
Pelajaran pun dimulai.
"Karena kalian semua sudah memiliki senjata, bapak akan mengetest kalian semua dalam pertarungan 1 vs 1 dengan bapak. Sebelum kalian bertempur, kalian harus tau kalau dalam teknik bertempur membutuhkan pernafasan dan konsentrasi yang baik, jika kalian kehilangan salah satu, maka teknik bertempur kalian tak akan seimbang. Pernafasan, itu adalah teknik untuk memompa darah kalian dengan baik. Konsentrasi, itu adalah di saat dirimu fokus dalam pertempuran. Dahulu kala ada seseorang yang terlalu fokus dan nafas nya pun memompa darah dengan cepat dalam bertempur melawan iblis, dia mampu mendengar apa yang tidak orang lain dengan, dan dia mampu melihat apa yang orang lain tidak lihat. Ya dia lah kakek Subagio, yang mampu melebihi batas dirinya. Perlu kalian ingat ada 3 tipe knight , yang pertama tipe penyerang, yang kedua tipe bertahan, dan yang terakhir adalah tipe support. Oke semua kalian akan maju untuk melawan bapak. Ayo siapa yang ingin maju duluan ?" ucap pak guru Herman
Semua orang terlihat diam, ntah karena malu malu atau mungkin karena takut.
"Hayyy... Aku mau maju pak" ucap ku
Aku pun maju kedepan dengan wajah sombong dan penuh percaya diri.
"Wah... Orang bodoh itu mau ngapain sii" ucap Kahfi
"Wajah nya terlihat penuh percaya diri" ucap Rian
"Hehehehehe, semangat Bagas" ucap Shiva
"Paling juga kalah cepat" ucap Angga
"Aaaayoo Baaagas tuuuunjukan keeeemampuan muu" ucap Aziz
Aku melihat wajah Aziz yang sedang berbicara, seketika aku langsung tertawa melihat nya
"Pfff... Hahahaha" ucap ku
Aku berdiri di hadapan Pak guru Herman. Pak guru Herman terlihat serius menghadapi ku, dia mengeluarkan pedang begitu besar, dia memegang pedang itu dengan 2 tangan nya.
"Apa kau sudah siap ?" tanya pak guru Herman
"Aku siap..." jawab ku
Pak guru Herman terlihat diam seketika, lalu berkata.
"Di mana pedang mu ?" tanya pak guru Herman
"A... Ketinggalan di belakang, aku akan segera mengambil nya" jawab ku
Aku bergegas menuju kebelakang untuk mengambil katana ku. Terlihat murid murid lain menertawai ku.
"Kalo emang bodoh pasti banyak kelakuan nya hahahaha" ucap Angga
"Hey... Kenapa kau bisa melupakan senjata mu sendiri ?" ucap Kahfi
"Ini senjata mu Bagas" ucap Rian
"Hey Rian, mengapa kau malah ngasih ke Shiva" ucap Kahfi
"Maaf..."
"Yosshhh, senjata ku sudah siap" ucap ku
Aku menuju kedepan.
"Wah... Katana yaa ?" tanya pak guru Herman
"Hooh" jawab ku
Pertarungan pun di mulai.
"Aku maju duluan kalo begitu, berhati hati lah pak guru" ucap ku
Aku berlari menuju pak guru Herman.
"Terima ini, jurus edisi spesial : tebasan bohongan" ucap ku
Aku berpura pura menebaskan katana ku ke pak guru Herman, ku pikir dia bakal menghindari tapi nyatanya dia masih berdiri dengan tegak.
"Mengapa kau tidak menghindar pak guru ?" tanya ku
"untuk apa aku menghindar, sedangkan aku tau kau mengucapkan tebasan bohongan" jawab pak guru Herman
"Kau hebat kalo gitu pak guru" ucap ku
Terlihat murid murid kebingungan dengan tingkat ku.
"Ini orang **** nya sudah kelewatan" ucap Kahfi menepuk jidatnya
Tiba tiba pak guru Herman menghilang di hadapan ku.
"Areeee... Pak guru kau berada dimana ?. Apakah kau mencoba melarikan diri dari ku, hahahahahaha" ucap ku
"Aku di belakang mu loh, Teknik pedang : pukulan pingsan" ucap pak guru Herman
Pukulan tepat menghantam leher ku, yang membuat diriku pinsan seketika.
Murid murid bertepuk tangan atas kemenangan pak guru Herman.
"Cepat sekali pertarungan nya..." ucap Kahfi
"Sudah ku duga dia tidak punya kemampuan" ucap Angga
"Hahaha. Siapa selanjutnya ?" tanya pak guru Herman
Aku masih pingsan, aku di angkat Aziz menuju kebelakang.
Aku Kahfi, Karena Bagas sedang pingsan, jadi aku yang menggantikan nya.
"Terimakasih sudah mengantar Bagas kemari, Aziz" ucap ku menaruh Bagas yang pingsan di dekat dinding
"Tiiiiidak maaasalah" ucap Aziz
"Kau orang yang baik yaa Aziz, padahal Bagas sudah menertawai mu berapa kali" ucap ku
__ADS_1
"Kaaaarena kiiiita teman waaaalaupun cuman teeeman seeeekelas saja" ucap Aziz sembari menunjuk jempol
"Kau orang yang sangat baik Aziz" ucap ku
Aziz pun kembali ke tempatnya.
"Tidak ada yang mau maju ? Kalo gitu biar bapak yang akan menunjuk" ucap pak guru Herman
Pak guru Herman pun menunjuk salah satu murid.
"Gimana kalau yang tadi menggendong orang itu. Silahkan maju kemari" ucap pak guru Herman
Tunjukkan itu mengarah ke Aziz.
"Baaaik pak" ucap Aziz
Aziz pun maju. Di terlihat jalan begitu tegak seperti ksatria pelindung, dengan membawa tameng dan pedang.
"Jadi kau tipe knight bertahan yaa ?" tanya pak guru Herman
"Kalo gitu bapak yang akan maju duluan" ucap pak guru Herman
Pak Herman memulai serangan nya, terlihat begitu kuat, namun Aziz mampu menepis dengan tameng nya.
"Wah gila... Aziz kuat sekali, dia mampu menahan serangan dari pak guru Herman" ucap ku
"Kaki nya...." ucap Rian
"Kaki nya ?" tanya ku
"Kaki nya seperti menyatu dengan tanah, dia terlihat kuat dalam bertahan" jawab Rian
"Jadi begitu. Sudah ku duga Aziz itu begitu kuat, tapi orang ini malah menertawai nya" ucap ku melihat ke arah Bagas yang masih pingsan
Pak guru Herman terus menyerang membabi buta, dan Aziz pun mampu bertahan
"Oy oy oy, sampai kapan dia akan terus bertahan" ucap Angga
Tiba tiba pak guru Herman berhenti menyerang.
"Hahaha kau hebat dalam bertahan, kau juga melapisi tameng mu dengan sihir. Tapi ada satu kelemahan pada mu yang begitu mencolok" ucap pak guru Herman
"Hufhh huffhhh..." Aziz kelelahan
"Kelemahan mu itu terletak pada kaki. Kau melindungi badan mu saja, tapi tidak dengan kaki mu. Kalo gitu ini adalah hadiah dari ku" ucap pak Herman
Pak Herman menggenggam pedang nya begitu erat, dan di mencoba menyerah Aziz sekuat tenaga.
"(Teknik pedang : Tebasan bohong)" ucap pak guru Herman
Aziz pun bergegas untuk menepis nya dan fokus dengan serangan itu.
Namun naas, ternyata serangan itu hanya tipuan, serangan sesungguhnya ternyata terletak pada kaki pak guru Herman.
Aziz pun terjatuh, lalu di depan mata nya terlihat pedang pak guru Herman.
"Kau kalah" ucap pak guru Herman
Pak guru Herman membangun Aziz yang terkapar.
"Kau sangat hebat, tapi sayang kelemahan mu terlalu mencolok. Coba lah mencari cara untuk menutupi kelemahan mu" ucap pak guru Herman
"Teeerima kaaasih paak guuru" ucap Aziz
"Siapa selanjutnya ?" ucap pak guru Herman melihat arah murid
*Note
Mulai dari sekarang, panggilan pak/ibu guru akan di ganti ke kata sensei.
"Aku yang akan maju"
"Ehh... Tak ku sangka seorang bangsawan dari keluarga Oedo yang akan maju, Angga" ucap sensei Herman
Angga pun maju kedepan.
"Jadi kau tipe penyerang yaa, yang menggunakan pedang foil"
Angga ini sangat mahir dalam teknik anggar nya.
"Hey sensei... Jangan salah kan aku jika ku tusuk tusuk dirimu" ucap Angga
"Kalo gitu aku yang akan mulai" ucap Angga
Angga memasang kuda kuda, terlihat jarak antar Angga dan sensei begitu dekat.
Angga melangkah kan kaki kedepan dan menyerang sensei, namun pedang yang di pakai sensei begitu besar untuk menepis serangan Angga.
Angga terus menerus menyerang sensei dengan pedang foil nya, namun lagi lagi sensei mampu menepis dengan pedang nya
"Kau tau nak, pedang ku ini begitu besar, sedangkan pedang mu sangat lah kecil. Mungkin ini yang dinamakan pertarungan tidak seimbang. Bagaimana jika aku menyerang dengan kuat ke arah pedang mu itu" ucap sensei Herman
"Coba saja lakukan" jawab Angga
Terlihat sensei menarik nafasnya, dan memulai menyerang Angga. Serangan itu datang, mengarah tepat di pedang yang Angga pegang.
"Teknik tempur : Step back" ucap Angga
Angga terlihat mundur satu langkah ke belakang, dia menghindari serangan sensei Herman, dan mulai menyerang balik ke arah tubuh sensei.
"Kena kau" ucap Angga
__ADS_1
"(Teknik tempur : step back)" ucap sensei
Langkah kaki sensei terlihat mundur satu langkah. Ujung pedang foil itu hampir mengenai tubuh sensei.
"Apakah kau meniru gerakan ku ? sensei" tanya Angga
"Hahaha sepertinya kau menyadari nya" jawab sensei Herman
"Iya aku meniru nya, sama seperti waktu melawan Aziz, aku meniru gerakan Bagas" ucap sensei Herman
"Jadi itu kemampuan mu, sensei" ucap Angga
"Sepertinya sensei mampu meniru beberapa gerakan bertempur. Ini lawan yang susah" ucap ku
"Kalo begitu aku akan melanjutkan serangan ku" ucap Angga
Pertarungan pun terjadi. Angga mampu menyerang sambil menghindari serangan sensei, dan sensei pun mampu meniru beberapa gerakan Angga.
Pertarungan ini pun berlangsung lama, hingga pada akhirnya...
"Wuuuaahhhh"
Angga kehilangan konsentrasi saat mendengar suara itu.
"Kau kalah" ucap sensei sembari menyerang dengan satu pukulan di wajah Angga
Angga pun terjatuh, akibat serangan sensei tersebut.
"Sepertinya kau kehilangan fokus" ucap sensei Herman membangunkan Angga
Aku melihat kebelakang dari arah suara itu, dan ternyata suara itu berasal dari Bagas terbangun dari pingsan nya
Aku Bagas, terbangun dari tidur ku
"Areeeee... Dimana aku ?" ucap ku kebingungan
"Kau masih di sekolah. Kau tadi pingsan saat melawan sensei Herman" ucap Kahfi
"A.... Aku ingat" ucap ku mencoba bangun
"Tak ku sangka dia pecundang, menyerang ku dari belakang. Cih..." ucap ku
"A... Itu dia si pecundang" ucap ku menunjuk ke arah sensei Herman
"Hey kau paman Pecundang, kau licik yaa menyerang ku dari belakang. Aku ingin tanding ulang" ucap ku menantang sensei
"Kau heboh sekali ketika bangun" ucap Kahfi
"Hahaha syukurlah kau tidak apa apa" ucap Shiva
"Bagas, sudah lah. Biar aku yang akan membalas nya" ucap Rian kepada ku
"Ehh Rian, kau begitu keren... Tapi kenapa malah menepuk bahu Shiva" ucap Kahfi
"Tidak tidak tidak... Biarkan aku saja yang melawan nya" ucap ku
"Hey kau bodoh, mengapa kau mengagetkan ku saat aku sedang konsentrasi melawan sensei" ucap Angga
"Kau yang bodoh, gitu saja kalah" ucap ku
"Sudah sudah. Untuk semua yang di sini, ingat lah walaupun kondisi apapun itu, tetap lah konsentrasi saat sedang bertarung" ucap sensei Herman
"Iyaa... Sensei" ucap semua murid
"Jadi selanjutnya Rian yang akan maju ?" tanya sensei
"Tidak.... Aku lah yang akan maju" ucap ku
"Iyaa sensei" jawab Rian
Belebuk (Suara benturan dinding)
Kahfi mendorong ku ke dinding.
"Sudah lah kau duduk saja dan tonton" ucap Kahfi
"Ciihh.." ucap ku memalingkan wajah
Rian pun maju kedepan untuk melawan sensei Herman, tapi....
"Woy Rian, mengapa kau berjalan di arah yang salah. Sensei berada di depan" teriak Kahfi
"A... Maaf" jawab Rian
"Ayo Rian, semangat kalahkan paman pecundang itu" teriak ku
"Terimakasih Bagas" jawab Rian
"(Mengapa dia memanggil Rian begitu lancar, sedangkan aku di panggil nya Kafur sama dia)" ucap Kahfi memegangi dagu
"Ada apa Kafur ?" tanya ku kepada Kahfi
"Tidak, tidak ada apa apa" jawab Kahfi
"Sudah ku bilang nama ku Kahfi bukan Kafur" ucap Kahfi memarahi ku
Rian sedang menyiapkan beberapa panah untuk busur nya.
"Jadi kau tipe penyerang jarak jauh yaa, Rian" ucap sensei
Pertarungan pun di mulai.
__ADS_1
Rian memulai serangan nya, tapi...