
"Ayo kita pergi !"
Sony mengatakan begitu tergesa gesa, sedangkan Paman Yasir sudah pergi semenjak tadi, bahwa Andre masih berada di dekat Desa Semanggi.
Wajah keempat orang ini begitu lesuh, karena mereka tidak bisa berbuat apa apa.
Mereka menghampiri ku yang sedang memandangi langit.
"Berhati hati lah."
"Jaga diri kalian, kami akan mencari tempat yang aman."
"Tolong selamatkan lah Tiara !"
Aku mengabaikan perkataan mereka, yang aku lihat saat ini adalah langit begitu mendung sambil memikirkan kembali mimpi waktu itu.
Di mimpi ku, aku teringat kembali dimana saat Goblin itu membunuh Tiara di depan mata ku. Saat itu aku tidak bisa menyelamatkan nya, dan berbuat apa apa.
'Semoga aku bisa menyelamatkan' Pikiran ku terus berkata seperti itu, aku membayangkan apa yang akan terjadi bila aku tidak bisa menyelamatkan Tiara.
Setelah memikirkan sesuatu yang tidak penting, aku melihat sekeliling mereka dan ternyata Paman Sony sudah tidak berada disini.
"A... Paman Sony dah jalan, dia meninggalkan ku,"
"Kalau begitu aku pergi dulu."
"Selamatkan Tiara... Aku mohon"
Sri menangis, mata nya berserih serih.
"Tenang saja. Aku akan menyelamatkan,"
"Aku mempunyai teknik rahasia."
Aku mencoba meyakinkan nya, bahwa aku bisa menyelamatkan Tiara dari Goblin itu.
Aku pun pergi untuk menyusul Paman Sony yang sudah meninggalkan ku.
...**********...
Aku berhasil menyusul nya.
Aku berlari larian bersama Paman Sony untuk mencari Tiara.
Berbagai tempat kami telusuri, tapi tidak menemukan apa pun, yang kami lihat hanya lah sebuah pohon pada hutan ini.
Aku melihat pohon begitu tinggi, dan memikirkan sebuah ide.
"Paman, gimana kalo Paman naik ke atas dan melihat sekeliling dari atas."
"Akan ku coba."
Paman Sony menaiki pohon yang sangat tinggi layaknya ninja.
Pohon pohon dan rumput, itulah yang Paman Sony lihat. Karena tidak dapat apa pun Paman Sony memutuskan untuk turun dari pohon itu.
Ketika beranjak turun dari pohon, tiba tiba Paman Sony kaget melihat api menyala pada sebuah pohon.
"Itu apa ?"
Paman Sony mencoba memfokuskan pandangannya pada pohon itu. Pandangannya terus fokus, fokus, dan fokus. Hingga akhirnya tau bahwa penyebab terbakarnya pohon itu adalah ulah dari beberapa Goblin kecil.
"Kita akan kesana."
Paman Sony melompat.
"Ada apa Paman ?"
Paman Sony menunjuk arah.
"Aku melihat beberapa Goblin di sana."
"Berarti Tiara berada di sana."
Aku dan Paman Sony segera bergegas pergi, dan menghampiri tempat itu.
Aku berlari begitu kencang, karena aku takut dengan apa yang terjadi di mimpi ku.
Kami melewati beberapa pohon, tanah tanah pun sangat bersahabat dengan kami, karena membuat lari kami begitu lancar dan tidak terhambat.
Sesampainya di sana, Goblin kecil sudah menunggu kami seakan akan tau bahwa kami akan menghampiri mereka.
Paman Sony memulai menebas mereka dengan sihir air nya.
"Teknik Sihir Water Element : Pedang Air."
Air yang di kumpulkan Paman Sony, terlihat menyerupai sebuah pedang di tangan nya.
__ADS_1
Pedang air tersebut menebas satu persatu pala Goblin tersebut.
Gerakan yang sangat lincah di tampilkan Paman Sony, walaupun usianya sudah tidak muda lagi.
Menghindar lalu menebas bagian tubuh Goblin yang berada di depan Paman Sony.
Aku tidak bisa berbuat apa apa karena sudah di tebas semua oleh Paman Sony. Yang bisa ku lakukan adalah menghampiri mayat dan melihat struktur tubuh Goblin ini bewarna merah.
Goblin ini sangat kecil, berbeda sekali dengan yang mereka katakan, tapi mereka benar soal Goblin bewarna merah. Ini sangat lah aneh, seharusnya Goblin bewarna hijau bukan lah merah.
Aku mengangkat tangan salah satu mayat Goblin yang berada di tanah. Tiba tiba mata kiri ku melihat sesuatu yang seharusnya tidak aku lihat.
"A....."
Aku kaget saat tiba tiba mata kiri ku berbeda pandangan dengan mata kanan ku.
Aku mencoba menutupi mata kanan ku dengan tangan ku, dan mencoba melihat apa yang mata kiri ku lihat sekarang sambil memegangi tangan mayat Goblin ini.
Mata ini melihat sebuah tempat dimana seperti sawah tapi anehnya, pandangan ini begitu tinggi sekali, aku kebingungan ini baru pertama kali aku melihat dengan mata ku begitu tinggi sekali.
"Ini tinggi sekali."
Aku terus melihat apa yang mata kiri ku lihat. Pandangan ini seperti saat sedang berjalan. Aku tidak tau sebenarnya ini apa, apakah ini adalah sebuah ilusi dari Goblin yang saat ini ku pegang ? Atau mungkin ini adalah pandangan Goblin lain yang sedang menuju ke suatu tempat ?
Aku terus melihat, hingga akhirnya aku melihat seseorang sedang berlari dari pandangan ini.
Seorang wanita sedang berlari menjauh, sepertinya berusaha menyelamatkan diri, wanita itu memakai seragam Sekolah Knight yang di pakai nya, dengan memegangi sebuah pedang di tangan kanan nya, sedangkan tangan kiri nya memegangi pinggang.
Wanita itu menoleh kebelakang, dan saat itu aku mengetahui bahwa wanita itu adalah Tiara yang sedang berlari dari Goblin Raksasa ini. Dan pandangan yang saat ini ku lihat adalah dari sesosok yang menaiki bahu Goblin Raksasa ini.
"Tiara !"
Aku berteriak saat mengetahui nya, membuat Paman Sony kaget.
"Dimana ?"
"Di sawah."
Paman Sony memikirkan sesuatu saat aku menjawab "Di sawah"
"Kalau begitu, ayo kita ke sana segera !"
Paman Sony mengucapkan kata itu seperti sudah mengetahui tempat yang aku maksud.
Kami berdua pergi meninggalkan mayat mayat Goblin kecil ini.
Cuaca sudah mulai sangat mendung. Aku melihat ke langit karena aku tau bahwa sebentar lagi akan turun hujan.
Aku terus berdoa agar tidak turun hujan ketika menyelamatkan Tiara, karena teknik rahasia ku tidak akan berhasil jika hujan.
"Apakah sawah masih begitu jauh paman ?"
"Sebentar lagi."
Kami terus berlari sepanjang hutan, target utama adalah menyelamatkan Tiara.
...**********...
Sawah ini begitu luas, lumpur air menyelimuti padi yang dalam waktu nya untuk panen.
Aku menginjak sebuah kotoran kerbau saat berlari.
"A..."
Langkah kaki ku terhenti dan segera melihat sepatu yang ku pakai. Paman Sony ikut terhenti juga dan menghampiri ku.
"Ada apa Bagas ?
"Sepertinya aku menginjak sesuatu."
Aku mengangkat kaki ku dan menunjukan nya kepada Paman Sony.
"Apakah kau akan membersihkan nya ?"
"Paman jalan saja duluan ! Aku akan menyusul nya"
"Baiklah kalau begitu."
Paman Sony segera lari dan meninggalkan ku.
Aku mencari sebuah daun untuk membersihkan sepatu yang ku pakai. Air pada sawah ku pakai untuk membersihkan sepatu ku. Sepatu ku di gosok gosok dengan harapan semoga muncul seseorang.
*Note
Yang di maksud Bagas agar sepatu nya muncul seorang jin, layaknya sebuah cerita Aladin.
"Yoosh akhirnya bersih"
__ADS_1
Sepatu ku segera ku pakai pada kaki ku, dan segera bergegas menyusul Paman Sony.
Aku kehilangan jejak Paman Sony.
"Ah... Ah... Ah..."
"Mengapa orang tua itu, berlari begitu kencang,"
Aku menghentikan lari ku.
"Ini sangat lah melelahkan, dari tadi hanya berlari dan aku belum menikmati makan siang ku"
Aku baru menyadari bahwa sawah yang sedang ku lihat bukan berada di sini. Ini tempat berbeda.
Aku melihat sekeliling, tidak melihat apapun di sawah ini, yang ku lihat hanya lah sebuah sawah yang luas di isi padi padi yang siap di panen.
"Ini aneh."
Aku mencoba mencari tahu, mengapa tidak ada siapapun di sini, bahkan Paman Sony pun menghilang begitu saja saat meninggalkan ku.
"Hmmm... Apa yang sebenarnya terjadi"
Aku bingung atas apa yang ku alami, aku mencoba berfikir tapi begitu berat untuk berfikir.
Aku melihat sebuah sepetak sawah yang seharusnya hancur karena pedang Tiara yang di bawa menggoreskan sawah tersebut. Aku mengetahui nya karena aku melihat dari Goblin tersebut dengan mata kiri ku tadi.
Aku menghampiri beberapa petak sawah dan melihat yang seharusnya ada jejak bekas dari pedang Tiara namun tidak ada.
"A...."
Seketika aku mengetahui sesuatu, bahwa yang ku lihat dari Goblin itu ternyata dari masa depan, dan saat ini Tiara belum sampai di sini.
"Aku harus memberitahukan Paman Sony soal ini."
15 menit kemudian.
Mencari dan terus mencari Paman Sony yang menghilang.
Tanpa ku sadari, aku sudah sangat jauh dari tempat itu.
"Aaaaaaa.... Kemana perginya Paman Sony, aku harus kembali ketempat tadi. Lupakan lah soal Paman itu"
'Paman Sony, semoga kau baik baik saja dan selamat tinggal' Aku memikirkan Paman Sony dan berlari menuju tempat dimana seharusnya Tiara sedang di kejar seseorang.
Aku memikirkan sesuatu soal dimana aku tidak dapat menyelamatkan Tiara.
"(Mungkin gara gara mencari Paman Sony, aku jadi terlambat untuk menyelamatkan Tiara)"
Aku menyalahkan Paman Sony, karena dia lah penyebab yang membuat ku gagal untuk menyelamatkan Tiara di mimpi ku waktu itu.
"Aku akan berlari seperti kuda, Hiiaahhh... Haaaaa..."
Aku berlari mempraktikkan lari kuda yang begitu kencang untuk kembali ke tempat tadi.
10 menit kemudian.
Sesampainya di sana, aku melihat Tiara sedang berlari ketakutan dari kejaran Goblin Raksasa.
"Ah... Ah... Ah... Ini belum jauh dari tempat teman ku berada."
Wajah Tiara begitu kelelahan, luka pada pinggul terlihat terbuka dengan seragam yang sobek. Tiara terus memegani luka itu dengan tangan nya yang berdarah.
Goblin itu semakin mendekati Tiara yang sudah kelelahan, semakin dekat, terus mendekat. Hingga akhirnya Tiara sudah tidak kuat untuk berlari.
Aku melihat seseorang sedang menaiki Goblin Raksasa itu. Aku mengenali nya yang berada di bahu Goblin Raksasa itu. Orang itu, Tidak. Iblis itu pernah bertatap dengan ku di halaman sekolah saat hari pertama kali masuk Sekolah Knight.
"Aku harus bergegas, kalau tidak Tiara dalam bahaya."
Jarak antara ku dengan Tiara cukup jauh sekali, sekitar 200 meter. Aku tidak akan sempat jika berlari untuk menyelamatkan nya.
"Teknik Sihir : Ruangan ****Penyimpanan****"
Aku mengeluarkan sebuah Tombak yang aku dapatkan kemarin saat mengunjungi bangunan Guild.
"Hehehe... Untung saja. Tapi aku sangat lapar,"
"Aaaaa.... Aku ingin makan,"
Aku kesal dengan keegoisan ku sendiri.
"Bodo ah, soal makan. Aku harus segera menyelamatkan Tiara sekarang,"
"Teknik Rahasia : Aku lapar"
Ketika aku mencoba melempar Tombak ini ke arah Goblin Raksasa itu, tiba tiba mata kiri ku berubah warna menjadi merah, jantung ku memompa begitu cepat, otot otot ku terasa begitu kuat memegangi Tombak ini, dan aku tahu Goblin ini akan bergerak kemana selanjutnya.
"Rasakan ini !!!"
__ADS_1
Tuussttt
Aku melempar Tombak sangat kuat.