
"Masuk lah !" ucap Adit, membukakan pintu
"Ah.. Ah.. Ah.. Tak ku sangka dia begitu berat" ucap Angga, menggendong Bagas
"Yang sabar yaa" ucap ku, mengelus bahu Angga
"Seharusnya yang kalah itu kau" ucap Angga
"Hehehehe, sayang sekali aku mengeluarkan batu" jawab ku
"Ah.... Aku menyesel beradu suit dengan mu, Kahfi" ucap Angga
"Ayuk kita masuk" ucap Shiva, bergegas masuk
Kami pun masuk ke dalam rumah Adit. Terasa begitu sempit di rumah ini. Hanya ada 2 kamar untuk tidur, Angga menaruh Bagas di salah satu kamar tersebut. Sedangkan kami berempat duduk di lantai.
"Apakah tidak ada orang disini ?" tanya Shiva, kepada Adit
"Ibu ku sedang berdagang, sebentar lagi juga dia akan pulang" jawab Adit
"Ehhh... Jadi hanya Ibu mu dan kau saja yang tinggal disini ?" tanya ku
"Iyaa... Hanya kami berdua saja" jawab Adit
"Kau tau, aku begitu malu saat mengendong dia" ucap Angga, datang menghampiri kami
"Hahahaha, kau rasakan saja itu" jawab ku
"Tapi gak papa, mereka melihat ku seperti orang bijaksana, hahahaha" ucap Angga, tertawa begitu kencang
"Jika Bagas tidak bangun, kau lah yang akan mengendong nya pulang" ucap Shiva, menghentikan tawa nya Angga
"Tidak ! Aku tidak mau !!!" jawab Angga
"Sepertinya ini barang antik" ucap Rian, memegangi sebuah vas
"Sejak kapan kau berada di sana" ucap ku, melihat Rian
"Itu peninggalan Ayah ku dari Bangsawan itu" jawab Adit, berdiri
Adit pun pergi. Sepertinya dia mengambil sesuatu di balik lemari.
Adit membawakan sebuah botol bewarna hijau, dan beberapa gelas.
"Wahhh... Ini kan minuman mahal" ucap Angga, melihat botol minuman tersebut
"Ini juga peninggalan Ayah ku dari Bangsawan itu" ucap Adit, menaruh botol dan gelas nya di lantai
"Tak ku sangka, ini kan minuman kelas atas, hanya Bangsawan lah yang memiliki nya" ucap ku
"Kalau begitu biar aku yang membuka Intisari ini" ucap Angga, mengambil botol minuman tersebut
"Heyy... Kau kan masih di bawah umur" ucap ku
"Aku kan Bangsawan, jadi tidak pengaruh untuk meminum ini" jawab Angga
"Peraturan macam apa itu" ucap ku
Angga membuka tutup botol tersebut, Rian pun masih berfokus dengan beberapa barang antik milik Adit.
"Hey Rian, kau ingin minum tidak" ucap Angga
"Maaf, aku tidak minum alkohol" jawab Rian
Angga menuangkan minuman tersebut ke dalam gelas.
"Aku yang akan meminumnya duluan" ucap Angga
Tiba tiba Shiva mengambil gelas yang di pegang Angga, dan langsung meminum nya.
"Hey Shiva kau menyelak" ucap Angga
Satu gelas minuman di habiskan oleh Shiva.
"Ternyata kau kuat untuk minum yaa" ucap ku
"Wuuahh... Ini enak sekali, rasa nya begitu tajam" ucap Shiva
Angga menuangkan kembali minuman ke dalam gelas dan segera meminum.
"Wuuaahhh... Enak nya... Eughh..." ucap Angga
"(Apa apaan kedua orang Bangsawan ini)" ucap ku, melihat mereka berdua yang wajah nya sudah memerah
"Saat nya kau minum Paman" ucap Angga, memberikan gelas nya kepada ku
"Terimakasih sudah di tuangkan. Hey aku bukan Paman" jawab ku, mengambil gelas tersebut
"Hehehehe" tawa Shiva, dengan wajah merah nya
Aku meminum nya dengan perlahan lahan, karena rasa ini begitu tajam.
Di dalam kamar.
"Huuuahhh... Tidur yang nyenyak sekali" ucap Bagas, bangkit dari tidurnya
"Ngomong Ngomong aku dimana ?" ucap Bagas, melihat sekeliling kamar
"Ahhh.... Aku haus sekali, lebih baik cari minum dahulu, abis itu mencari tahu ini dimana" ucap Bagas, berdiri dan bergegas keluar kamar
Ketika Angga memberikan gelas ke Adit. Adit menolak nya, karena dia tahu usia nya belum mencukupi untuk meminum nya.
"Ayo lah minum ini Adit.... Eughh..." ucap Angga, memberikan gelas nya kepada Adit
"Aku tidak meminum nya" jawab Adit, menolak dengan sopan
"Hey, kalian berdua sudah mabuk" ucap ku, melihat Angga dan Shiva
"Aku tidak koo" jawab Shiva, dengan tenang
Tiba tiba seseorang yang tidak diinginkan malah muncul di hadapan kami.
"Ahh... Pas sekali, aku haus" ucap Bagas, mengambil gelas yang di pegang Angga
"Bleebek... Bleebek... Bleebek.... Ahhh...." Bagas meminum nya
"Eughhh... Ini rasa nya aneh" ucap Bagas, menjatuhkan gelas tersebut
"Ahh... Dia meminumnya" ucap ku
"Hehehehe" tawa Shiva
"Good" ucap Angga
"Aree.... Kepala ku pusing sekali" ucap Bagas, memegangi kepala nya
Duukk (Suara benturan)
Bagas tiba tiba terjatuh ke lantai. Adit dengan sigap nya memegangi Bagas yang terjatuh.
"Hehehehe" tawa Shiva
"Good" ucap Angga
"(Apa apaan kedua orang Bangsawan ini)" ucap ku, melihat mereka
"Heyy... Mata ku terasa berat sekali eughh...." ucap Bagas, memejamkan mata nya
"Sepertinya Bagas tidak kuat untuk minum, lebih baik aku menaruh nya kembali ke kamar" ucap Adit, mengendong Bagas menuju kamar nya
"A....." ucap Rian, menyenggol vas
Teeenggg (Bunyi pecahan)
Vas itu pecah di lantai, Rian lah yang menjatuhkan nya. Kami semua melihat ke arah Rian, termasuk Adit yang sedang merangkul Bagas.
"Hey kau kan sedang tidak mabuk" teriak ku
__ADS_1
"Hehehehe" tawa Shiva, melihat ke arah Rian
"Good" ucap Angga, menunjuk jempol nya
"Maaf..." jawab Rian
Pukul 18.47
Rian duduk terdiam sejak menjatuhkan vas tersebut, Adit lah yang membersihkan bekas pecahan vas tersebut, Bagas kembali tidur di kamar nya Adit, sedangkan mereka berdua masih cengar cengir saja.
"Sudah jangan di pikiran" ucap Adit, kepada Rian
"Maaf" jawab Rian, melihat ke arah lantai
"Kalau kau ingin di maafkan ugghhh.... Kau harus menghabiskan ini ughhh..." ucap Angga, memberikan gelas kepada Rian
"Baik lah" jawab Rian, mengambil gelas tersebut
"Jangan !!!" ucap ku
"Jangan dengar kan omongan dia" ucap Adit
Ketika Rian mencoba meminum nya, tiba tiba seseorang wanita datang dari arah pintu.
"Waahh.... Ramai sekali" ucap Ibu nya Adit, memasuki rumah
"Oh Ibu sudah pulang" ucap Adit, bergegas menghampiri Ibu nya
Ibu nya Adit terlihat begitu sedih ketika melihat ke arah kami, air mata nya menetes perlahan lahan di sekujur wajah nya.
"Mengapa Ibu menangis ?" tanya Adit, mengambil barang bawaan Ibu nya
"Syukurlah... Kau sekarang memiliki teman sekarang Nak" jawab Ibu nya Adit, memeluk erat Adit
Aku pun ikut menetes air mata, karena melihat mereka berdua begitu bahagia nya.
"Biar aku yang membawakan nya" ucap Shiva, menghampiri mereka berdua dan mengambil barang bawaan yang di pegang Adit
Shiva menaruh nya di dapur, dan mereka berdua masih berpelukan satu sama lain.
"Ini bukan waktu nya bersedih. Aku harus menyiapkan makan malam untuk Teman Teman Anak ku" ucap Ibu nya Adit, melepaskan pelukan dan bergegas pergi ke dapur
Ibu nya Adit bergegas pergi menuju dapur, dan mengusap air mata nya menggunakan tangan.
"Ibu jangan pergi ke sana" ucap Adit, menunjuk jari nya ke arah kamar
"Kenapa ? Jangan Jangan ?" jawab Ibu nya Adit, mencurigai nya
"Ibu tidak menyangka, selain memiliki teman, kau juga memiliki pacar yaa" ucap Ibu nya Adit, bergegas pergi ke kamar untuk melihat nya
"Bukan begitu..." jawab Adit
Ibu nya Adit membukakan pintu kamar tersebut dan melihat orang yang berada di dalam nya.
"Ngoookkk..... Ngoookkk.... Aku ingin makan Ayam.... Ngookkkk...." Bagas mengigau
Ibu nya Adit terhenti saat melihat yang berada di kamar tersebut, dan segera mungkin menutup pintu.
"Ohh... Ternyata teman mu juga" ucap Ibu nya Adit, kepada Adit dengan senyuman nya
"Iyaa Bu" jawab Adit
"Ku pikir pacar mu, hehehehehe" ucap Ibu nya Adit
Ibu nya Adit bergegas kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Kami berempat menunggu makanan nya selesai, Shiva membantu membuat kan makanan.
"Duh Shiva, kau wanita idaman sekali" ucap Angga, yang sudah sadar kembali
Rian terlihat begitu gemetar, seluruh tubuh nya mengeluarkan keringat.
"Kau kenapa ?" tanya ku, kepada Rian
"Aku.... Minta maaf atas vas mu" jawab Rian
"Sudah ku bilang berapa kali, jangan kau pikirkan vas itu" jawab Adit
"Apaaaa....." teriak Ibu nya Adit
"Ehhhhh..... Maaf" Rian kaget, mendengar teriakan tersebut
"Jadi kalian habis meminum Intisari itu" ucap Ibu nya Rian, kepada Shiva
Mereka berdua terlihat mengobrol satu sama lain sambil memasak.
"Hey, mengapa kau terlihat panik Rian" ucap Angga, melihat Rian
"Ahh... Aku ingat, kau tadi menjatuhkan vas itu yaa" ucap Angga
"Ayoo looh, dia akan memarahi mu Rian" ucap Angga, menakutkan Rian
"Maaaaaf" ucap Rian, gugup
Keringat membasahi seragam sekolah Rian. Rian tidak bisa tenang, seluruh tubuh nya gemetaran ketakutan.
"Kau jangan menakutkan" ucap Adit
"Tenang saja, Ibu ku tidak akan memarahi mu" ucap Adit, memegangi pundak Rian
"Sungguh ?" tanya Rian
"Sungguh" jawab Adit
Tiba tiba Bagas muncul dari balik pintu.
"Waahhh... Harum sekali" ucap Bagas, mendekati dapur
"Apakah makanan nya sudah siap ?" tanya Bagas, sesampainya di dapur
"Sepertinya sudah" ucap Bagas, mengambil sepotong ayam yang sudah matang di piring
"Amnyam nyam nyam" Bagas memakan ayam tersebut tanpa pikir panjang
Ketika Bagas sedang menikmati ayam tersebut, tiba tiba sebuah panci mendarat ke kepala nya.
Pleeetung (Suara geplakan)
Ibu nya Adit memukul kepala Bagas dengan Panci.
"Sakittt...." teriak Bagas, memegangi kepalanya
"Makanan ini belum siap, mengapa kau memakan nya" ucap Ibu nya Adit, memarahi Bagas
"A...." ucap mereka berdua berbarengan
"Ibu Ibu yang melemparkan ku panci waktu itu" ucap Bagas
"Kau kan yang Teriak Teriak itu dan langsung pergi" ucap Ibu nya Adit
Mereka berdua pernah bertemu sebelumnya, ketika Bagas terpisah dengan Andre, dan Bagas datang ke kedai ku.
"Woy Rian, mengapa kau berkeringat lagi" ucap Angga
Rian kembali ketakutan saat melihat Bagas di marahi oleh Ibu nya Adit.
"Oh... Jadi kau berteman dengan Anak ku" ucap Ibu nya Adit
"Anak mu ?" tanya Bagas
"Iyaa... Itu yang di sana" jawab Ibu nya Adit, menunjuk ke arah kami
Bagas pun ikut melihat ke arah kami berempat.
"Ohhhh... Jadi kau Ibu nya Kafur" ucap Bagas
"Tidak. Bukan aku" ucap ku
__ADS_1
"Berarti kau Ibu nya Angga" ucap Bagas
"Tidak. Bukan aku juga" ucap Angga
"Kalau begitu, berarti... Hey Shiva dia ini Ibu mu ?" tanya Bagas, kepada Shiva yang sedang masak
"Bukan aku loh Bagas" jawab Shiva
"Hmmmm... Jadi dia Ibu nya siapa dong" ucap Bagas, memegangi dagu nya
Pleeetuk (Suara geplakan)
Ibu nya Adit memukul Bagas dengan panci, kali ini terkena pipi nya.
"Aku Ibu nya Adit" teriak Ibu nya Adit
"Sakitttt..." ucap Bagas, memegangi pipi nya
"Woy Rian, mengapa kau berkeringat begitu banyak" ucap Angga, melihat Rian
"Lebih baik kau tunggu di sana bersama Teman Teman mu, makanan nya sedikit lagi selesai"
Bagas pun berjalan kemari.
"Ibu mu galak sekali Adit" ucap Bagas, menuju kemari
"A... Aku tidak mau meminum itu lagi" ucap Bagas, melihat botol minuman
"Pala ku pusing meminum nya" ucap Bagas, duduk di antara kami
"Aku akan membawa kan mu air putih" ucap Adit, bergegas mengambil kan air untuk Bagas
"Ko basah" ucap Bagas, melihat ke lantai
"Itu Rian berkeringat sangat banyak" jawab ku
"Ehhhhh... Kenapa kau berkeringat Rian ?" tanya Bagas, melihat Rian
"Rian tidak sengaja menjatuhkan vas milik Adit, membuat vas itu pecah" jawab ku
"Jadi begitu.... Hehehehe" ucap Bagas, menghampiri Rian
"Duhh... Pukulan panci ini sangat sakit sekali. Ahhh.... Sepertinya aku akan pingsan" bisik Bagas, kepada Rian sambil mengusap kan pipi nya
Rian merinding ketika mendengar itu. Keringat di seluruh tubuh nya begitu banyak, membuat lantai ini semakin basah.
"Hey Bagas, jangan kau menakuti nya" ucap ku, memperingati Bagas
"Ibu nya Adit.... Rian..... Eh...." teriak Bagas, kepada Ibu nya Adit dan berhenti berbicara karena melihat Angga
"Ada apa ?" jawab Ibu nya Adit
"Blueeebelueuvue" ucap Angga, di sekap mulut nya
"Hey Rian, aku di sini" ucap Bagas
"Ahh...... Mengapa kau menyekap mulut ku !!!" ucap Angga, kepada Rian
"Maaf" jawab Rian, dan bergegas menyekap mulut nya Bagas
"Blueblueblueblube" ucap Bagas, kepada Ibu nya Adit
"Kau ngomong apa sii" jawab Ibu nya Adit
Ibu nya Adit mengabaikan Bagas berbicara, karena mulut Bagas sedang di sekap oleh Rian.
"Huuffhhh...." Nafas Rian, melepaskan sekapan nya
"Ahh.... Aku tidak bisa bernafas tau" ucap Bagas
"Ini minuman untuk mu" ucap Adit, memberikan gelas kepada Bagas
"Terimakasih" jawab Bagas, menerima gelas tersebut
Selang beberapa menit, akhirnya makanan malam pun selesai di buat. Shiva terlihat membawa sebuah panci berisi kari, dan Ibu nya Adit membawakan makanan lain nya.
Kami pun menikmati makanan malam bersama.
"Rian mengahhsushnam shahah" ucap Bagas, berbicara sambil mengunyah makanan
Pletuk (Suara geplakan)
Ibu nya Adit memukul Bagas dengan sendok kayu.
"Nanti saja bicara nya ketika selesai makan" ucap Ibu nya Adit
Kami memakan di lantai, sebenarnya ada meja makan tapi bangku nya hanya 2 buah saja. Jadi kami memakan nya di lantai.
Selesai makan.
"Jadi apa yang ingin kau katakan ?" tanya Ibu nya Adit
"Rian.... Menjatuhkan...
"Sakit.... Mengapa kau mencubit ku" teriak Angga
"Maaf" jawab Rian
"Hmm ada apa ini ?" tanya Ibu nya Adit
"Haa... Vas itu terjatuh bu, teman ku tidak sengaja menjatuhkan nya" jawab Adit
"Ehh... Pantas saja, aku tidak melihat vas yang berada di sana" ucap Ibu nya Adit
"Jadi siapa yang menjatuhkan nya ?" tanya Ibu nya Adit
"Rian bu" jawab Adit, menunjuk jari nya ke arah Rian
"Tidak apa apa koo, lagi pula tidak terlalu berguna vas itu. Aku tidak marah, kecuali yang menjatuhkan nya dia" jawab Ibu nya Adit, menunjukkan jari nya kepada Bagas
"Maaf" ucap Rian
"Ehhh...." ucap Bagas
"Tapi syukurlah, akhirnya Anak ku memiliki banyak teman di sekolah nya" ucap Ibu nya Adit
"Gimana sekolah nya Adit, Sensei ?" tanya Ibu nya Adit, kepada ku
"Ehh.... Aku bukan Sensei" jawab ku
"Ahh... Maaf, ku pikir kau Sensei, habis nya kau terlihat tua sii" ucap Ibu nya Adit
"Aku tidak setua itu. (Mulut nya sadis amat ini Ibu Ibu)" jawab ku
"Jadi lah teman yang baik yaa, untuk Anak ku" ucap Ibu nya Adit, menundukkan kepalanya
"Tenang saja, aku akan melindungi nya. Hahahahaha" jawab Bagas, meyakinkan
Malam pun berlalu, kami bergegas untuk pulang ke rumah masing masing, dan besok lah hari dimana kami berada di bangunan Guild Petualang.
...----------...
Nama ku Tiara, setelah pertemuan ku dengan Andre di desa Semanggi. Kami sedang kualahan menghadapi Goblin di tengah Hutan.
"Haaa... Haaa... Haaa..." Nafas ku, kelelahan
"Mengapa Goblin ini begitu kuat" ucap Dwi, menepis serangan Goblis
"Goblin ini aneh sekali" ucap Amelia, sedang memberikan sihir ke kami nya
"Awas di belakang mu !!!" teriak ku, memperingati Sri
Sri menghindari serangan Tiba Tiba dari Goblin tersebut, dan melancarkan serangan balik.
"Terimakasih Tiara" ucap Sri, mencabut pedang nya yang berada di badan Goblin
"(Ini aneh... Mengapa Goblin berwarna merah)" ucap Sensei Guntur, sedang bertarung dengan Goblin Fighter
__ADS_1