The Last Knight : New Generation ( Vol 1)

The Last Knight : New Generation ( Vol 1)
Bab 2 : Sekolah Knight part 13


__ADS_3

Kantin sekolah Knight, hari Kamis pada tanggal 16 Juli Pukul 12.18.


"Ada apa ?" tanya ku, kepada Angga yang tiba tiba terdiam


"Sebenarnya ini rahasia kami para Bangsawan, dan Petinggi Guild'' jawab Angga


"Lagi Lagi menjadi sebuah rahasia. Sama seperti kasus ku, yang di rahasiakan mereka" ucap Adit, terlihat kesal


"Bukan nya begitu, Adit" jawab Angga, terlihat murung


"Jadi hal apa, yang dilakukan oleh nya ?" tanya Kahfi


"Orang itu membuat masalah terhadap salah satu bangsawan" jawab Shiva


"Waaahhh.... Kepiting ini keras sekali" ucap ku, memecahkan kulit kepiting


"Biar aku saja" ucap Rian, membantu ku


"Ahhhh.... Apa yang kau lakukan pada makanan ku, Rian !!!" ucap Kahfi, kaget melihat tangan Rian menyentuh makanan nya


"Hey, kepiting nya di sini ! Yang kau pegang itu makanan Kahfi" ucap ku


"Maaf..." jawab Rian


"Masalah apa ?" tanya Adit, setelah mendengar Shiva berbicara


"Kau tau bangsawan Delanggu kan ?" tanya Angga


"Iyaa... Aku tau" jawab Adit


"Aku tidak tau... Terimakasih Rian, aku bisa memakan nya sekarang" ucap ku


"Mereka sedang di isolasi sejak 4 tahun yang lalu, akibat mencoba membunuh orang itu" ucap Angga


"Kenapa bisa begitu ?" tanya Kahfi


"Yang aku tau, orang itu mencoba membongkar rahasia yang di miliki Bangsawan Delanggu. Ketika para pengawal Delanggu mencoba membunuh nya, mereka malah ketangkap basah oleh Ketua Guild. Mengakibatkan keluarga Delanggu tidak di perbolehkan keluar dari istana selama 5 tahun" ucap Angga


"Ehh.... Jadi orang itu mau mengungkapkan rahasia apa ?" tanya ku


"Aku tidak mengetahuinya, ada banyak rumor yang beredar mengatakan bahwa keluarga Delanggu, menggelapkan pajak, ada juga yang mengatakan bahwa keluarga Delanggu sedang membuat sebuah senjata berbahaya, dan ada juga yang mengatakan bahwa orang itu gila" jawab Angga


"Mengapa dia mengetahui nya ?" tanya Adit


"Dia itu mantan pengawal keluarga Delanggu, dan seorang Knight hebat" jawab Shiva


"Hmmmm... Kepiting ini mantap sekali, kau mau Rian ?" ucap ku, kepada Rian


"Terimakasih" jawab Rian, menerima daging kepiting dari ku


"Tak ku sangka. Dia padahal seorang mantan pengawal di sana, tapi malah melaporkan majikan nya sendiri" ucap Adit, menaruh wajah nya di kedua tangan nya, yang menyentuh meja


"Sebenarnya ini adalah rahasia kami para Bangsawan, tapi karena kalian adalah Teman Teman ku, maka aku memberitahukan nya. Terimakasih lah kepada ku, hahahaha" ucap Angga, menyombongkan diri


"Terimakasih atas makan nya Shiva" ucap ku


"Ahh... Kenyang nya" ucap ku, memegang perut


"Hey kau... Kami saja belum makan, tapi kau malah makan duluan" ucap Kahfi


"Siapa suruh kalian malah mengobrol, bukan nya makan" jawab ku


Di ruangan Kepala Sekolah.


Terlihat Sensei Herman sedang berbicara dengan seseorang.


"Jadi apa yang membuat mu kemari ? Herman" ucap orang itu


"Aku menemukan siswa dengan kemampuan yang unik, di kelas ku" jawab Sensei Herman


"Ohhh... Kau amati terus dia, kalau begitu" ucap orang itu


Tok Tok Tok (Suara ketukan pintu)


Orang yang tadi di omongin oleh Angga dan Shiva, tiba tiba datang dari balik pintu.


"Kau datang kemari juga, Sensei Sumanto" ucap Sensei Herman, menyambut kedatangan nya


Istirahat pun berlalu, kami bergegas masuk kembali ke ruang latihan.


Ruangan latihan, pukul 13.08.


"Kepiting itu membuat ku kekenyangan, aku mengantuk" ucap ku, menyenderkan badan ke dinding


"Hey... Pelajaran akan segera di mulai" ucap Kahfi, melihat ku


"Oke Anak Anak" Teriak Sensei Herman, yang tiba tiba muncul dari depan, bersama dengan Shiva


"Hey Bagas. Berdiri lah !!!" ucap Kahfi


"Tolong bangunkan ku, aku tidak bisa berdiri. Badan ku rasa nya begitu malas sekali untuk bangun" jawab ku, mengulurkan tangan ke Kahfi


"Kau ini" ucap Kahfi, menerima tangan ku dan membangun ku


"Apakah semua nya sudah berkumpul ?" tanya Sensei Herman, kepada murid murid


"Sudah Sensei" jawab Murid Murid


"Iyaa... Huaaaahhhh... Sudah" jawab ku, menguap


"Saat nya melanjutkan pembelajaran" ucap Sensei Herman


"Baik Sensei" jawab Murid Murid


"Jadi siapa yang akan mau maju ? Dan menunjukan sihir nya, kepada Teman Teman yang lain" ucap Sensei Herman


"Hey Bagas, biasa nya kau akan maju" ucap Kahfi, kepada ku


"Haaaa.... Aku mengantuk sekali, setelah makan kepiting itu. Perut ku kekenyangan" jawab ku


Murid Murid terlihat berbicara satu sama lain. Tidak ada satu pun yang berani menunjukkan sihir nya.


"Maju woy"


"Lu aja dah, yang maju"


"(Aku mau maju, tapi aku takut sekali)"


Ucap beberapa murid.


Ketika semua sedang berbicara, ada seseorang Pahlawan yang gagah berani, untuk maju.


"Aaaaaaku akan, maaaaju" ucap Aziz, bergegas pergi ke depan


Aziz berjalan kedepan dengan begitu gagah, para murid bersorak gembira, karena ada seseorang yang maju terlebih dahulu.


Sesampainya di sana.


"Jadi apa yang akan kau perlihatkan ? tanya Sensei Herman


Aziz mengeluarkan senjata dan tameng nya.


"Teknik sihir : Pelindung Tameng" Aziz mengetuk pedang nya pada tameng, yang dia pegang. Dan tercipta lah sebuah sihir berlapis lapis, pada tameng nya


"Ohhhh... Jadi kau memiliki sihir pelindung yaa" ucap Sensei Herman, melihat arah tameng Aziz

__ADS_1


Murid Murid memberikan tepuk tangan kepada Aziz, yang bisa membuat sihir.


"Hebat nyaa" ucap Sensei Herman


Sensei Herman ikut memberikan tepuk tangan kepada Aziz.


"Teeeeerima kasih, seeeemua nya" ucap Aziz, menundukkan kepalanya


"Silahkan kembali" ucap Sensei Herman, kepada Aziz


Aziz pun balik ketempat nya.


''Jadi siapa yang akan maju selanjutnya ?" tanya Sensei Herman


"Gimana kalau kau, Bagas" ucap Sensei Herman, kepada ku yang sedang mengantuk


"Hey Bagas, kau di panggil Sensei Herman untuk maju kedepan" ucap Angga, kepada ku


"Baik Sensei" jawab ku, mengantuk dan maju kedepan


Aku pun maju kedepan.


"Jadi apa yang ingin kau perlihatkan ?" tanya Sensei Herman, sesampainya aku di sana


"Baik" jawab ku, dengan nada begitu lemas


"Teknik fire element : Fire Ball" aku membuat bola api pada tangan ku.


"Wahhh... Jadi kau memiliki elemen api yaa" ucap Sensei Herman, kaget melihat ku menciptakan sihir elemen api


"Rasakan ini" ucap ku, begitu lemas dan melemparkan bola api ini ke dinding


Boom (Suara ledakan)


Bola api itu meledak ketika menyentuh dinding tersebut. Tapi aneh nya, dinding tersebut tidak hancur, padahal daya ledakan nya sangat besar.


Murid Murid terlihat begitu panik, saat ledakan tersebut. Sensei Herman hanya bisa melihat daya ledakan tersebut dengan wajah kagum.


"(Ngantuk)" ucap ku, menguap


Aku tidak memperdulikan ledakan tersebut.


"Heyy Sensei" ucap ku, kepada Sensei Herman


"Wow. Itu adalah ledakan yang dahsyat sekali Bagas" ucap Sensei Herman


"Aku ingin ke kelas" ucap ku


"Ada apa Bagas ?" tanya Shiva, mendekati ku


"Ohh... Shiva kah. Aku mengantuk sekali, mungkin karena kebanyakan makan" jawab ku, menoleh kebelakang


"Tidak. Kau tidak boleh balik ke kelas, pelajaran masih berlanjut" jawab Sensei Herman


"Ehhhh.... Baik lah, aku akan kembali ke tempat teman ku berada" ucap ku, bergegas pergi


"(Ledakan ini sangat lah hebat, tapi mengapa saat dia menggenggam boneka tadi malah menghilang, bukan menjadi gosong boneka nya ? Ini aneh)" ucap Sensei Herman


Aku pun berjalan kembali, mereka pada melihat ku, karena aku bisa membuat sihir ledakan yang sangat besar.


"Kau hebat sekali" ucap Rian, sesampainya aku di sana


"Iyaa" jawab ku, lesuh dan menundukkan kepala ke bawah


"Tak ku sangka, kau mampu membuat ledakan seperti itu" ucap Angga


"Lebih baik kau tidur saja di sini ! Jika pelajaran telah usai, aku akan membangunkan mu" ucap Kahfi, peduli terhadap ku


"Sungguh ? Kafur" ucap ku, kepada Kahfi


"Bocah ini aneh sekali, kenapa dia malah bersemangat saat mau tidur" ucap Angga


Nama ku Kahfi. Aku menggantikan Bagas yang sedang tidur di belakang Rian.


"Jadi siapa yang akan maju selanjutnya ?" tanya Sensei Herman, kepada Murid Murid


"Sakit..." teriak Bagas


Aku melihat ke arah Bagas, ternyata Rian sedang menginjak paha nya Bagas.


"A... Maaf" ucap Rian, melepaskan kaki nya yang berada pada paha nya Bagas


"Apa yang kau lakukan Rian ?" tanya ku


"Aku ingin maju ke depan" jawab Rian


"Kau salah arah, itu ke belakang bukan ke depan" ucap ku


"Maaf" jawab Rian


"Aku akan mengantarkan mu ke depan" ucap ku, memegangi tangan Rian


Aku pun menuntut Rian, untuk maju ke depan.


"Dah sampai" ucap ku, sesampainya di sana


"Terimakasih" jawab Rian


"Jadi kau akan menunjukkan apa ?" tanya Sensei Herman, kepada Rian


"Kalau begitu aku akan kembali ke sana" ucap ku


"Kau tetap di sini ! Selanjutnya engkau" ucap Sensei Herman, memberhentikan ku


Mau tidak mau, aku menurutinya.


"Huuffhhh" Rian menarik nafas nya


"Teknik wind element : Panah Angin" Rian menciptakan suatu panah yang di sekeliling dengan angin


"Waahh... Kau hebat sekali Rian" ucap ku, melihat panah tersebut


"Tidak. Panah itu terlihat rapuh, seperti cuman tahan beberapa detik saja" ucap Sensei Herman, melihat panah tersebut


"Sepertinya kau mengetahui, Sensei" jawab Rian


Panah tersebut tiba tiba menghilang dari tangan nya Rian.


"Ini hanya mampu bertahan 5 detik saja" ucap Rian


"Apakah kau tidak bisa menahan nya lebih lama ?" tanya Sensei Herman


"Aku sudah mencoba nya, hanya saja aku tidak mampu melakukan nya" jawab Rian


"Apakah kau pernah menggunakan nya ?" tanya Shiva


"Aku pernah mencoba nya, tapi saat aku mencoba membidik target ku, panah itu menghilang seketika" jawab Rian


"Coba lah, kau belajar mempertahankan sihir mu itu. Jika kau bisa menggunakan nya, maka daya serang dari panah itu sangat lah hebat" ucap Sensei Herman, memberikan nasehat kepada Rian


"Baik" jawab Rian


"Oke selanjutnya kau" ucap Sensei Herman, melihat ke arah ku


"(Ah... Aku harus menggunakan sihir apa ini. Masa iya harus membuat kerikil dari elemen ku. Oh iya, aku kan masih bisa membuat itu)" ucap ku

__ADS_1


"Baik Sensei" jawab ku


"Ayo Kahfi kau pasti bisa" teriak Angga, dari kejauhan


"(Bocah Bangsawan itu !!!)" ucap ku, melihat ke arah Angga


"Huuffhh" aku menarik nafas


"Teknik earth element : Batu Larva" aku membuat sebuah batu di tangan ku, tapi ini terlalu panas untuk ku pegang, dan aku menjatuhkan nya ke lantai


Batu itu melelahkan lantai seketika, dan membuat lantai nya berlubang.


"Teknik water element : Penyiraman" Shiva membasahi batu tersebut


"Apa yang sebenarnya telah aku lakukan" teriak ku, melihat batu tersebut


"huffhh... Untung saja, tidak bertambah parah" ucap Sensei Herman


Murid Murid kebingungan karena sihir ku ini.


"Ayo loh" teriak Angga, dari kejauhan


"Diam lah !" jawab ku, panik


"Hey seharusnya kau menggunakan sihir mu itu di luar ruangan" ucap Sensei Herman, kepada ku


"Ayo loh" teriak Angga, dari kejauhan


"Maaf kan aku" jawab ku


Tiba tiba Rian memegangi bahu ku.


"(Ahhh... Rasa nya ingin jadi ayam saja)" ucap ku, melihat ke arah Rian


"Omelin saja, Sensei" teriak Angga, dari kejauhan


"Diam lah !!!" teriak ku, kepada nya


"Tunggu... Tadi kau bilang "Teknik earth element", kan ? tanya Sensei Herman, kepada ku


"Iya Sensei" jawab ku


"Sepertinya kau salah" ucap Sensei Herman


"Salah ?" tanya ku


"Seharusnya itu, Teknik earth and fire element" jawab Sensei Herman


"Maksud nya ?" tanya ku, kebingungan


"Sepertinya kau memiliki 2 elemen. Tadi itu kau menggabungkan antara elemen bumi dan api, dan terjadi sihir itu" jawab Sensei Herman


"Jadi begitu, (Hehehehe, aku ternyata kuat yaa)" ucap ku


"Oke Anak Anak, jadi ini pembelajaran juga. Jika kalian memiliki dua elemen, dan kalian gabungkan elemen tersebut, maka akan tercipta sihir seperti tadi itu" ucap Sensei Herman, menjelaskan kepada Murid Murid


Para murid berbicara satu sama lain, dan aku melihat wajah Angga dengan rasa bangga, membuat dia iri.


"Contoh saja, elemen api dengan air. Kau akan bisa membuat sihir uap dari gabungan elemen tersebut. Atau mungkin, elemen air dengan angin, kau akan bisa membuat sihir pembekuan dari gabungan elemen tersebut" ucap Sensei Herman, melanjutkan pembahasan nya


"Jadi begitu" jawab Murid Murid


"Jadi aku memiliki 2 elemen ?" tanya ku, kepada Sensei Herman


"Iyaa, kau memiliki elemen bumi sama api" jawab Sensei Herman


"Hehehehe" tawa kecil ku, mengetahui nya


Pukul 14.50.


"Oke semuanya sudah maju kan ?" tanya Sensei Herman, kepada kami


"Sudah Sensei" jawab Murid Murid


"Sebelum kalian pulang, ada informasi untuk kalian" ucap Sensei Herman


Murid Murid berbincang satu sama lain


"Apa itu Sensei ?"


"Iya apa tuh ?"


Tanya beberapa murid.


"Besok hari Jumat, kalian akan berkunjung ke bangunan Guild. Dimana tempat itu lah, yang akan memberikan kalian sebuah quest, untuk kalian berpetualang" jawab Sensei Herman


Murid Murid kegirangan, ketika Sensei Herman menyebutkan itu.


"Itu lah, informasi untuk besok. Jadi kalian jangan sampai terlambat datang untuk ke sekolah ya" ucap Sensei Herman


"Oke kalian boleh pulang" ucap Sensei Herman, menyudahi latihan ini dan bergegas untuk pergi


"Woy Bagas. Bangun lah !!!" ucap ku, membangunkan Bagas


"Aku masih ingin tidur" jawab Bagas, yang masih saja tidur


"Pelajaran telah usai loh" ucap ku


"Sepertinya dia kelelahan" ucap Adit


"Tidak. Kau salah besar, dia ini kekenyangan tau" jawab ku


"Biar aku yang mengantar nya pulang" ucap Rian, mencoba mengendong Bagas


"Jangan. Kau akan salah jalan nanti" ucap ku, mencegah Rian mengendong Bagas


"Maaf" jawab Rian


"Rumah yang terdekat dari sini, siapa ?" tanya Shiva, yang Tiba Tiba muncul


"Aku jauh" jawab Angga


"Aku juga" jawab ku


"Rumah ku dekat dari sini" jawab Adit


"Kalau begitu, kita mampir ke sana saja terlebih dahulu, sambil menunggu Bagas bangun" ucap Shiva, menyarankan sesuatu


"Aku setuju" jawab Angga


"Hmmm... (Lebih baik kedai itu, aku tidak buka saja kali yaa. Besok juga masuk sekolah, tidak boleh terlambat)" ucap ku


"Ada apa Kahfi ?" tanya Shiva


"Aku setuju" jawab ku


"Bagaimana dengan mu, Adit ?" tanya Shiva


"Aku si, tidak keberatan" jawab Adit


"Yang jadi masalah nya sii. Siapa yang akan mengendong dia" ucap Angga


Kami semua memandangi Bagas yang sedang asik tidur.


"Ngookkkk...." Bagas tertidur pulas

__ADS_1


__ADS_2