The Last Knight : New Generation ( Vol 1)

The Last Knight : New Generation ( Vol 1)
Bab 2 : Sekolah Knight part 6


__ADS_3

"Waahhh... Ramainya" ucap ku melihat Kantin dipenuhi murid murid yang sedang beristirahat


Aku melihat sekeliling kantin, beberapa dari mereka aku tidak mengenali, beberapa juga ada yang dari kelas ku.


"A.... Itu kan orang yang tadi aku tipu" ucap ku melihat wanita sedang duduk di mejanya sendirian. Dia terlihat sedang asik dengan makanan nya.


Aku mencoba mengabadikan nya tapi sepertinya dia melihat ke arah ku.


"Hey, kau kan bocah yang tadi menipu ku" ucap orang itu memanggil ku


"Aa... Bahaya ini, dia berada di depan ku sekarang, aku harus lari kebelakang" ucap ku melihat orang itu berada di depan ku.


Ketika aku menghadap kebelakang, ternyata orang itu masih berada di bangku nya.


Aku melihat lagi ke arah sebelumnya, ternyata sudah tidak ada siapapun.


Beberapa detik kemudian, orang itu hilang dari mejanya, dan kemudian muncul di hadapan ku.


"Hey bocah kurang ajar, mengapa kau tadi menipu ku" ucap sensei Sinta yang sedang berada di depan ku.


"Ah... Lagi lagi begini" ucap ku, memegangi mata sebelah kiri dan menundukkan kepala.


"Hey bocah kau tidak apa apa ?" tanya sensei Sinta, memegangi bahu ku karena dia khawatir dengan ku


"Hey tubuh mu terasa panas, kau tidak kenapa kenapa nak ?" ucap sensei Sinta, terlihat panik saat menyentuh ku


"Tenang saja, aku tidak apa apa" jawab ku


"Sungguh ?" tanya sensei Sinta


"Iyaa, betul. Aku tidak apa apa" jawab ku, menegakkan kepala


"Kalo gitu temenin sensei makan yuk" ucap sensei


Aku dan sensei berduaan dia meja, kami berdua saling berhadapan. Beberapa orang yang berada di kantin melihat kami.


"Kau beneran tidak apa apa nak ?, suhu tubuh mu panas sekali loh" ucap sensei Sinta


"Aku beneran tidak apa apa koo" Jawab ku


"Kalo begitu syukurlah. Kau ingin makan apa ?" ucap sensei Sinta


Sebenarnya perut ku sudah cukup kenyang, tapi karena di tawarin makan, yaa apa boleh buat, ku tidak bisa menolaknya.


"Ku pesan kentang goreng saja" jawab ku


"Tunggu di sini sebentar yaa, sensei akan memesan disana" ucap sensei Sinta, bergegas pergi dari bangku nya


Aku menunggu dan terus menunggu di meja ini.


"Mata ini kenapa bisa muncul dadakan sii, ini sangat sakit loooh" ucap ku, memegangi mata kiri


Waktu aku berusia 7 tahun. Aku berjalan di hutan sendirian saat memancing bersama ayah ku. Kami berdua terpisah satu sama lain saat berjalan pulang. Di saat aku mencoba mencari ayah ku. Aku melihat tanah menonjol ke atas, dan ada batu di atas nya. Sepertinya itu kuburan seseorang. Aku menghampiri kuburan itu, dan seketika muncul lelaki tua berusia 32 tahun di belakang ku. Dia memakai pakaian jadul sekali, mata kanan terlihat terluka, dan di pinggang nya itu ada satu Katana. Orang itu menghampiri ku, dan berkata.


"Apa kau mau ?"


"Mau apa nya ?" Tanya balik ku


"Ini" ucap orang itu, menunjuk katana nya


"Hmmmm.... Tapi kata ayah ku, senjata itu sangat berbahaya, dan aku hanya boleh memakai saat usia ku sudah 15 tahun" jawab ku


"Kau punya ayah yang baik" ucap orang itu, tersenyum kepada ku


"Jelas dong. Dia mengajarkan ku cara memancing dan dia adalah sosok yang aku hormati" ucap ku


"Kalo begitu pakai lah katana ini ketika kau membutuhkan nya" ucap orang itu, dia melemparkan katana nya, dan aku menangkap nya


"Hmmmm.... Jelek" ucap ku melempar katana ke tanah


Dia terlihat sedikit kaget, karena aku tiba tiba melempar katana nya.


"Mengapa kau melempar katana ini ?, bocah songong" ucap orang itu


"Warna sarung nya jelek, aku tidak mau bewarna merah, aku mau nya warna putih" jawab ku


"Tidak tidak tidak. Ini warna nya cukup bagus loh" ucap orang itu, mengasih katana nya ke tangan ku


"Tidak tidak tidak. Warna nya jelek" ucap ku, mengasih kembali ke tangan nya


"Hey anak kecil, sudah terima saja katana ini" ucap orang itu, mengasih katana nya ke tangan ku


"Tidak tidak tidak. Aku tidak mau warna merah" jawab ku, mengasih kembali ke tangan nya


"(Ini anak keras kepala sekali yaa), Nak simpan lah katana ini. Bantu selamatkan umat manusia dari kejahatan iblis" ucap orang itu, lagi lagi mengasih katana nya ke tangan ku


"Hmmm... Okay lah kalo gitu" jawab ku, menerima katana nya


"(Ehh... Semudah itu ?. Ko aku kaya orang bodoh yaa, mengurusi bocah ini), Nak tolong gunakan dengan baik baik yaa, karena itulah warisan ku. Aku disini sudah menunggu seseorang yang cocok menggunakan nya. Aku hanya sebuah ilusi yang dibuat dengan sisa sihir ku" ucap orang itu


"Ilusi ?" tanya ku kebingungan


"Aku sebenarnya sudah lama mati, kau bisa lihat kan kuburan itu" ucap orang itu, menunjuk ke arah kuburan


"iya, itu adalah kuburan ku" ucap orang itu


"Jadi kau ini adalah hantu ?" ucap ku, dan bergegas pergi.


Ketika ku berlari, dia muncul di hadapan ku.


"Mengapa kau lari sii" ucap orang itu


"Yaa abis nya kau itu hantu" jawab ku


"Aku bukan hantu !!!, aku hanya ilusi yang tercipta dari sisa sihir ku" ucap orang itu


"Ngomong ngomong, dimana katana yang ku kasih ?" tanya orang itu


"A... Aku meninggalkan nya di kuburan" jawab ku

__ADS_1


"Bocah bodoh, tunggu di sini, aku akan mengambil nya dan jangan coba coba untuk kabur" ucap orang itu, bergegas kembali ke kuburan


Orang itu kembali ke kuburan, terlihat dari kejauhan dia mengambil katana nya kembali


"Ini kesempatan" ucap ku, bergegas pergi


"Sial... Bocah itu kabur lagi"


"Teknik fire element : penghalang" ucap orang itu


Ketika ku berlari tiba tiba muncul dinding api begitu besar, membuat ku terhenti dan terjatuh.


"Waahhh.... Panas nya" ucap ku, duduk di tanah


Api itu menghilang, dan seketika orang itu muncul lagi di hadapan ku.


"Jangan coba lari lagi pliss. Stamina ku tinggal sedikit untuk bisa menciptakan sihir" ucap orang itu, terlihat kelelahan


"Aku tidak perduli" ucap ku, memalingkan wajah


"Nak tolong jaga katana ini dengan baik. Seandainya saja aku tidak memiliki penyakit, mungkin aku akan membunuh iblis yang tersisa itu" ucap orang itu


"Kau membunuh iblis ?" tanya ku


"Iya nak, aku membunuh 2 iblis seorang diri" jawab orang itu


"Jadi kau kuat dong ?" tanya ku


"Jelas lah, bahkan aku bisa memojokkan 5 iblis seorang diri" ucap orang itu


"Ehhhhh...." ucap ku, memalingkan wajah


"Mengapa kau memasang wajah tidak percaya. Aku berhasil memojokkan 5 iblis sekaligus di usia ku yang ke 30. Tapi saat itu penyakit ku bertambah parah dan membuat ku mundur dari pertempuran. Ketika ku mencoba untuk mundur, tiba tiba datang iblis ke enam di hadapan ku, dia menyerang ku menggunakan sabit/cerulit, dan berhasil melukai mata kanan ku. Untung nya aku berhasil kabur dari mereka" ucap orang itu, menceritakan masa lalu nya


"2 tahun kemudian aku mati karena penyakit yang ku alami. Tapi sebelum aku mati, aku membuat sihir ilusi seperti yang kau lihat ini. Untuk memberikan tekad ku dan sedikit hadiah dari ku yaitu katana yang aku pakai" ucap orang itu


"Oh begitu" jawab ku


"Ngomong ngomong jumlah iblis yang masih hidup sekarang berapa ?" tanya orang itu


"Aku tidak tau" jawab ku


"Huffhh..." ucap orang itu, menarik nafas nya


"Jumlah mereka ada 13, aku berhasil membunuh 2, dan teman ku berhasil membunuh 1 iblis walaupun dia juga ikut mati saat bertarung dengan nya. Jadi total mereka tersisa 10" ucap orang itu


"Hmmm" ucap ku


"Asal kau tau nak. Iblis itu sangat lah kuat, bahkan mereka mampu memanipulasi beberapa Monster untuk membunuh manusia" ucap orang itu


"Hmmmm" ucap ku, mengupil


Terlihat ilusi orang itu mulai memudar.


"Ahh... sepertinya sihir ku sudah mau habis" ucap orang itu, melihat ke arah tangan nya


Aku menerima katana yang dia berikan


"Akhirnya aku akan tenang di alam lain" ucap orang itu memandangi langit


"Aaaaa... Aku lupa. Ini nak hadiah lagi dari ku" ucap orang itu, mencabut mata kiri nya


Darah. Itulah yang keluar di bagian wajah nya. Dia terlihat memegang mata nya yang sudah di cabut, dan dia pun berjalan mendekati ku. Tangan nya menyentuh mata kiri ku, lalu seketika mata kiri ku berubah bewarna merah. Beberapa detik kemudian mata ku kembali bewarna hitam.


"Aree... Apa yang sebenarnya terjadi" ucap ku


"Terimakasih nak. Aku titipkan katana dan mata ku kepada mu" ucap orang itu, yang seketika menghilang dari hadapan ku


Sebelum orang itu menghilang, aku melihat dia tersenyum walaupun wajah nya seperti menangis mengeluarkan darah.


Pandangan kedua mata ku tiba tiba memudar, badan ku begitu panas rasa nya, dan kepala ku terasa begitu pusing.


"Aaa..." ucap ku


Aku jatuh pingsan seketika. Ketika ku sadar, aku sudah berada di kasur ku. Aku keluar dari kamar ku, lalu melihat ibu sedang membuat sarapan.


"Ehh... Akhirnya anak ibu sudah bangun. Yuk kita sarapan" ucap ibu ku


"Ibu, kenapa kau memakai pakaian yang sama 2 kali" ucap ku, melihat ke arah ibu


"2 kali ? tidak nak, ibu hanya memakai ini 1 kali di hari ini saja" ucap ibu kebingungan


"Iya bu. Kemarin ibu juga memakai ini" ucap ku


"Kemarin ibu memakai pakaian yang beda koo. Hahaha sepertinya kau sedang mengigau, lebih baik kamu cuci muka dulu sana" ucap ibu


Aku berada di kamar mandi dan melihat cermin.


Aku melihat mata kiri ku bewarna merah, tapi seketika berubah lagi menjadi hitam.


Setelah dari kamar mandi, Aku melihat sekeliling rumah dan terlihat ayah sedang duduk di meja makan.


Aku menghampiri nya, dan segera ikut gabung untuk sarapan di pagi hari.


"Sarapan dah siap" ucap ibu, menaruh beberapa piring


Kami pun sekeluarga menikmati makanan ini, tapi pikiran ku sedikit janggal. Aku mengingat kembali kejadian ini. Aku ingat dimana setelah selesai makan, ayah akan mengajak ku memancing di sore hari.


"Nak nanti ikut ayah yuk" ucap ayah ku


"Kemana ayah" jawab ku


"Tentu saja memancing" ucap ayah ku


Aku terkejut, karena percakapan ini, pakaian mereka yang pakai, sarapan yang ku makan. Ini seperti pernah ku alami.


"(Apa ini yang dinamakan dejavu ?)" ucap ku


"Nak, kenapa kau diam saja ?" tanya ayah ku, melihat ku

__ADS_1


"Oke ayah akan ku temani" jawab ku


Di sore harinya. Kami berdua pun pergi mancing. Lagi lagi kejadian ini pernah ku alami.


Kami berhasil menangkap ikan lumayan banyak, dan segera pulang ke rumah


"Sudah mau gelap, lebih baik kita pulang nak" ucap ayah ku


Kami berdua bergegas pulang.


"(Apa aku akan terpisah dari ayah, dan bertemu orang itu)" ucap ku, sedikit cemas karena kejadian ini terasa sama pada hari dimana aku akan bertemu orang itu.


Aneh. Itulah yang ku pikirkan. Kami berdua tidak terpisah, seharusnya kami berpisah dan aku bertemu dengan orang itu.


"(Apakah itu hanya lah mimpi ?") ucap ku


"(Tapi, ketika ku di berada kamar mandi, aku melihat mata ini") ucap ku


Aku kebingungan, sebenarnya apa yang terjadi.


"Hari ini kau sedikit aneh nak, apa yang terjadi ?" tanya ayah, melihat ku


Aku menceritakan apa yang terjadi kepada ayah ku. Menceritakan dimana aku bertemu orang itu, dan diberikan sebuah katana dan sebuah mata.


"Hahaha kau itu hanya mengigau saja" ucap ayah ku


Ayah tidak percaya dengan kata kata yang ku ucapkan.


Kami berdua pun sampai di depan rumah.


"Lihat kan nak, kita berdua tidak terpisah. Kau itu hanya mengigau saja" ucap ayah ku


"Sudah lah lupakan saja itu. lebih baik kamu istirahat saja, dan besok kau ikut ayah ke kota pusat, ayah akan memperkenalkan mu dengan seseorang disana" ucap ayah ku


"Kota pusat ?" tanya ku


"Iya nak, kita akan ke sana besok. Bertemu dengan teman lama ayah seorang bangsawan" jawab ayah ku


"Baik ayah, aku akan istirahat" ucap ku, memasuki rumah.


"Ini kentang goreng mu" ucap sensei Sinta, tiba tiba muncul dari belakang, dan menaruh piring di depan ku


"Ku lihat kau melamun tadi" ucap sensei Sinta, kepada ku yang sedang makan kentang goreng


"Hooh, aku tadi mengingat kejadian dimana seorang sensei di tipu murid nya" jawab ku


Sensei Sinta terlihat kesal saat ku mengingat kembali kejadian dimana dia di tipu oleh ku.


"Kurang ajar !!!" ucap sensei Sinta


"Sepertinya kau sudah baik baik saja yaa, suhu tubuh mu juga sudah normal kembali" ucap sensei Sinta, memegangi dahi ku


Ketika ku sedang asik makan, tiba tiba terdengar suara begitu kencang dari seseorang.


"Itu dia" Teriak Kahfi


Kahfi, Angga, dan Rian, mereka menghampiri ku


"Kau yaaa, kenapa begitu lama sii, aku sudah kehausan tau. Ahhh... Aku akan mati kehausan sepertinya" ucap Kahfi


"Maaf..." jawab ku


"Tak di sangka kau malah duduk berdua dengan sensei Sinta. Pantas saja mereka melihat ke arah sini" ucap Angga, melihat arah murid murid


"Ngomong ngomong Rian mana ?" tanya Angga


Kahfi bergegas kembali ke tempat sebelum nya, untuk menjemput Rian.


"Maaf... Aku salah jalan" ucap Rian


"Jadi mereka ini teman mu ?" tanya sensei Sinta, kepada ku


"Hooh" jawab ku


"Mana air minum ku Bagas ?" tanya Kahfi, kepada ku


"A.... Lupa" jawab ku


"Ahh... Kau ini yaa, aku sudah kehausan tau. Aku menunggu mu begitu lama, makanya aku menjemputmu dan mereka berdua malah ikut ikutan kemari" ucap Kahfi, melihat ke arah Angga dan Rian


"Dan ternyata kau malah asik makan disini" ucap Kahfi


"Maaf" ucap ku


"Mana sini uang nya" ucap Kahfi


Aku mencoba mengambil uang receh yang berada di kantong baju ku, tapi ternyata tidak ada apapun di kantong baju ku.


"A... Sepertinya aku menjatuhkan nya, saat menuju kemari seperti kuda" ucap ku


"Ya ampun Bagas...." Teriak Kahfi


Tong tong tong (Bunyi bel)


Kami berempat termasuk aku, bergegas menuju ruang latihan, karena sudah terdengar bel masuk.


"Sensei Sinta begitu baik yaa, membelikan kau minum" ucap Angga, kepada Kahfi


"Iya dia baik sekali" ucap ku, sambil meminum yang diberikan sensei Sinta


"Orang bodoh ini, malah ikut ikutan meminta dibelikan minuman" ucap Kahfi


"Ngomong ngomong dimana Rian ?" tanya ku


Kahfi bergegas lari kebelakang, untuk menjemput Rian.


"Maaf" ucap Rian


Akhirnya kami berempat pun tiba di ruangan latihan.

__ADS_1


__ADS_2