
"(Kenapa aku yang di posisi ini)" ucap ku
Beberapa menit sebelumnya.
Aku Kahfi, melihat arah sensei yang sedang berbicara.
"Jadi siapa yang akan maju duluan ?" ucap sensei Herman
Murid murid berbisik satu sama lain, satu pun orang tidak ada yang maju.
"Hmmm... Kalo gitu sensei yang akan menunjuk saja yaa." ucap sensei Herman
"Baik sensei." jawab murid murid
Sensei Herman terlihat memandangi seseorang.
"Gimana kalau kau saja yang maju !" ucap sensei Herman
Sensei Herman menunjuk satu orang yang berada di sudut, dia terlihat menyendiri dari keramaian, dan cuek terhadap yang lain.
"Orang itu bukan nya"
"Iya betul orang itu, sesuai dengan rumor yang beredar"
"Tak ku sangka, aku sekelas dengan pembunuh"
Beberapa murid terlihat berbisik satu sama lain, mereka terlihat membenci orang itu. Aku pun sebenarnya sudah tau rumor tentang orang itu.
Orang itu bernama Adit, di rumor kan telah membunuh salah satu keluarga bangsawan ketika dia masih kecil.
"Ini adalah rumor yang aneh, masa iya sii ada anak kecil yang mampu membunuh bangsawan" ucap ku
"Bener kan, masa iya ada anak kecil yang mampu membunuh bangsawan" jawab Angga
Adit pun berdiri dan bergegas menuju tempat sensei berada.
"Langkah kaki nya" ucap Rian
"Ada apa Rian ?" tanya ku
"Langkah kaki nya begitu ringan walaupun memiliki beban yang berat" jawab Rian
"Jadi siapa yang akan maju melawan orang ini ?" Teriak sensei Herman
"Aku tidak mau mati sekarang"
"Hooh, aku juga tidak mau melawan orang itu"
"Ini bahaya looh, lebih baik kita di sini saja"
Lagi lagi murid murid berbisik satu sama lain.
"(Hahaha pas sekali, jika tidak ada yang mau maju" ucap ku
Aku melambaikan tangan ke arah sensei.
"(Kau rasakan itu Bagas)" ucap ku
"Iya kau yang disana" ucap sensei Herman
"Hey Bagas, kata nya kau ingin bertarung lagi. Gimana kalo lawan orang itu" ucap ku
"Hey Bagas, kau mendengarkan tida...." ucap ku melihat kebelakang, tidak ada sosok Bagas
"(Areeeee..... Kemana perginya itu bocah ?)" ucap ku
"Tadi Bagas keluar ruangan ini" ucap Rian menghadap ketembok
"Hay kau yang disana, silahkan maju" teriak sensei Herman
"(Kenapa jadi harus aku yang maju)"
"(Bagas sialan !!!)" ucap ku
Aku mau tidak mau harus maju, karena kesalahanku sendiri.
"Lihat lihat paman itu maju"
"Abis lah riwayat mu"
Murid murid melihat ke arah ku, sembari jalan menuju arah sensei Herman.
"(Sialan, pandangan mereka terhadap orang itu sungguh jelek sekali. Aku jadi sedikit kasihan dengan orang itu)" ucap ku
"Seeeeemangat Kahfi" support Aziz kepada ku
"Terimakasih Aziz, kau emang orang yang baik yaa" ucap ku kepada Aziz
Akhirnya aku berada tepat di hadapan Adit, kami bertatapan satu sama lain.
"(Duh, ko gemetaran yaa)" ucap ku
"Kali berdua sudah siap ?" ucap sensei Herman
Adit terlihat memegangi dua belati nya, dan aku bersiap siaga dengan tombak ku.
"Oke sepertinya kalian sudah siap, silahkan dimulai" ucap sensei Herman mundur kebelakang
Seketika Keberadaan Adit yang di depan ku, menghilang seketika.
"Cepat sekali menghilang nya, (Duh gimana ni, seharusnya Bagas yang di posisi ini, hukan aku)" ucap ku
"Sepertinya Kahfi akan kesusahan melawan orang itu" ucap Rian menghadap tembok
"Hoo, Adit itu lincah sejak kecil. Langkah kaki nya tidak berbunyi, bahkan untuk mengetahui keberadaan dia pun begitu susah" jawab Angga sambil menonton ku
"Ngomong ngomong, kau itu aneh yaa, mengapa kau menghadap tembok sedang pertandingan nya berada di depan" ucap Angga
"A.... Maaf" ucap Rian
"Orang aneh, tapi kau kuat. Lebih baik kita tonton pertandingan ini" ucap Angga
Pertandingan pun berlangsung. Tidak ada satu pun serangan yang terjadi, karena aku kebingungan dimana dia berada.
"(Duh bahaya kalo terus begini, aku harus berbuat sesuatu agar dia menampakkan diri)" ucap ku
Seketika aku mengingat kembali perkataan Bagas. "Tombak itu seharusnya di lempar kan".
"(Tidak... Tidak... Mengapa di saat seperti ini aku mengingat perkataan orang bodoh itu)" ucap ku
"(Pokoknya aku harus cari cara agar dia menampakkan diri nya)" ucap ku
Aku terus berfikir keras, agar gimana caranya membuat dia terlihat. Aku terus bersiaga memegang tombak ku, antisipasi jika dia menyerang ku.
"Ah... Aku akan mencoba teknik ini" ucap ku
Aku menarik nafas dalam dalam, dan berkonsentrasi dengan penuh
"Teknik tombak : menyerang membabi buta"
Aku menyerang bagian depan belakang kiri dan kanan, yaa bisa di katakan ini merupakan serangan asal asal saja.
"Apa yang dia lakukan ?" ucap Angga
"Dia terlihat seperti orang bodoh"
"Sepertinya dia sudah putus asa"
"Dia panik bung"
Murid murid terlihat mengobrol dengan yang lain, ketika ku gunakan serangan ku.
"(Duh memalukan sekali, tapi aku harus seperti ini agar orang itu tidak mendekati ku)" ucap ku
Akhirnya orang itu menampakkan diri nya di hadapan ku. Terlihat dia sedikit terluka pada bagian lengan tangan kiri nya.
"Apa yang kau lakukan woyy. Mengapa kau menyerang asal saja" Teriak Adit
"Salah kau sendiri menghilang begitu saja" teriak ku
__ADS_1
"(Sepertinya aku berhasil mengenai nya, huffhh cape juga menyerang sembarangan tempat)" ucap ku
"Kalo gitu aku akan serius melawan mu" ucap Adit
Adit memegangi kedua belati nya dengan erat, dia terlihat menarik nafas dalam dalam.
"Teknik dual belati : ilusi yang tersakiti"
Lagi dan lagi dia menghilang dari hadapan ku.
"Mengapa kau menghilang lagi, sialan !!!" teriak ku
Tseeettt (bunyi baju robek)
Kaki ku terkena sesuatu, aku merasakan sakit yang begitu sakit, darah pada luka ku tak berhenti dan terus mengalir.
"(Sial, orang ini begitu kuat. Sepertinya aku tidak mampu melawan nya)" ucap ku menahan sakit pada betis kaki kanan ku
Tseeettt (bunyi baju robek)
Aku terkena serangan lagi dari dia, sekarang tubuh ku yang terkena serangan nya.
Aku terjatuh, sakit ini begitu sakit, aku tidak kuat membalas serangan nya, bahkan untuk masang kuda kuda yang kuat saja aku tidak mampu.
Tseeett (bunyi baju robek)
Kali ini kedua lengan ku yang terkena. Darah terus mengalir.
Gemetaran, keringetan, ketakutan, menahan sakit. Itu lah yang sedang ku alami.
Beberapa menit kemudian.
"Hmmm mengapa mereka berdua tidak bergerak satu sama lain" ucap salah satu siswa
"Hey lihat, orang itu berkeringat begitu banyak, dan membasahi bajunya" ucap seorang siswa menunjuk ke arah ku.
"Bahaya, sepertinya Kahfi sudah masuk kedalam ilusinya Adit" ucap Angga kepada Rian
"Wooyyy Kahfi, itu hanyalah sebuah ilusi !!!" Teriak Rian
Aku sepertinya mendengarkan suara, tapi itu suara siapa yang memanggil ku.
Aku terus menahan kesakitan, tubuh ku tak mampu berdiri dengan benar.
"(Bagaimana ini, dan mengapa mereka diam saja)" ucap ku melihat arah murid murid dan sensei Herman.
Hueeeekkk (suara muntah)
Aku memuntahkan darah begitu banyak. Serangan itu terus saja menyerang ku tanpa ampun. Lantai di penuhi darah.
Di dalam kelas.
"Amnyam nyam nyam, eghhhhhh.... Kenyang nyaa" ucap Bagas
"A...... Aku lupa membawa botol minuman. Ceroboh nya aku" ucap Bagas berdiri dan melihat tas Kahfi
"Wah lucky, Kafur bagi minuman mu sedikit yaaa" ucap Bagas mengambil botol
Di ruangan latihan.
"Hey sensei lebih baik ku sudahi saja" ucap Adit kepada sensei
"Tidak... Tunggu sebentar" jawab sensei Herman
"Wooyyy, Kahfi sadar lah, itu hanya ilusi. Jangan Kalah dari nya !!!" Teriak Rian
"(Lagi lagi aku mendengar suara, tapi aku tidak tau itu suara siapa. Dari nada suara itu seperti Rian)" ucap ku
Aku terkapar di lantai, tidak sanggup untuk berdiri. Tubuh ku di penuhi darah, luka dimana mana, dan orang ini tidak mau berhenti menyerang ku.
"(Apa ku akan mati ?)" ucap ku
"(Tidak... Tidak.... Tidak.... Ini kan cuman latihan saja)" ucap ku
"(Tunggu, orang ini kan yang membunuh bangsawan, bisa saja dia membunuh ku juga)" ucap ku
"Aku tidak boleh mati disini. Masih ada ibu dan adik adik ku, yang membutuhkan ku?" ucap ku mencoba untuk bangkit
"Mengapa di saat seperti ini malah dia yang muncul di pikiran ku" ucap ku
"Baik lah akan ku coba melempar sesuai dengan apa yang kau bilang, Bagas" ucap ku yang berhasil berdiri.
Aku memejamkan mata, menarik nafas dalam dalam, dan berkonsentrasi. Tidak perduli serangan menghampiri ku.
Terlihat gelap pada mata ku, tapi ada satu titik dimana itu bewarna putih.
"Ketemu" ucap ku
"Teknik Tombak : Melemparkan tombak"
Aku memegang bagian tengah tombak itu dengan erat, dan segera melemparkan nya begitu kuat ke arah titik itu berada.
"Ahhhhhhh.... Hufhhh, berhasil" ucap ku kelelahan
Aku berhasil keluar dari ilus ini, dan langsung melihat tubuh ku yang baik baik saja. Tapi hanya saja stamina ku berkurang banyak akibat ilusi itu.
"(Jadi ini hanyalah ilusi ?, Syukurlah kalo begitu, ku pikir akan mati)" ucap ku kelelahan
"Eh... Baru kali ini aku melihat orang yang berhasil keluar dari ilusi ku" ucap Adit
"Kau hebat Kahfi" Teriak Rian dari kejauhan
Untuk pertama kalinya aku melihat Rian begitu cemas, dia terus memandangi ku.
"Terimakasih Rian, (dan Bagas, karena sudah menyarankan melempar tombak)" ucap ku
"Gimana kalo serangan selanjutnya ?" ucap Adit memegangi kedua belati nya
"Tidak... Tidak.... Tidak..., Aku menyerah saja sensei" jawab ku
"(Terlalu berbahaya jika ku teruskan pertarungan, ilusi itu saja sudah menghabiskan stamina ku)" ucap ku
Sensei Herman menghampiri ku
"Jadi kau menyerah ?" tanya sensei Herman
"Iya sensei" jawab ku
"Yossh pemenang nya telah di putuskan, yaitu Adit... Berikan tepuk tangan" Teriak sensei Herman
Hanya Angga lah yang bertepuk tanga, sedangkan yang lain masih saja memandang Adit dengan kebencian.
"Silahkan kalian berdua balik ke tempat masing masing" ucap sensei Herman
"(Sepertinya untuk generasi ini sangat hebat, ya kan kepala sekolah)" ucap sensei Herman melihat ke atas
Aku kelelahan, untuk berjalan ketempat ku sangat kesusahan. Namun tiba tiba seseorang datang mengendong ku. orang itu tidak lain adalah Aziz.
"Aaaaayo sini naaaaik ke puuuunggung ku" ucap Aziz
"Terimakasih Aziz, kau beneran orang baik" jawab ku.
Aku di gendong oleh Aziz untuk bail ketempat ku.
Sesampainya di sana, Rian memandangi dengan kecemasan.
"Apakah kau baik baik saja Kahfi ?" ucap Rian
"Aku baik baik saja, terimakasih Rian sudah mengkhawatirkan diriku" jawab ku
"Kau hebat sekali bisa keluar dari ilusi itu, bagaimana caranya ?" tanya Angga
"Aku pikirkan akan mati, ilusi itu benar benar terasy menyakitkan sekali. Aku melihat titik putih dan segera melemparkan tombak ku, atas saran dari Bagas" jawab ku
"Jadi begitu... Ngomong ngomong soal Bagas, dimana dia ?" ucap Angga melihat sekeliling.
"Aku juga tidak tau dia sedang berada dimana" jawab ku
Di dalam kelas
__ADS_1
Terlihat seseorang sedang membungkuk kepalanya dimeja
"Ngooookkk... Ngoooookkk" ucap Bagas.
Di suatu tempat perjalanan untuk menuju ke sekolah.
Aku Tiara, sedang berjalan bersama party ku berjumlah 5 orang termasuk diriku. 3 orang wanita dan 1 orang pria.
"Heeey, besok kita akan mencari informasi dimana ?" ucap Sri (17) (wanita)
"Gimana kalau di desa ketenangan ?" ucap Guntur (43) (Pria)
"Tidak sensei, walaupun sebenarnya itu tempat yang nyaman. Bagaimana jika di hutan keabadian ?" ucap Dwi (21) (wanita)
"Tidak. Jelas di tolak. Tempat itu sangat lah menakutkan. Bagaimana jika kita tanya Tiara saja" ucap Amelia (17) (wanita)
"(Jadi orang itu bernama Bagas yaa)" ucap ku
"Tiara... Kau dengar tidak ?" ucap Dwi
"Ehh... Tiara sepertinya memikirkan seseorang. Lihat muka nya memerah" ucap Amelia
"Hey Tiara kau mendengarkan tidak ?" ucap sensei Guntur
"Ah... Maaf aku sedikit melamun sensei. jadi apa yang kalian bicarakan ? ucap ku
"Besok kita mau mencari informasi dimana ?" Tanya Sri
"Gimana kalau kita cari di desa semanggi" jawab ku
"Tapi kan tempat itu sudah hancur" ucap Amelia
"Tidak... Kita masih bisa melacak melalui indra kita, siapa tau kita akan mendapatkan sesuatu disana" ucap ku
"Baik lah kalo begitu, kita putuskan untuk mencari informasi di desa semanggi" ucap sensei Guntur
Beberapa jam kemudian.
Di ruang latihan
"Jadi semuanya sudah kebagian untuk pelatihan ini kan ?" ucap sensei Herman
"Sudah sensei" jawab murid murid
"Baiklah, kalo begitu kita istirahat dulu. Kalian semua balik ke kelas. setelah istirahat usai, kalian langsung datang lah kemari" ucap sensei Herman
"Baik sensei" ucap murid murid.
Murid murid pun berjalan keluar dari ruangan ini, mereka semua bergegas untuk balik ke kelas mereka.
Di dalam kelas.
Aku bagas, masih terlelap dalam tidur.
"Aaaaa... Itu Bagas" ucap Kahfi menunjuk ke arah ku yang sedang tidur.
"Tak ku sangka dia malah asik tidur disini, bocah sialan !!!" ucap Angga
Kahfi, Rian, dan Angga menuju ke arah ku yang sedang tidur.
"Aku kelelahan, aku butuh minum" ucap Kahfi mengambil tas nya
"Wuuuuuaaahhhhhhh" teriak Kahfi
"Ada apa Kahfi ?" tanya Angga
"Botol minum ku, tidak ada isi nya" jawab Kahfi menunjukan botol minuman nya
"Apakah tadi pagi kau meminum nya ?" tanya Angga
"Tidak sama sekali" jawab Kahfi
"Bagaimana jika kau lupa mengisi nya ?" tanya Angga
"Mustahil... Aku selalu mengisi tiap malam" jawab ku
"Ini Kahfi minum saja punya ku" ucap Rian mengasih botol nya kepada Angga
"Hey Rian aku di sini. Ngomong ngomong terimakasih Rian" ucap Kahfi mengambil botol minuman Rian
"Huaaaahhhh..." ucap ku terbangun akibat teriakan Kahfi
"Selamat pagi, hehehehe" ucap ku tersenyum ke mereka
"Pagi ? Woy ini dah siang" ucap Angga
"Berarti selamat siang semua nya, hehehehe" ucap ku tersenyum ke mereka
"Hey Kahfi, bagi aku minum yang kau pegang itu" ucap ku
"Minta sama Rian, ini punya Rian" jawab Kahfi
"Hey Rian, aku minta yaa" ucap ku
"Iyaa, boleh" jawab Rian
"Terimakasih Rian" ucap ku mengambil botol yang di pegang Kahfi
Bleebuk bleebuk bleeebuk (suara tegukan air)
"Aaaahhh. Segarnya" ucap ku
"Ehhhh.... Mengapa kau habiskan, aku saja baru minum sedikit, dan pula Rian belum meminum nya" ucap Kahfi
"Segarnya, ni Rian botol mu" ucap ku mengembalikan botol Rian
"Aku masih kehausan, seandainya air minum ku masih ada isinya" ucap Kahfi melihat botol nya
"Itu aku yang menghabiskan" ucap ku kepada Kahfi
"Bocah sialan !!!, jadi kau yang menghabiskan minuman ku !!!" ucap Kahfi
"Hooh" jawab ku
"Hey kau tau, aku ini sangat kehausan, bahkan untuk memarahi mu saja cukup aku tidak punya tenaga" ucap Kahfi kepada ku
"A..... Kalo begitu maaf" jawab ku
"Kalo begitu aku akan ke kantin, membelikan kau minum" ucap ku sambil menunjuk tangan ku ke Kahfi
"Silahkan sana, akhirnya kau punya inisiatif sendiri, bagus kalo gitu" ucap Kahfi
"Mengapa kau belum jalan juga ?" ucap Kahfi melihat tangan ku
"Bagi duit" ucap ku
"Aku mana punya uang" ucap Kahfi
"Aku juga tidak punya duit" ucap ku
"Sudah ku duga, kalian tidak punya uang" ucap Angga
"Apakah kau punya haaa ?" ucap ku kepada Angga
"Hehehe, aku juga tidak memiliki nya" ucap Angga
"Kau bangsawan tapi di memiliki duit" ucap ku
"Suka suka aku dong" jawab Angga
"Ni pakai uang ku saja" ucap Rian mengambil uang nya di sebuah kantong bahan, yang di simpan dalam tas
Rian pun mengasih ku sebuah uang logam bewarna coklat berjumlah 10 buah
"Hey Rian itu terlalu banyak, harga minum saja cuman 1 bronze. Dan kau malah mengasih dia 10 bronze" ucap Kahfi
"Tidak masalah" ucap Rian
"Kalo gitu aku keluar dulu, bye bye" ucap ku
__ADS_1
Hey kau segera lah kembali, aku begitu haus" Teriak Kahfi
Aku bergegas keluar kelas ini, namu seketika sampai pintu, aku berhenti dan melihat arah kanan ku. Aku melihat Adit sedang duduk di bangku nya. Kami berdua bertatap satu sama lain. Namun tiba tiba....