The Last Knight : New Generation ( Vol 1)

The Last Knight : New Generation ( Vol 1)
Bab 4 : Desa Lily dan Monster Pemabuk part 3


__ADS_3

Tiara memimpin kami dan merencanakan sesuatu.


"Kita harus bergegas mencari sarang mereka, kalau tidak, kabut itu akan muncul kembali dan Monster itu akan berdatangan ke desa ini."


"Tapi dimana sarang itu ? Dan lagi pula juga kita tidak bisa melihat Monster itu."


Apa yang di katakan Angga ada benarnya juga, saat ini kami kebingungan karena tidak dapat melihat wujud Monster itu dengan kasat mata.


Tiara mencoba memikirkan sesuatu.


"Coba kalian ambil air yang berada di sungai itu, dan kalian bawa satu persatu."


"Untuk apa ?"


"Kalian lihat sendiri kan, kelemahan dari Monster itu adalah air."


Kami pun bergegas mengambil beberapa air di sungai.


Aku, Adit, dan Shiva di tugaskan untuk mengambil air di sungai.


"Air ini sungguh jernih yaa."


Shiva membasuh muka nya menggunakan air sungai tersebut.


Aku memisahkan diri dengan mereka, dan pergi ke atas.


Tuussttt (Suara air beradu dengan air lain)


"Ahh... Lega nya."


Akhirnya aku dapat kencing pada sungai ini, alasan ku menjauh karena aku kepengen kencing, tanpa memberitahukan mereka berdua.


Aku pun kembali ke tempat mereka berada.


Ketika ku sampai, Shiva langsung bertanya kepada ku.


"Kamu habis dari mana, Bagas ?"


Aku melihat Adit sedang membasuhi muka nya dengan air sungai.


"A.... Hehehehe."


Aku tidak dapat berbicara, saat mengetahui Adit membasuhi muka nya dengan air yang sudah tercampur air kencing ku.


"Ahh... Air ini segar sekali."


Selain membasuhi muka nya, Adit pun meminum air sungai tersebut.


"A...."


"Ada apa, Bagas ?"


"Tidak, tidak apa apa koo."


Aku memalingkan wajah, berpura pura tidak tau.


"Ayo, kita segera mengambil air ini."


Sebelum sampai sungai, Adit membuat sebuah botol kayu berjumlah 10 dari beberapa pohon.


Kami mengambil air tersebut, dan menaruh botol kayu pada tas kosong yang di bawa Adit.


Kami pun bergegas kembali menuju tempat mereka berada.


Sesampainya di sana, kami kaget melihat Angga dan Kahfi tersungkur di tanah. Aku dapat melihat ada sosok Monster Pemabuk berada di antara mereka, dengan keadaan sudah mengempis dan mati.


Kami pun menghampiri nya.


"Ada apa ini ?"


Tiara menjawab dengan tenang.


"Mereka berdua menghirup asap dari Monster Pemabuk. Aku mengetahui bahwa kabut itu ternyata adalah bersumber dari Monster ini, mereka menciptakan kabut yang sangat tebal hingga menutupi desa ini. Jika firasat ku benar, maka jumlah Monster Pemabuk ini berjumlah banyak, kemungkinan berjumlah 500."


Wuah... Kami semua kaget mendengar perkataan Tiara, tapi di satu sisi kami merasa kagum dengan nya, karena dia sungguh pintar sekali dalam menganalisis.


"Jumlah mereka tidak sedikit, apa botol ini cukup untuk membasmi mereka."


Shiva mulai ragu dengan botol yang di bawa nya.


"Kita harus segera menemukan sarang nya !"


Tiara menatap tajam ke arah ku, tapi dia sontak langsung membuang muka, mungkin karena dia merasa malu dengan ku.


Tiba tiba Kahfi berdiri dengan tegak.


"Hey lihat, Kafur berdiri."


Aku kaget melihat kahfi berdiri.


"Hehehehe."


Kahfi tersenyum, tiba tiba dia menoleh ke atas dan berteriak.


"Aku sayang emak !!!"


Teriakannya sungguh mengagetkan kami, bahkan kami kebingungan harus memasang wajah seperti apa kepada Kahfi.


Kahfi menoleh kami sambil mengacungkan jempol. Dia tersenyum dengan muka memerah.


"Hehehehe."


Tuuukk (Suara Pukulan)


Tiara memukul Kahfi di bagian leher belakang, hingga membuat nya pingsan.


Duukkk (Suara jatuh)


Kahfi terjatuh di atas tanah.


"Pokoknya kita harus menemukan secepat mungkin, sebelum kabut itu muncul kembali !!!"


Angga mencoba berdiri.


Namun sayang.


Tiara dengan sigap membuat Angga Pingsan.


"Ayo kita cari !!!"


"Baik Senpai."


Aku melihat wajah Adit, dan Adit pun melihat wajah ku.


"(Hey, wanita itu sangat lah kejam sekali)"


"(Betul")


Kami berdua berbicara menggunakan telepati.


Sedangkan Rian hanya duduk menyendiri, layaknya anak kecil yang tidak memiliki teman.


Tiara melihat Rian.


"Hey kau yang di sana."


Rian sedikit kaget ketika Tiara memanggil nya.


"Iyaa, ada apa ?"


"Bisakah kau bawa kedua orang ini menuju tempat dimana para warga berada."


Oy, oy, oy... Jangan kau suruh Rian untuk membawa nya, karena aku tau dia akan nyasar seketika.


Aku menawarkan diri.


"Biar aku saja yang membawa mereka."


Tiara tidak merespon ketika aku menawarkan diri.


Aku mengangkat mereka berdua ketempat dimana warga berada.


Aku menyadari sesuatu, bahwa sikap Tiara hampir mirip dengan Andre, hanya saja yang membedakan Andre lebih kasar ketimbang Tiara yang begitu lembut. Tiara lembut dalam hal berbicara, ketimbang Andre yang suka menyakiti perasaan orang lain.


Ketika aku sampai, aku menaruh mereka berdua.


"Yosh... Saat nya kem...


Aku kaget melihat seseorang Kakek berdiri di hadapan ku.


"Hantu...."


Aku sontak langsung kabur dari nya


"Dimana hantu ?"


Kakek pun ikut berlari mengejar ku.


Aku menoleh kebelakang ketika berlari, dan melihat Kakek itu mengikuti ku.


"Aa.... Tolong.... Aku di kejar hantu !!!"


"Dimana ?"


Kakek itu terus mengikuti ku.


Ketika sampai, aku langsung bersembunyi di belakang tubuh Tiara.

__ADS_1


Tiara sontak menanyaiku.


"Hey, ada apa ?"


"Ada hantu."


"Dimana ?"


Aku menunjukkan jari ku ke arah Kakek yang sedang berlari.


"Itu !!!"


Kakek itu sampai di tempat kami dengan keadaan kecapean.


"Ah... Ah... Ah... Tunggu, Nak."


Kakek itu berhenti tepat di samping Shiva.


"Menjauh lah dari ku !!!"


"Dimana hantu itu, Nak ? Soal nya, aku juga takut terhadap hantu."


"Kau lah, hantu nya !!!"


"Ehh... Aku ?"


Kakek itu kebingungan saat aku berkata bahwa dia lah hantu nya.


"Yahh... Hahaha ternyata kau salah paham, Nak. Walaupun aku setua ini, aku belum meninggal koo."


"Jadi kau bukan hantu ?"


"Tentu saja bukan."


"Jadi begitu."


Aku ternyata salah paham, kepada Kakek itu dan mengira dia adalah hantu. Mungkin karena pakaian yang dia pakai bewarna putih, dan memiliki rambut begitu panjang sepinggang bewarna putih di sertai Kumis dan jenggot bewarna putih juga, dan tubuh nya sangat kurus sekali, tapi ini ideal dengan usianya Kakek itu.


Kedua tangan ku melepaskan pinggang Tiara yang tadi ku pegang untuk bersembunyi.


"Hahahaha, Maaf."


"Tidak apa apa, Nak."


"Ngomong ngomong, Kakek ke sini ada keperluan apa ?"


"Seharusnya itu perkataan ku."


"Oh iya."


Shiva terlihat memandangi wajah Kakek tersebut. Ketika Kakek itu mengetahui Shiva sedang memandangi nya, Kakek tersebut langsung bertanya.


"Ada apa, neng ?"


"Kakek Rohman ?"


"Bagaimana kau bisa mengetahui ku ? Hehehe sepertinya aku terkenal di kalangan gadis yaa."


Kakek ini terlalu pede saat Shiva menebak nama nya.


"Aku betul nama ku Rohman (68), kepala desa ini."


"Ah... Ternyata benar kau Kakek Rohman."


Shiva terlihat senang saat mengetahui nya.


"Aku Shiva, yang pernah berkunjung ke desa ini bersama Keluarga ku, Kek."


"Ohh... Hahahaha... Yang mana yaa ?"


"Itu loh, 10 Tahun yang lalu, aku dan keluargaku datang kemari. Dan Kakek memberikan ku bunga."


"Ahh... Yang itu yaa."


Muka Kakek itu begitu mencurigakan.


"Aku yakin kau tidak ingat."


Adit langsung menyindir Kakek Rohman.


"Hahaha, maaf yaa. Aku ini sudah sangat tua, jadi mudah sekali untuk lupa."


Walaupun begitu Shiva terlihat senang.


"Tidak apa apa ko, asalkan Kakek masih hidup itu membuat ku senang."


Tiara yang berdiri di samping ku, seketika berbicara.


"Ngomong ngomong, ada apa dengan Desa ini ?"


"Ah, sebenarnya... Tadi malam kami di serang, tiba tiba kabut menutupi desa ini. Kami tidak mengetahui nya, kami pikir hanya lah kabut biasa saja. Tapi semakin kami menghirup kabut itu, kepala kami terasa begitu pusing dan seketika beberapa dari kami berjatuhan. Saat itu aku mencoba untuk bertahan, namun sayang aku tidak bisa menahan nya, dan seketika aku pun jatuh pingsan."


"Apakah kau tau, dimana sarang Monster tersebut ?"


"Hooh, aku mengetahui nya. Ku pikir itu hanya lah sebuah lubang biasa, tapi semakin hari ko semakin besar lobang itu. Aku dan beberapa warga desa mencoba menelusuri nya. Tapi sesampainya di sana, kami tidak menemukan apa pun."


"Kau tidak akan dapat melihat Monster itu, karena Monster itu tidak bisa di lihat dengan kasat mata. Dimana lubang itu ?"


Tatapan Tiara begitu tajam saat berbicara.


"Lubang itu berada di dekat kebun Bunga Lily."


"Baik kita akan ke sana, sekarang !!!"


Aku memegangi bahu Tiara yang saat itu sudah siap berjalan dan seketika mengentikan nya.


"Ada apa ?"


Tiara menoleh kebelakang.


"Berlarian membuat ku lapar, lebih baik kita makan saja dulu."


"Baiklah."


Tiara menyetujui begitu saja.


Adit terheran heran, mengapa dia bisa menyetujui begitu saja terhadap ku.


Aku mencoba mengajak Rian untuk makan.


"Woy Rian, ayo kita makan !"


Rian sontak langsung berdiri, dan menghampiri arah samping bukan arah ku.


Adit dengan sigap langsung berlari memegangi tangan Rian.


"Hey, kau salah jalan."


"Maaf."


Shiva membuka tas yang berisi makanan.


Di dalam nya terdapat 7 kotak bekal, untuk kami. Dan isi nya cuman Ikan goreng dan nai putih.


Aku mencoba menawarkan makanan kepada Kakek Rohman yang masih berdiri.


"Kakek, ayo kita makan bersama."


"Terimakasih, tapi perut ku sudah kenyang."


"Tidak, kau berbohong. Kau kan pingsan sejak semalam, mana mungkin sempat untuk makan."


Aku melemparkan kotak bekal kepada Kakek Rohman.


"Terimakasih, Nak."


Kami pun makan bersama kecuali Tiara.


"Hey mengapa kau tidak makan ?"


"Saat ini aku...


Aku langsung menyuapi makanan ke mulut nya Tiara.


"Enak kan."


Adit melihat ku terheran heran.


"(Hey Bagas, kau terlalu berani)"


Tiara mengunyah habis makanan yang ku suapi nya dengan wajah memerah.


"Ni, kotak bekal mu."


Aku memberikan kotak bekal kepada Tiara, dan saat ini hanya tersisa 1 kotak bekal saja.


Tiara menerima nya dan langsung makan tanpa bisa menolaknya.


Kami pun makan bersama.


"Hey Kakek, amususuhsha."


"Sejak aku masih muda nak, saat itu aku berumur 30 Tahun, dan aku di percaya menjadi kepala desa di sini."


"Uwauwauaua."


"Anak ku tinggal di Kota Pusat, saat ini dia perdagangan di sana."

__ADS_1


Adit memasang wajah terheran heran kepada ku.


"(Hey Bagaimana bisa, dia menjawab pertanyaan dari Bagas)"


Kami pun menyudahi makanan kami.


"Ah... Kenyang nya."


Kami berdiri dan bergegas menuju lubang itu.


Rian di pegangi oleh Adit, Kakek Rohman menunjukkan kami jalan.


Seketika kami sampai, kami begitu takjub melihat Bunga Bunga bermekaran di kebun ini. Tapi di satu sisi, aku melihat beberapa Monster Pemabuk sedang berkeliaran.


"Luas sekali...."


Shiva terlihat begitu senang saat melihat bunga.


Adit mencoba menanyakan Shiva.


"Apakah kau menyukai bunga ?"


"Iya, aku menyukai nya."


Kakek Rohman menunjukkan jari nya pada suatu tempat.


"Di sana lah, lubang itu berada."


Tiara mencoba menanyakan sesuatu ke Shiva.


"Hey, apakah kau bisa membuat sihir perlindungan di seluruh tubuh kami, termasuk hidung ?"


"Aku bisa."


Shiva mulai merapalkan sihir nya.


"Matahari menyinari dunia begitu terang, kehangatan yang di berikan sungguh lah baik, dan kami berlindung dari dunia yang begitu jahat. Teknik Sihir : Perlindungan Kesucian"


Tubuh kami seketika di balut dengan sihir yang di ciptakan Shiva.


"Ayo, kita ke sana."


Kami pun bergegas menuju lubang itu.


Lubang ini begitu besar, sepertinya untuk 2 orang masuk bersamaan bisa.


Kami melihat lubang itu sangat lah dalam.


"Bisakah kau melihat sesuatu di dalam ?"


Tiara menyuruh ku, dan aku segera memastikan lubang itu apakah ada Monster.


"Aku tidak dapat melihat apapun, mungkin karena gelap di dalam."


"Jadi begitu."


Tiara menyodorkan tangan nya ke depan, menghadap lobang itu.


"Bisakah kau memegangi tubuh ku."


Tiara menyuruh ku memegangi nya.


"Baiklah."


Sontak aku memegang perut Tiara dari belakang, dan aneh nya, wajah Tiara memerah saat aku memeluk dari belakang.


Semua orang terheran heran saat aku memeluk Tiara, termasuk Kakek Rohman.


"Ciee anak muda. Seandainya saja usia ku seperti kalian, mungkin aku dapat merayu semua wanita yang berada di dunia ini."


Adit merespon perkataan Kakek Rohman.


"Hey, kau terlalu tua untuk itu."


"Kan ku bilang seandainya sesuai kalian !!!"


Tiara mulai merapalkan sihir nya.


"Air sangat lah berarti untuk kelangsungan hidup, jangan pernah meremehkan kekuatan air. Teknik Sihir Water Element : Penyiraman"


Seketika air keluar dari kedua tangan Tiara.


Aku mencoba menahan tubuh Tiara sebaik mungkin, karena tekanan air tersebut, membuat tubuh nya terdorong kebelakang.


Peeerrr (Suara Air)


Air itu masuk ke dalam lobang berjumlah banyak.


Seketika beberapa Monster Pemabuk pada keluar. Di saat itu pula, ada satu Monster Pemabuk yang bertubuh besar yang ikut keluar. Kami dapat melihat nya, Monster Pemabuk yang besar itu keluar.


Tiara memberhentikan sihir nya.


Rian tiba tiba menyiapkan Panah dan siap untuk memanah Monster Pemabuk yang besar itu.


"Teknik Sihir : Portal"


Teng


Teng


Teng (Suara muncul)


Rian membuat sebuah sihir portal transparan berjumlah 2 lapis di depan nya.


Rian mencoba fokus dengan panah nya, dan membidik sesuai dengan Monster itu berada.


"Teknik Panah : Bidikan Maut"


Shhuuuuu (Suara busur yang di lepaskan)


Rian melepaskan tembakan nya. Busur itu melewati portal yang di depan nya, seketika kecepatan pada busur itu meningkat.


Piiissss (Suara menghempis)


Busur itu tepat mengenai Monster Pemabuk, dan Monster itu tiba tiba mengeluarkan asap tebal.


Tiara dengan sigap langsung menyiram asap itu.


"Air sangat lah berarti untuk kelangsungan hidup, jangan pernah meremehkan kekuatan air. Teknik Sihir Water Element : Menyemprot"


Asap itu hilang seketika, saat terkena air yang Tiara berikan.


Para Monster Pemabuk seketika pada mati, saat yang besar nya mati.


Yang ku heran saat ini adalah kesigapan Rian dan Tiara begitu cepat dalam menangani situasi.


Aku tidak bisa berkata apa apa, karena mereka berdua lah yang membunuh Monster Pemabuk itu.


...**********...


Pukul 17.00


Asosiasi Guild.


"Ini bunga nya."


Aku memberikan tas berisi bunga yang kami dapatkan dari Desa Lily kepada Jessica.


"Wih, kalian berhasil menyelesaikan Quest dengan cepat."


Kahfi dan Angga masih kebingungan sebenarnya apa yang terjadi.


Setelah kami berhasil membunuh Monster Pemabuk, kami di berikan Bunga Lily secara gratis oleh Kakek Rohman.


Para warga sudah terbangun dari pingsan nya, dan kami saat itu memutuskan untuk pulang.


"Ini hadiah nya."


Jessica memberikan kami imbalan atas Quest ini.


"Jadi apa yang kalian dapatkan di sana ?"


"Aku mendapatkan pengalaman penting, tentang kesigapan dalam membuat keputusan. Terimakasih Tiara dan Rian. Kalian berdua hebat."


Aku memuji mereka berdua, seketika wajah mereka memerah.


"Hey sebenarnya apa yang terjadi ?"


"Iyaa, sebenarnya apa yang terjadi ?"


Kedua orang ini berisik sekali. Lebih baik kalian pingsan saja lagi.


"Rahasia."


Shiva menjawab pertanyaan mereka dengan senyuman


Adit pun menjawab dengan nada mengejek.


"Kalian berdua tidur, itulah yang terjadi."


Aku pun ikut mengejek nya.


"Aku sayang emak."


Seketika suasana nya berubah menjadi tawa bahagia.


"Sebenarnya apa sii yang terjadi !!!"

__ADS_1


__ADS_2