"Mungkin karena dia mau bekal makan ku."
"Tidak, mana mungkin ! Apa yang kau lakukan kepada nya, hingga dia seperti ini ?"
"Apa yaa..."
Aku mencoba mengingat kejadian kemarin.
"Aku cuman menyelamatkan dia, mengendong dia, dan memeluk dia doang ko."
"Heeeee !!!!!"
Mereka semua yang berada di dalam maupun yang berada di luar panik ketika mendengar ucapan ku.
Dan wajah Tiara seketika memerah.
"Oy, oy, oy... Apa yang kau katakan !"
"Hee ? Mengapa kalian berteriak ?"
Aku kebingungan kenapa mereka seperti ini, ketika aku berbicara apa yang terjadi.
Angga yang tadi nya melamun, seketika berbicara dengan ku.
"Oy... Apakah kau serius ?"
Aku menjawab nya dengan mengupil.
"Iyaaa"
Mereka semua seakan akan tidak percaya dengan ku, yaa mungkin karena sebenarnya Tiara sosok wanita idaman, tapi di satu sisi dia selalu menolak laki laki untuk mendekati nya, bahkan di dalam Party nya. Tiara tidak membiarkan seorang lelaki ikut serta di dalam nya, kecuali Quest kemarin karena jumlah Party mereka kurang, yang mengakibatkan Sensei Guntur ikut serta dalam Party nya. Sudah berapa banyak Tiara menolak seseorang lelaki, di tambah lagi dia kalah dari Andre saat di final kemarin, yang merupakan seorang lelaki. Tiara tidak membenci laki laki, tapi hanya saja menurut dia laki laki itu begitu licik, sudah banyak laki laki yang mendekati nya untuk mengincar harta, kedudukan, dan kekuatan yang Tiara punya. Mungkin itu lah alasan mengapa dia menolak seorang laki laki.
Tapi, yang jadi pertanyaan. Mengapa dia mencoba mendekati ku ? Ini aneh looh, padahal aku tidak berbuat apa apa terhadap dia. Aku hanya lah bocah polos yang kadang kadang sedikit Bodoh, bahkan aku saja tidak bisa mengetahui mana suhu tubuh yang demam dan mana suhu yang sedang kedinginan.
Kalau kau mau mendekati, dekati saja Rian !
A... Rian tidak berada di dalam kelas ini.
Kalau kau mau mendekati, dekati saja Kahfi !
A... Muka nya terlalu tua.
"Hey mengapa kau menatap ku seperti itu, Bagas"
Dekati saja Angga !
Sepertinya jangan, Angga terlihat cabul.
"Hallo Tiara"
Aku mencoba menyapa Tiara yang sedang melamun, wajah nya memerah.
Lambaian tangan ku di wajah nya, tidak di hiraukan. Dia benar benar melamun.
"Hmmm, apakah kau sakit ?"
Aku mencoba mengecek suhu pada dahi nya, menggunakan tangan kanan ku.
"Heeeee !!!!"
"Apa yang kau lakukan, Bagas !!!"
"Woy, kau terlalu berani memegang nya !!!"
"Hmmm... (Kalau panas begini, sakit apa tidak yaa ?)"
Mereka semua berisik sekali, ketika ku memegang dahi Tiara.
Tiara menatap wajah ku, dan berkata.
"Aku tidak apa apa ko."
Ketika ku tau dia tidak sakit, tangan ku segera memegangi kepala nya.
"Syukurlah kau tidak kenapa kenapa, ku pikir kau sedang sakit."
Aku mengelus kepala nya. Rambut nya begitu halus dan hitam.
Seketika semua nya menjadi bubar ketika Sensei Herman datang bersama dengan, Shiva, Adit, Rian, dan Aziz. Sedangkan Tiara masih duduk di bangku ku.
Shiva, dan Rian menghampiri kami, sedangkan Adit duduk di bangku nya.
"Pantas saja di depan sangat ramai, ternyata Tiara Senpai ada di sini."
Shiva duduk di bangku nya, yang berada tepat di samping tempat duduk ku.
Semua murid sudah pada duduk, aku tetap berdiri karena bangku ku sedang di pakai Tiara untuk duduk.
Sensei Herman memulai pembicaraan, sambil menatap ku yang masih berdiri.
"Hey Bagas, bisa kah kau... Oh ternyata ada Tiara di sana. Apa yang kau lakukan di sana ?"
"Aku hanya ingin di sini saja."
"Ohh begitu... Baik lah anak anak, sebelum kalian mengambil Quest di bangunan Guild, Sensei ingin memberitahukan sesuatu."
Ini serius, Aku tidak duduk ? Oy mengapa Sensei Herman tidak menyuruh Tiara untuk pergi.
Aku berinisiatif.
"Tiara, bisakah kau menggeser sedikit dan memberikan ku duduk."
Tiara menggeser badan nya, dan aku duduk berdampingan dengan nya dalam satu bangku.
"Nah gini kan enak, yaa walaupun sedikit sempit."
__ADS_1
Badan kami menyentuh satu sama lain, Tiara sedikit malu dan wajah nya melihat ke bawah.
Murid murid lain memandangi ku, dengan tatapan tajam.
"Mengapa kalian melihat ku ?"
Kahfi menegur ku.
"Hey Bagas, kau terlalu dekat dengan nya."
"Apa nya ?"
"Lebih baik kau duduk di bangku ku."
"Tidak usah, aku di sini saja. Lagi pula aku tidak keberatan koo."
"Bukan soal kau, tapi Tiara Senpai lah yang keberatan"
"Ehh... Sungguh ? Apakah yang di katakan Kafur benar, Tiara ?"
Aku mencoba menanyakan ke Tiara, namun respon dia hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Nah kan, dia tidak keberatan."
"Hehehe... Tidak ku sangka, hati Tiara mulai terbuka karena Bagas"
"Ada apa Shiva ?"
"Tidak, tidak apa apa"
Shiva hanya tersenyum melihat ku. Ini membuat ku bertambah bingung, kenapa mereka melihat ku seperti ini.
Sepertinya cuman Rian saja yang tidak melihat ku. Rian sedang menatap ke atas, melihat cicak sedang kawin.
Sensei Herman pun melanjutkan pembicaraan nya.
"Selalu ingat dan waspada terhadap sekeliling mu, jangan sampai kalian terbunuh saat menjalankan Quest. Hindari Monster yang berbahaya, cari lah pertolongan jika kalian sedang dalam kesulitan. Dan satu hal penting, jangan sampai kalian berurusan dengan Iblis,"
"Itu saja dari Sensei, silahkan kalian menuju ke Guild, untuk memulai Quest."
Aku menanyakan sesuatu ke Sensei Herman.
"Apakah Tiara boleh ikut, Dalam Party ku ?"
Murid murid kaget mendengar pertanyaan ku.
Sensei Herman pun menjawab nya.
"Oh iya, kalian dapat membawa salah satu Knight kelas I, untuk menjadikan sebagai pengawas ketika kalian menjalankan Quest."
"Sungguh ?"
"Aku ingin bersama dengan Kakak ku, kalo begitu."
"Aku ingin menjalankan bersama ayah ku."
Murid murid seperti mendapatkan angin segar ketika mengetahui nya.
"Tapi ingat, sebagai pengawas bukan untuk membantu kalian dalam menjalankan Quest."
"Kalau begitu Tiara ikut dengan ku yaa."
"Hey Bagas, mengapa kau memutuskan hal begitu saja ?"
"Kau seharusnya menanyakan dulu ke Tiara Senpai, apakah dia mau ikut apa tidak."
Kahfi dan Angga merespon terhadap ku.
Aku melihat wajah Tiara, dan berkata.
"Apakah kau mau ikut ?"
Tiara hanya mengangguk ketika ku tanyakan.
"Nah dia mau"
"(Oy, oy... Mengapa respon Tiara terhadap Bagas seperti itu... Jangan bilang Tiara...)
Angga terlihat memikirkan sesuatu.
Karena Tiara ikut party ku, berarti jumlah anggota kami berjumlah 7 orang. Aku, Tiara, Angga, Kahfi, Rian, Shiva, dan Adit.
"Kalau begitu ayuk kita pergi, ke bangunan Guild sekarang !"
Kami pun bergegas pergi dengan bawaan barang masing masing, Angga sudah siap dengan senjata nya yang di taruh pada pinggang nya, Kahfi menaruh Tombak nya di belakang tubuh nya, Adit menaruh Belati nya pada kantung yang berada di pinggang nya, Rian dengan Busur nya yang di taruh pada bagian belakang tubuh nya, Shiva pun menaruh sebuah Tongkat pada bagian belakang tubuh nya, dan Aku... Aku menyimpan Katana ku pada Sihir Penyimpanan. hanya keluarga Apollon lah yang mampu membuat Sihir Penyimpanan, dan aku di ajarkan oleh mereka. Ini merupakan teknik Sihir tingkat tinggi, karena sangat gampang untuk membawa barang.
...**********...
"Heyy... Shiva."
"Ada apa, Tiara Senpai ?"
Tiara memegangi dada nya.
"Mengapa jantung ku berdetak kencang, saat bersama dia ? Ini seperti mau meledak. Dan kenapa aku tidak dapat berbicara dengan nya, bahkan untuk menatap nya saja, aku tidak bisa."
"Apa mungkin kau sakit ?"
Aku menghampiri mereka berdua.
"Apa yang kalian bicarakan ? Apa soal makanan ?"
"Kau ini pengen tau saja."
Angga menarik ku.
"Ssttt... Biarkan para ladies berbicara tau."
Angga berbisik kepada ku.
"Jadi begitu, oke deh"
Shiva masih kaget atas pertanyaan Tiara, karena sebenarnya Shiva pun belum pernah merasakan soal itu.
...**********...
Akhirnya kami pun sampai pada bangunan Asosiasi Guild.
Jessica menyambut kedatangan ku, dan dia kaget melihat Tiara berada di samping ku.
"Hallo Bagas, dan teman teman nya"
"Hallo juga"
Angga memegang tangan Jessica dan merayunya.
"Ohh... Kau begitu cantik sekali, apakah mungkin pertemuan ini akan menjadikan kita sepasang kekasih."
Adit dan Kahfi segera menarik seragam nya Angga.
"Hey berhenti lah merayu."
"Kita harus segera mengambil salah satu Quest, mumpung belum terlalu ramai di sini."
Rian pun mulai berbicara.
"Yang dikatakan Adit itu benar."
"Hey Rian, itu Shiva yang kau tunjuk bukan Adit."
"Maaf."
Bangunan ini sudah cukup ramai, di isi dari kelas kami dan beberapa kelas lain nya untuk mengambil Quest yang berada di papan.
Beberapa pandangan melihat kecantikan Tiara, beberapa lagi fokus menatap kertas Quest.
"Silahkan kalian pilih salah satu Quest yang ada, lalu setelah itu isi lah formulir anggota kalian di bagian resepsionis, dan kami akan memberikan perlengkapan yang kalian butuhkan."
"Baik lah Jessica"
Kahfi mengerti apa yang Jessica katakan.
Kami pun menuju papan itu, dan Jessica menghampiri ku.
"Anoo... Bagas..."
"Ada apa ?"
"Aku hanya ingin berterima kasih saja."
"Untuk ?"
"Berkat kau, sekarang aku sedikit tenang dan tidak memikirkan nya."
Aku tersenyum kepada Jessica.
__ADS_1
"Sama sama"
Tiara tiba tiba mencubit pinggang ku.
"Sakit..."
"(Ehh... Mengapa aku mencubit nya ?) Maaf."
Jessica hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Tiara.
Kahfi membawa sepotong Quest.
"Bagaimana Quest ini, untuk kita jalankan pertama kali"
Shiva penasaran dengan isi Quest itu.
"Apa itu ?"
"Di sini tertulis untuk membantu para petani memanen padi. Hadiah nya juga lumayan, yaitu sebuah beras."
Kami hanya bisa memandangi Kahfi dengan tatapan kasian.
"Apa di rumah mu sedang kehabisan beras ?"
"Hmmmm... Bukan begitu.... Kita kan baru pertama kali menjalankan Quest tau !!! Jadi ini lebih aman."
Angga mencoba membantah.
"Hey untuk apa senjata kita, kalau tidak kita gunakan."
"Benar juga si... Tapi kita harus mencari yang aman terlebih dahulu."
"Aku menolak !!!"
Ya sudah jelas pasti akan ku tolak Quest itu.
"Jadi kau akan memilih yang mana, Bagas ?"
"Hmmmm..."
Aku melihat lihat papan.
"Bagaimana yang ini"
Aku menarik sebuah Quest dan menunjukan ke mereka.
...----------...
*Monster buas tingkat A telah melahap habis para penebang pohon di Hutan Kufaku. Bunuh lah Monster itu sebelum memasuki pemukiman warga, dan cari korban yang selamat di Hutan Kufaku.
Hadiah : 20 Gold
...Sangat Bahaya...
...Khusus Knight I*...
^^^*Tertanda^^^
^^^Asosiasi Guild*^^^
...----------...
Mereka melihat Quest yang ku ambil dan berkata.
"Ini terlalu bahaya, bodoh !!!"
"Hey, yang benar saja lah !!!"
Kahfi dan Angga memarahi ku, Shiva hanya bisa tersenyum.
Adit tiba tiba membawa sebuah Quest.
"Ini saja"
Kami melihat Quest yang di bawah Adit
...----------...
Bunga Lily semakin menipis untuk membuat sebuah ramuan obat. Ambil lah bunga Lily yang berada di Desa Lily. Berhati hati lah saat mengambil nya, karena ada beberapa monster kelas B di sana.
Hadiah : 2 Gold
...Tidak ada Khusus...
^^^Tertanda^^^
^^^Asosiasi Guild^^^
...----------...
"Nah ini baru"
"Sepertinya ini cocok untuk kita"
Kahfi dan Angga menyetujui nya, sedangkan Riana hanya mengikuti kami saja.
"Baik lah, ini saja"
Shiva juga menyetujui nya.
Dan aku...
"Tiara apakah kau mau ikut Quest ini ?"
Aku mencoba menanyakan kepada Tiara.
"Aku akan ikut"
Suara nya benar benar lembut ketika menjawab.
Kami pun bergegas menuju resepsionis, tempat dimana Jessica berada.
Adit memberitahu Quest kepada Jessica, dan mengisi formulir.
"Perlengkapan kalian akan kami siapkan"
Jessica lekas pergi untuk berbicara dengan salah satu petugas Asosiasi Guild.
5 Menit kemudian...
Jessica membawa 3 buah tas.
"Ini perlengkapan kalian, sudah kami masukan ke dalam tas ini"
Adit menerima nya, dan bergegas pergi menuju ke tempat kami.
"Jadi ini perlengkapan kami ?"
"Biar aku yang bawa"
Angga membawa 1 tas.
Rian juga membawa 1 tas.
Dan Aku.... Terpaksa membawa nya juga.
"Mengapa harus aku sii yang membawa nya"
1 tas berisi makanan, 1 tas berisi beberapa peralatan untuk perjalanan, dan 1 tas tidak berisi apa pun. Tas kosong ini untuk menyimpan Bunga nya nanti.
"Hey Rian, tukeran tas yuk"
Aku mencoba membujuk Rian, yang membawa tas kosong dengan tas ku yang berisi beberapa peralatan.
"Ini, Bagas....
Kahfi mencegah Rian.
"Jangan di berikan, biarkan saja dia membawa nya"
"Ehhh... Jahat sekali."
"Biar aku saja yang membawanya"
"Sungguh ? Terimakasih kalau begitu Tiara."
Pletuk (Suara Pukulan)
"Sakit...."
Angga memukul kepala ku.
"Bagaimana bisa seorang wanita membawa sesuatu yang berat. Kau saja yang bawa, Bagas."
"Baiklah...."
__ADS_1
Petualangan kami dimulai dengan sebuah Pukulan dari Angga kepada ku.