The Last Knight : New Generation ( Vol 1)

The Last Knight : New Generation ( Vol 1)
Bab 1 : Knight part 4


__ADS_3

Kami pun tiba di depan pintu kelas, terlihat ruangan yang nyaman dan hangat disertai bangku kayu 1 pasang, ada juga jendela untuk melihat keluar, dari sini keliatan menara begitu besar tempat dimana Guild berada, ruangan ini tidak besar atau pun kecil.


"Inilah ruangan belajar untuk kalian wahai murid-murid ku!" ucap guru Herman kepada murid-muridnya


"Silahkan kalian pilih tempat duduk kalian masing-masing!" ucap guru Herman


Aku duduk di kiri paling belakang, di depan ku ada Rian, di samping Rian ada Kahfi, dan di belakang Kahfi ada seorang wanita lumayan cantik dengan rambut kepang kesamping bewarna coklat, dan mata yang cerah bewarna hitam.


"Wah sepertinya sudah dapat bangku semua yaa ?, (sepertinya tebakan orang itu benar. Tahun ini yang akan menjadi murid baru berjumlah 50 orang tiap masing-masing kelas. Tak ku sangka bisa tepat tebakannya.)" ucap guru Herman kepada para murid nya.


*Note


Jika ada tanda dalam kurung () dalam sebuah percakapan, berarti dia sedang berbicara dalam hati.


"Sudah, pak Guru!" ucap murid-murid


"Oke semua, tolong duduk dengan tenang dan perhatian bapak mau berbicara!" ucap pak guru Herman.


Semua murid mulai fokus menatap pak guru Herman kecuali aku dan tentu saja Rian. Rian malah menatap pandangan ke Kahfi dan aku malah ke jendela.


"Hehehehe itu berdua yang di belakang bisa tidak menghadap ke pak guru dulu!" ucap pak guru Herman.


"Heey Rian, kau salah menghadap. Pak Guru meminta mu menghadap ke arah depan!" ucap Kahfi memperingati Rian.


"Maaf," Jawab Rian.


"Ano... pak Guru meminta mu untuk menghadap ke sana!" ucap seorang gadis yang berada di samping ku.


Suara gadis itu begitu lembut.


"Ahh...maafkan aku. Aku melamun," jawab ku kepada gadis itu.


Lagi-lagi aku memikirkan tentang apa yang aku lihat tadi.


"Tidak apa-apa," ucap gadis tersebut.


"Oke jadi murid-murid ku tercinta, sekali lagi ku perkenalkan diri. Nama ku Herman umur 32 tahun dan aku adalah wali kelas kalian semua yang berada di sini. Kalian semua aku yang memilih untuk jadi murid ku, karena aku yakin dari posisi kalian yang berada di barisan paling belakang saat tadi di halaman, aku yakin kalian adalah murid-murid yang bandel. Kenapa bapak bisa tau? Karena saat di halaman tadi kalian semua berpindah dari posisi depan ke belakang seakan-akan mencari tempat yang sejuk untuk diri kalian sendiri tanpa memikirkan orang lain yang kepanasan untuk bisa bertahan, bahkan satu dari kalian ada yang masih sempat-sempat nya makan," ucap pak guru Herman.


Tiba-tiba buluk kuduk ku merinding.


Beberapa murid melihat ku.


"Tapi bapak yakin ada beberapa orang yang sudah berada di sana duluan. Oke bapak sudah mengenal diri, sekarang kalianlah yang akan mengenalkan diri kalian masing-masing! Dan alasan kalian menjadi knight!" ucap pak guru Herman.


"Na-a-a-a-namaku Aziz, u-u-u-mur ku 15 tahun. A-a-a-a-alasan ku me-e-e-e-menjadi Knight u-u-u-u-untuk menjadi kuat," ucap seorang lelaki berwajah bulat, berambut botak, dan sepertinya dia gagap.


"Hahahaha, apakah kau bodoh kah? Mengapa cara bicara mu begitu?" ucap ku yang tertawa terbahak-bahak.


Seketika orang-orang pada melihat ku.


"Ehh... ada apa? mengapa kalian pada melihat ku?"


"Maaf, maaf atas kelakuan orang ini. Dia orang yang sangat bodoh. Sekali lagi maaf," ucap Kahfi yang membela ku dan menundukkan kepalanya kepada orang-orang.


"Ehhh... ada apa?" ucap ku yang terheran-heran.


"Ti-i-i-i-tidak apa apa!" ucap Aziz kepada Kahfi.


"Hahahahahaha, lihat dia berbicara seperti itu, hahahaha!" aku yang tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk jari ku kepada Aziz.


Pletuungg (Bunyi pukulan di atas kepala)


"Bodohnya, kau!!!" ucap Kahfi memukul ku.


"Sakittttttttt..." teriak ku.


"Maaf, maaf, maaf" ucap Kahfi sekali lagi meminta maaf.


"Kalau begitu kita lanjutkan!" ucap pak guru Herman.


"Hahahaha, sepertinya aku tidak perlu mengenalkan nama ku disini, kalian semua pasti sudah pada mengenal diriku yang tampan ini."


"Siapa kau?" ucap ku kepada orang tersebut.


"Oy, oy, oy... masa kau tidak mengenali ku yang tampan ini?"


"Apakah kau bodoh?" ucap ku.


"Oy, oy, oy... orang bodoh teriak bodoh, huahahaha"


"Kalo gitu kau lebih bodoh dari ku!" ucap ku.


"Oy, oy, oy... apakah kau mengajak ku untuk berantem?"


Dia menghampiri ku.


"Ayo, sini kita berantem!" ucap ku sambil menghampiri dia.


"Kalian berdua kenapa ribut?" ucap Kahfi yang mencoba memisahkan kita berdua.


"Rian bantu aku memisahkan mereka berdua!" ucap Kahfi yang meminta tolong


"Woy, Rian!!!" teriak Kahfi.


"Jiiii..... apakah itu yang dinamakan semut?"


Rian sedang melamun, pandangannya terus ke atas.


"Sini yaa, kau! Akan ku jadikan kau makanan ikan!" ucap ku.

__ADS_1


"Haaa... kau yang kesini! Akan ku jadikan kau makanan kuda ku!"


Pak guru Herman hanya bisa tersenyum melihatnya dan murid-murid lain juga tertawa, ada beberapa yang mau nolongin tapi ragu-ragu, ada juga yang tidak perduli dengan apa yang terjadi.


"Woy pak Guru, tolong saya memisahkan mereka!" ucap Kahfi.


"Siapapun Tolonginnnn... guaaaaa!!!" Teriak Kahfi.


Di suatu tempat yang berada di luar kota.


"Hmmm... sepertinya aku menemukan yang tepat."


"grrrrrrrrrrrrr..."


Balik ke sekolah.


Di tengah keributan ada sosok pahlawan yang memisahkan mereka berdua.


"Heyyy... ka-a-a-a-a-kalian berdua, he-e-e-e-hentikan!!!" ucap Aziz yang berdiri dari bangkunya.


"Hahaha, lihat itu! Hahaha, dari cara dia berbicara, hahaha. Aku tidak bisa berhenti tertawa, hahahahaha," ucap ku tertawa terbahak-bahak dan tidak memperdulikan apa yang tadi terjadi yang sedang terjadi.


Akhirnya pun tenang.


"Akhirnya tenang juga yaa. Silahkan lanjutkan perkenalkan diri kalian!" ucap pak guru Herman.


"Nama ku Angga Oedo, umur 15 tahun. Alasan ku menjadi Knight, tentu saja untuk melindungi kalian yang lemah, hahahahaha," ucap orang tersebut yang sebelumnya bertengkar dengan ku.


"Ehh... Oedo? Bukannya itu nama salah satu Bangsawan?"


"Tak disangka dia seorang Bangsawan walaupun sedikit bodoh,"


"Walaupun bodoh tapi asalkan tampan tidak masalah,"


Seketika para murid menjadi heboh karena di kelas ini ada seorang bangsawan.


"Pfffff..." ucap ku sambil membuang muka.


"Apa-apaan kau!!! Malah buang muka, ngajak berantem lagi?!" ucap Angga kepada ku.


"Ha... ha... ha... tak disangka dia seorang Bangsawan, ha... ha... ha..." ucap Kahfi yang kelelahan.


"Mengapa kau kelelahan begitu Kafur?" ucap ku kepada Kahfi.


"Ini semua karena kalian berdua! Ha... ha... ha... dan satu hal lagi, ha... ha... ha... namaku itu Kahfi jangan seenaknya saja mengganti!" jawab Kahfi yang cukup kelelahan.


"Hahahaha... maaf!" ucap ku.


Tong... Tong... Tong... (Suara bel)


Suara bel berbunyi sangat kencang di luar jendela menandakan waktunya makan siang bagi murid-murid.


"Yah... sepertinya untuk sesi perkenalan sampai sini saja, itu tadi adalah suara bel menandakan waktunya kalian istirahat, nanti untuk sesi selanjutkan akan ada guru lain yang akan masuk, menjelaskan bagaimana sejarah knight. Kalau begitu silahkan kalian istirahat!" ucap pak Herman.


Kami pun bergegas pergi ke luar kelas untuk beristirahat, ada beberapa orang yang masih berada di dalam kelas termasuk aku, kahfi, Rian yang masih memandangi atas, Angga, dan seorang wanita yang duduk sebelah dari bangku ku.


"Ahh... akhirnya istirahat juga, aku sudah sangat kelaparan di tambah kejadian tadi membuat ku lelah," ucap kahfi memandangi ku.


"Woy Rian, sampai kapan kau memandang ke atas?" ucap Kahfi yang melihat ke atas juga.


"Apakah itu yang dinamakan semut?"


"Semut?" aku melihat ke atas juga.


"Apakah 'kah kau, bodoh? Sudah jelas-jelas itu kadal" ucap ku.


"Oy Bagas, lebih baik kau tidak usah berbicara! Itu adalah cicak, dia emang suka nempel di atas dinding untuk mencari mangsanya yaitu nyamuk," ucap Kahfi menjelaskan ke Rian.


"Jadi begitu."


"Yosh saat nya kita makan!"


Kahfi dan Rian membuat tas mereka yang isi nya bento, Rian membawa makanan daging, sedangkan Kahfi membawa Roti tawar.


"Ehh... dimana bento ku?" ucap ku.


"Bukannya kau sudah menghabiskannya, pas di halaman tadi?" jawab Kahfi.


"A... jadi begitu."


"Kalau begitu minta bento mu!" ucap ku kepada mereka berdua.


Aku berdiri dari bangku ku dan mencoba mengambil bento Kahfi, tapi...


"Ciii..." Aku menatap Kahfi dengan wajah kasihan kepadanya.


"Apa-apaan pandangan mu itu!" ucap Kahfi.


"Aku minta sama Rian saja!" ucap ku kepada Kahfi.


"Uyy... Rian, bagi yaa?!" ucap ku ke Rian.


"Aku begini bukan berarti tidak mampu membeli daging, aku bisa saja menangkap beberapa monster, lalu ku jual ke Guild untuk mendapatkan uang," ucap Kahfi.


"Lalu kenapa?" tanya ku sambil memakan bentonya Rian.


"Karena aku ingin memakan roti saja," jawab Kahfi dengan nada malu-malu.


"Ohh... begitu," ucap ku sambil memandangi Kahfi dengan wajah kasihan melihatnya.

__ADS_1


"Kalian bertiga seperti nya sangat akrab yaa?" ucap seorang gadis yang berada di belakang Kahfi.


"Tidak... *makan* amnyam nyam nyam nyam. Kaami bertiga baru saja kenalan tadi pagi pas di halaman, *makan* amnyam nyam nyam," jawab ku sambil memakan bentonya Rian.


"Betulkah?" tanya gadis tersebut.


"Hooh, betul! *makan* Amnyam nyam nyam nyam," jawab ku.


"Ada apa emang nya?" tanya ku.


"Tidak, hanya saja kalian seperti sudah saling kenal satu sama lain," jawab gadis tersebut.


"Begitu, ya. *makan* Amnyam nyam nyam," ucap ku.


"Wooy Rian bento mu... habis!" ucap Kahfi.


"A.... betul, ni Rian kotak bento mu. Terimakasih atas makannya!" ucap ku sambil ngasih kotak makanan Rian.


"Lihat Rian! Makanan mu di habiskan olehnya!" ucap Kahfi sambil menunjuk kotak makanan ke Rian.


"Tidak usah di pikiran! Nanti kau buatkan yang baru saja!" ucap ku.


"Lihat, Rian! Dia menghabiskannya, dan kau kenapa tidak marah? malah melihat ke cicak mulu!" ucap Kahfi ke Rian.


"Hahaha, kalian sepertinya sangat akur," ucap gadis tersebut sambil tertawa kecil.


"Oh iya aku belum memperkenalkan diri, nama ku Shiva Ardilles (16), salam kenal!" ucap gadis tersebut.


"Hooh... aku Bagas!" ucap ku.


"Aku Kahfi, dan orang yang di sana itu Rian. Salam kenal!" ucap Kahfi sambil memperkenalkan Rian juga, karena Rian masih saja melihat cicak.


"Ehh... tunggu..."


"Ardilles katamu? Ardilles dari keluarga Bangsawan itu?" tanya Kahfi.


"Iyap, betul" jawab Shiva.


"Glebuk glebuk glebuk, eughhh, ahhhhh..." Aku sedang minum.


"Jadi, di kelas ini ada 2 orang Bangsawan" Ucap kahfi


"Ngomong-ngomong. Heey Rian, dia mengambil botol minum mu juga dan bahkan menghabiskannya!"


"Lihat di atas! Cicaknya sedang menyatu," ucap Rian.


"Itu mereka sedang berhubungan intim, lebih baik jangan kau lihat!" ucap Kahfi.


"Hahaha, kalian bertiga sangat akur," ucap Shiva.


Selang beberapa menit kemudian.


"Oh yaa, apa-apaan ini di belakang, sepertinya perkumpulan orang-orang lemah. Tidak termasuk dirimu, Shiva," ucap Angga menuju kemari.


"Apa katamu!!! Aku tidak lemah, ngajak berantem lagi yaaa, ayo sini!!!" jawab ku.


"A... pas sekali," ucap ku yang melihat botol Rian.


Aku melempar botol Rian itu tepat ke arah mukanya Angga.


"Sakit tau!!! Awas kau, yaa!!!"


Angga ngambil salah satu tas yang berada di sampingnya, lalu melemparkan ke arah ku.


Booom tepat arah nya ke muka ku.


"Sakitt..." teriak ku.


Aku mengambil tasnya itu kembali, lalu melemparkannya ke Angga.


Booom tepat arahnya ke muka Angga.


"Sakittt..." teriak Angga.


"Hahahahahahaha," aku tertawa.


Angga melempar lagi tas tersebut tapi aku berhasil menghindar.


"Hehehehehe, not bad!" ucap ku.


"Rasakan ini!" ucap ku sambil melempar tas tersebut.


"Hey kalian berdua hentikan!" ucap Kahfi.


"Ehh... cicak itu bergerak maju mundur," ucap Rian.


Setelah beberapa menit kemudian, Datanglah seorang pahlawan yang menghentikan perkelahian.


"He-e-e-e-hentikan!!! Kalian be-e-e-e-berdua hentikan! I-i-i-itu Tas ku!" ucap Aziz sambil berlari mengambil tasnya.


"Awas kau, yaa!" ucap Angga


"Bleeee..." Aku meledeknya.


Bel pun kembali berbunyi. Murid-murid mulai kembali masuk ke kelas masing-masing.


"Nah, sesuai yang bapak bilang tadi, akan ada guru lain yang akan membahas tentang sejarah Knight," ucap pak Herman.


"Silahkan masuk, Pak!" ucap pak Herman sambil menuju ke arah pintu masuk kelas.

__ADS_1


Guru itu pun masuk, dan seketika...


__ADS_2