
"Argggghhh !!!"
Tombak tepat mengenai kaki kanan Goblin itu, membuat kaki nya terputus seketika dan terjatuh menyamping. Sedangkan Iblis yang berada di atasnya melompat dan mendarat ke tanah dengan kaki tidak menyentuh sedikit pun tanah.
"Mengapa dia tidak menepis Tombak yang ku lempar, padahal dia sudah mengetahui nya saat Tombak itu mengarah pada Goblin. Ini aneh."
Aku teringat saat melempar Tombak itu, Iblis yang berada di bahu Goblin itu melihat ke arah Tombak yang ku lempar, tapi mengapa dia tidak menghalaunya dan malah membiarkan Tombak ku mengenai Goblin tersebut.
Tiara yang melihat ku melempar Tombak itu, segera bangkit dan mencoba untuk berlari menghampiri ku.
"Terimakasih Bagas."
Tiara segera lari, sedangkan Iblis itu masih memandangi Goblin yang terjatuh.
"Ah, ah... Sepertinya darah ku kurang untuk menjadikan makhluk ini kuat."
Aku tidak dapat mendengar apa yang Iblis itu katakan kepada Goblin yang jatuh, karena jarak ku dengan dia begitu jauh.
Tubuh ku kembali normal, mata kiri ku kembali bewarna hitam, semuanya kembali normal, tapi hanya saja, suhu pada tubuh ku meningkat. Ini membuat ku terasa sakit dan begitu lemas, yang aku rasakan saat ini seperti waktu aku pingsan kemarin di ruangan latihan.
"Ah... Ah... Ah... Ini begitu melelahkan, apa mungkin karena aku belum makan."
Mata ku terus meredup, yang aku bisa lihat sekarang adalah Tiara sedang berlari menuju ke arah ku.
Aku tidak kuat menahan sakit ini pada tubuh ku, mata ku mulai beberapa kali memejam. Suhu tubuh ku begitu panas.
"(Aku akan pingsan, jika begini terus. Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika aku pingsan, apakah Tiara akan selamat dari Iblis itu, atau mungkin kami berdua terbunuh)"
Aku memikirkan resiko, seandainya saja aku pingsan, apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi ini benar benar tidak kuat aku menahan nya. Apakah aku akan pingsan ? Ahhh... Mengapa harus begini sii, mendapatkan kekuatan dari orang itu !!!
Tiara terus berlari menuju ketempat ku, walaupun begitu kelelahan tapi dia masih berjuang keras untuk mendekati ku.
Iblis itu mulai memandangi nya yang berlari menuju ku.
"Hehehe."
Aku bisa melihat Iblis itu tersenyum saat Tiara berlari.
"Ah... Ah... Ah... Aku harus menyelamatkan nya..."
Duuk
Aku terjatuh di atas tanah, pandangan ku mulai memudar, suhu tubuh ku meningkat drastis. Dan aku pingsan.
...**********...
Pandangan ku menjadi hitam seketika dan aku sedang berada di suatu tempat, berdiri dengan tegak. Seluruh ruangan ini bewarna hitam.
"Aku dimana ?"
Aku melihat sekeliling dan tidak menemukan seseorang pun.
Tuk
Tuk
Tuk
Aku berjalan tiap langkah di ruangan ini, seluruhnya bewarna hitam.
"Ini dimana sii !!!"
Langkah kaki ku terhenti karena tidak tau sebenarnya apa yang terjadi. Yang aku tau saat ini harus menyelamatkan Tiara yang sedang dalam bahaya.
"Aku harus segera menyelamatkan nya, kalau tidak... Seseorang akan menangis jika aku tidak bisa menyelamatkan nya."
Aku teringat kembali ketika Sri menangis meminta ku menyelamatkan Tiara.
"Selamatkan Tiara... Aku mohon"
Aku harus keluar dari sini sekarang. Kalau tidak...
Aku terus berlari sepanjang ruangan hitam ini.
Langkah ku terhenti dan aku mulai berteriak gak jelas.
"Aaaa..... Sebenarnya ini dimana sii !!!"
Aku menyadari sesuatu bahwa lantai yang aku pijak ini terasa kopong.
Tok
Tok
Tok
"Mosi mosi, ada orang tidak di dalam ?"
Aku terus mengetok nya, dan tidak terjadi apapun.
Karena tidak ada jawaban maka aku hancurkan lantai ini.
Bleeetak
Lantai nya hancur dan aku ikut terjatuh.
Aku menyadari bahwa sekarang aku berada di ruangan yang berbeda, tapi ini cuman berganti warna saja dari ruangan hitam ke ruangan putih.
"Ini dimana lagi ? Woyy !!!"
Tok
Tok
Tok
Lantai nya berbeda. Lantai ini sekarang tidak kopong lagi.
"Ahhh... Ini membuat ku kesal saja."
Ketika aku berlari tanpa arah, tiba tiba terdengar suara tawa.
"Hahahahaha."
"Siapa kau ?"
"Hahahahaha."
Aku memasang wajah datar.
"Hey... Apa dialog mu cuman tawa saja ?"
"Tidak. Tunggu sebentar yaa, aku akan segera menghampiri mu."
"Apa apaan ini !!!"
Aku menunggu orang itu yang menertawai ku.
Akhirnya dia menampakkan diri nya. Dia terbang seakan akan seperti malaikat yang sedang turun dari kahyangan.
Aku mengetahui orang itu adalah...
"A... Paman yang di kuburan itu"
Ternyata yang sedang ku tatap adalah orang yang memberikan ku mata ini.
Orang itu menghampiri ku, kedua mata nya menutup. Yaa karena mata kiri orang itu berada di diri ku sekarang, dan satu mata nya lagi sudah terluka.
"Hallo. Lama tidak bertemu,"
"Ternyata kau sudah dewasa yaa, sejak pertemuan kita terakhir."
"Ku pikir kau sudah mati."
"Aku memang sudah lama mati. Ini adalah Sihir Ilusi ku saja yang aku buat."
Aku memasang wajah datar.
"Ehh... Jadi begitu... Kalau begitu aku akan lari sekarang."
Aku berlari begitu kencang meninggalkan dia.
Wuaahh... Orang ini sudah berada di depan ku lagi. Apa apaan kecepatan nya itu.
__ADS_1
"Heyy kau, jangan kabur !!!"
"Aku takut terhadap hantu tau."
"Sudah ku bilang, aku ini bukan hantu ! Ini cuman ilusi saja dari sihir ku."
Orang ini terus saja mencoba meyakinkan ku, tapi tetap saja aku tidak mempercayai nya begitu saja.
"Bohong !"
"Terserah kau lah !"
"Kalau begitu aku akan kabur lagi."
Ketika ku mencoba berlari, dia mengentikan ku dengan menjentikkan jari nya.
"Areee... Aree... Are, re...."
Kaki ku tidak dapat bergerak untuk berlari.
"Akhirnya kau diam di tempat juga."
"Apa yang kau lakukan, woy !!!"
Aku mencoba menggerakkan kaki ku, tapi tetap tidak mampu untuk melangkah sedikit pun.
Orang itu duduk di hadapan ku, sedangkan aku tidak dapat melakukan apa pun.
"Baik aku akan memperkenalkan diri ku terlebih dahulu. Nama ku Akagami, aku adalah Pahlawan. Yaa orang orang memanggil ku seperti itu sii, hehehehe."
Ketika dia berbicara seperti itu, aku memasang wajah datar dan mengupil.
"Apa kau bodoh ?"
"Diam lah !!!"
Akagami melanjutkan pembicaraan nya.
"Kau tau, mengapa kau bisa berada di sini ?"
"Yaa karena aku disini."
"Hey bukan itu. Yang aku maksud, kenapa kau bisa berada dalam ilusi ku saat ini."
Aku mencoba berfikir apa yang sebenarnya dia maksud, namun pikirkan ku tidak dapat menjangkau nya.
"Karena kau memanggil ku."
"Ahh... Ini bocah bodoh nya kebangetan,"
"Bukan itu yang aku maksud !!!"
Akagami memarahi ku dengan nada tinggi.
"Jadi apa yang kau maksud, haa !!!"
Aku pun mencoba meniru nada tinggi nya.
Akagami menggelengkan kepalanya, melihat ke arah ku dengan tatapan pesimis. Dia memandangi ku seakan akan, aku bukan lah sebuah harapan. Ini sungguh kejam cara dia memandang ku.
"Ah, ah... Baiklah akan ku jelaskan untuk mu."
Akagami pasrah dan menerima kenyataan yang ada, karena sudah mengasih mata ini ke aku.
"Nah, begitu kan lebih baik."
Akagami menyilang kedua kaki nya, dan mulai berbicara, sedangkan kaki ku masih tidak dapat untuk bergerak.
"Alasan mu berada di sin....
"Hey bisa kah kau melepaskan sihir mu, pada kaki ku, aku tidak dapat melompat tau !"
Aku menghentikan pembicaraan Akagami, dan dia terlihat kesal.
Teekk
Akhirnya kaki ku dapat melangkah, dan aku memikirkan sesuatu.
Teekk
"Aree... Aree..."
Kaki ku tidak dapat bergerak lagi.
"Hey mengapa kau memasang sihir nya lagi !!!"
"Muka mu mencurigakan, lebih baik kau di situ saja. Dan diam lah !!! Aku mau berbicara !!!"
"Egghh..."
Aku hanya bisa terdiam ketika dia marah.
"Jadi alasa....
"Agghh... Aghh... Ini susah sekali untuk ku lepaskan, agh..."
Mustahil sekali aku kabur, kaki ku benar benar tidak dapat bergerak.
Tiba tiba Akagami menjentikkan jari nya.
Teeekk
"(Aree... Areee... Aree, re... Seluruh tubuh ku tidak dapat bergerak)"
"Nah lebih baik kau seperti itu"
Badan ku seperti patung yang di kasih nyawa. Bola mata ku masih dapat melihat sana sini. Kuping ku masih dapat mendengar. Tapi mulut dan badan ku tidak bisa melakukan apa pun.
Akagami terlihat senang saat membuat ku seperti patung, dan dia melanjutkan bicara nya.
"Jadi alasan mu ke....
Aku menggerakkan tubuh, yang mengakibatkan sesuatu bunyi di lantai.
Nyiitt
Nyitt
Nyitt
"(Ini asik juga)"
Aku terus bergerak walaupun sebenarnya aku sudah jadi patung.
Akagami terlihat begitu kesal.
"Aaaa..... Aku tidak tahan dengan orang ini !!!! Aku menyesal memberikan mata dan katana ku kepada orang ini !!! Aaa.... Mengapa aku harus bertemu bocah yang menyebalkan ini siii !!!! Aku ingin segera tenang di alam sana, woyyy !!!"
Akagami mulai teriak teriak gak jelas.
Nyiit
Nyiit
Nyiit
Aku terus bergerak dan menimbulkan bunyi pada lantai.
Teek
"Waah.. Aku bisa bergerak."
"Terserah kau lah, mau berbuat apa."
Aku melihat wajah nya begitu sedih di balik wajah kesal nya Akagami.
Aku mencoba duduk dan menghadap ke arah Akagami.
"Tadi itu menyenangkan sekali, kapan kapan jadiin aku patung lagi yaa,"
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan kepada ku ?"
Aku mencoba mendengarkan Akagami.
__ADS_1
"Nah, akhirnya kau tenang"
Akagami mulai duduk berhadapan dengan ku.
"Jadi aku ingin...
"Maaf."
Aku mengangkat diri ku sendiri menggunakan kedua tangan ku, untuk mencari posisi tempat duduk yang nyaman.
"Nah jadi...
"Ah, di sini juga kurang nyaman."
Aku berpindah lagi, mengangkat tubuh ku menggunakan kedua tangan ku, untuk berpindah posisi tempat duduk.
"Nah ja...
"Kurang enak juga di sini,"
"Aa... Di sini juga kurang enak"
Aku terus mencari tempat duduk yang enak.
"Nah di sini enak"
Aku kembali ketempat semula saat pertama kali duduk.
"(Bukan nya itu tempat duduk yang sama ?)"
Akagami melihat ku, dengan wajah datar.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan ?"
"Sudah berapa kali kau pingsan karena mata itu ?"
"Berapa yaa.. Hmm..."
Saat ku berada di ruangan latihan, dan saat ini. Oke 2 kali.
"2 Kali."
Aku menjawab nya sesuai dengan apa yang ku alami.
Akagami mulai serius memandangi ku, walaupun tidak memiliki mata.
"Nah itulah mengapa kau bisa berada di sini."
"Jadi ?"
"Waktu pertama kali aku menggunakan mata itu, aku juga pingsan, seperti yang kau alami. Tapi, aku menyadari sesuatu bahwa sebentar ada kemungkinan kau tidak akan pingsan saat menggunakan mata itu"
"Apa itu ?"
Aku penasaran sebenarnya mengapa mata ini bisa membuat seseorang begitu kesakitan saat menggunakan nya, dan bahkan bisa membuat pingsan seketika. Jangan jangan, mata ini dapat menyebabkan kematian, seperti Akagami yang menderita karena suatu penyakit. Mungkin saja penyakit itu akibat mata ini.
Saat ku mencoba memikirkan itu, Akagami melambaikan tangan nya kepada ku.
"Heyy, mengapa kau melamun."
"A... Maaf."
"Cobalah kau keluar Katana mu, yang aku berikan waktu itu"
Aku menuruni apa yang Akagami minta, dan mengeluarkan Katana bersarung merah.
Aku saat ini memegangi Katana yang dia minta untuk di keluarkan.
"Jadi apa...
Mata kiri ku tiba tiba merespon Katana yang aku pegang. mata ini terus berdetak layaknya jantung. Mata kiri ku berubah warna menjadi merah.
Akagami yang melihat ku, langsung berbicara.
"Gunakan lah Katana itu, maka tubuh mu tidak akan terasa sakit, kau juga tidak akan pingsan saat menggunakan mata itu.
"Kenapa bisa ?"
"Katana itu bisa menstabilkan mata mu, namun sayang, kekuatan mata itu akan menurun drastis, kau tidak akan mampu melihat masa depan begitu lama, hanya 5 detik saja yang dapat kau lihat. Tapi lebih baik seperti itu, ketimbang kau akan jatuh sakit dan pingsan."
Aku terheran heran mengapa Katana ini mampu membuat mata yang begitu kuat, menjadi sangat tenang.
"Sebenarnya ini Katana apa ?"
"Entah lah, saat aku berada di sebuah goa bersama dengan sahabat ku. Aku menemukan nya di sana, sedang tertancap pada sebuah batu."
Wajah Akagami terlihat begitu lesuh saat membicarakan nya.
"Jadi begitu... Kalau mata ini ?"
"Mata itu aku lah pemilik nya. Saat aku lahir mata ku sudah seperti itu, dan aku di berikan sebuah penyakit yang tidak bisa di obati."
"Ehhh.... Kasihan sekali yaa, Paman."
"Hehehehe, pokoknya kau harus menggunakan Katana itu saat bertempur, jika tidak ingin mata mu memberikan sebuah penyakit."
Aku kaget ketika mendengar nya.
"Ehhhh....."
"Saat nya kau kembali ke dunia mu. Ada seorang wanita sedang memanggil nama mu dari tadi, seperti dalam bahaya, lebih baik kau selamatkan lah,"
"Selamat tinggal."
Akagami menghilangkan seketika, tanpa memberitahu bagaimana cara keluar dari sini.
"Mengapa orang orang suka meninggalkan ku begitu saja siii !!!"
Aku bingung harus berbuat apa, karena tidak dapat keluar dari ruangan ini.
"Bagas, bangun lah !"
"Please bangun lah !"
"Bagas bangun !!!"
Aku mendengar suara Tiara, tapi tidak tau berada dimana suara itu.
...**********...
Aku tiba tiba terbangun dari pingsan ku.
"Ini empuk sekali."
Tiara sedang merangkul ku dengan kedua paha nya.
"Aa... Tiara, selamat sore."
Aku melihat wajah Tiara menangis mengeluarkan air mata
"Syukurlah kau sudah bangun."
Air mata Tiara terus mengalir ke muka ku.
Aku mencoba menghapus air mata nya, dengan tangan ku dan menyentuh wajah Tiara yang begitu lembut.
"Jangan lah menangis, aku baik baik saja koo."
"Tapi tadi tubuh mu begitu panas."
"A... Tadi aku... Tidak, lupakan saja."
Gerimis mulai turun, di sertai langkah kaki dari Goblin itu yang sudah bangkit dan mendekati kami.
...**********...
Di suatu tempat, berjarak 1,5 km dari sawah.
"Hehehe, kau anak yang baik yaa, mau mengantar kan ku ke sini yang sudah tua ini"
"Sebenarnya aku sudah berusia 50 Tahun, Nek."
Terlihat Sony sedang menggendong Nenek Nenek ke rumah yang di tuju.
__ADS_1