
Aku mencium bau sesuatu yang enak, tepat berada di mejanya orang itu.
"Hmmm... Sepertinya makanan itu sedap" ucap ku menatap makanan di mejanya Adit
Aku menghampiri nya.
"Bocah itu apa yang dilakukannya ?" ucap Kahfi
"Sepertinya dia mendekati Adit" jawab Angga
Aku berdiri tepat di hadapan Adit.
"Aku minta yaa, makanan itu terlihat enak" ucap ku mengiurkan lidah
Terlihat beberapa murid yang berada di dalam kelas memandangi ku. Mereka selalu saja berbisik satu sama lain. Aku tidak mendengar apa yang mereka bisikan tapi yang jelas aku tau mereka sedang Menjelek Jelekan seseorang.
Adit melihat sekeliling dan mengabaikan ku.
"Hmmm... Kalo gitu ku ambil saja" ucap ku mengambil kotak bento nya Adit
"Heey... Jangan mengambil bento ku" ucap Adit mencoba mengambil bento nya kembali
Adit mendapatkan kembali kotak bento nya, tetapi aku berhasil mengambil ayam goreng nya.
"Hey balikan juga ayam ku" ucap Adit
Aku segera menjilati seluruh bagian ayam goreng itu, agar Adit tidak mengambil kembali.
"Ehhh.... Kau jorok sekali. Ya sudah ambil saja kalo begitu" ucap Adit terlihat pasrah
"Amnyam nyam nyam" aku memakan ayam itu, dan ternyata Ayam nya itu begitu enak.
"Hey, ini buatan ibu yaa ?" tanya ku kepada Adit
"Bagaimana kau bisa tau ?" tanya balik Adit kepada ku
"Aku hanya asal menebak saja" jawab ku
"Ehh... Ternyata cuman asal menebak saja. Iya, itu adalah buatan ibu ku" ucap Adit
"Ini beneran enak, sepertinya ibu mu sudah menyiapkan makanan ini untuk mu, tapi malah ku ambil. Amnyam nyam nyam" ucap ku
"Tidak papa, ambil saja. Sebenarnya ibu ku membuatkan ku bento 2 buah" ucap Adit
"Ibu mu begitu baik yaa, amnyam nyam nyam. Gimana kalo ibu ku masakan untuk ku, amnyam nyam nyam" ucap ku
"Ah... Aku akan mencoba membicarakan dengan ibu ku" jawab Adit
"Gimana kalo pulang nanti aku mampir ke rumah mu ?" tanya ku
"Kau ingin mampir kerumah ku ? Sungguh ?" tanya balik Adit kepada ku
"Sungguh" jawab ku
"Tapi di luar sana sedang bahaya kata beberapa orang" ucap Adit
"Tidak... Dunia yang kita tinggali saja sudah sangat bahaya. Kalo begitu kita harus melawan saja, ya kan ?" ucap ku
"Hooh, betul kaya mu. Di dunia kita tinggali itu sangat lah berbahaya" ucap Adit terlihat kesal menundukkan kepalanya di meja
"Jika kau tidak mampu melawan, serahkan saja pada ku, biar aku yang lawan" ucap ku
Adit menegakkan kepalanya kembali, dan melihat ke arah ku.
"Karena kita ini teman, sudah seharusnya teman melindungi temannya sendiri" ucap ku tersenyum kepada Adit
"Teman ? Sejak kapan ?" tanya Adit kepada ku
"Sejak kau mengasih ku ayam ini, hehehehe" ucap ku
"Kau ini beneran orang aneh yaaa, hahahaha" ucap Adit sembari tersenyum
"Woyyyyy... Aku sudah haus, sampai kapan aku akan menunggumu" teriak Kahfi
"A... Aku lupa. Kalo gitu aku keluar dulu yaa" ucap ku
Aku menuju keluar tapi di berhentikan Adit.
"Tunggu !" ucap Adit berdiri dari bangku nya
"Kenapa ?" tanya ku
"Nama mu siapa ?" tanya balik Adit
"Nama ku, Bagas" jawab ku, dan segera berlari
Aku segera bergegas untuk membeli Kahfi minum, sepertinya dia sudah sangat kelelahan.
"Ngomong ngomong kantin nya berada dimana yaa ?" ucap terhenti di tengah lorong.
Nama ku Adit, umur 15 tahun. Aku adalah knight kelas 5 di tahun pertama sekolah.
"Ibu akhirnya aku memiliki teman walaupun, setelah 7 tahun berlalu" ucap ku
Selama 7 tahun aku merasa kesepian, tidak ada siapa siapa di sisi ku kecuali ibu ku. Sebelum kejadian itu, aku berteman akrab dengan Angga tapi setelah kejadian itu, Angga menjauh dari ku, dan meninggalkan ku yang begitu kesepian.
Ahh... Kejadian itu tepat 7 tahun yang lalu, dimana ketakutan, rasa ingin mati, rasa kebencian, rasa amarah. Dimana aku berada di dalam istana keluarga bangsawan itu dan melihat seseorang yang mencekik kepala keluarga bangsawan dengan tangan nya. Sebelum aku berada di istana, aku sempat bermain di sungai yang berada di luar kota ini. Ketika ku memasuki istana, aku melihat ayah ku dan beberapa pembantu lain nya terbaring di lantai, mereka terlihat terluka cukup parah. Ayah ku adalah seorang pembantu di istana ini.
"Ayah kau tidak apa apa ?" ucap ku memegangi ayah yang terluka
"Nak... Ugghh... Lari lah !" jawab ayah berbatuk darah
"Tidak ayah. Ayah harus segera di obati" ucap ku
"Hahaha kau anak yang baik yaa, ughh... Tapi nak, ayah sudah tidak bisa di obati" jawab ayah ku.
"Ayah jangan tinggalkan aku dan ibu" ucap ku menangis ayah
Ayah terlihat memejamkan mata nya.
"Ayah, ayah plisss jangan tinggalkan aku" ucap ku
Aku menangis begitu kencang karena kepergian ayah.
Selang beberapa menit kemudian, aku melihat kepala keluarga sedang keluar dari ruangan dan berlari larian, seperti sedang di kejar sesuatu.
__ADS_1
"Tolong... Tolong aku" teriak kepala keluarga itu
Di tengah perjalanan kemari tiba tiba seseorang muncul di hadapan dia, dan langsung mencekik leher orang itu.
Aku hanya dapat melihat dia dari kejauhan, seperti kesakitan karena cekikan itu. Tubuh ku tidak dapat bergerak, aku seperti patung, yang hanya bisa melihat nya saja dan tidak bisa menolong nya.
Orang itu terlihat menghisap sesuatu sambil mencekik kepala keluarga tersebut.
"Hehehehe, kebetulan sekali masih ada satu manusia yang berada disini" ucap orang itu
Dia melepaskan kepala keluarga itu. Kepala keluarga itu terlihat kekeringan pada seluruh tubuh nya.
Aku sama sekali tidak bisa bergerak, bahkan untuk berbicara pun saja aku tidak bisa. Tubuhku gemetaran, penuh dengan keringat. Orang itu menghampiri ku dengan santai nya. Kaki nya tidak menyentuh lantai.
"Heeyy... Kau ingin hidup apa mati. Hehehehe ?" tanya orang itu
Aku sama sekali tidak bisa berbicara satu pun kata. Aku membisu.
"Aaaaaaa..." itu lah yang bisa ku ucapkan
"Alive ? jadi kau masih ingin hidup yaaa" ucap orang itu
"Kalo kau ingin hidup, aku punya hadiah untuk mu" ucap orang itu
Orang itu mengeluarkan pisau tajam, dan melempar kan ke lantai.
"Itulah hadiah untuk mu" ucap orang itu
"Blood : pembohongan" ucap orang itu
Orang itu menciptakan suatu sihir. Darah dari semua orang yang berada disini di kumpulkan orang itu kecuali darah ku.
Darah itu terkumpul di tangannya, dan seketika dia melemparkan darah itu ke arah ku. Darah itu membanjir tubuh ku, pisau yang berada di lantai pun terkena darah itu.
"Itulah hadiah dari ku. Sebentar lagi seseorang akan datang kemari. Semoga kau baik baik saja selama sisa hidup mu anak yang baik, hehehehehe" ucap orang itu bergegas pergi dari istana ini
Beberapa detik kemudian, beberapa knight datang ke istana ini.
"Apa yang sebenarnya terjadi ?" ucap salah satu knight berbadan besar, orang itu tidak lain adalah Ojan
Para knight berdatangan satu persatu, melihat sekitar istana ini.
"Hey bocah apa yang sebenarnya terjadi ?" ucap salah satu knight
"Bocah kau tidak apa ap...."
"Apa yang sudah kau lakukan bocah ?" ucap salah satu knight terlihat panik saat melihat ku
"Jangan bilang kau yang membunuh mereka semua ?" ucap salah satu knight
Beberapa knight kaget melihat ku, karena banyak darah di tubuh ku.
Aku masih tidak dapat bergerak dan berbicara karena masih ketakutan akan orang itu.
"Tidak... Itu tidak mungkin. Bocah ini tidak mungkin membunuhnya" ucap salah satu knight, yang tidak lain adalah sensei Herman
"Tapi lihat !, pisau itu berada di tangan nya, dan dia di penuhi darah" ucap salah satu knight
Aku melihat tangan ku, dan ternyata sudah memegangi pisau yang tadi berada di lantai.
"Pokoknya kita selidiki dulu tempat ini. Ojan Kau bawa bocah ini" ucap sensei Herman
Para knight pun menyelidiki istana ini, dan tidak menemukan apapun.
Aku dibawa ketempat bangunan guild oleh Ojan.
Sesampainya di sana aku di bersihkan dari darah darah ini oleh Ojan.
"Kau istirahat saja dulu nak, jika kau sudah membaik aku akan mendatangi mu" ucap Ojan
Aku masih tidak dapat berbicara, seluruh tubuh ku di penuhi ketakutan akan orang itu.
3 hari kemudian.
Aku di panggil untuk menghadiri persidangan.
Terlihat orang orang sudah berdatangan, Termasuk ibu ku. Ibu ku terlihat bersedih melihat ku, aku benar benar merasa malu karena di lihatkan banyak orang.
Aku terus di berikan pertanyaan oleh hakim, tapi mulut ku masih tidak dapat berbicara. Rasa ketakutan ini masih ada.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan di istana itu ?" ucap hakim tersebut
Aku diam membisu, tanpa satu pun kata.
Aku melihat kebelakang, beberapa orang memandangi dengan wajah bersimpati, dan ada juga yang memandang ku dengan rasa ingin membunuh ku.
"Dia lah pelaku nya, bunuh saja dia, tidak perduli dia anak kecil atau orang dewasa" ucap seseorang yang berada di belakang ku
"Betul... Semua bukti menunjukkan dia lah pelaku nya" ucap seseorang
Ibu ku terus mengeluarkan air mata nya, terlihat wajah pada bagian mata nya menghitam, sepertinya dia terus menangis sepanjang hari.
"Hey kalian diam lah, di sini ada hakim" teriak sensei Herman
"Sepertinya anak itu tidak dapat berbicara untuk saat ini, lebih baik kita sudahi saja sidang ini" ucap hakim itu
Sidang pun berakhir tanpa tau aku bersalah atau tidak. Orang orang pada meninggalkan tempat ini, kecuali aku dan sensei Herman.
Sensei Herman menghampiri ku.
"Nak, ini terasa begitu sakit yaa" ucap sensei Herman memeluk ku
Aku menangis begitu kencang, dalam pelukan sensei Herman.
"Jika kau sudah tenang kembali, ceritakan lah apa yang terjadi di istana itu" ucap sensei Herman
Beberapa hari kemudian, aku pun di bebaskan. Aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, tapi pihak guild tidak mau menyebarkan apa yang terjadi di istana. Aku di suruh menjaga tentang ini agar penduduk kota tidak panik, akibat serangan dari orang itu.
Rumor tentang ku pun beredar dimana mana, seakan aku lah yang membunuh keluarga bangsawan itu.
Aku pun berjalan menuju rumah, beberapa orang menatap ku, bahkan menjauhi ku.
Ketika aku sampai di rumah, terlihat ibu sedang membuat sesuatu makanan.
Aku berlari menuju tempat ibu ku dan memeluk nya dengan erat, aku takut kehilangan sosok yang aku cintai.
__ADS_1
Ibu memeluk ku dengan erat dan menangis kepada ku.
"Ibu... Ayah telah..." ucap ku
"Sudah nak, ayah mu sudah tenang di alam sana" ucap ibu ku
"Ibu... Aku merasakan sakit yang begitu perih di dalam tubuh ku" ucap ku
"Sungguh malang nasib anak ku" ibu menangis, air mata nya berjatuhan di baju ku
Kami berdua terus menerus berpelukan dan menangis.
beberapa menit kemudian.
"Nak, ibu memasak sesuatu untuk kau makan" ucap ibu mencoba berhenti menangis
"Gimana kalau kau makan dulu" ucap ibu ku, dia berdiri dan menghampiri dapur.
Aku bergegas duduk di meja makan dan menunggu ibu ku.
Akhirnya ibu datang membawa ayam goreng dan nasi.
"Ini nak, makan lah" ucap ibu ku, menaruh piring di meja
"Terimakasih ibu" ucap ku, bergegas makan
Aku makan dengan perasaan bersedih. Nasi ku tercampur dengan air mata yang berjatuhan. Aku tidak bisa berhenti bersyukur karena punya ibu sepertinya.
Makanan ku telah abis, dan ibu terlihat duduk di depan ku, sepertinya dia akan mengucapkan sesuatu kepada ku.
"Nak... Sabar yaa sayang, mungkin saat ini kehidupan mu tidak akan seperti dulu" ucap ibu ku, menatap kearah ku
"Tapi tenang saja nak. Ibu yakin 100% akan ada orang yang bisa membuat mu terlepas dari ini, dan bisa membuat mu bahagia" ucap ibu, mengelus elus rambut ku
"Akan ada orang ?" tanya ku
"Iya nak, mungkin itu dari teman mu atau dari pacar mu, hehehe" ibu tertawa kecil kepada dengan sedikit senyuman manis nya.
Masa kini/Sekarang
Aku bagas, sedang menuju kantin tapi mengapa malah aku berada di halaman sekolah.
"Hmmm... Mengapa aku malah berada disini yaa" ucap ku, memegangi dagu
"Kalo gitu ku balik ke kelas saja lah. Paling Kafur juga sudah meminum air ludah nya sendiri" ucap ku
Ketika aku mencoba berlari menuju bangunan sekolah, terlihat di luar pagar ada 5 orang menuju sekolah ini. Aku pun terhenti untuk masuk.
Ke 4 orang itu menatap ku dan satu orang lagi menatap kebawah, aku juga menatap mereka satu persatu.
"Sakit... Sepertinya leher ku kram, lebih baik aku melihat satu orang saja" ucap ku
Aku melihat ke arah orang yang sedang menunduk kepalanya itu. Terlihat rambut panjang nya begitu halus dan lembut.
"Hmmm... Aku mau memegangi rambut itu" ucap ku
Aku pun menuju ke arah mereka.
"Hallo" ucap ku, memegangi rambut panjang orang itu
Terlihat mereka semua panik, atas apa yang ku perbuat.
"Heeeyy kau.... Apa yang kau lakukan" ucap Amelia
"Lepaskan tangan mu dari Tiara" ucap dwi
"A.... Halus dan lembut rambut nya" ucap ku
"Hey lepaskan tangan mu. Hey Tiara dia memegang kepala mu dengan begitu beraninya" ucap Sri
"Hey Tiara kau dengar tidak ?" ucap Sri
Tiara terus saja menundukkan kepalanya.
"Hmmmm ?, apakah kau sedang sakit" ucap ku, menundukkan kepala untuk melihat wajah Tiara
Aku melihat wajah Tiara memerah, dan suhu di kepala nya sedikit naik.
"Hmmmm... Kalo panas gini sakit apa tidak yaa ?" ucap ku
"Hey, anak muda, apa yang sedang kau lakukan disini ?" ucap sensei Guntur
"A.... Aku lupa, untuk membelikan Kafur minuman" ucap ku
"Lepaskan dulu tangan mu itu" ucap Amelia
"Kalo gitu aku pergi dulu yaa" ucap ku, melepaskan tangan ku yang berada di kepala nya Tiara
Aku bergegas lari, namun balik lagi ketempat Tiara berada.
"Ngomong ngomong, kantin berada dimana yaa ?" ucap ku
"Kantin berada di ujung lorong itu" ucap sensei Guntur
"Jadi di situ letak kantin. Baik lah, terimakasih" ucap ku bergegas lari menuju kantin
"Orang itu aneh itu berani sekali memegang mu Tiara" ucap Dwi
"Hey Tiara kau dengar tidak ?" ucap Dwi melihat Tiara
"Ehh... Wajah mu memerah loh Tiara" ucap Amelia terlihat kaget melihat wajah Tiara
Tiara pun menegangkan kepala, dan melihat ke arah ku yang sedang berlari.
"(Tangan nya begitu lembut)" ucap Tiara
Aku berlari larian menuju kantin, terlihat murid murid lainnya pada istirahat.
"Aku adalah kuda yang sangat cepat, Hiiiii Haaaaa, klepak klupuk klepak klupuk" ucap ku berlari seperti kuda
Beberapa murid murid melihat ku seperti orang aneh.
"Lihat dia, Hahaha aneh nya" ucap salah satu siswi
Akhirnya aku pun sampai di kantin.
__ADS_1