
Kami berangkat dengan kereta kuda yang di sewa Tiara. Desa Lily tidak terlalu jauh dari Kota Pusat, hanya berjarak 6 km.
Di tengah perjalanan, kami menaiki kereta kuda yang di sewa Tiara.
Aku melihat padang rumput begitu luas, angin berhembus. Ini terasa nikmat sekali untuk ku.
"Aaaaaaaaaa..."
"Hey Bagas, ngapain kau di situ. Kau mengganggu supir saja tau."
Kahfi menarik ku yang sedang menikmati angin di dekat pak supir kereta kuda.
"Kau duduk saja sudah di sini !"
Kahfi mendorong ku tepat di samping Tiara. Lagi lagi lengan ku dan Tiara saling menyentuh satu sama lain.
"Sakit tau !!!"
Tiara menundukkan kepalanya.
Shiva mulai berbicara tentang Desa Lily.
"Ahh... Sudah lama sekali aku tidak ke sana."
Angga merespon pembicaraan Shiva.
"Kalau tidak salah, keluarga mu pernah mengunjungi Desa itu, kan ?"
"Iyaa, saat itu aku masih berumur 6 Tahun. Di sana begitu banyak sekali bermacam macam bunga yang di taman para Warga, termasuk Bunga Lily. Mereka memiliki lahan untuk menanam bunga. Masyarakat di sana juga begitu baik, saat keluarga ku datang. Mereka menyambut keluarga ku sangat baik."
"Ehh... Sepertinya sangat menyenangkan di sana yaa."
Angga semakin penasaran dengan Desa tersebut.
Kahfi menanyakan sesuatu kepada Shiva.
"Apakah masyarakat di sana begitu makmur ? Apakah tidak ada kesulitan dalam kehidupan mereka ?"
Ini pertanyaan yang begitu aneh dari Kahfi.
"Dari yang ku lihat, mereka semua makmur sekali. Mata pencaharian mereka berasal dari menjual bunga bunga ke kota kota di negeri ini."
"Jadi begitu."
Adit mencoba menanyakan mengapa Kahfi bertanya seperti itu.
"Ada apa emang nya ?"
"Tidak... Tidak ada apa apa"
Kahfi terlihat sedang memikirkan sesuatu. Wajahnya begitu sedih saat mengingat kembali keluarga nya yang begitu kesusahan dalam mencari uang, berbeda jauh dengan Desa Lily yang mendapat nya begitu mudah dari menjual Bunga.
Aku melihat wajah Kahfi yang terlihat sedih.
"Jangan kau pikirkan, Kafur. Selagi kau bisa menikmati nya dan bersyukur dalam hidup ini, maka jalani lah. Jangan kau berpatok pada masa lalu. Nikmati saja, dan pelajari apa yang sudah terjadi di masa lalu. Xixixixixix."
"Tidak ku sangka kau bisa berbicara seperti itu, Bagas."
Angga tidak percaya bahwa aku bisa berbicara seperti itu.
Kahfi pun menegakkan kepalanya.
"Ahh, kau benar Bagas. Terimakasih telah menyadarkan ku. Tapi ngomong ngomong, nama ku Kahfi, bukan Kafur !!!!"
"Keren."
Tiara seperti mengatakan sesuatu, tapi aku tidak dapat mendengar nya, suara nya sangat kecil.
Sedangkan Adit menatap ku dengan rasa kagum. Dan Rian hanya tersenyum manis saja.
Ketika kami hampir sampai Desa Lily, kami melihat keluar.
"Itu kah Desa nya ?"
"Iya betul, tapi sedikit aneh sekali."
Shiva memegangi dagu nya, dan berfikir sejenak.
Tiara sontak berbicara.
"Kabut itu."
Aku mencoba menanyakan nya.
"Ada apa ?"
"Seharusnya tidak ada kabut di daerah sini, cuaca hari ini cerah sekali loh."
Kami semua berfikir sejenak karena perkataan Tiara.
Adit dan Kahfi pun merespon.
"Betul juga, ini sedikit aneh."
"Mungkin saja, akibat hujan kemarin."
"Tidak, itu tidak mungkin."
Tiara menjawab dengan tatapan tajam.
Saat ini kami kebingungan, kami melihat kabut begitu tebal pada Desa Lily.
Tiba tiba Rian berbicara.
"Sepi, ini sepi sekali. Aku tidak mendengar aktifitas pada desa itu."
"Mungkin karena tertutup kabur itu."
"Tidak, seharusnya aku masih dapat mendengar beberapa suara dari desa itu. Hanya penglihatan saja yang tidak dapat melihat."
Aku pun merespon dengan tenang.
"Mungkin saja mereka sedang di serang Monster."
"Hey... Jangan kau katakan seperti itu."
"Maaf"
Ah, ah... Aku kena marah sama Kahfi.
"Pokoknya kita ke sana dahulu, untuk mengecek apa yang terjadi !"
Tiara seperti pemimpin, wajah nya kembali normal.
Ketika kami berjarak 600 m dari Desa Lily, tiba tiba pak supir mengendarai kuda nya begitu aneh.
Shiva mencoba bertanya kepada nya.
"Ano... Kamu tidak apa apa, pak ?"
Sang supir tidak merespon Shiva.
"Mungkin saja supir itu kena serangan dari Monster."
"Hey berhenti lah berkata yang tidak tidak, Bagas !!!"
__ADS_1
Kenapa Kahfi selalu memarahi ku sii !!!.
Shiva mencoba mengecek keadaan sang supir.
Shiva memegangi bahu sang supir.
"Pak..."
Namun tidak ada respon.
Shiva menarik bahu nya, dan membalikkan badan sang supir.
Kami sontak kaget, melihat sang supir tersenyum lebar di tambah wajah nya memerah.
"Hehehe, aku cinta kalian."
Itu lah yang di katakan sang supir.
Shiva mencoba bertanya.
"Pak, apa kau baik baik saja ?"
Namun sang supir hanya tersenyum lebar saja.
Tiara dengan sigap menarik sang supir ke belakang, dan Tiara langsung mengendarai kereta kuda nya.
Kami merasa kagum dengan nya, karena respon dia begitu cepat, dan sang supir di pegang oleh Shiva.
Shiva mengecek tubuh sang supir dengan sihir nya.
Kahfi penasaran dengan sang supir.
"Apa yang terjadi dengan nya ?"
"Mungkin saja dia kena serangan dari Monster."
"Hey berhenti lah berkata yang tidak tidak, Bagas !!!"
Angga melihat sang supir, seperti nya dia mengetahui sesuatu.
"Senyuman dan wajah ini..."
Kahfi penasaran dengan ucapan Angga.
"Ada apa, Angga ?"
"Ini seperti sedang berhalusinasi."
"Maksud mu, seperti mabuk ?"
"Iya. Kau pernah melihat orang mabuk wajah nya seperti apa kan ?"
"Hooh, seperti ini. Jadi maksud mu, saat ini sang supir sedang mabuk ? Apakah dia sebelum nya minum minuman keras ?"
"Tidak, seharusnya tidak di perbolehkan minum saat berkendara."
"Jadi karena apa ?"
Shiva terus memberikan sihir penyembuhan pada sang supir, dan aku pun ikut berbicara dengan mereka.
"Sudah ku bilang, mungkin karena di serang Monster."
"Mana mungkin !!! Seharusnya kalau di serang Monster Kita mengetahui nya."
Aku mengambil Monster transparan bertubuh kecil di dekat Tiara. Monster ini mirip sekali dengan Monster Slime, yang membedakan adalah dia memiliki suatu tonjolan pada kepala nya. Monster ini juga tidak dapat di lihat kasat mata.
"Ini lihat"
Aku mengangkat Monster itu, dan menunjuk ke mereka dengan tangan kanan ku.
"Lihat apa ?"
"Apa yang kau lakukan sebenarnya, Bagas ?"
Mereka kebingungan saat aku menunjukan nya.
"Apakah kalian tidak dapat melihat nya ?"
"Aku tidak dapat melihat apapun."
"Bagaimana dengan mu, Rian ?"
"Hey, apakah kau meledek ?"
Mereka tidak dapat apapun. Aku coba mencari cara agar mereka dapat melihat nya.
"Hmmm... Ah.. Teknik Sihir Water Element : Penyiraman"
Bleess (Suara cipratan air)
Aku menyiram Monster ini, menggunakan tangan kiri ku. Dan membuat seragam Shiva basah karena air yang ku buat.
"Hey, apa yang kau lakukan !!!"
Angga marah marah melihat Shiva basah karena ku.
"Nah, sekarang kalian bisa melihat nya kan."
Mereka seketika kaget melihat Monster di tangan ku.
"Are, are, are, re.... Monster ini mengempis."
"Hey, apa yang kau pegang itu, Bagas ?"
"Sudah ku bilang, monster ini yang menyerang sang supir, tau !!!"
Tiara menoleh kebelakang.
"Monster itu sudah mati saat kau siram tadi."
Monster yang tadinya berbentuk bulat, seketika berubah menjadi sangat tipis.
Shiva yang seragam nya basah karena ku, mencoba melihat Monster itu.
"Ini kan..."
"Ada apa, Shiva ?"
"Ini Monster Pemabuk kelas B."
"Jadi begitu... Penyebab sang supir begini ternyata dari Monster ini."
Adit mengatakan nya begitu tenang.
Kahfi yang penasaran, bertanya.
"Bagaimana bisa kau melihat Monster ini, Bagas ? Sedangkan kami tidak mengetahui nya."
"Hmm... Karena mata ku tajam, hahahaha"
Aku menjawab nya dengan tenang.
"Monster ini sudah mati, lebih baik aku buang saja."
Aku membuang Monster itu keluar.
__ADS_1
"Nah."
Kahfi seketika memarahi ku saat aku membuang Monster itu.
"Mengapa kau membuang nya !!! Kita masih bisa mengambil kristal yang berada di dalam tubuh nya, tau !!!"
"A... Betul juga."
"Bodoh nya !!!"
...**********...
Sesampainya di Desa Lily.
Kami melihat para warga tergeletak di tanah.
Shiva dengan sigap menghampiri salah satu pria yang tergeletak.
"Hey, apa kau baik baik saja ?"
Shiva mencoba mengecek tubuh pria tersebut.
Seketika pria tersebut memandangi wajah Shiva, sambil tersenyum dan memasang wajah mesum.
"Ah... Cantik nya."
Tangan pria itu meraba raba tubuh Shiva.
Angga yang melihat nya, seketika langsung menendang pria itu dengan keras.
"Hey mengapa kau menendang nya ?"
"Aku tidak suka dia memegangi mu."
Pria itu tertidur karena tendangan Angga.
Mata ku dapat melihat beberapa Monster Pemabuk berada di desa ini.
Tiara mencoba menanyaiku.
"Apakah kau melihat nya ?"
"Aku melihat mereka sangat banyak di sini."
"Jadi begitu."
Tiara yang mengetahui, sontak langsung berbuat sesuatu.
"Hey, apa yang ingin kau lakukan ?"
Kahfi penasaran dengan Tiara yang seketika berjalan ke depan.
"Kalau tidak salah, kelemahan mereka itu adalah air. Aku melihat Bagas menyimpan Monster itu menggunakan air."
Tiara terus berjalan ke depan, dan seketika berhenti di tengah tengah.
Tiara mengangkat tangan kiri nya ke atas.
"Air sangat lah berarti untuk kelangsungan hidup, jangan pernah meremehkan kekuatan air. Teknik Sihir Water Element : Air Hujan"
Seketika tangan kiri Tiara menciptakan air berjumlah banyak.
Air itu menuju ke langit, dan seketika air itu berhamburan layak nya Hujan.
Air hujan yang Tiara ciptakan, membasahi seluruh Desa Lily.
Monster Pemabuk seketika menghempis dan mati. Kabut yang mengelilingi Desa Lily seketika menghilang.
"Dia sangat hebat sekali."
Kami semua kagum terhadap Tiara.
Cuaca begitu cerah, matahari dapat menyinari Desa Lily yang tadi nya tertutup kabut.
Tiara seperti mengetahui sesuatu, dan bergegas kembali ke tempat kami berada.
"Kau sangat lah hebat sekali."
"Iya, kau benar benar hebat sekali, Tiara Senpai."
Angga dan Kahfi mengatakan itu, ketika Tiara sampai ke tempat kami.
"Tidak, lupakan itu dulu. Aku mengetahui bahwa kabut itu bukan lah kabut alami, melainkan berasal dari Monster ini."
Tiara berbicara dengan tatapan tajam.
"Hey, kalian bawa masuk warga desa yang berada di luar."
Tiara menyuruh kami, dia benar benar seperti pemimpin.
Kami pun menuruti nya, dan bergegas membawa warga ke dalam sebuah rumah.
"Yosh aku sudah selesai."
"Aku juga."
"Aku juga."
Kami pun kembali ketempat semula, kecuali Rian.
"Hey dimana Rian ?"
"A... Aku tidak sengaja menumpuk nya di tengah para warga tidur."
"Heyy, kau !!!"
Kahfi bergegas pergi ke tempat Rian berada.
"Maaf yaa, aku menyuruh kalian ini itu."
"Tidak apa apa ko, Tiara Senpai."
Adit menjawab dengan tenang.
"Tidak apa apa koo, kami juga belum menentukan ketua party kami."
"Ehh... Bukan nya aku yaa, ketua nya ?"
"Tidak, kau tidak cocok untuk itu Bagas."
Angga mengucap nya, dengan wajah ragu kepada ku.
Aku mencoba menghampiri Tiara. Tiara seperti kurang begitu enak menyuruh kami dan merasa bersalah.
Aku memegangi bahu nya dengan tangan kanan ku, dan berkata.
"Tidak apa apa ko. Kau tetap lah menjadi diri mu sendiri, tidak perduli kau berada di mana pun itu. Aku menyukai nya."
Seketika wajah Tiara memerah.
"Hey Bagas, berhenti lah merayu nya."
Kahfi pun kembali bersama Rian.
"Apa apaan suasana ini !!!"
__ADS_1