
Pukul 20.55
Tengah perjalanan di penuhi pohon pohon.
"Kampret !!! Kalian malah asik tidur !!! Aku cape tau, seharian penuh mengendarai kuda ini !!!."
Teriakan Angga membangun kami yang tengah tertidur.
"Huuaahh *menguap*... Apa sudah sampai ?"
"Aku cape mengendarai kuda ini !!!"
"Ahh... Ternyata belum, lebih baik aku tidur lagi."
Angga menghentikan kuda nya, lalu bergegas masuk ke dalam kereta.
"Kampret !!!"
Plak
Plak
Plak
Plak (Suara tamparan)
Elus
Angga menampar kami berempat, sedangkan Shiva di elus kepalanya.
"Sakit tau !!!"
"Hey, ada apa Angga ?"
Angga terlihat begitu kesal.
"Kalian asik tidur ya, tanpa memperdulikan aku."
Kahfi merespon nya sambil memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan Angga.
"Maaf... Hanya kau saja yang bisa mengendarai kuda itu. Maaf merepotkan mu."
"Tau... Lagipula kau kan yang mau untuk mengendarai nya. Salah kau sendiri."
"Iya aku tau itu, Bagas !!! Tapi setidaknya kasih aku istirahat. Aku sudah kelelahan sekali."
...**********...
11 jam sebelumnya.
"Kalau begitu aku yang akan mengendarai nya."
"Kau bisa mengendarai kuda, Bagas ?"
"Tentu saja, pengalaman berkuda ku sudah 50 tahun lebih. Jadi aku sangat pengalaman sekali mengendarai nya."
"Ehh... Keren."
"Hey Rian, mengapa kau kagum dengan nya, dia itu berbohong tau !!!"
"Yosh."
Aku duduk di bangku depan untuk mengendarai nya.
"Kalau tidak salah, begini deh."
Aku menggelepak tali kekang menciptakan gelombang, dan membuat kuda berlari begitu cepat.
"Hahahaha, ternyata seru juga."
Lari kuda ini begitu cepat, hingga melewati pintu keluar Kota Pusat.
Kami melewati para penjaga di pintu masuk Kota Pusat.
"Hey kalian !!!"
"Berhenti."
Para penjaga itu hanya bisa melihat kami saja, tanpa bisa memberhentikan kereta kuda yang melaju cepat.
"Hiiyaa... Ayo lari secepat mungkin !!!"
Aku menoleh ke belakang, dan melihat mereka pada mual.
"Hey kalian kenapa ? Ini asik juga loh."
"Bisakah... Hueggghh... Kau menghentikan nya.... Buweeeeee *Muntah*"
"Hey, kau jorok sekali Kafur."
"Tolong... Hueghhh... Siapa saja... Buweeeeee *Muntah*"
Kahfi terus saja muntah.
"Hey Bagas, berhenti !!!"
"Gimana cara nya ?"
"Kau tarik saja tali kekang itu."
"Baiklah."
Aku menarik tali kekang yang sebelah kanan.
Kereta kuda ini berbelok ke kanan dengan kecepatan tinggi.
"Buweeee *Muntah*"
"Wahh... Seru nya."
Kuda ini berlari memutar dan terus memutar.
Angga tiba tiba berada di depan.
"Hey kau, menyingkirkan !!!"
Angga melempar ku ke dalam kereta kuda dan menghentikan laju kuda.
"iiiii...."
Aku terlempar tepat pada muntah nya Kahfi.
"Ah... Ah... Ah... Akhirnya berhenti."
Angga menoleh kebelakang.
"Sebenarnya kau bisa mengendarai kuda tidak sii !!!"
Kami pun keluar dari kereta kuda dalam keadaan pusing.
"Kau seperti anak kecil saja Kafur, masih saja muntah"
"Ini salah mu !!!"
"Ehh ? Salah ku ?"
Shiva memberikan ku sebuah kain basah.
"Pakai ini untuk membersihkan seragam mu."
"Terimakasih."
Aku membersihkan seragam ku yang terkena muntah nya Kahfi. Sedangkan Rian dan Adit membersihkan kereta kuda akibat muntah Kahfi yang berceceran.
Adit dan Rian menghampiri kami.
"Hey kau salah jalan, Rian."
"Maaf."
"Kami sudah membersihkan nya."
"Maaf merepotkan kalian."
"Yosh... Saatnya aku mengendarai nya lagi."
Ketika ku bergegas menuju kuda itu, tiba tiba Angga memegangi bahu ku.
__ADS_1
"Eee...."
"Hey, sebenarnya kau tidak bisa mengendarai nya kan !!!"
"Aku ini pengalaman looh... Puff *bersiul*"
"Aku saja yang mengendarai nya !!!"
...**********...
Pukul 20.59
"Jadi begitu. Ini kan kau yang mau sendiri."
"Tapi setidaknya temani ak.."
"Kalau begitu kita istirahat saja dulu di sini."
Shiva memotong pembicaraan Angga.
"Ide bagus."
Adit memeriksa sekitar.
Kami mempersiapkan barang barang untuk berkemah di tengah hutan ini.
Kahfi menunjukan sesuatu di dalam salah satu box.
"Ternyata pihak Asosiasi Guild sudah menyiapkan sarung tidur untuk kita. Jumlah nya pas 6, berarti masing masing kebagian. (Padahal aku berharap hanya ada 5 saja, agar Bagas tidur di tanah.)"
Kahfi melihat ku dengan tatapan mencurigakan.
"Hey, mengapa kau menatap ku."
Angga mengikat kuda pada salah satu pohon agar tidak kabur kemana mana.
Selesai memeriksa sekitar, Adit kembali dengan beberapa kayu untuk membuat api unggun, karena suhu di hutan ini sangat lah dingin.
Kami menyiapkan semua peralatan untuk Memasak. Kahfi mengambil salah satu potongan daging sapi yang berada di dalam box.
Shiva memulai memberikan bumbu pada daging sapi tersebut. Dia sangat mahir sekali mengelola bahan untuk memasak.
Rian hanya bisa duduk di depan api unggun yang Adit ciptakan.
Shiva membawa sebuah ember yang berisi potongan daging sapi menuju api unggun.
Aku mencium aroma yang sangat sedap sekali pada ember itu.
"Hmm... Apa itu sudah bisa di makan ?"
"Belum bisa Bagas. Kita harus membakar nya terlebih dahulu."
"Ku pikir sudah bisa di makan."
Kahfi mulai mengambil potongan daging sapi yang berada di ember itu, dan mulai menusuk daging tersebut. Hingga menjadi sebuah sate.
Aku duduk di samping Rian yang sedang kedinginan di depan api unggun.
Aku melihat wajah Rian yang kedinginan.
"Hehehe."
Aku memikirkan sebuah ide untuk menjahili nya.
"Teknik Sihir Water Element : Penyiraman"
Api unggun itu padam karena sihir ku.
Rian seketika menggigil kedinginan.
"Hahahaha..."
Aku yang melihat nya langsung tertawa.
Tapi tiba tiba di belakang ku sudah ada Kahfi dan Angga.
Puk
Puk
"Kau ini bodoh sekali !!! Mengapa kau padamkan api itu."
"Hey, api itu akan kita gunakan untuk membakar sate ini, bodoh !!!"
"Sakit....."
Aku berteriak sekencang mungkin.
30 menit kemudian...
Kami menyantap sate yang di buat Shiva
"Amnyam nyam nyam *mengunyah* Sate ini enak sekali."
"Untung saja Adit membawa kayu begitu banyak."
"Kau beneran bodoh sekali, Bagas."
"Abis nya, aku melihat Rian sedang kedinginan."
"Hehehehe."
Shiva hanya bisa tertawa, sedangkan Adit menjauh dari kami untuk melihat sekeliling. Adit sangat waspada sekali terhadap sekitar.
"Ini enak sekali, Shiva."
"Kan sudah ku bilang, ini enak."
"Aku tidak membutuhkan jawaban mu, Bagas."
Angga masih terlihat kesal terhadap ku.
"Hehehehehe."
"Sungguh, ini enak sekali."
"Betul kan, Kahfi."
"Iya be..."
Rian tiba tiba berdiri dan memegangi busur nya.
"Ada apa, Rian ?
"Aku mendengar suara dari kejauhan menuju kemari."
"Aku tidak mendengar apapun, Amnyam nyam nyam *mengunyah*."
Adit berlari menghampiri kami.
"Hey, mengapa kau berlari Adit ?"
"Arah jam 9 segerombolan Goblin menuju kemari."
"Apa ???"
Kami semua kaget mendengar apa yang di ucapkan Adit.
"Apa ???"
"Hey, respon mu sangat telat, Bagas."
Kami menyiapkan senjata dan bersiap untuk menghadapi nya.
Aku mengeluarkan Katana bersarung putih ku.
"Jadi dimana Goblin itu ?"
"Di sana."
Piuu (Suara panah di hempaskan)
Panah Rian tepat mengenai kepala Goblin dan membuat nya mati seketika.
"Mereka datang !!!"
Goblin merah berdatangan satu persatu. Hanya saja bertubuh kecil.
__ADS_1
Kahfi menusuk nusuk dengan Tombak nya.
"Ternyata betul yang di katakan Asosiasi Guild, Goblin ini bewarna merah bukan hijau."
Angga melakukan gerakan anggar menggunakan Foil nya.
"Step Back"
Foil itu menancap dada beberapa Goblin.
"Ini Goblin sangat agresif sekali yaa."
Adit terus menikam kepala beberapa Goblin dengan kedua belati nya.
"Teknik Belati : Ayunan Kematian"
Kepala satu persatu Goblin itu di tebas Adit.
"Sebenarnya mereka ada berapa banyak."
Shiva mengendalikan boneka yang di buat nya menggunakan Tongkat sihir nya.
Pak
Puk
Pak
Puk (Suara pukulan)
Boneka yang di kendalikan Shiva meninju beberapa Goblin.
Ah... Boneka itu keren sekali, aku jadi ingin memiliki nya.
Rian terus mengambil panah nya dan menembak beberapa kepala Goblin tersebut.
Aku bingung kenapa Rian tepat sekali mengenai kepala Goblin tersebut. Padahal ini sudah sangat gelap, dan cahaya pula hanya ada di api unggun ini. Mungkin karena pendengaran nya yang begitu tajam, jadi dia bisa mengenai nya.
Sedangkan aku... Aku sedang menatap sate yang tersisa. Aku menaruh Katana bersarung putih ku di pinggang. Saat ini mata ku tertuju pada sate yang begitu nikmat di lihat.
"(Kelihatannya enak.)"
Aku mengambil sate dan memakannya.
"Amnyam nyam nyam *mengunyah*"
Kahfi menyadari ku yang sedang menyantap sate.
"Hey !!! Jangan kau habiskan sate itu !!! Dan bantu lah kami !!!"
"Baik... Amnyam nyam nyam *makan*"
Mereka Kesusahan menghadapi segerombolan Goblin tersebut.
"Jumlah mereka malah bertambah banyak."
"Sebenarnya mengapa mereka bisa sangat agresif sekali."
"Ahh... Boneka ku..."
Adit melompat dari serangan Goblin.
"Ah.. Ah.. Ah.."
Adit kelelahan
Panah Rian sepertinya sudah habis.
Kami mulai mundur satu sama lain mendekati api unggun, sedangkan aku sedang jongkok menyantap sate.
Aku yang menyadari mereka terus berjalan mundur mendekati api unggun, membuat hati ku tergerak dan mengakhiri gigitan terakhir ku.
"Amnyam nyam nyam *mengunyah*
Segerombolan Goblin mendekati kami dan semakin mendekati kami yang sudah berada di depan api unggun.
"Walaupun kecil, jumlah mereka sangat banyak sekali."
"Hooh... Betul sekali."
"Panah ku sudah habis. Apakah dari kalian ada yang bisa mengambil panah di tubuh Goblin itu ?"
"Maaf Rian, sepertinya tidak bisa."
"Maaf."
"Hey untuk apa kau minta maaf, Rian."
Mereka berlima terpojok di depan api unggun.
"(Aku membutuhkan air)"
Aku mengambil botol air minum, entah ini punya siapa tapi yang jelas aku meminum nya.
"Bleebek... Bleebek... Bleebek *minum*. Ah... Lega nya."
Kahfi menyadari ku yang sedang minum.
"Hey Bagas, di saat seperti ini kau masih bisa tenang saja."
"Ada apa, Kafur ?"
Aku kaget di depan ku sudah ada segerombolan Goblin mendekati ku.
"Wuahhh... Kenapa mereka sangat banyak sekali."
"Hey, apa kau dari tadi tidak melihat nya ?"
"Tidak, aku tidak melihat nya."
"Kau ini, beneran bodoh sekali."
"Yosh... Karena aku sudah kenyang, saat nya aku beraksi."
Aku berdiri di depan mereka berlima.
Tangan kanan ku memegang gagang Katana ku di pinggang begitu erat, sedangkan tangan kiri ku memegangi sarung. Kedua kaki ku memasang kuda kuda begitu kuat dan siap untuk menyerang.
"Apa yang kau lakukan, Bagas ?"
Goblin itu mendekat.
"Teknik Satu Katana : Tebasan Angin Tajam"
Aku mengeluarkan Katana ku begitu cepat menyamping dan menciptakan sebuah serangan berbentuk angin menuju segerombolan Goblin tersebut.
Puushh (Suara Angin)
Angin itu memotong semua badan segerombolan Goblin yang berada di depan ku.
Darah dari Goblin itu berceceran di tanah. Badan mereka terpisah menjadi dua akibat serangan ku.
Aku menaruh Katana ku kembali ke sarung yang berada di pinggang ku.
"Yosh... Kelar."
Mereka berlima kebingungan karena serangan ku begitu kuat.
"Oy, oy, oy. Ini bohongan kan ? Hey Kahfi, ini bohongan kan ?"
"Tidak, ini sungguhan Angga."
Aku melihat mereka berlima memasang wajah tidak percaya.
"Shiva, apakah masih ada sate yang tersisa ?"
"Masih ada beberapa saja di ember."
Aku duduk di depan api unggun.
"Yosh saat nya makan lagi."
Bersambung...
Jika kalian menunggu update terbaru jangan lupa click tombol Favorit pada halaman depan novel ini. Jika kalian suka jangan lupa di Vote atau di Like novel ini. Dan jika kalian merekomendasikan ke teman kalian, silahkan di Share novel ini.
Terimakasih.
__ADS_1