
Keesokan harinya. Hari kamis pada tanggal 16 Juli pukul 08.47.
Aku Bagas, sedang berjalan menuju ke sekolah.
"Selamat pagi" ucap seorang pedagang
"Selamat pagi juga" jawab ku
Para pedagang terlihat ramah ketika ku jalan sendiri, ketimbang jalan dengan Andre.
Sesampainya di depan pagar sekolah. Aku tidak melihat knight knight atas, yang ku lihat hanyalah knight kelas V sampai II saja.
"Hmmm......" ucap ku, memasuki halaman sekolah
Aku melihat Rian seperti menunggu seseorang di depan bangunan sekolah.
Aku pun mendekati nya.
"Hallo Rian" sapa ku
"Oh, hallo juga Bagas" jawab Rian
"Aku di sini loh" ucap ku
"Ahh... Maaf" ucap Rian, membetulkan posisi nya
"Sedang apa kau di sini ?" tanya ku
"Kahfi berjanji akan jalan bareng ke sekolah, tapi dia tak kunjung datang. Maka nya aku menunggu dia di sini" jawab Rian
"Mungkin dia tertabrak kereta kuda" ucap ku
Selang beberapa menit akhirnya Kahfi muncul dari depan pagar sekolah.
"Nah itu orang nya" ucap ku, melihat kahfi menghampiri kami
"Ternyata kau di sini Rian" ucap Kahfi, ngos ngosan
"Maaf Rian, semalam di kedai ku sedang ramai sekali, dan aku hanya seorang diri berjaga di sana. Aku jadi kesiangan berangkat sekolah, hehehehe" ucap Kahfi, kepada Rian
"Dia cuman alasan saja" ucap ku, kepada Rian
"Tidak apa apa ko" jawab Kahfi
"Emang nya paman atau tante Ujan kemana ?" tanya ku, kepada Kahfi
"Dia ikut serta dalam quest itu" jawab Kahfi
"Woy... Nama nya Ojan bukan Ujan" ucap Kahfi
"Jadi dia knight juga yaa ?" tanya ku
"Iya, tapi aku tidak tau dia knight kelas berapa. Soalnya di zirah yang dia pakai, tidak terlihat angka pada zirah nya" jawab Kahfi
"Cih... Padahal kau tinggal bersama dengan nya, tapi tidak mengetahui nya" ucap ku
"Bodo amat lah !!!" jawab Kahfi
"Yuk kita lebih baik masuk ke kelas" ucap Kahfi
Kami pun bertiga bergegas pergi menuju kelas kami.
Di perjalanan menuju kelas, kami bertiga melihat beberapa kelas yang terlihat kosong.
"Heeyy.... Mengapa kelas itu kosong ? Dan tidak ada orang sama sekali ?" tanya ku
"Mungkin mereka sedang menjalankan quest" jawab Kahfi
"Quest seperti Andre ?" tanya ku
"Mungkin, tapi itu hanya beberapa saja. Sisa nya menjalankan quest yang berbeda yang di berikan oleh guild" jawab Kahfi
"Jadi begitu" ucap ku
"Asal kau tau, kita tidak selamanya berada di sekolah ini. Sekolah ini hanya tempat belajar saja, untuk menjadi knight terhebat, kau harus menjalankan quest yang berada di guild, dan berpetualang di kota ini maupun di luar kota ini. Itulah yang Ojan katakan" ucap Kahfi
"Kita menjalankan nya quest nya sendiri ?" tanya ku
"Kau bisa dapat membuat party dengan teman mu, untuk menjalankan quest" jawab Kahfi
"Kalo begitu, ayuk kita jalankan bersama sama" ucap ku, tersenyum ke mereka berdua
Sesampainya kami di dalam kelas, terlihat tidak ada satu pun orang di dalam nya.
"Apakah sekolah masih libur ?" tanya ku
"Tidak. Seharusnya ini sudah tidak libur" jawab Kahfi
"Tapi mengapa tidak ada satu pun orang disini ?" tanya ku
"Aku juga tidak tau. Tapi yang jelas, saat kita menuju kemari, terlihat beberapa murid yang hadir" jawab Kahfi
"(Hmmm... Apakah kita belajar di ruangan latihan lagi ?") ucap Kahfi, memegangi dagu nya
"Mungkin mereka berada di tempat itu" ucap ku
"Mungkin... Lebih baik kita ke sana" jawab Kahfi
"Ahh... Males, aku cape naik turun tangga" ucap ku
"Hey Rian, kau mau kemana ?" tanya Kahfi
"Ketempat itu kan" jawab Rian
"Kau salah jalan tau, itu jalan buntu" ucap Kahfi
"Maaf..." jawab Rian
"Ya ampun, mengapa aku bisa bertemu kedua orang ini siii !!!!" ucap Kahfi
Aku pun mau tidak mau harus ikuti mereka berdua.
Sesampainya di sana, aku membukakan pintu masuk ruangan ini. Terlihat murid murid kelas ku, sudah berkumpul di ruangan ini. Hanya saja sensei Herman yang belum datang. Aku pun ikut berbaris dengan mereka.
"Hallo kalian bertiga" sapa Angga
"Oh.. Hallo juga Angga" jawab Kahfi
"Hallo juga" jawab Rian
"Kalian bertiga terlambat masuk 10 menit" ucap Angga
"Aku habis dari kelas, dan bocah ini harus kami paksa buat kemari" jawab Kahfi, melihat ke arah ku
"Huuuuuuuu..." siulan ku, memalingkan wajah
Beberapa menit kemudian, akhirnya sensei Herman pun datang bersama dengan Shiva. Mereka berdua terlihat membawa boneka yang bentuk nya agak kecil, berjumlah sekitar 50, di dalam kantung tas transparan.
"Pagi semuanya" sapa sensei Herman
"Pagi sensei"
"Pagi"
"Selamat pagi sensei"
Sapa murid murid.
"Maaf membuat kalian menunggu ya, hahaha. Sensei harus mempersiapkan ini terlebih dahulu" ucap sensei, menunjuk tas yang di pegang nya
__ADS_1
"Tiiiiiidak apa apa, seeeensei" jawab Aziz
"Pffffff, hahaha" tawa ku, mendengar Aziz berbicara
"Gimana liburan kalian kemarin ?" tanya sensei Herman
"Menyenangkan sensei"
"Membosankan. Aku di suruh jaga dagang ayah ku"
"Aku meluangkan dengan istirahat"
Jawab beberapa murid.
"(Hmmmm, mereka ko normal normal saja yaa, padahal 2 hari yang lalu ada seekor naga yang melintasi kota. Apa aku mengigau saja kali yaa)" ucap ku, memikirkan kejadian dimana aku melihat naga, ketika berada di balkon
"Yasudah, lupakan saja lah" ucap ku
"Ada apa Bagas ?" tanya Kahfi
"Tidak ada apa apa" jawab ku
"Syukurlah kalo begitu. Oke sekarang waktunya belajar tentang sihir, murid murid" ucap sensei Herman, menaruh tas nya di lantai
"Akhirnya pelajaran yang ku suka tiba"
"Aku ingin memiliki sihir yang kuat"
Ucap beberapa murid, yang heboh seketika.
"Oke anak anak, dengarkan" ucap sensei Herman, menepuk tangannya
Seketika para murid murid diam.
"Oke pertama tama sensei akan menjelaskan tentang sihir" ucap sensei Herman
"Baik sensei" ucap semua murid
"Sihir adalah suatu jurus untuk membantu kita dalam melakukan beberapa hal, contoh nya saja untuk membantu kita dalam bertempur. Kita para manusia, bisa menciptakan beberapa sihir di kehidupan sehari hari. Sihir memiliki tingkatan, ada yang kuat dan ada juga yang lemah, tapi itu tergantung dengan penggunaan nya, karena sihir terlalu banyak menggunakan stamina kita. Jadi lebih baik gunakan lah sihir sebisa mungkin dan jangan kalian paksakan" ucap sensei Herman, menjelaskan ke murid murid
"Sihir pun di bagi 2. Yang pertama sihir biasa, dan yang ke kedua adalah sihir elemen. Untuk sihir biasa, kalian bisa menciptakan sesuatu. Contoh nya seperti ini" ucap sensei Herman, melanjutkan pembahasan nya
"Teknik sihir : Pelindung Diri" sensei Herman menciptakan sihir di seluruh tubuh nya
"Waahh... Keren sekali sensei"
"Lihat tubuh nya, mengkilap"
"Tubuh sensei di lapisi dengan sihir"
Ucap beberapa murid.
"Atau mungkin kalian dapat menciptakan seperti ini" ucap sensei Herman
"Teknik sihir : Bayangan" sensei Herman menciptakan kloning diri nya menjadi 2
"Keeeeren sekali seeeensei'' ucap Aziz
"Pffff, lihat dia berbicara lagi" ucap ku
"Hey Bagas, lebih baik kau memperhatikan sensei berbicara" ucap Kahfi
"Baik" jawab ku, menundukkan kepala
Sensei Herman menghilang sihir nya, dan melanjutkan bicaranya.
"Itulah contoh dari ku. Mungkin kalian juga pernah melihat beberapa sihir, seperti waktu Safira menggunakan sihir heal kepada Bagas yang pingsan. Atau mungkin seperti Shiva yang membuat boneka dari sihir nya" ucap sensei Herman
"Mengapa nama ku di sebut" ucap ku
"Itu cuman contoh saja" jawab Angga
"Iyaa. Aku bisa melakukan nya. Aku juga bisa menciptakan panah dari sihir" jawab Rian
"Wiihh... Kau hebat sekali Rian" ucap Angga
"Sssssttttt.... Kalian perhatikan sensei sedang menjelaskan" ucap ku, kepada mereka bertiga
"Kau tidak pantas berbicara seperti itu, Bagas" jawab Kahfi
"Di depan itu, bukan nya Adit yaa ?" tanya Angga
"Iya itu Adit" jawab Kahfi
"Dimana ?" tanya Rian, memutari badan nya
"Di sana" jawab Kahfi, membetulkan posisi Rian menghadap ke arah Adit
"Maaf" ucap Rian
"Wooyyy Adit.... Kemari lah" teriak ku
"Sssssttttt.... Kau berisik sekali Bagas" ucap Kahfi
Sensei Herman dan murid murid lain, melihat ke arah ku.
"Ehh.... Mengapa kalian melihat ku ?" ucap ku
"Ssssstttttt"
"Sensei sedang jelaskan"
"Jangan teriak teriak"
Ucap beberapa murid kepada ku.
Adit pun menghampiri kami.
"Mengapa kau disana sendirian Adit ?" tanya Angga, kepada Adit yang baru saja datang
"Lebih baik aku pergi saja, mereka melihat ke arah kalian" ucap Adit
Para murid yang lain, melihat ke arah kami.
"Mengapa mereka mau berteman dengan anak itu yaa"
"Hati hati loh, nanti kalian di bunuh sama dia"
"Kalo aku si, lebih baik menjauh dari dia"
Ucap beberapa murid, melihat ke arah Adit.
"Ciih... Menyebalkan" ucap Adit
"Aku tidak perduli. Kalian hanya iri saja ya kan, karena Adit ini kuat. Adit bukan lah seorang pembunuh, tapi kalian lah yang membunuh Adit secara perlahan dengan tatapan dan bicara kalian itu !!!" teriak ku, ke mereka
"Apa apaan bocah itu, sok membelanya"
"Sok keren sekali, bocah itu"
"Seandainya saja dia tidak berteman dengan Andre, mungkin aku akan menjauhi nya juga"
Ucap beberapa murid, kepada ku.
"Bleeee" aku menjulurkan lidah
"(Bagas kau keren sekali)" ucap Shiva
"Terimakasih Bagas" ucap Adit, kepada ku
__ADS_1
"Tidak usah di pikiran, lagipula kita kan teman" jawab ku, tersenyum kepada Adit
Kahfi, Angga, dan.... Ikut tersenyum juga kepada Adit.
"Woy Rian, mengapa kau menghadap tembok" ucap Kahfi, membetulkan posisi Rian
"Maaf" jawab Rian
Rian pun ikut tersenyum.
"Sudah sudah. Lebih baik kita lanjutkan pembelajaran nya" ucap sensei Herman, menepuk tangan nya
"Untuk yang kedua adalah, sihir elemen. Sihir elemen merupakan sihir alam yang berada di dunia ini. Ada 6 macam sihir elemen. Api, Air, Bumi, dan Angin, merupakan sihir elemen dasar. Sedangkan untuk Cahaya, dan Gelap, merupakan sihir elemen langkah. Sensei yakin kalian memiliki minimal 1 elemen sihir pada diri kalian" ucap sensei, melanjutkan pembelajaran
"Inilah contoh sihir elemen" ucap sensei Herman
"Teknik fire element : Menyala" sensei Herman menjentikkan jari nya, dan membuat api kecil pada jari telunjuk nya
"Ini adalah sihir elemen api, sensei memiliki elemen api" ucap sensei Herman
"Heey sensei" ucap Angga, kepada sensei Herman
"Ada apa nak ?" tanya sensei Herman
"Mengapa kedua elemen itu langkah ?" tanya balik Angga
"Karena cuman beberapa orang saja yang memiliki. kalian mungkin sangat jarang sekali menemukan orang yang menggunakan sihir elemen itu" jawab sensei Herman
"Jadi begitu" ucap Angga
"Bagaimana kami bisa mengetahui elemen sihir kami sensei ?" tanya salah satu murid
"Nah, sensei sudah membawa boneka dari Shiva ini, untuk mengetahui elemen kalian" jawab sensei Herman, mengambil tas yang berada di lantai
"Coba kalian lihat boneka ini baik baik yaa" ucap sensei Herman, memegang boneka
Sensei Herman memasukkan boneka itu pada kedua tangan nya, dan terlihat dia berkosentrasi pada kedua tangan nya.
"Nah, kalian bisa melihat boneka ini kan" ucap sensei Herman, menunjukkan boneka tersebut yang sudah gosong
"Boneka itu gosong ?"
"Ko bisa ?"
Murid murid terlihat kebingungan.
"Hmmmmm" ucap ku, mengupil
"Bagaimana bisa boneka itu menjadi gosong ?" tanya Kahfi
"Aku juga tidak tau" jawab Angga
"Shiva coba kasih mereka satu persatu boneka nya" ucap sensei Herman, mengasih tas nya kepada Shiva
"Baik sensei" jawab Shiva
Shiva membagikan boneka tersebut kepada kami semua termasuk aku.
"Terimakasih Shiva" ucap Angga
"Terimakasih" ucap Kahfi
"Anoo... Ini boneka mu" ucap Shiva, kepada Rian
"Haduh Rian, mulai menghadap tembok lagi" ucap Kahfi, membetulkan posisi Rian
"Maaf..." ucap Rian, menerima boneka dari Shiva
"Ini Bagas boneka mu" ucap Shiva, kepada ku
"Tidak mau. Aku mau nya boneka santet" jawab ku
"Sudah terima saja !!!" ucap Kahfi, menggelepak kepala ku
"Sakit.... Baik lah ku terima. Terimakasih" ucap ku, menerima boneka dari Shiva
"Sama sama" jawab Shiva
Shiva pun kembali ketempat nya.
"Boneka ini kecil sekali yaaa, bahkan aku dapat menggenggam dengan kedua tangan ku" ucap Kahfi
"boneka ini penuhi dengan sihir" ucap Adit
"Shiva sangat lah hebat, dia bisa menciptakan boneka ini sangat banyak dengan sihir nya sendiri" ucap Angga
"Kalian semua sudah kebagian boneka kan ?" tanya sensei Herman, kepada murid murid nya
"Sudah sensei" jawab murid murid
"Coba lah kalian genggam boneka itu dengan kedua tangan kalian. Jika boneka itu gosong, maka elemen kalian adalah api, seperti sensei. Jika boneka itu basah, maka elemen kalian adalah air. Jika boneka itu hancur, maka elemen kalian adalah bumi. Dan jika boneka itu terbelah atau tercabik cabik, maka elemen kalian adalah angin. Fokus lah saat menggenggam nya" ucap sensei Herman, menjelaskan
Kami pun semua menggenggam boneka ini, dan fokus pada tangan kami.
Beberapa orang sudah menyelesaikan nya dengan cepat termasuk Adit dan Rian, beberapa lagi masih fokus dengan boneka nya termasuk aku, Kahfi, dan Angga.
"Mengapa ini susah sekali sii" ucap Angga, berkeringat
"Errrgggg" ucap Kahfi, terus fokus
"(Aku cape, lebih baik aku berpura pura saja)" ucap ku, dengan santai menggenggam boneka ini
Akhirnya Kahfi dan Angga menyelesaikan nya.
"Akhirnya" ucap Angga
"Huufffhh... Melelahkan sekali" ucap Kahfi
Angga dan Kahfi membuka genggam tangan nya, dan melihat hasil dari boneka ini.
"Waah. boneka ini hancur. berarti elemen ku adalah bumi" ucap Kahfi, melihat boneka nya
"Kalo aku, tercabik cabik boneka nya" ucap Angga, melihat boneka nya
"Bagaimana dengan mu Adit ?" tanya Angga, kepada Adit
"Boneka ku terbelah menjadi 4 bagian" jawab Adit, menunjukan boneka kepada Angga
"Hey Rian, kau bagaimana ?" tanya Angga, kepada Rian
"Boneka ku terbelah menjadi 2 bagian" jawab Rian
"Ehh... Berarti kalian bertiga memiliki elemen yang sama, yaitu angin" ucap Kahfi
"Ngomong, kenapa aku doang yang hanya tercabik cabik boneka nya" ucap Angga, terheran heran
"Oh iya... Boneka Rian dan Adit terbelah, dan hanya kau saja yang tercabik cabik" jawab Kahfi
"Entah lah" jawab Adit
"Aku tidak tau" jawab Rian
"Mungkin kau lemah dari mereka, hahahaha" jawab ku, yang masih menggenggam boneka di tangan ku
"Ngomong ngomong, kenapa kau belum menyelesaikan nya Bagas ?" tanya Adit
"Oh iya. Aku lupa" jawab ku
Aku pun membuka genggaman ku, dan hasilnya sungguh mengejutkan.
__ADS_1
"Areeeee....." ucap ku, panik melihat boneka yang ku pegang menghilang