The Last Knight : New Generation ( Vol 1)

The Last Knight : New Generation ( Vol 1)
Bab 2 : Sekolah Knight part 12


__ADS_3

Hari Kamis pada tanggal 16 Juli pukul 11.27.


"Kemana perginya itu boneka ?" ucap ku, kebingungan setelah membuka kedua tangan ku


"Apa kau yakin, boneka itu berada di tangan mu ?" tanya Kahfi


"Yaa... Aku yakin sekali" jawab ku


"Paling kau sembunyikan yaa ?" tanya Angga


"Mana mungkin aku sembunyikan boneka itu" jawab ku


"Tidak... Dia tidak menyembunyikan. Tadi aku sempat merasakan sihir boneka itu, dan sekarang sudah menghilang" jawab Adit


"Aku bisa merasakan nya" ucap Rian, yang tiba tiba ikut berbicara


"Merasakan apa kau Rian ?" tanya Angga


"Tembok ini di bangun dengan kokoh" jawab Rian, meraba dinding di depan nya


Kami memandangi Rian dengan wajah kasian kepada nya.


"Hey kita sedang bahas boneka, bukan dinding itu Rian" ucap Kahfi


"Maaf" jawab Rian


"Kau ini, masih sempat bercanda yaa" ucap Angga


"Maaf" jawab Rian


"Hahahaha kau itu lucu sekali Rian" tawa ku


"Tapi ngomong ngomong, kemana boneka itu berada sekarang ?" tanya Adit


"Aku tidak tau" jawab ku


"Lebih baik kita tanyakan sensei saja" jawab Kahfi


Sensei yang berada di depan, sama sekali tidak memperhatikan kita yang berada di belakang.


Sensei Herman pun melanjutkan pembelajaran.


"Jadi gimana ? Kalian semua sudah mengetahui elemen kalian kan ?" tanya sensei Herman


"Sudah sensei" jawab murid murid


"Tidak. Aku belum mengetahui" jawab ku, dengan nada pelan


"Oke, kalau begitu kita lanjutkan pembelajaran yaa" ucap sensei Herman


"Heeeyy... Sensei...." Teriak ku


Murid murid lain melihat ke arah ku, ketika aku berteriak.


"Ehh... Siapa itu yang berteriak ?" tanya sensei Herman


"Aku... Aku di belakang sini" jawab ku, dengan berteriak


"Ohhh... Bagas kah. Ada apa Bagas ?" tanya sensei Herman, kepada ku


"Boneka ku hilang, aku tidak dapat mengetahui elemen ku" jawab ku


"Ehhh... Masa dah ?" tanya sensei Herman, terheran heran


"Apakah kau yakin, boneka itu hilang ?" tanya sensei Herman


"Aku yakin !!!!!" teriak ku


"Shiva kau coba ciptakan boneka baru untuk nya'' ucap sensei Herman, kepada Shiva


"Bagas, coba lah kemari" ucap sensei Herman, kepada ku


Aku pun bergegas menghampiri tempat sensei Herman dan Shiva berada.


"(Lagi lagi, bocah ini aneh sekali)" ucap sensei Herman, melihat ke arah ku berjalan mendekati nya


Sesampainya di sana aku menjelaskan apa yang terjadi.


"Jadi begitu sensei" ucap ku


"Hmmm" ucap sensei Herman, memegangi dagu nya


"Jadi boneka itu hilang, saat kau membuka genggaman mu ?" tanya sensei Herman, kepada ku


"Betul sekali" jawab ku


"Apa yang kau rasakan ?" tanya sensei Herman


"Hmmm... Apa yaa... Aku si tidak merasakan apa apa, hanya saja sedikit hampa pada tangan ku, saat aku menggenggam boneka itu" jawab ku


"Hampa yaaa... Shiva, coba kau kasih boneka itu, kepada anak ini" ucap sensei Herman


Shiva memberikan ku sebuah boneka yang sama, kepada ku.


"Ni Bagas" ucap Shiva, memberikan boneka nya


"Terimakasih Shiva" jawab ku


Aku pun menggenggam boneka itu dengan kedua tangan ku.


"Nah coba lah berkosentrasi, pada kedua tangan mu" ucap sensei Herman


"(Hmmm... Gimana yaa, cara berkonsentrasi)" ucap ku


"(Aku genggam saja dah)" ucap ku, melihat kedua tangan sedang menggenggam boneka ini


Aku terus menggenggam nya dengan erat, ketika aku terus menggenggam boneka ini, tiba tiba tangan ku terasa hampa lagi.


"Nah sekarang coba kau buka" ucap sensei Herman


Aku membuka genggaman ku, dan seketika boneka itu menghilang lagi.


"Hmmmmm, hilang lagi" ucap ku


"Ehhh... Hilang" ucap Shiva, terkejut


"Ternyata betulan hilang boneka itu" ucap sensei Herman


"Kan sudah ku bilang, boneka itu menghilang" ucap ku


Murid murid lain nya, melihat ke arah ku dengan wajah terkejut.


"Jadi elemen ku apa, sensei ?" tanya ku, kepada sensei Herman


"Hmmm... Sebenarnya aku juga tidak mengetahui nya, ini baru pertama kali nya, aku melihat seseorang menghilang boneka ini. Hey, apa kau yakin menggunakan sihir elemen ? Dan bukan menggunakan sihir biasa ?" ucap sensei Herman, kepada ku


"Aku yakin menggunakan sihir elemen ko. Lagi pula aku hanya bisa menggunakan 1 sihir biasa saja ko" jawab ku


"Tahun kemarin, ada yang berbeda juga, saat dalam pelatihan ini" ucap sensei Herman


"Berbeda ?" tanya ku


"Tahun kemarin, ada 1 siswa yang menggenggam boneka itu, dan pas di buka genggaman nya, boneka itu bersinar dengan terang, bagaikan cahaya yang menyinari kehidupan kita" jawab sensei Herman


"Ehhh... Keren nya" ucap ku


"Ano sensei" ucap Shiva, kepada sensei Herman


"Ada apa Shiva ?" tanya sensei Herman, kepada Shiva


"Siapakah siswa itu ?" tanya balik Shiva


Murid murid lain, hanya dapat mendengar pembicaraan kami, dan mereka terlihat penasaran dengan wajah tegang.


"Orang itu adalah Andre" jawab sensei Herman


Kami semua terkejut ketika sensei Herman, memberitahukan nya.


"Hmmm... Andre yaaa" ucap ku, mengupil


"Wow, dia orang yang hebat"

__ADS_1


"Sudah ku duga orang itu sangat lah spesial"


"Aku sudah tau sii, ketika dia melawan Tiara"


"Seandainya saja dia mencintai ku"


"Ahh... Bikin iri saja dah"


Ucap beberapa murid, ketika tau informasi itu.


"Berarti Andre itu ?" tanya Shiva, kepada sensei Herman


"Hooh... Andre memiliki sihir elemen langkah, yaitu Cahaya/Light" jawab sensei Herman


"Tak ku sangka, dia memiliki elemen langkah" ucap Kahfi


"Aku sudah menduga nya sii, karena orang itu sangat lah kuat" ucap Angga


"Andre sangat hebat sekali yaa" ucap Rian, yang menatap tembok


"Yang jadi pertanyaan sekarang adalah, elemen Bagas itu apa" ucap Adit


Orang orang mulai mengabaikan ku, yang berdiri di depan. Mereka masih saja terus membicarakan Andre.


"Iya, Andre memang lah kuat, tapi dia lebih lemah dari ku. Hahahahaha" teriak ku, membuat seisi ruangan menertawai ku


"Dia sedang ngomong apa" ucap Angga


"Hehehe, Bagas" ucap Rian, masih menghadap tembok


"Sepertinya dia sedang mengigau" ucap Kahfi


"Hahahaha"


"Bocah ini, emang bener bodoh yaa"


"Mana mungkin lah !"


"Kau perlu banyak latihan lagi, jika mau melampaui orang itu. Walaupun itu sebenarnya mustahil, hahahaha"


Ucap murid murid, menertawai ku.


Akhirnya aku menjadi pusat perhatian lagi, ini lah yang ku inginkan, agar tidak di abaikan orang orang.


"Hey Bagas, apakah sebelum nya kau mengetahui elemen yang di pakai Andre ?" tanya sensei Herman, kepada ku


"Iyaa, aku sudah mengetahui nya. Andre menunjukkan nya pada ku. Dia memiliki 4 elemen. Keren kan" jawab ku, tersenyum kepada sensei Herman


"Sungguh ? Dia memiliki 4 elemen ?" tanya Shiva, kepada ku dengan wajah terkejut


"Ehhh ? Sungguh ?" tanya sensei Herman, kepada ku, ikut terkejut juga


"Iyaa sungguh" jawab ku


"Mengapa kalian terkejut ?" tanya ku


"Mengapa kau tidak terkejut Bagas ?" tanya balik sensei Herman, kepada ku


"Aku tidak terkejut" jawab ku


"Memiliki 3 elemen saja, adalah suatu hal yang sangat jarang sekali di dunia ini, apalagi memiliki 4 elemen sekaligus. Ini mustahil" ucap Shiva


"Hmmm... (Aku tidak paham)" jawab ku


Tong Tong Tong (Bunyi bel)


"Ahhh... Sepertinya sudah waktunya kalian istirahat. Setelah istirahat balik lah kemari, untuk melanjutkan latihan kalian" ucap sensei Herman, kepada murid murid nya


"Baik sensei" jawab murid murid


Istirahat pun tiba. Sensei Herman bergegas pergi dari ruangan ini dengan wajah serius nya, dan aku bergegas pergi ketempat teman teman ku berada.


Aku dan Shiva mendekati mereka berempat.


"Yooo" sapa ku, ke mereka


"Kenapa kalian, memasang wajah seperti itu ?" tanya Shiva, ke mereka


"Duit ku ketinggalan di rumah" jawab Angga


"Ehhh.... Kasian sekali kalian" ucap ku


"Emang kau membawa bento ?" tanya Kahfi, kepada ku


"Emang kau juga memiliki uang ?" tanya Angga, kepada ku


"Tidak" jawab ku, ke mereka berdua


"Kau sama saja, seperti kami !!!" jawab mereka berdua


"Andre sedang menjalankan quest, jadi aku tidak mendapatkan bento. Kalo uang sii, Paman Yasir selalu menaruh di kasur ku, tapi aku tidak mau menerima nya" ucap ku


"Ehh.... Hey Kahfi, kau tau kan apa yang ku pikirkan" ucap Angga, kepada Kahfi


Mereka berdua terlihat merencanakan sesuatu kepada ku dengan senyuman nya.


"Hey kalian berdua jangan memikirkan sesuatu yang tidak tidak" ucap Shiva


"Baik" jawab mereka berdua


"Jadi Rian dan orang yang di sana, kenapa ?" tanya Shiva


"Rian sepertinya mau mengikuti kami saja, dan Adit aku tidak tau apa yang sedang di pikirkan" jawab Kahfi


"(Aduuh. Aku melupakan ini hari apa yaa. Bagaimana jika mereka menanyakan hari ini kepada ku, masa iya aku bilang tidak tau si)" ucap Adit, memegangi dagu nya


"Oke deh, kita makan di kantin saja. Aku yang traktir" ucap Shiva


"Sungguh ?" tanya ku


"Sungguh" jawab Shiva


"Aku sebagai laki laki, menolak untuk di traktir perempuan" ucap Angga


"Ehhh... Tidak usah koo, aku juga belum lapar" ucap Kahfi


Crooong..... (Bunyi perut)


Tiba tiba terdengar bunyi dari perut Kahfi dan Angga.


Wajah mereka berdua memerah seketika, menahan malu di depan Shiva, karena menolak ajakan dari Shiva.


"Tuh kan. Ayuk kita ke kantin sekarang" ucap Shiva


Akhirnya pun kami bergegas pergi, aku mengajak Adit untuk ikut. Kahfi pun juga mengajak Rian yang masih menghadap tembok.


Di tengah perjalanan menuju kantin.


"Aaahhhh... Aku ingin makan kepiting ahh" ucap ku


Pleeetuk.... (Suara tabokan)


Kahfi memukul kepala ku.


"Sakit...." teriak ku


"Kau ini, minta lah yang wajar saja, kita sedang di traktir. Kau tau kan, kepiting itu harga nya mahal sekali" ucap Kahfi, menasehati ku


"Ciih..." ucap ku, membuang muka


"Tidak apa ko. Kalian bebas memesan apa saja" ucap Shiva


"Tuh kan, dengar" ucap ku


Kahfi terdiam seketika, dan kami melanjutkan perjalanan menuju kantin.


Tiba tiba Adit yang berada di belakang ku, berbisik kepada ku.


"Neee Bagas" bisik Adit, kepada ku


"Ada apa ?" jawab ku

__ADS_1


"Hari ini, hari apa yaa ?" tanya Adit


"Pfff.... Hahahaha" ketawa ku


"Sssttt, mengapa kau malah tertawa" ucap Adit


"Ada apa ?" tanya Angga


"Hahaha, Adit tidak mengetahui ini hari apa hahahaha. Padahal kau sudah besar Adit" tawa ku


"Ehhh. Sungguh ?" tanya Kahfi


"Hahahahaha.... Ini hari apa yaa ?" ucap ku


"Bodoh. Kau tidak mengetahui nya, tapi malah menertawai" ucap Kahfi


"Ternyata dia juga tidak mengetahui nya" ucap Angga


"Hari ini, hari Kamis" jawab Shiva, kepada Adit


"Ahh... Terimakasih" ucap Adit


"Ngomong ngomong aku belum mengenal mu" ucap Shiva, kepada Adit


"Lebih baik tidak perlu kenal dengan ku" jawab Shiva


"Nama dia Adit, salam kenal" ucap ku


"Hey kenapa malah kau yang menjawab" ucap Kahfi


"Nama ku Shiva, salam kenal yaa Adit" ucap Shiva, tersenyum kepada Adit


"Ahhh... Imut nya" ucap Angga


"Salam kenal juga" jawab Adit, menyembuhkan wajah nya yang merah, karena malu


"Yoosshh... Kalian sudah berkenalan, saat nya menuju kantin" teriak ku


"Ahhh... Perut ku kroncongan" ucap Kahfi


"Ngomong ngomong, apakah kita melupakan sesuatu ?" tanya Angga


"Hmmmm, aku juga berfikir begitu. Tapi yasudah, nanti saja dipikirkan nya" jawab ku


"Aku juga seperti melupakan sesuatu" jawab Kahfi


Di tangga sekolah, menuju kelas angkatan kedua.


"Apakah ini jalan yang benar" ucap Rian, menaiki tangga


"Rian kemana" teriak Kahfi dan Angga


Sesampainya di kantin. Terlihat begitu ramai sekali, di isi dengan murid murid angkatan pertama.


"Wahh... Ramai sekali" ucap ku, melihat kerumunan orang sedang menikmati makanan nya


"Sepertinya tidak ada bangku yang kosong" ucap Adit


"Ha... Ha... Ha..." Kahfi ngos ngosan


"Lebih baik, kau ku pegang saja Rian" ucap Kahfi, kepada Rian


"Maaf" jawab Rian


"Lebih baik kita pesan terlebih dahulu, soal bangku nanti juga ada yang kosong" ucap Shiva


"Aku yang akan mencarikan bangku, pokoknya pesankan aku kepiting yaa" ucap ku


"Tolong yaa Bagas" jawab Shiva


Aku pun bergegas mencarikan bangku yang kosong untuk mereka.


"Hmmmmm...." ucap ku, melihat bangku kosong yang hanya di isi 1 orang saja


Aku pun menghampiri nya. Orang itu seperti bapak bapak dan banyak luka di bagian wajah nya.


"Yooo, aku duduk di sini yaa" ucap ku, kepada orang itu, dan duduk di depan nya


"Neee... Paman sedang makan apa, terlihat enak" ucap ku, melihat orang itu makan


"Apakah engkau mau ?" tanya paman itu


"Ahhh... Terimakasih" jawab ku, mengambil piring makanan nya, dan segera memakan nya


"Amnyam nyam nyam... Ini enak paman" ucap ku, memakan makanan milik nya


Lagi lagi murid murid mulai memandangi ku.


"Ehhh... Lihat orang itu nyari mati saja"


"Dia tidak tahu apa, orang itu adalah sensei killer"


"Anak ini pasti akan mati"


Ucap beberapa murid, melihat ke arah ku.


"Amnyam nyam nyam" aku terus memakan makanan nya


"Hey nak" ucap paman itu


"Ada apa ?" tanya ku


"Kau memiliki aura yang aneh" jawab paman itu


"Aura aneh ? Amnyam nyam nyam" tanya ku


"Aura mu sangat lah tenang, seperti orang itu" jawab paman itu


"Orang itu ?. Amnyam nyam nyam" tanya ku


"Dahulu aku memiliki teman dengan aura yang sangat tenang. Tapi sekarang dia sudah tidak ada" jawab paman itu


"Heeee.... Kemana dia pergi nya?" tanya ku


"Orang itu telah lama mati, sekitar 8 tahun lalu di desa semanggi. Orang itu bernama Samsudin" ucap paman itu


"Itu ayah ku. Amnyam nyam nyam" jawab ku


"Jadi begitu.... Pantas kau mirip dengan nya" ucap paman itu


"Hooh. Karena dia ayah ku" jawab ku


"Jadi kau adalah orang yang selama dari tragedi itu yaa ?" tanya paman itu, dengan tatapan serius


"Ahhh... Kenyang nya. Terimakasih kasih atas makan nya" ucap ku


"Betul sekali paman" jawab ku


"Ada apa paman ? mengapa kau melihat ku, apakah masih ada sisa makanan di wajah ju ?" tanya ku, melihat tatapan tajam dari paman itu


"Sepertinya teman mu sudah datang" jawab paman itu, dan bergegas pergi meninggalkan ku


Paman itu pergi, ketika teman teman ku tiba.


Teman teman ku, berpapasan dengan paman itu. Mereka terlihat terdiam sebentar ketika paman itu berada di samping mereka.


Paman itu sudah pergi menjauh, dan teman teman ku, bergegas menghampiri ku, membawa makanan.


"Huffhhh.... Ini makanan mu" ucap Kahfi, menaruh piring di depan ku, dan segera duduk


"Heyy, mengapa kau bisa bersama orang itu ?" tanya Angga


"Aku kan mencari bangku yang kosong, dan kebetulan meja ini yang kosong" jawab ku


"Tapi, lihat lihat dulu dong, siapa yang kau hadapi" ucap Kahfi


"Emang nya kenapa ?" tanya ku


"Dia adalah sensei kita, tapi...." ucap Angga


Angga tiba tiba memberhentikan bicara nya.

__ADS_1


__ADS_2