
Sudah satu bulan sejak aku menjadi Knight. Bermacam macam pengalaman aku dapatkan, mulai dari ketangkasan, kesigapan, pandangan sudut, stamina, keterampilan, dan lain lain.
Aku menjalankan beberapa Quest selama 1 Bulan ini bersama party ku, yang di isi Kahfi, Angga, Rian, Shiva, dan Adit. Bermacam macam Quest ringan kami jalankan, mulai dari bercocok tanam, mencari kucing yang hilang, menyelamatkan nenek nenek yang mencoba bunuh diri, menangkap ikan, dan ikut perlombaan balap lari.
Walaupun Quest ini terasa begitu ringan, tapi kami menikmati nya bersama. Canda tawa selalu kami hadirkan dalam menjalankan Quest. Kami jarang sekali melakukan pertarungan, bahkan aku tidak pernah menggunakan Katana bersarung merah ku, yang di berikan Akagami.
Hingga pada akhirnya, kami salah mengambil sebuah Quest.
Saat ini kami semua sedang terluka berat, dan terkapar di tanah. Kami semua terjebak di dalam Gua Desu, bersama dengan seorang gadis kecil berusia 6 Tahun.
Kami terkepung oleh Monster yang bernama Minotaur.
Aku terkapar di tanah, tubuh ku tidak dapat bergerak sedikit pun, karena luka yang di berikan Minotaur itu.
"Tidak... Jangan kau lakukan itu !!!"
Aku berteriak sekencang mungkin kepada Minotaur yang mendekati Kahfi.
"Kalau ingin membunuh, bunuh saja aku !!!"
Minotaur itu semakin mendekati Kahfi yang tersungkur di tanah.
"Tidaakk... !!!! Jangan kau bunuh dia !!!"
Minotaur itu sudah berada di depan Kahfi, dan siap untuk menyerang nya.
"Tidak, Jangan !!! Kahfi !!!"
Kahfi melihat ke arah ku dengan senyuman nya.
"Akhirnya kau memanggil nama ku dengan benar, Bagas"
Kata kata terakhir yang di ucapkan Kahfi seperti itu, dia tersenyum kepada ku.
"Tidak !!!"
...**********...
4 Hari yang lalu.
Jumat, 14 Agustus
Pukul 10.00
Asosiasi Guild.
"Hari ini kita akan mengambil Quest apa ?"
Aku bertanya ke mereka berlima.
Mereka kebingungan memutuskan nya, sontak aku langsung mengambil sebuah Quest.
"Bagaimana dengan ini ?"
Aku menunjukkan ke mereka.
Shiva membaca Quest yang ku berikan.
"Beruang sedang mencari seorang pertarung. Hadapi lah beruang itu dalam duel 1 vs 1. Hadiah 10 Gold, tidak ada khusus."
Kahfi sontak langsung mengambil Quest yang berada di tangan Shiva
"Apa apaan Quest ini."
Kahfi melempar Quest itu ke tanah.
"Hey, mengapa kau menjatuhkan Beruang itu."
"Ini kertas loh, Bagas. Bukan beruang."
"Tapi di dalam kertas itu tertulis beruang."
"Iya juga yaa."
Shiva mengangguk saja.
Kami kebingungan untuk mengambil sebuah Quest, karena beberapa Quest mencantumkan Khusus Knight kelas I-III saja. Sedangkan kami hanya lah Knight kelas V.
Tiba tiba seseorang pria paruh baya datang ke Asosiasi Guild dengan wajah panik dan kelelahan.
Kami melihat pria paruh baya itu, yang sedang menghampiri resepsionis terburu buru.
"Tolong... Tolong anak ku."
Salah satu resepsionis merespon pria paruh baya itu.
"Iya, ada apa pak ?"
"Tolong anak ku di culik Monster."
Resepsionis itu memberikan sebuah kertas kepada pria paruh baya tersebut.
"Silahkan bapak mengisi formulir Quest ini, dan menjelaskan apa yang terjadi."
Pria paruh baya itu segera menulis nya dengan terburu buru, sedangkan kami hanya bisa melihat nya.
Pria paruh baya itu memberikan kertas formulir kepada resepsionis.
"Tolong... Segera selamat kan Anak ku !!!"
"Mohon di tunggu ya, pak."
Resepsionis itu mulai membaca formulir.
Seketika resepsionis itu kaget, melihat kertas formulir itu.
"Ano... Desa ini kalau tidak salah dekat dengan Kota Selatan kan ?"
"Iyaa, aku tinggal di sana."
"Mengapa bapak tidak meminta bantuan pada pihak Guild di Kota Selatan ?"
"Aku sudah meminta nya... Tapi... Mereka... Menolak nya... Dengan... Alasan.... Bahwa pihak Knight di sana sedang sibuk semua, jadi mereka tidak dapat membantu ku."
Pria paruh baya itu berbicara terbelit belit.
Resepsionis itu merasa curiga. Resepsionis itu melihat kertas nya kembali dan memikirkan sesuatu.
"(Seharusnya buat ukuran Monster ini, pihak sana akan menyanggupi nya. Kalau begitu coba ku tanyakan lagi)"
Resepsionis itu melihat wajah pria paruh baya yang keringetan, dan berbicara kepada nya.
"Apakah benar, anak bapak di culik segerombolan Monster Slime ?"
__ADS_1
"Iyaa betul, saat itu anak ku sedang bermain, tapi tiba tiba segerombolan Monster datang menghampiri nya. Anak ku di culik oleh monster itu."
"Bentuk monster nya seperti apa, pak ?"
Pria paruh baya itu berfikir sejenak.
"Bentuk monster itu, mirip seperti bant... Mirip seperti jeli, berbadan kecil dan berlendir bewarna biru."
Resepsionis itu semakin curiga.
Tapi aku dengan pede nya menghampiri mereka.
Aku memang bahu pria paruh baya itu, sambil menunjukkan jempol ku.
"Tenang saja, aku akan menyelamatkan anak mu."
Ah, pria paruh baya ini seperti mendapatkan sebuah harapan ketika aku bilang seperti itu.
"Sungguh ?"
"Sungguh."
Resepsionis itu mulai berbicara kepada ku.
"Tunggu dulu, Quest ini belum resmi, jadi kau tidak bisa mengambil nya."
Aku menjawab nya begitu tenang.
"Tidak ada kata resmi, untuk menolong seseorang orang."
Aku mencium aroma tidak sedap dari pria paruh baya ini.
"Apakah bapak belum mandi ?"
"Ah, maaf... Aku tidak sempat untuk mandi, saat aku mengendarai kuda dari desa ku menuju kemari."
"Kalau begitu, bapak mandi saja terlebih dahulu."
"Tapi..."
Aku berusaha meyakinkan nya.
"Tenang saja, aku akan menyelamatkan nya."
Aku tersenyum kepada pria paruh baya itu.
"Terimakasih. Kau anak yang baik, pasti orang tua mu bangga mempunyai anak seperti mu."
"Ah... Mereka pasti bangga."
Aku menjawab nya dengan nada pelan.
Pria paruh baya itu pun pergi.
Jessica menghampiri resepsionis yang sedang kebingungan karena pria paruh baya itu.
"Sudah kau berikan kepada mereka saja. Tenang saja mereka orang orang yang kuat."
"Tapi..."
Jessica mencoba meyakinkan teman nya.
"Sana kau kasih petugas, untuk meresmikan Quest itu. Aku yang akan bertanggung jawab."
Aku pun kembali ke tempat teman ku berada.
"Hey, mengapa kau memutuskan secara sepihak saja ? Tanpa memberitahu kami."
"Ahh... Aku melihat bapak itu begitu sedih, jadi aku mencoba membantu nya. Apakah kalian tidak ingin membantu nya ?"
"Kami juga mau sii."
"Bagus deh kalau begitu."
15 menit kemudian.
Resepsionis itu kembali dengan sebuah kertas Quest.
Adit pun mengambil nya, dan mengisi formulir anggota yang ikut serta dalam Quest ini.
"Ini formulir nya."
"Jadi anggota kalian berjumlah 6 orang yaa."
"Iyaa."
"Semua perlengkapan kalian sudah kami taruh pada kereta kuda yang berada di depan sana."
"Baiklah."
"Jessica menunggu kalian di depan."
"Terimakasih, kalau begitu"
Adit pun bergegas pergi, tapi langkah kaki nya di hentikan resepsionis itu.
"Tunggu !!!"
Adit menoleh kebelakang.
"Ada apa ?"
Resepsionis mengatakan sesuatu dengan wajah cemas.
"Berhati hati lah."
Kami pun bergegas pergi ke depan.
Kami melihat Jessica dan beberapa anggota Guild sedang membopong sebuah barang, dan menaruh nya di kereta kuda.
Jessica yang menyadari kehadiran kami, langsung berbicara.
"Kalian akan menggunakan kereta ini, tanpa seorang supir."
"Jadi maksud mu, kami yang akan mengendarai nya ke sana ?"
"Betul sekali. Ini peta nya."
Jessica memberikan sebuah kertas bergulung kepada Angga.
Angga membuka nya, dan seketika panik.
"Ehhh, yang benar saja ! Ini sangat jauh sekali."
__ADS_1
Kami melihat peta itu.
Jessica mencoba meyakinkan kami.
"Tenang saja, jika kalian mengikuti jalan dengan benar, maka akan sampai pada tempat nya."
Ini Quest pertama kali berpergian sangat jauh.
Kahfi mencoba menanyakan sesuatu ke Jessica.
"Nee... Berapa lama kami akan sampai di sana ?"
"Jika kalian berjalan dengan benar, paling lambat itu 3 hari 2 malam, dan paling cepat 1 hari 1 malam.
Kahfi menelan ludah nya sendiri.
"Tenang saja, perbekalan kalian sudah kami masukan pada kereta itu, yang kalian butuhkan adalah makanan. Berhemat hemat lah."
Shiva menanyakan sesuatu ke Jessica.
"Bagaimana dengan bapak itu ?"
"Bapak itu telah pergi duluan, setelah habis mandi."
Aku melihat Rian sedang berjalan.
"Hey Rian, kau mau kemana ?"
"Aku ingin buang air kecil, sebelum kita berangkat."
"Aku ikut kalau begitu."
Kami berdua masuk kembali ke dalam Asosiasi Guild untuk buang air kecil.
Di tengah perjalanan menuju toilet, kami terhenti di depan sebuah ruangan.
"Pokoknya tidak bisa !!! Mengapa kau memutuskan untuk membuat mereka bertarung secara berkelompok. Sudah lama kita membuat pertarungan 1 vs 1, tapi mengapa tiba tiba kau membuat peraturan baru !!!"
"Hey, tenang lah Deva. Aku sudah memutuskan karena dari jumlah siswa tahun ini begitu banyak, di tambah lagi kelas 11 dan 12 yang mau ikut serta."
Kami berdua menguping pembicaraan itu.
Tiba tiba muncul seseorang anggota Guild.
"Hey kalian sedang apa ?"
Aku memegangi tangan Rian, dan bergegas lari.
Sesampainya di toilet.
"Ah, ah... Untuk saja tidak ketahuan."
"Mengapa kita lari ?"
"Aku juga tidak tau mengapa kita lari."
Kami pun berdua buang air kecil.
"Ah... Lega nya."
Tiba tiba seseorang lelaki masuk ke toilet.
Tubuh orang itu begitu berisi, orang itu sangat lah tinggi sekitar 190 cm. Rambut nya hitam mengkilap bersisir ke belakang. Pakaian nya begitu sopan, di dada pakaian nya tertulis 'Ketua'
Aku dan Rian melewati nya begitu saja.
Tapi tiba tiba dia menghentikan langkah kaki ku.
"Hey tunggu !"
Suara nya mirip, seperti yang tadi berbicara saat kami menguping.
Aku menoleh kebelakang.
"Ada apa ?"
Orang itu melihat wajah ku, dan berfikir sesuatu.
"Berhati hati lah, saat bertugas."
"Ohh, oke."
Aku dan Rian pun meninggalkan nya.
Aku melihat wajah Rian begitu pucat. Keringat di wajah nya begitu banyak sekali.
"Hey Rian, kau tidak apa apa ?"
Rian mengabaikan ku.
"Wooy !!!"
Seketika aku mengagetkan nya.
"Ahh, maaf."
"Apa kau baik baik saja ?"
"Iya, aku baik baik saja ko."
Sebenarnya Rian cukup kaget saat merasakan aura dari orang itu.
"Ayo kita kembali."
"Ayo."
Sesampainya di sana, mereka sudah berada di dalam kereta kuda tersebut.
Aku dan Rian masuk ke dalam nya.
Kami semua duduk dengan tenang, dan berdiam diri di dalam kereta kuda.
Aku bertanya ke mereka.
"Ngomong ngomong, siapa yang akan mengendarai nya ?"
"....."
"....."
"....."
"....."
__ADS_1