
2 Hari yang lalu
Rabu 15 Juli, Pukul 17.25
Desa Semanggi.
Aku Tiara telah sampai di Desa Semanggi, tempat dimana terjadi nya pembunuhan berantai oleh Iblis.
Aku, Sensei Guntur, Dwi, Sri, dan Amelia memeriksa beberapa bangunan yang sudah menjadi Puing Puing dan berlumut.
Ketika kami memeriksa beberapa bangunan, Tiba Tiba ada seseorang yang kami kenali. Dia sedang memasak sesuatu di api unggun yang dia buat.
"Ohh... Andre kah" ucap Sensei Guntur, menghampiri Andre yang sedang membuat sesuatu
Andre melihat Sensei Guntur dan mengabaikan nya.
"Anak Anak, kita istirahat dahulu dan kemari lah !" teriak Sensei Guntur, memanggil kami
Kami berempat bergegas menuju ketempat Sensei Guntur.
Aku kaget ketika melihat Andre berada di sini juga seorang diri.
"Hallo" sap ku, kepada Andre
Andre mengabaikan ku, dia terus fokus dengan masakan nya.
"Kami numpang istirahat di sini yaa, hari juga sudah mulai gelap" ucap Sensei Herman, duduk di samping Andre
Andre mengabaikan nya lagi, dan dia pun berdiri.
"Ciihh..." ucap Andre, berjalan pergi
"Hey, kau mau kemana ?" tanya Sensei Guntur
Tak ada satu pun kata yang dia ucapkan, dia pergi begitu saja.
"Sepertinya kita mengganggu nya" ucap ku, mendekati Sensei Guntur
"Dingin nya orang itu" ucap Dwi
"Dia begitu tampan sekali" ucap Sri
"Ayo kita istirahat dahulu" ucap Amelia, ikut mendekati Sensei Guntur
Kami berlima pun beristirahat di tempat nya yang sudah Andre sediakan. Andre pergi entah kemana.
"Wah pas sekali, biar aku yang lanjutkan sup ini" ucap Amelia, melihat panci yang berisi sup
Amelia melanjutkan masakan yang di buat oleh Andre, dan aku bergegas pergi mencari Andre.
"Heyy Tiara, kau mau kemana ?" tanya Dwi, kepada ku
"Aku ingin mencari nya" jawab ku
"Berhati hati lah. Jika kau menemukan nya, bawa dia kemari !" ucap Sensei Herman
"Iyaa" jawab ku, pergi berjalan
"Kenapa orang itu begitu sikap nya, Sensei ? Yaa walaupun dia sedikit tampan sii, hehehe" tanya Sri, kepada Sensei Guntur setelah ku pergi
"Sensei juga tidak tau, tapi yang jelas ada seseorang yang bisa menjinakkan Andre" jawab Sensei Guntur
"Emang dia hewan apa, di jinakkan" ucap Dwi
"Siapa orang itu ?" tanya Sri
"Yang kemarin kalian lihat" jawab Sensei Guntur
Sri memikirkan kejadian kemarin, dan kebingungan.
"Kemarin apa ?" tanya Sri
"Oh, orang itu" ucap Dwi
"Orang itu ?" tanya Sri, kebingungan
"Itu looh, yang kemarin memegangi kepala Tiara dengan berani" jawab Amelia, sambil memasak
"Ehh.... Orang itu" ucap Sri, kaget
Aku mencari beberapa tempat, tidak menemukan Andre.
"Kemana dia pergi" ucap ku, melihat sekeliling
Akhirnya aku pun menemukan nya, dia sedang melihat air sungai. Aku pun mendekati nya.
"Ternyata kau di sini" ucap ku, mendekati nya
Andre menghiraukan ku.
"Apa yang kau lakukan di sini ?" tanya ku, ikut melihat ke arah air sungai
Dia mengabaikan ku lagi, tapi ketika aku bertanya soal Bagas kepada dia, Tiba Tiba dia merespon ku.
"Ini kan, tempat tinggal Bagas" ucap ku
"Hooh" jawab Andre
"(Heyy... Dia merespon pertanyaan ku)" ucap ku, kaget
"Apakah kau berteman dengan nya ?" tanya ku
"Iyaa. Kami berteman sejak kecil, dan tempat ini adalah tempat terakhir ku bermain dengan dia, di Desa ini" jawab Andre, melihat aliran sungai
"Ehh.... Apa yang kalian mainkan, saat itu ?" tanya ku
"Bagas mencoba mendorong ku ke sungai ini, tapi sayang dia malah terjatuh ke sungai ini" jawab Andre
"Kenapa bisa dia terjatuh ?" tanya ku
"Aku menghindari nya" jawab Andre, melempar kayu kecil yang dia pegang ke sungai
"(Permainan macam apa itu) Jadi apa yang kau lakukan di sini ?" tanya ku
Andre mengabaikan pertanyaan ku.
__ADS_1
"(Mengapa dia mengabaikan ku ? Bukan nya tadi dia menjawab ku dengan santai nya)" ucap ku, kesal kepada nya
"Lebih baik kalian pergi dari sini ! Tempat ini begitu berbahaya bagi kalian" ucap Andre, pergi meninggalkan ku
Boom (Suara ledakan)
Tiba Tiba terdengar suara ledakan dari peristirahatan kami.
"Apa yang terjadi" ucap ku, melihat asap dari ledakan itu
Andre bergegas ke tempat itu, dan aku pun ikut dengan nya.
Sesampainya di sana, aku melihat sosok Goblin Raksasa yang ukuran nya begitu besar 4x lipat tubuh kami bewarna merah.
"Apa apaan itu" ucap ku, melihat Goblin tersebut
"Menjauh lah !!!" teriak Sensei Guntur, berhadapan dengan Goblin tersebut
Dwi, Amelia, dan Sri pergi mendekati ku.
"Apa yang sebenarnya terjadi ?" tanya ku
"Monster itu Tiba Tiba muncul tanpa kami ketahui" jawab Amelia
"Teknik pedang : Tebasan Naga Hutan" Sensei Guntur menyerang kaki Goblin tersebut dengan pedang nya.
Serangan yang di lancarkan Sensei Guntur tidak melukai nya.
Goblin itu menyerang balik Sensei Guntur dengan kaki nya.
"Aagghhhh....
Tendangan itu melemparkan Sensei Guntur sejauh 10 meter.
Amelia mencoba menghampiri Sensei Guntur di Puing Puing bangunan tempat dimana Sensei Guntur mendarat.
"Cepat sekali" ucap Andre, melihat Goblin tersebut sudah berada di depan Amelia yang sedang berlari
Goblin itu bersiap memukul Amelia dengan tangan kanan nya.
Aku bergegas menyelamatkan nya.
"Teknik Pedang : Tarian Mawar" Aku melompat dan menyerang tangan Goblin tersebut, membuat tangan nya terluka
"Awas !!!" Teriak Sri, memperingati ku
Goblin itu melancarkan serangan selanjutnya, menggunakan tangan kiri.
Tenggg (Suara benturan)
Dwi menepis serangan tersebut, menggunakan tameng nya.
"Cepat lah lari !!!" ucap Dwi, mempertahankan pertahanan nya
Amelia bergegas lari menuju ke tempat Sensei Guntur berada.
Aku dan Dwi mencoba melawan Goblin tersebut secara bersamaan.
"Sensei kau baik baik saja ?" tanya Amelia, sesampainya di sana
Sensei Guntur terluka cukup parah, akibat tendangan itu.
Amelia mencoba memberikan pertolongan berupa sihir penyembuhan pada Sensei Guntur.
"Teknik Pedang : Tebasan Amarah" Sri melompat dan menyerang dada Goblin tersebut.
"Apa !!!" ucap Sri, melihat tebasan nya tidak berpengaruh pada nya
Tangan kiri Goblin melepaskan serangan menuju arah Sri yang masih berada di udara.
Tseeeekkkk (Suara tebasan)
Andre menebas tangan kiri Goblin dengan pedang nya. Tebasan itu berhasil membuat tangan nya terpisah.
"Agghhhh...." Goblin itu menjerit
"Terimakasih" ucap Sri, kepada Andre
Andre melihat ke arah Dwi yang sedang memegangi tangan nya.
Andre juga melihat ke arah Sensei Guntur yang sedang terluka.
"Kalian pergi lah ! Biar aku yang hadapi" ucap Andre, kepada kami
"Tapii...." ucap Sri
"Pergi lah !!!" Teriak Andre
Amelia menuntut Sensei Guntur untuk pergi, aku membujuk Sri untuk pergi bersama dengan Dwi.
Kami berlima memutuskan untuk pergi, dan meninggalkan Andre.
Ketika kami berlari menjauh Tiba Tiba Goblin tersebut, sudah berada di depan kami.
Kami semua kaget ketika Goblin ini sudah berada di hadapan kami. Dwi terus memegangi tangan nya, Amelia menuntut Sensei Guntur yang terluka, Sri terlihat panik ketika melihat Goblin ini.
"Tangan nyaaaa" ucap Sri, melihat tangan kiri Goblin kembali utuh
Goblin itu melancarkan serangannya kepada kami dengan tangan nya.
"Bahaya !!!" ucap Dwi, mencoba menepis serangan tersebut dengan tameng nya
Aku melihat kebelakang, jarak kami dengan Andre begitu jauh.
Andre berlarian menuju kami dengan tergesa gesa.
Tidak ada waktu untuk menyelamatkan kami dari serangan ini.
"Ciih..." ucap Andre, berlarian
Serangan ini semakin dekat.
"Teknik Sihir : Time Zero" Andre menghentikan waktu, dan bergegas menuju kami
"Teknik Sihir : Time Normal" Andre mengembalikan waktu dan menebas tangan Goblin tersebut dengan pedang nya, membuat tangan Goblin terpisah lagi.
__ADS_1
Kami semua kaget melihat Andre sudah berada di depan kami, dan menebas Goblin tersebut. Padahal jarak kami dengan nya agak jauh.
"Cepat pergi !!!" teriak Andre
Kami berlari menjauh dari Goblin tersebut.
Akhirnya kami memasuki hutan dan pergi menjauh.
"Ahh... Ahh... Ahh..." Sri terlihat kelelahan berlarian
"Sepertinya sudah menjauh" ucap ku, melihat kebelakang
"Hey tangan mu tidak Apa Apa ?" tanya Sri, kepada Dwi
"Sepertinya tangan ku patah akibat menahan pukulan itu" jawab Dwi
Amelia menaruh Sensei Guntur yang terluka, dan segera mengobati nya.
"Aku sudah tidak apa apa, lebih baik kau sembuhkan tangan Dwi saja" ucap Sensei Guntur
Amelia mencoba mengobati tangan Dwi yang patah.
"Terimakasih Amelia" ucap Dwi
"Kita harus mencari tempat aman untuk sementara" ucap Sensei Guntur, mencoba berdiri
"Apakah kita perlu kembali dan membantu nya ?" tanya Sri
"Kita perlu membantu, tapi sepertinya kita akan menyusahkan nya saja" jawab Sensei Guntur
Kami pun kembali berjalan menelusuri hutan untuk mencari tempat yang aman.
...**********...
Jumat 17 Juli, Pukul 07.30
Istana Apollon, meja makan.
Aku Bagas, sedang sarapan with Paman Yasir.
"Paman kemarin aku meminum sesuatu yang membuat kepala ku pusing, amnyam nyam nyam" ucap ku
"Apa !!!" teriak Paman Yasir, bangun dari tempat duduk nya
Plak plok plak plok (Suara tamparan)
Paman Yasir menampar ku bolak balik.
"Sakit....." teriak ku
"Kau ini belum cukup umur tau !!! Mengapa kau minum minuman beralkohol" ucap Paman Yasir
"Salahkan mereka ! Mereka lah yang memberikan minuman itu" jawab ku, memalingkan wajah
"Siapa mereka ?" tanya Paman Yasir, dengan nada keras
"Angga, Shiva, Kafur, Rian, dan Adit" jawab ku
"Bahkan seorang Bangsawan ikut minum juga dengan mu !!!" teriak Paman Yasir
Tiba Tiba seorang pelayan datang dari balik pintu.
"Permisi Baginda" ucap Sony
"Ada apa Sony ?"
"Ada beberapa orang yang datang untuk mengunjungi Bagas" jawab Sony
"Bawa kemari !!!" ucap Paman Yasir
"Silahkan kalian masuk" ucap Sony, kepada mereka yang berada di balik pintu
Kahfi, Angga, Adit, Rian, dan Shiva datang mengunjungi ku untuk sarapan pagi. Karena kemarin aku mengajak nya untuk sarapan di sini.
"Hallo Pam....
Paman Yasir bergegas lari ke arah mereka.
Plak
Plak
Plak
(Suara tamparan)
Paman Yasir menampar wajah Angga, Adit, dan Kahfi.
"Ada apa ini ?" ucap Adit, memegangi pipi nya
"Apa apaan ini Paman" Teriak Angga
Rian Tiba Tiba berkeringat.
"Hey Rian kau kan tidak di tampar" ucap Kahfi, melihat Rian
Paman Yasir mulai berbicara kepada mereka.
"Jadi kalian yaaa, yang memberikan Anak ku ini sebuah minuman beralkohol" ucap Paman Yasir, dengan nada tinggi
"Maaf" jawab Rian, berkeringat
"Hehehehe" tawa Shiva
"Hey Paman, mengapa mereka tidak di tampar juga" ucap Angga
"Tidak paman, Bagas lah yang meminum nya sendiri" jawab Kahfi
"Ohhh.... Jadi begitu" ucap Paman Yasir, melihat ku
Paman Yasir bergegas berlari menuju arah ku.
Aku pun lari menghindari nya.
"Aaaa..... Tolong" teriak ku, menghindari Paman Yasir
__ADS_1