
Sabtu, 15 Agustus
Pukul 12.30
Di sebuah Desa.
Kami beranjak keluar kereta kuda untuk beristirahat.
Kebetulan ada sebuah desa yang menyediakan tempat makan.
Kami bergegas masuk ke dalam nya.
Tapi seketika Angga membukakan pintu, kami melihat seseorang yang kami kenali.
"Aaaaaziz... Ehh... Kenapa aku jadi ikut gagap."
Aziz dan 4 orang lain nya sedang duduk dengan minuman di mejanya. 2 orang itu berada di kelas yang sama dengan kami termasuk Aziz. Sedangkan 3 orang lain nya, kami tidak kenali.
Aziz melihat kami masuk ke dalam.
"Kaaa....lian sedang apa, di siii....ni ?"
"Pff.... Hahahahaha."
Aku tertawa mendengar nada bicara Aziz yang gagap.
"Adit bisakah kau membawa mereka ke salah satu tempat duduk yang di sediakan. Aku ingin menyapa Aziz dahulu, nanti aku menyusul."
"Baiklah, Angga."
Adit melihat sekeliling dan melihat tempat duduk yang kosong.
Angga dan Kahfi mendekati Aziz dan teman teman nya, Sedangkan kami mendapatkan teman duduk yang jauh dari tempat mereka.
Seorang pelayan restoran datang menghampiri kami.
"Selamat siang tuan tuan. Kalian ingin memesan apa ?"
Aku melihat Adit sedang menatap tajam pelayan restoran itu.
Oy tatapan itu menyeramkan sekali Adit, bisakah kau menghentikan tatapan itu ? Tatapan mu itu membuat pelayanan ketakutan tau.
"Ano... Bisakah kau tidak menatap ku seperti itu."
Lihat pelayan itu ketakutan karena mu, Adit.
Sambil menepuk meja dengan kedua tangan nya, Adit lalu bicara.
"Aku ingin air putih saja."
Oy...
Yang benar saja lah !!! Tatapan mu itu untuk apa pula !!!.
"Hehehe... Baiklah, satu air putih yaa, hehehehe..."
Alasan Adit menatap pelayan itu dengan tatapan tajam, karena Adit sedang berfikir isi dompet nya.
Aku pun memesan.
"Aku ingin kepiting."
"Mohon maaf tuan, kami tidak menyediakan kepiting."
"Kalau begitu lobster."
"Mohon maaf, kami juga tidak menyediakan lobster, tuan."
"Bagaimana dengan ikan bakar ?"
"Kami juga tidak menyediakan ikan, tuan."
"(Oy... Ini restoran apa si !!! Makanan laut saja tidak menyediakan.) Jadi ada nya apa ?"
Aku menanyakan begitu kesal.
"Kami hanya menyediakan 1 makanan saja tuan, dan menyediakan banyak variasi minuman."
"Jadi makanan apa ?"
"Spaghetti, tuan."
"Yasudah aku pesan itu."
Shiva dan Rian mulai memesan.
"Aku jus jambu saja."
"Aku... Aku... Maaf..."
"Hey untuk apa kau minta maaf !!!"
Rian kesusahan untuk mengambil keputusan memilih pesanan yang dia mau.
Lebih baik aku kasih saran saja ke dia, ketimbang kelamaan menunggu, kasih pelayan nya tau !!! Dia dari tadi ketakutan gara gara Adit.
"Bagaimana kalau kau memesan spaghetti sama dengan ku, dan untuk minuman nya, hehehehe."
"Hey Bagas, jangan memasang wajah mencurigakan."
"Baiklah, aku ikutin apa kata Bagas saja."
Aku berbisik kepada pelayan untuk membawakan minuman yang spesial untuk Rian.
Pelayanan itu segera pergi untuk membuat nya.
Aku melihat dari kejauhan Kahfi dan Angga sedang berbincang dengan Aziz dan party nya.
"Sepertinya mereka ngobrolin sesuatu."
Shiva melihat mereka sedang berbicara satu sama lain.
Adit duduk dengan tenang, kedua tangan nya memeluk tubuh nya sendiri, dan kaki nya melipat. Lalu menjawab ucapan Shiva.
"Hubungan mereka memang nya begitu dekat ?"
"Aziz itu orang nya sangat baik, bahkan semua orang menyukai nya."
"Jadi begitu."
__ADS_1
Aku tidak terlalu mengenal Aziz, yaa mungkin karena nada bicara nya itu membuat ku tertawa, jadi aku tidak mungkin bisa dekat dengan nya. Dan satu hal lagi yang membuat ku ketawa, yaitu muka nya yang bulat di tambah kepalanya yang botak.
Rian hanya memandangi atas, entah apa yang dia lihat.
Aku penasaran dengan satu hal. Ketika resepsionis itu berbicara dengan pria paruh baya, dia mengatakan bahwa desa pria paruh baya itu dekat dengan Kota Selatan.
"Nee..."
Adit mengganti silangan kaki nya.
"Ada apa, Bagas ?"
"Kota Selatan itu, apa menarik ?"
Adit terdiam, lalu Shiva yang menjawab pertanyaan ku.
"Di sana merupakan kota para Elf berada."
"Lef ?"
"Elf Bagas, bukan Lef."
"Oh. Elf ?"
Shiva melanjutkan bicaranya.
"Kau tau di negeri ini terdapat bermacam macam ras kan. Masing masing ras biasanya hidup terpisah dengan ras lain, mereka tidak mau bercampur satu sama lain."
"Hmm..."
"Ada 4 ras di negeri ini. Elf, Dwarf, Manusia setengah Hewan, dan Manusia."
Aku kebingungan dengan ucapan Shiva.
"Manusia setengah Hewan ?"
"Manusia setengah Hewan hampir mirip dengan Manusia biasa, hanya saja mereka seperti binatang. Memiliki telinga seperti hewan, memiliki ekor seperti hewan, bahkan kulit pun seperti hewan."
"Jadi begitu..."
Aku berfikir sejenak.
"Apakah mereka bisa di makan ?"
Shiva kaget atas ucapan ku.
"Walaupun mereka seperti hewan, tapi mereka tetap lah Manusia. Jadi tidak bisa di makan."
"Jadi begitu... Mereka juga seorang Knight ?"
"Iyaa, ada beberapa dari mereka menjadi Knight seperti kita."
Aku menanyakan lagi tentang Elf kepada Shiva.
"Bagaimana dengan Elf ?"
"Elf juga mirip seperti Manusia biasa, namun mereka memiliki pendengaran yang hebat ketimbang kita. Kuping mereka biasanya sangat panjang, dan rata rata kulit mereka bewarna putih cerah."
Aku menatap Rian begitu serius.
Adit yang melihat ku sedang menatap Rian langsung segera berbicara.
Yang dikatakan Adit benar, bahwasanya Rian memiliki kemampuan pendengaran yang baik.
Aku lanjut berbicara dengan Shiva.
"Apakah mereka juga Knight ?"
"Iya, beberapa dari mereka menjadi seorang Knight."
Aku lanjut menanyakan lagi apa tidak yaa ? Hmmmm... Yosh lebih baik aku tanyakan lagi deh.
"Bagaimana dengan ras Dwarf ?"
ketika aku mencoba menanyakan itu, tiba tiba Angga dan Kahfi menghampiri kami dan duduk di antara kami berempat.
Kami melihat Aziz dan party nya melambaikan tangan kepada kami.
"Saaa...mpai ketemu laaa...gi."
Mereka tersenyum kepada kami. Tapi aku dapat melihat di balik senyuman nya itu terdapat wajah yang sedang menangis.
"Ehh...."
Aku kebingungan saat melihat wajah mereka, faktanya ekspresi wajah dengan hati mereka tidak sama.
Kahfi yang melihat ku langsung bertanya.
"Ada apa, Bagas ?"
Lebih baik aku menyembunyikan dari mereka.
"Tidak, tidak ada apa apa."
Pesanan kami pun akhirnya tiba.
Angga dan Kahfi memesan minuman, sedangkan aku menikmati makanan ku.
20 menit kemudian...
Aku melihat wajah Rian yang sedang memandangi minuman nya bewarna hijau gelap.
"Kau harus meminum nya, Rian."
Aku mencoba menghasut nya.
Kahfi yang melihat kejadian janggal sontak langsung menanyai ku.
"Hey, itu minuman apa ?"
Aku memalingkan wajahnya dan berusaha tidak menjawab nya.
"Peeffff.... *bersiul*"
Rian meminum dengan tenang dan membuat ku kaget.
"Ehh..."
"Hey muka mu mencurigakan, Bagas."
__ADS_1
Tuuk (Suara meja)
Gelas itu sudah kosong, Rian menghabiskan nya.
"Terimakasih Bagas, ini sangat sehat sekali untuk ku."
"Ehh... (Mengapa dia bisa menghabiskan nya ? Aku saja di kasih Paman Yasir tidak bisa menghabiskan nya.)"
"Apa yang kau berikan ke Rian, Bagas ?"
"Jus pare segar."
Faktanya Rian menyukai jus pare, karena membuat nya menjadi sehat.
Adit yang penasaran dengan apa yang mereka omongin tadi bersama Aziz, langsung menanyakan ke Kahfi dan Angga.
"Jadi, apa yang kalian bicarakan ?"
Angga merespon nya.
"Mereka di sini sedang melakukan Quest di dekat sini."
"Jadi begitu... Tapi hanya segitu saja ?"
"Mereka sangat lah hebat sekali, dalam 1 bulan sudah menjadi Knight kelas IV. Ketika ku tanyakan mengapa mereka bisa naik secepat itu, mereka menjawab, bahwa mereka melakukan banyak Quest yang terlibat dengan Monster. Maka nya mereka bisa baik kelas begitu cepat. Berbeda dengan kita yang hanya melakukan Quest kecil saja."
Entah kenapa mereka memandangi ku seketika.
"Ehh... Ada apa ?"
Kahfi menarik nafas nya, lalu berkata.
"Huufhh... Lagipula kita juga kurang pengalaman untuk melawan Monster. Kemarin kalian bisa lihat kan, kita kewalahan melawan Goblin."
"Betul juga kata mu, Kahfi."
Angga terlihat memikirkan sesuatu, lalu berkata.
"Ngomong ngomong soal kemarin. Aku penasaran dengan mu, Bagas."
Kenapa tiba tiba penasaran dengan ku woy !!!
"Kenapa ?"
"Apakah kau dapat menciptakan angin ?"
"Hmmmm..."
Kahfi yang mendengar ucapan Angga seketika ikut penasaran.
"Ada apa emang nya, Angga ?"
"Coba kau perhatikan dia, Kahfi."
Mereka melihat ku dengan tatapan serius.
"Apakah kau ingat ketika kita sedang menunjukkan sihir kita di ruangan latihan."
"Iya, aku ingat. Ketika itu Bagas menunjukkan sihir api nya."
"Hooh betul sekali, kemarin malam juga Bagas memandang api unggun dengan sihir air nya."
Oy... Berhenti lah menatap ku. Aku malu tau kalau kalian menatap ku seperti itu.
"Kau benar, Angga."
"Semalam juga dia memperlihatkan Katana nya mengeluarkan angin yang begitu tajam hingga membuat tubuh Goblin terbelah."
Woy berhenti lah, aku jadi malu tau. Ngomong ngomong Shiva belum memberitahuku tentang Dwarf.
"Kau benar, Angga."
"Berarti Bagas memiliki 3 Element. Api, Air, dan Angin. Betul begitu Bagas ?"
"Hmmm... Aku tidak tau."
Lebih baik untuk sementara aku menjawab seperti itu.
Faktanya aku juga tidak mengetahui element ku apa, hanya saja menurut ku, selagi bisa melakukan nya kenapa tidak.
"Ini mencurigakan."
"Hmmmm....*Mengupil*"
...**********...
Pukul 23.58
Padang rumput yang luas di dekat hutan.
Kami beristirahat setelah perjalanan panjang.
Saat ini aku sedang memandangi langit yang di penuhi bintang seorang diri, sedangkan mereka asik tidur dengan lelap.
"Bintang nya indah sekali."
Aku memandangi bintang yang begitu cerah hingga.
"Apa ya yang berada di luar sana ? Apakah ada kehidupan juga di luar sana ? atau mungkin hanya di isi bintang bintang saja."
Aku melihat beberapa bintang membentuk seperti singa.
"Eh... Bintang itu membuat pola seperti singa. Apakah itu yang di sebut dengan bintang leo ?"
Langit begitu cerah hingga membuat ku terasa begitu tenang.
Aku pun berbaring dan memandangi nya.
"Kira kira berapa banyak yaa bintang di luar sana ? Aku ingin memiliki satu kalau begitu."
Menit pun berlalu hingga berganti hari.
Minggu, 16 Agustus.
"Ayah Ibu, apakah kalian bisa melihat bintang bintang di sana ? Aku berharap kalian juga bisa melihat nya. Ternyata dunia ini begitu luas, aku bersyukur sekali masih bisa menikmati nya. Terimakasih atas segala yang kalian berikan kepada ku, Ayah dan Ibu."
Aku bangun dan berjalan menuju tempat tidur.
__ADS_1
"(Selamat ulang tahun aku.)"