
Pukul 11.30
Matahari menyinari tepat di atas kepala ku. Jika aku menghentikan langkah ku, maka akan menghambat mereka yang sedang menuju Gua Qera. Jadi aku akan berusaha untuk tidak istirahat dalam berjalan kami.
Tiap langkah demi langkah kami berjalan dengan tenang, anehnya tidak ada satu pun monster yang mendekati kami. Ini aneh loh, bahkan hewan pun tidak mendekati juga.
Kahfi berjalan bersama Rian paling depan, Angga dan Adit berada di belakang untuk melindungi kami, sedangkan aku dan Shiva berada di tengah. Ini formasi yang bagus, ide ini direncanakan oleh Kahfi sebelum kami berangkat dari desa Remtu.
"Jadi aku dan Rian akan berjalan pada barisan depan, untuk mengambil jalan. Adit dan Angga akan berada di bagian belakang untuk mengawasi seketika. Bagas dan Shiva berada di tengah barisan, untuk fokus dengan sekitar."
Itu lah yang di katakan.
Sebenarnya aku ingin menolak nya. Barisan tengah ini seperti terasa di lindungi bukan melindungi. Sumber : Aku.
Tapi tidak apa apa lah, ketimbang kami terlambat menuju Gua Qera karena keributan kecil yang aku ciptakan, mening aku turuti saja yang Kahfi katakan.
"Kapan kita akan sampai ?"
Aku menanyakan itu kepada Shiva yang berada di samping ku.
"Sepertinya sedikit lagi."
"Baiklah."
Shiva memegangi tongkat sihir begitu erat, dan melihat sekitar. Dia ini terlalu waspada sekali, tenang saja itu tugas barisan depan dan belakang, Shiva. Kita harus tenang di kondisi ini, karena kita lah yang berada di barisan tengah.
Sebenarnya aku sangat penasaran sekali dengan monster Minotaur itu. Untuk apa monster itu menculik nya, tujuan apa monster itu menculik nya, apa monster itu merencanakan sesuatu. Mungkin jawabannya akan ku temukan jika kami sampai disana. Mungkin.
Walaupun aku begitu polos tapi gini gini aku juga kadang kadang memikirkan sesuatu loh, bahkan aku memikirkan bagaimana nikmatnya menyantap daging kepiting di pantai. Atau mungkin memikirkan bagaimana jika aku bisa terbang, mungkin itu akan keren sekali.
"Kamu kenapa, Bagas ?"
Sepertinya Shiva menyadari ku yang sedang melamun memikirkan bagaimana aku terbang.
"Tidak, tidak apa apa."
Kami terus berjalan tanpa henti sejak tadi.
...**********...
Akhirnya kami sampai di Gua Qera.
"Jadi ini yaa, tempat dimana Susanti di culik."
Gua ini biasa saja layaknya Gua umum nya, hanya saja pemandangan sekeliling penuh dengan pohon.
Aku ingin mengatakan "tempat ini menyeramkan" Tapi aku masih bisa tenang.
"Tempat ini menyeramkan."
"(Seharusnya aku yang berkata itu, Angga.)"
Well, jika malam hari mungkin tempat ini akan gelap sekali, karena memang di penuhi pohon saja, dan cahaya pun hanya dari bulan.
"Kalian bersiap siap lah."
Kahfi meminta kami untuk bersiap untuk masuk ke dalam.
Aku melihat Rian dan mulai berbicara dengan nya.
"Kau yang akan pertama kali masuk kedalam yaa, Rian."
Aku memang begitu jahat sekali yaa, meminta Rian untuk memimpin jalan kami di dalam.
"Hey, jangan bicara seperti itu, Bagas. Kita akan bersama sama masuk kedalam, dan untuk Rian sendiri, aku akan memegangi tangan nya."
"(Memang dia kakek kakek yang tidak mampu berjalan dengan baik apa, pake di pegangi segala.)"
Faktanya Rian tidak dapat melihat dengan baik, dia hanya bisa mengandalkan Indra pendengaran nya saja. Bisa dikatakan Rian terbalik dengan ku, aku tidak dapat mendengar dengan baik dalam radius 50 Meter, namun aku dapat melihat dengan baik.
"Aku sudah siap."
"Aku juga siap."
Shiva dan Angga begitu gugup sekali, dari yang ku lihat.
"Saatnya masuk."
Tanpa keraguan kami berenam masuk kedalam Gua Qera.
...**********...
Kami berjalan di dalam gua ini. Ini gelap sekali, bahkan cahaya matahari saja tidak memancarkan sinar nya di sini.
Aku menoleh kebelakang, melihat pintu keluar Gua Qera yang masih disinari cahaya matahari.
Kahfi berjalan bersama dengan Rian. Rian memegangi sebuah lampu sihir yang kami dapatkan dari Asosiasi Guild.
Senjata kami sudah kami siapkan, Kahfi menaruh Tombak nya di belakang tubuh nya, seperti Rian yang menaruh Busur nya di belakang tubuh nya. Shiva memegangi Tongkat Sihir nya di tangan nya. Angga menaruh Foil di pinggang kiri nya, seperti aku yang menaruh Katana bersarung putih di pinggang. Sedangkan Adit menaruh Belati nya pada sebuah tas kecil yang berada di kedua paha nya.
Kami terus berjalan tanpa menemukan apapun, hingga akhirnya kami sampai di persimpangan jalan.
"Ehh...."
"Yang benar saja lah."
"Apa yang harus kita lakukan ?"
"Bagaimana kalau ke tengah saja."
"Hey, jangan asal memilih, Bagas."
Kami semua terhenti saat melihat jalan ini terpisah 3 jalan.
"Hmmm...."
Kahfi berfikir sesuatu sepertinya.
Tiba tiba Rian menunjuk jari nya ke arah Kanan.
"Di sebelah sana, aku dapat mendengar suara jeritan."
"Sungguh ?"
"Hooh."
"Hmmm... Mungkin saja itu Susanti. Yosh kita akan kesana."
Seperti biasa, aku memutuskan sesuatu tanpa berfikir panjang.
"Tunggu !"
Langkah kaki ku terhenti saat Adit ucap itu.
Adit terlihat berfikir sejenak.
"Ada apa ?"
"Bisakah kau pasti itu suara jeritan Manusia, Rian ?"
"Tunggu sebentar."
Rian memejamkan kedua matanya.
"Hey, apa kau sedang tidur ?"
"Ssssttt.... Diam, Bagas."
Kahfi memarahi ku.
Aku hanya bisa melihat Rian sedang fokus dengan suara yang didengar nya.
Namun tiba tiba Rian membuka mata nya dengan wajah panik.
"Ada apa ?"
"Kita harus bergegas pergi dari sini !"
"Kenapa ?"
"Aku mendengar langkah kaki begitu berat di kiri, menuju kemari."
"Bagaimana dengan suara jeritan itu ?"
"Aku tidak dapat mendengar begitu jelas, karena begitu berisik di sana."
"Mungkin saja itu mereka yang di culik juga."
Aku mengatakan itu dengan firasat yang mendasar, karena aku yakin banyak korban yang di culik Monster Minotaur itu.
"Baiklah, kita akan ke jalan kanan."
Kami bergegas pergi ke jalan kanan.
Kami terus berlari karena ketakutan dari arah belakang. Jika yang dikatakan Rian benar, maka kami dapat menyelamatkan orang orang yang di culik juga, ya walaupun tanpa kepastian. Sedangkan kami ketakutan dari arah belakang, entah kenapa kami merasa ada sesuatu di belakang kami.
"Bagaimana Rian ?"
"Suara nya semakin dekat."
Kahfi dan Rian seperti pasangan saja, saling memegangi tangan masing masing.
Aku melihat Shiva, dan mencoba meniru Kahfi dan Rian.
"Ehh..."
Aku memandangi tangan nya.
__ADS_1
"Hey, apa yang kau lakukan Bagas !!! Lepaskan tangan Shiva sekarang !!!"
Angga seperti nya iri dengan ku.
"Tangan Adit masih kosong."
Aku menyuruh nya untuk memegangi tangan Adit.
Angga dan Adit saling melihat satu sama lain.
"Bodoh !!!."
...**********...
Kami melihat beberapa pintu yang terbuat dari kayu.
"Ini apa ?"
Angga mencoba masuk ke dalam salah satu pintu.
"Ehh..."
Ketika Angga membukakan pintu itu, kami semua kaget melihat sebuah bangkai manusia yang sudah mati.
Bau busuk di pancarkan bangkai itu.
"Ini bau sekali."
"Ini manusia kan."
Ruangan ini terdapat beberapa bangkai manusia yang berserakan di tanah.
Penuh dengan lalat pada bangkai itu.
"Ini seperti penjara."
"Ini manusia kan."
Shiva mengatakan beberapa kata yang sama dengan tatapan kosong.
Aku mencoba menutup hidung Shiva yang masih melihat bangkai itu dengan tatapan kosong.
"Tolong !!!"
Tiba tiba terdengar suara perempuan begitu keras dari arah samping.
"Itu."
"Kita harus pergi !!!"
Kami mencoba mendatangi asal dari suara itu.
Beberapa pintu kami buka, dan hanya terdapat bangkai manusia yang sudah mati.
"Tolong aku siapa saja, aku mohon"
Suara itu semakin dekat di sertai tangisan.
"Dimana, dimana kau berada ?"
Aku berteriak sekencang mungkin.
"Di sini !"
Kami terus berlari mendekati suara itu.
Namun terhenti seketika.
"Oy, besar sekali."
"Jadi ini monster nya."
Di depan kami sudah ada monster Minotaur.
"Tolong aku !!!"
Suara nya begitu dekat, namun kami terhenti karena di depan kami ini sangat lah berbahaya sekali.
Minotaur ini berbadan 2x lipat tubuh kami, ini sangat lah besar sekali walaupun tidak sebesar Goblin yang aku hadapi sebelumnya. Tapi, hanya saja, Minotaur memegang sebuah kapak di tangan nya.
Tuss (Suara angin)
"Ehh...
Kami semua kaget melihat sebuah Panah menembus dada Minotaur itu.
Ternyata Panah itu berasal dari Rian yang menyerang nya.
"Kita harus bergegas !"
"Jangan melamun saja, Bagas. Kita harus pergi dari sini."
Tanpa memikirkan jasad Minotaur itu yang tersungkur di tanah, kami bergegas pergi menuju suara itu.
Aku membukakan sebuah pintu.
Ketika pintu itu terbuka, kami melihat seorang gadis kecil dengan pakaian compang camping terbaring di tanah.
"Hey, kau baik baik saja ?"
Shiva segera menyembuhkan luka luka nya.
"Sepertinya ini Susanti."
"Bagaimana kau bisa mengetahui nya ?"
"Firasat."
Aku punya firasat bahwa gadis kecil ini bernama Susanti, anak dari paman Wawan.
Shiva terus memberikan pertolongan menggunakan sihir nya.
Gadis kecil itu membuka kedua matanya.
"Dia sudah sadar."
"Apa kau baik baik saja ?"
Mengapa kau menanyakan itu, Angga. Dilihat dari mana pun dia tidak baik baik saja tau.
Gadis kecil itu mulai berbicara.
"Tolong aku."
"Tenang saja, kita akan menolong mu."
Aku segera menggendong gadis kecil ini, dan bergegas pergi dari tempat ini.
Namun sayang sekali, ketika kami hendak pergi tiba tiba terdengar suara langkah kaki begitu dekat di belakang kami.
"Kita harus cepat !"
"Saat nya menunjukan lari kuda ku. Mungkin tidak."
Aku menyadari, jika aku berlari seperti kuda maka mereka akan tertinggal jauh di belakang ku.
Kami hanya dapat berlari sepanjang jalan, dan mencari jalan keluar.
"Itu ada cahaya."
Aku melihat sebuah cahaya memancar di depan ku.
Terdapat dua jalan, kiri dan kanan. Di kanan terdapat sebuah cahaya, sedangkan di kiri begitu gelap.
Angga memimpin di depan sambil memegangi lampu sihir di tangan nya.
"Kita akan kesana."
Angga menuju jalan yang terdapat cahaya.
Ketika kami sampai disana, kami begitu panik karena ini adalah jalan buntu. Dan cahaya itu berasal dari cahaya matahari yang berada di atas.
"Kita terjebak."
"Kita terbang ke atas saja."
"Mana mungkin bisa !!!"
Kami benar benar terjebak disini. Salah satu jalan keluar adalah baik ke atas sana, atau kembali ke jalan tadi.
Namun sayang sudah terlambat, karena suara langkah kaki semakin mendekat kemari.
Rian menyiapkan Busur nya untuk menyerang.
Semakin dekat, semakin dekat. Hingga akhirnya muncul monster Minotaur.
Tidak cuman satu Minotaur saja, melainkan 10 Minotaur yang datang.
"Bahaya..."
Rian mulai menembak Minotaur itu, beberapa ada yang terjatuh di tanah.
"Woy, monster itu bangkit kembali."
"Apa apaan dengan itu."
Minotaur yang terjatuh di tanah mulai bangkit kembali. Luka yang Rian berikan mulai membaik.
__ADS_1
"Sepertinya regenerasi mereka begitu cepat. Kalau begini kita harus menyerang kristal yang berada di dalam tubuhnya."
Adit mengatakan fakta tentang regenerasi Minotaur itu.
"Apa kau bisa menembak nya, Rian ?"
"Maaf... Aku tidak tau kristal itu berada dimana."
Kami benar benar sudah tersudut. Jika ingin mengalahkan 10 Minotaur itu, maka harus melukai kristal yang berada di dalam tubuh nya.
Faktanya, walaupun mata ku dapat melihat dengan baik, namun aku tidak mampu untuk melihat kristal yang berada di dalam tubuh Minotaur itu. Salah satu cara agar tau dimana kristal itu berada adalah melukai tiap tubuh mereka.
"Aku akan melawan nya."
Adit berlari menuju arah Minotaur itu.
"Teknik Belati : Tebasan Berkali Kali."
Wow, Adit memainkan kedua Belati nya sangat baik, hingga mampu membuat beberapa Minotaur terkapar di tanah.
Kahfi dan Angga tiba tiba ikut mendekati Minotaur.
"Teknik Tombak : Tusukan Maut."
Kahfi berhasil melukai 1 Minotaur pada dada nya.
"Teknik Foil : Step Up."
Angga dengan cepat berhasil membuat lubang pada kedua kaki Minotaur itu.
Aku mendengar suara dari mulut Shiva.
"Aku ingin menciptakan dunia begitu indah, di penuhi dengan boneka boneka ku yang begitu cantik, maka datanglah. Teknik Sihir : Boneka Ke 5."
Sebuah sihir berbentuk bulat tiba tiba muncul di tanah.
Ting (Suara seperti lonceng)
Shiva mengetuk tanah itu dengan Tongkat Sihir nya. Tiba tiba muncul sebuah boneka bertubuh manusia.
"Serang mereka !!!"
Boneka itu mulai menyerang Minotaur. Pukul demi pukulan di hantam pada wajah Minotaur dari boneka yang Shiva buat.
Sedangkan aku hanya dapat melihat mereka saja, sambil menggendong gadis kecil ini.
"Ehh..."
Mata ku tiba tiba melihat masa depan, yang dimana muncul monster Minotaur berbadan lebih besar dari atas kami.
"Oy kalian, kita harus menyingkirkan dari sini, segera mungkin !"
Aku memperingati mereka yang masih bertarung.
Aku bergegas menjauh dan menuju sudut ruangan ini.
Dan ternyata benar saja, tiba tiba monster Minotaur muncul dari atas.
Minotaur itu lebih besar daripada Minotaur yang lain nya.
"Oy Rian !!!"
Aku berteriak kepada Rian, karena Minotaur itu tepat jatuh di belakang Rian.
Aku menaruh gadis kecil ini di tanah, dan bergegas menuju Rian.
Tuk
Tuk
Tuk (Suara kaki)
"Teknik Katana : Tebasan Penyelamatan."
Tebasan ku berhasil mengenai nya, tapi.... Tidak berhasil melukai nya.
"Ehh... ?"
Buk (Suara hantaman)
"Bagas !!!"
Sebuah pukulan menghantam tubuh ku dengan keras, hingga membuat ku terbang dan membentur batu di dinding.
"Sakit..."
Darah keluar dari mulut ku, dan di belakang ku terdapat sebuah batu yang begitu lancip menembus pinggang kanan ku.
Aku melihat kebawah. Tiap darah ku berjatuhan ke tanah.
Aku melihat Rian berhasil kabur dari Minotaur itu.
"Bagas !!!"
Kahfi yang menyadari segera mungkin menghampiri ku.
Namun sayang dia kehilangan fokus nya, membuat Minotaur yang berada di belakang nya, berhasil melukai Kahfi dan membuat Kahfi terjatuh di tanah.
Aku mencoba melepaskan diri dari batu ini, dan bergegas menuju mereka.
Aku terlambat karena mereka sudah tersungkur di tanah.
Gadis kecil itu membuka mata nya, lalu dia melihat ku yang terluka.
"Hey kakak, kau baik baik saja ?"
"Hehehe, tentu saja aku baik baik saja."
Mana mungkin aku baik baik saja, kau lihat luka di pinggang ku ini kan. Itulah yang ingin ku katakan kepada nya.
Aku melihat Shiva berlarian menghampiri Angga dan Adit yang terluka.
"Aku akan menyembuhkan kalian."
Shiva memberikan pertolongan dengan Sihir nya kepada Adit dan Angga yang tersungkur di tanah.
"Aku harus melindungi mereka."
Dengan rasa sakit dari luka ini, aku terus berjalan mendekati mereka.
Aku melihat Rian sedang melawan Minotaur yang baru saja muncul dari atas.
Panah tiap Panah di tembakan Rian, namun sayang tidak dapat melukai nya.
Hingga akhirnya Panah Rian habis.
Buuk (Suara pukulan)
"Rian..."
Aku melihat Minotaur itu berhasil memukul badan Rian, hingga membuat Rian pingsan seketika.
Kahfi yang melihat nya, mencoba berdiri dan menuju tempat Rian. Namun sayang Minotaur itu malah menghampiri Kahfi yang tersungkur di tanah.
Aku bisa melihat Minotaur itu memasang wajah membunuh saat mulai mendekati Kahfi.
Sebuah kapak begitu besar di pegang Minotaur itu.
Aku mengambil Katana ku kembali yang berada di tanah, langsung berlari menuju ke tempat Kahfi.
Buk (Suara benturan)
"Aree... Ayolah tubuh ku."
Aku terjatuh di tanah ketika berlari, sepertinya tubuh ku tidak menahan luka ini.
Shiva terus memberikan sihir nya kepada Adit dan Angga. Aku melihat beberapa Minotaur mulai mendekati Shiva.
Minotaur itu mulai mendekati Kahfi yang tersungkur di tanah.
Aku terkapar di tanah, tubuh ku tidak dapat bergerak sedikit pun, karena luka yang di berikan Minotaur itu.
"Tidak... Jangan kau lakukan itu !!!"
Aku berteriak sekencang mungkin kepada Minotaur yang mendekati Kahfi.
"Kalau ingin membunuh, bunuh saja aku !!!"
Minotaur itu semakin mendekati Kahfi yang tersungkur di tanah.
"Tidaakk... !!!! Jangan kau bunuh dia !!!"
Minotaur itu sudah berada di depan Kahfi, dan siap untuk menyerang nya.
"Tidak, Jangan !!! Kahfi !!!"
Kahfi melihat ke arah ku dengan senyuman nya.
"Akhirnya kau memanggil nama ku dengan benar, Bagas"
Kata kata terakhir yang di ucapkan Kahfi seperti itu, dia tersenyum kepada ku.
"Tidak !!!"
**Bersambung...
Jika kalian menunggu update terbaru jangan lupa click tombol Favorit pada halaman depan novel ini. Jika kalian suka jangan lupa di Vote atau di Like novel ini. Dan jika kalian merekomendasikan ke teman kalian, silahkan di Share novel ini**.
__ADS_1