The Last Knight : New Generation ( Vol 1)

The Last Knight : New Generation ( Vol 1)
Bab 5 : Dalam Bahaya part 6


__ADS_3

Selasa, 18 Agustus


Pukul 06.00


"Sepertinya masih pada tidur."


Aku menjadi orang pertama di ruangan ini yang terbangun dari tidur.


"Huuaahh....*menguap* Cuci muka dulu ahh..."


Aku berjalan keluar dan melewati lorong menuju kamar mandi untuk membersihkan muka ku.


Bluueerr (Suara air)


"Ah.... Dingin."


Tiap air membasuhi wajah ku.


"Teknik Sihir : Penyimpanan"


Aku mengeluarkan sikat gigi ku yang berada di sihir penyimpanan.


"Gigi ku sudah bersih sekarang. Yosh waktunya..."


Ketika ku hendak pergi dari kamar mandi, tiba tiba pintu kamar mandi terbuka.


"Selamat pagi. kamu ternyata sudah bangun, Bagas."


Yang membukakan pintu kamar mandi ternyata Shiva.


Shiva mengenakan baju tidur layaknya seorang Bangsawan. Yaa sebenarnya memang seorang Bangsawan dia.


"Selamat pagi juga. Kau ingin menggunakan kamar mandi ini ? Silahkan."


Aku berjalan melewati Shiva, namun tiba tiba Shiva meraih tangan ku.


"Ehh..."


Aku melihat tangan kanan ku yang sedang di pegang oleh Shiva.


Aku melihat wajah Shiva yang sedikit memerah karena memegangi tangan ku.


"Ada apa ?"


"Etoo..."


Shiva terlihat malu malu.


"Hmmm... ?"


Shiva melepaskan tangan ku, lalu mulai berbicara.


"Bisakah kau menunggu ku selesai, Bagas ? Aku takut jika ada seseorang yang mengintip ku."


"Jadi begitu. Baiklah."


Aku masuk kembali ke kamar mandi, namun Shiva terdiam dengan wajah malu nya.


"Ehh..."


"Ehh ?"


"Maksud ku, kamu menunggu di luar, Bagas."


"Baiklah."


Aku menurutinya, dan bergegas keluar.


Aku menutup pintu kamar mandi yang di dalamnya terdapat Shiva sedang mengganti pakaian.


Aku duduk di depan pintu dengan sedikit tenang, dan ini membosankan.


"Bosan nya..."


Aku teringat kembali bahwa perut ku lapar.


"Aku lapar !!! A... Aku ingat. Teknik Sihir : Penyimpanan"


Aku mengeluarkan sebuah makanan ringan yang berada di sihir penyimpanan ku.


"Amnyam nyam nyam *Mengunyah* Untung saja aku membeli nya di kota Pusat. Tapi ini sedikit pedas. Bodo amat deh, yang penting perut ku tidak lapar lagi. Amnyam nyam nyam *Mengunyah*"


Aku menunggu dan terus menunggu Shiva yang berada di dalam kamar mandi.


Hingga akhirnya Shiva keluar dengan pakaian seragam sekolah Knight nya.


"Terimakasih telah menemani ku."


"Tidak masalah. Kalau begitu aku akan pergi."


Aku meninggalkannya, pergi menjauh. Hingga aku sampai pada luar ruangan yang dimana matahari pagi begitu cerah. Ah, udaranya begitu segar sekali untuk aku hirup.


Aku duduk pada sebuah bangku tepat dimana menghadap matahari.


"Tidur di sini sepertinya enak."


Ketika ku mencoba merebahkan badan ku, tiba tiba Shiva muncul lagi di hadapan ku.


"(Ini cewek muncul mu dah.)"

__ADS_1


"Ternyata kau di sini ya."


Shiva mendekati ku, lalu duduk di samping ku.


"Nee..."


Aku melihat wajah nya yang gelisah.


"Kenapa ?"


Shiva memainkan jari nya, dan memasang wajah gelisah.


"Apakah kita akan berhasil menyelamatkan gadis itu ?"


Pertanyaan itu membuat ku kaget. Asal kau tau saja ya, aku ini begitu kuat, bahkan aku dapat membelah semangka dengan Katana ku.


"Tentu saja, aku yakin kita dapat menyelamatkan nya."


"Bagus deh kalau begitu."


Aku penasaran mengapa dia menanyakannya, apa mungkin dia sedang memikirkan sesuatu, atau mungkin dia kurang percaya diri.


"Mengapa kau menanyakan itu ?"


Ah, aku menanyakan nya.


"Tidak apa apa ko."


"Jadi be...."


"Hanya saja, aku kurang begitu suka dengan sifat orang orang dari kota Selatan itu, mereka mengabaikan desa ini begitu saja, tanpa mau membantu nya"


Sudah ku duga ada sesuatu yang di pikirkan nya. Tapi ngomong ngomong, jangan memotong pembicaraan ku tau, aku begitu kesal.


"Hmmm.... Ne... Apa kota Selatan juga memiliki keluarga seorang Bangsawan ?"


"Iya, disana juga memiliki keluarga Bangsawan, hanya 1 Bangsawan. Kalau tidak salah mereka yang mengendalikan kota Selatan, berbeda dengan kota Pusat yang memiliki 5 keluarga Bangsawan. Disana begitu tentram bahkan jarang ada keributan yang bisa memecah belah mereka."


Wow, kota yang bagus bagi ku.


"Kedengaran nya menarik disana. Siapa nama keluarga Bangsawan itu ?"


"Assorted. Keluarga Bangsawan Assorted, itu lah nama nya."


"Assorted yaa, baiklah."


Aku menemukan sesuatu yang baru. Kota Selatan, kota dimana ras Elf berada. Kota Selatan di atur oleh keluarga Bangsawan yang bernama Assorted.


"(Aku ingin kesana, atau mungkin nanti jika quest ini selesai kami bisa mampir kesana.)"


"Ada apa ?"


Shiva berdiri, sepertinya dia ingin pergi.


"Kalau begitu aku akan menyiapkan sarapan untuk kalian."


"Baiklah."


Shiva meninggalkan ku yang masih berada di bangku.


...**********...


Pukul 09.34


Setelah aku tertidur di bangku itu, aku pun kembali ke meja makan untuk sarapan pagi yang dimana Shiva siapkan. Tapi sebelum kesana aku sempat melihat kamar tidur kami, aku melihat mereka baru memakai seragam sekolah Knight, sepertinya mereka baru saja bangun. Menurut ku si wajar saja, karena mereka kelelahan, aku sendiri juga kelelahan akibat perjalanan ini, dan menurut ku yang paling kelelahan ialah Angga. Dia mengendarai kuda sepanjang perjalanan kami.


"Amnyam nyam nyam *Mengunyah* Sup ini enak."


Aku melihat wajah paman Wawan yang gelisah sambil memegangi sendok sup di tangan nya.


"Apa kau tidak mau sup itu, Paman ? Kalau begitu buat ku saja."


Ketika aku hendak mengambil mangkuk sup paman Wawan, tiba tiba Kahfi yang berada di samping ku mencubit pinggang ku.


"Sakit... Mengapa kau mencubit ku, Kafur ?"


"Kau ini !!! Ni ambil saja punya ku."


Kahfi memberikan ku sup nya.


"Terimakasih."


Aku langsung menghabiskan nya, tapi.... Aku menyadari sesuatu, bahwa Kahfi memiliki sup lain.


"Hmmm..."


Aku melihat dia sedang menyantap sup nya.


Aku memperhatikan sekitar, hingga aku menyadari bahwa Rian tidak memiliki sup.


"A... Ini punya Rian kan ?"


"Iya memang punya Rian, dia tidak memakannya, jadi aku yang akan menghabiskan nya. Ada apa emang nya ?"


"Hey... !!!"


Aku begitu kesal sekali, bahkan saat ini aku mampu membelah sebuah kelapa dengan tangan ku.


"Mengapa kau memberikan ku yang bekas !!! Sedangkan kau mendapatkan yang baru, ini curang nama nya."

__ADS_1


Tung (Suara pukulan dari benda)


Kahfi memukul kepala ku dengan sendok di tangan nya.


"Curang apa nya !!! Kau ini sudah menghabiskan jatah mu, di tambah lagi jatah ku yang kau ambil. Jadi kau lah yang curang."


"Oh iya ya."


Di saat kami sedang membuat keributan, tiba tiba paman Wawan berbicara.


"Aku akan ikut kalian."


"Ehh... ?"


Kami seketika memandangi wajah paman Wawan begitu kaget mendengar ucapan nya.


"Kau lebih baik disini saja, paman."


"Yang dikatakan Angga betul, paman."


Angga dan Shiva mencoba membujuk paman Wawan agar tidak ikut dengan kami.


"Tapi... Aku juga ingin menyelamatkan putri ku juga."


Dengan wajah begitu gelisah di pancarkan paman Wawan demi menyelamatkan anak tercinta nya.


Untuk pertama kalinya aku melihat wajah Adit begitu serius menatap paman Wawan, aku tidak bisa merasakan aura nya, hanya saja menurut ku, Adit sedang mengintimidasi paman Wawan dengan tatapan nya.


"Jika kau ikut, kau hanya akan menyusahkan kami saja."


"Hey, Adit !!!"


"Mengapa kau mengatakan itu !!!"


Yang dikatakan Adit memang salah, tapi dia ada benarnya juga.


Adit berdiri dan seketika berjalan keluar.


"Hey, kau mau kemana ?"


"Aku mau mencari udara segar."


Paman Wawan merasa bersalah atas perilaku nya.


Aku melihat wajah nya menunduk kebawah, dia betul betul merasa bersalah.


"Hmmm..."


Aku berdiri dan berjalan menuju tempat dimana paman Wawan berada.


"Tenang saja."


Aku memegangi bahu paman Wawan.


...**********...


Di suatu tempat.


Nama ku Tiara, saat ini aku, Jessica, Amelia, Dwi, dan Sri sedang merapikan peralatan kami. Kita sudah melakukan perjalanan beberapa hari yang lalu, namun kita tidak dapat menyusul Andre yang sudah berjalan duluan.


"Hey, ini panci jangan lupa di bawah."


Amelia memasukkan panci ke dalam tas yang dibawa nya.


"Aku sudah masukkan, jadi kita akan melanjutkan perjalanan lagi sekarang ?"


"Iya, kita harus bergegas kesana, karena Bagas sedang dalam bahaya."


"Kau sepertinya perduli yaa dengan orang itu, Tiara."


Sri menggoda ku, aku malu ketika dia berucap seperti itu tau.


"Tidak, bukan itu maksud ku."


"Iya, iya deh."


Jessica menghampiri kami dengan wajah cemas.


"Maaf, ini semua karena ku."


Aku tidak tega melihat wajah nya begitu sedih sejak dia tau bahwa quest itu adalah sebuah kebohongan.


"Tidak apa apa, kita akan bergerak dan menuju kesana dengan cepat."


Semoga saja ya... Kemungkinan kita sampai tempat itu malam hari, semoga ada keajaiban untuk lebih cepat sampai disana. Semoga.


"Ayuk kita kesana."


Kita menaiki kuda, terdapat 5 buah kuda yang kami bawa. Jika kita menggunakan kereta kuda kemungkinan besar perjalanan nya akan lama, jadi kami memutuskan untuk membawa satu persatu tiap orang.


"Kita akan menyelamatkannya."


...**********...


"Kami akan menyelamatkannya. Xixixixixi."


Aku dan Tiara mengucapkan kata kata yang sama, hanya saja berbeda tempat dan berbeda tujuan.


Bersambung...

__ADS_1


Jika kalian menunggu update terbaru jangan lupa click tombol Favorit pada halaman depan novel ini. Jika kalian suka jangan lupa di Vote atau di Like novel ini. Dan jika kalian merekomendasikan ke teman kalian, silahkan di Share novel ini.


__ADS_2